Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Minggu, 23 Agustus 2026
Syukuran Hut YPTD yang ke-6 di Karimata Resto
kalimantan menangis dan ntt berduka
kisah omjay ketika belajar menang dari Kejujuran
Sabtu, 22 Agustus 2026
Benarkah Kompasiana Tak Menarik Lagi?
Benarkah Kompasiana Tidak Menarik Lagi? Ketika GoPay Makin Sulit dan Blogger Mulai Melirik Tempat Lain
Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Suatu hari seorang teman bertanya kepada Omjay, "Jay, masih rajin menulis di Kompasiana?"
Saya tersenyum.
Pertanyaan sederhana itu ternyata menyimpan pertanyaan yang lebih besar.
"Masih menarik enggak sih menulis di Kompasiana? Sekarang GoPay-nya susah didapat. Di tempat lain katanya lebih mudah mendapatkan uang. Banyak blogger mulai pindah."
Saya tidak langsung menjawab.
Saya teringat perjalanan panjang Omjay bersama Kompasiana. Dulu, ketika pertama kali jatuh cinta pada dunia blogging, saya tidak pernah berpikir bahwa menulis bisa menghasilkan uang. Saya menulis karena senang berbagi pengalaman, senang berdiskusi dengan pembaca, dan senang ketika tulisan sederhana ternyata dibaca banyak orang.
Kemudian datanglah K-Rewards.
Bagi seorang blogger, mendapatkan apresiasi dari tulisan tentu menyenangkan. Apalagi kalau saldo digital itu bisa dicairkan menjadi sesuatu yang nyata. Bisa membeli buku, membayar kuota internet, mentraktir teman, atau sekadar membeli kopi sambil terus menulis.
Omjay pernah merasakan masa-masa itu.
Dalam tulisan saya pada 2025, saya pernah bercerita bagaimana K-Rewards menjadi salah satu bentuk apresiasi yang membuat aktivitas menulis terasa semakin menyenangkan. K-Rewards dikaitkan dengan keterbacaan tulisan dan menjadi salah satu pengalaman menarik bagi penulis yang aktif di Kompasiana.
Namun zaman berubah.
Sistem berubah.
Algoritma berubah.
Kebiasaan pembaca berubah.
Dan tentu saja, harapan penulis juga berubah.
Pada 2026, saya sendiri pernah menulis tentang GoPay Kompasiana yang semakin kecil. Saya melihat adanya keluhan dari sejumlah penulis mengenai nominal reward yang mereka terima. Bahkan dalam pengalaman Omjay, sudah sekitar setahun saya tidak mendapatkan GoPay Kompasiana. Namun anehnya, saya tetap menulis.
Mengapa?
Karena ternyata menulis bagi Omjay bukan hanya soal GoPay.
Menulis sudah menjadi kebutuhan jiwa.
Saya menulis ketika sedang bahagia. Saya menulis ketika sedang sedih. Saya menulis ketika mendapatkan pengalaman baru. Saya menulis setelah bertemu guru, siswa, penulis, dokter, teman lama, atau orang yang baru saya kenal.
Saya menulis karena selalu ada cerita.
Tetapi apakah semua penulis memiliki alasan yang sama?
Tentu tidak.
Ada penulis yang menjadikan blogging sebagai hobi. Ada yang ingin membangun personal branding. Ada yang ingin mendapatkan pembaca. Ada yang ingin mempromosikan buku. Ada yang ingin mendapatkan pekerjaan. Ada yang ingin menjadi influencer. Dan ada pula yang memang berharap mendapatkan penghasilan dari tulisan.
Karena itu, kalau seorang blogger kemudian membandingkan Kompasiana dengan platform lain yang dianggap lebih mudah menghasilkan uang, menurut saya itu sesuatu yang wajar.
Namanya juga mencari rezeki.
Seorang penulis tentu akan melihat di mana karya dan waktunya mendapatkan apresiasi yang paling baik.
Jangan Salah Memahami Blogger yang Pindah
Kalau ada blogger pindah ke platform lain, jangan buru-buru mengatakan mereka tidak setia.
Bisa jadi mereka sedang mencari jalan baru.
Seorang penulis membutuhkan tempat untuk tumbuh. Kalau sebuah platform mampu memberikan pembaca, komunitas, peluang ekonomi, dan pengalaman menulis yang baik, tentu penulis akan bertahan.
Sebaliknya, kalau penulis merasa sudah bekerja keras tetapi penghargaan yang diterima semakin kecil, mereka mungkin akan mencoba tempat lain.
Itu hukum sederhana dalam dunia digital.
Penulis punya pilihan.
Platform juga punya pilihan.
Namun menurut saya, persoalannya jangan hanya dilihat dari besar kecilnya GoPay.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah Kompasiana masih memberikan alasan kepada penulis untuk terus berkarya?
Jawaban saya: masih.
Mengapa?
Karena Kompasiana bukan hanya tempat mendapatkan uang.
Kompasiana adalah tempat bertemu dengan pembaca.
Tempat belajar menulis.
Tempat berdiskusi.
Tempat menemukan teman.
Tempat membangun reputasi.
Dan bagi sebagian orang, Kompasiana sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Omjay termasuk di dalamnya.
Saya tidak bisa melupakan begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan selama menjadi Kompasianer. Saya belajar dari tulisan orang lain. Saya mendapatkan teman baru. Saya mendapatkan pembaca. Saya pernah mendapatkan K-Rewards. Saya pernah menjadi Kompasianer Terpopuler. Saya juga mendapatkan kesempatan memperkenalkan buku dan gagasan kepada masyarakat yang lebih luas.
Jadi, kalau hari ini GoPay tidak lagi sebesar dulu, apakah saya harus berhenti menulis?
Tidak.
Saya tetap menulis.
Karena bagi Omjay, uang adalah bonus, sedangkan tulisan adalah investasi.
Tetapi Platform Juga Harus Mendengarkan Penulis
Di sisi lain, saya ingin mengatakan sesuatu dengan jujur.
Platform digital tidak boleh menganggap keluhan penulis sebagai angin lalu.
Penulis adalah bagian penting dari ekosistem.
Tanpa penulis, tidak ada konten.
Tanpa konten, tidak ada pembaca.
Tanpa pembaca, platform juga akan kehilangan daya tariknya.
Karena itu, ketika banyak penulis mempertanyakan sistem reward, mekanisme artikel utama, perubahan dashboard, atau pengalaman menggunakan platform, sebaiknya semua itu menjadi bahan evaluasi bersama.
Kompasiana sendiri pada 2026 masih melakukan berbagai program komunitas dan reward. Bahkan mekanisme Community Quarter Rewards mengalami penyesuaian pada tahun keempat penyelenggaraannya. Ini menunjukkan bahwa ekosistemnya masih bergerak dan terus mencoba beradaptasi.
Dashboard menulis pun masih dikembangkan. Informasi yang beredar di komunitas menyebutkan bahwa beberapa fitur baru sedang ditambahkan dan proses migrasi data berlangsung pada Agustus 2026.
Artinya, Kompasiana belum mati.
Kompasiana belum selesai.
Kompasiana sedang berubah.
Dan setiap perubahan pasti menimbulkan pro dan kontra.
Jangan Membandingkan Apel dengan Jeruk
Saya sering mengatakan kepada teman-teman blogger, jangan hanya melihat platform lain dari sisi uang yang terlihat.
Lihat ekosistemnya.
Berapa banyak pembaca yang bisa kita dapatkan?
Bagaimana kualitas interaksinya?
Apakah tulisan kita mudah ditemukan?
Apakah kita bisa membangun personal branding?
Apakah kita memiliki komunitas?
Apakah platform tersebut bertahan dalam jangka panjang?
Apakah aturan monetisasinya bisa berubah sewaktu-waktu?
Semua harus dihitung.
Sebab mendapatkan uang dari internet itu bukan sekadar menulis lalu uang datang.
Ada algoritma.
Ada kebijakan.
Ada persaingan.
Ada perubahan teknologi.
Ada perubahan perilaku pembaca.
Hari ini sebuah platform bisa memberikan penghasilan yang menarik. Besok kebijakannya bisa berubah.
Karena itu, Omjay tidak pernah menyarankan seorang penulis hanya bergantung kepada satu platform.
Bangunlah rumah digital sendiri.
Miliki blog pribadi.
Miliki buku.
Miliki komunitas.
Miliki media sosial.
Miliki newsletter jika diperlukan.
Dan gunakan berbagai platform sebagai jalan untuk menemukan pembaca.
Kompasiana boleh menjadi salah satu rumah kita.
Tetapi jangan sampai seluruh rumah kita hanya berdiri di atas tanah milik orang lain.
Rezeki Tidak Pernah Tertukar
Inilah pelajaran yang semakin Omjay pahami setelah bertahun-tahun menulis.
Rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang kita duga.
Ketika GoPay Kompasiana tidak datang, mungkin rezeki datang melalui penjualan buku.
Ketika buku belum laku, mungkin datang undangan menjadi narasumber.
Ketika honor narasumber belum ada, mungkin datang teman baru.
Ketika tulisan tidak viral, mungkin ada satu pembaca yang mendapatkan manfaat besar.
Dan bukankah itu juga rezeki?
Kadang-kadang kita terlalu sibuk menghitung uang sampai lupa menghitung keberkahan.
Omjay pernah mengalami sendiri.
Ada tulisan yang menghasilkan uang.
Ada tulisan yang tidak menghasilkan uang.
Ada tulisan yang dibaca ribuan orang.
Ada tulisan yang hanya dibaca puluhan orang.
Tetapi semuanya tetap menjadi bagian dari perjalanan.
Sebab seorang penulis sejati tidak hanya menulis ketika dibayar.
Ia menulis karena mempunyai sesuatu yang ingin dibagikan.
Jadi, Benarkah Kompasiana Tidak Menarik Lagi?
Jawaban Omjay sederhana.
Masih menarik, tetapi tidak boleh berhenti berbenah.
Bagi penulis, daya tarik sebuah platform bukan hanya soal GoPay.
Bagi penulis, yang penting adalah tiga hal: pembaca, komunitas, dan peluang.
Kalau ketiganya tetap hidup, platform masih mempunyai masa depan.
Namun kalau penulis merasa tidak dihargai, tidak didengar, sulit mendapatkan pembaca, dan tidak mempunyai peluang berkembang, mereka tentu akan mencari alternatif.
Itu bukan ancaman.
Itu adalah masukan.
Kompasiana memiliki sejarah panjang dalam perjalanan blogging Indonesia. Bahkan sampai sekarang masih ada artikel-artikel yang memperoleh keterbacaan sangat tinggi, dan komunitasnya masih menjalankan berbagai kegiatan.
Karena itu, Omjay memilih tidak ikut-ikutan mengatakan, "Kompasiana sudah tidak menarik."
Saya lebih suka mengatakan:
Kompasiana sedang berada di persimpangan perubahan.
Mau dibawa ke mana?
Tentu bukan hanya tugas pengelola.
Penulis juga punya peran.
Pembaca juga punya peran.
Komunitas juga punya peran.
Kalau kita ingin Kompasiana tetap menjadi rumah yang nyaman bagi blogger Indonesia, maka mari sama-sama menjaga rumah itu.
Pengelola mendengar suara penulis.
Penulis menghasilkan tulisan berkualitas.
Pembaca memberikan apresiasi.
Komunitas terus menghidupkan kegiatan.
Dan semua pihak terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, Omjay akan tetap menulis.
Di Kompasiana, di blog pribadi, di media lain, atau di buku.
Sebab Omjay sudah terlalu lama jatuh cinta kepada dunia menulis untuk berhenti hanya karena nominal GoPay mengecil.
GoPay boleh mengecil. Semangat menulis jangan ikut mengecil.
Dan kalau suatu hari ada platform yang memberikan rezeki lebih besar, silakan dicoba.
Tidak perlu merasa bersalah.
Namun jangan lupa satu hal.
Jangan mengejar uang sampai kehilangan alasan mengapa kita pertama kali belajar menulis.
Karena uang bisa habis.
Platform bisa berubah.
Algoritma bisa berganti.
Tetapi tulisan yang bermanfaat dapat tinggal jauh lebih lama di hati pembaca.
Itulah sebabnya Omjay masih memegang teguh satu kalimat:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam blogger persahabatan.
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
Belajar Tenang Menjalani Takdir
Jumat, 21 Agustus 2026
kisah omjay: kaya belum tentu cukup miskin belum tentu kurang
Kaya Belum Tentu Cukup, Miskin Belum Tentu Kurang: Belajar Bahagia dari Kisah Omjay
Jumat pagi, 21 Agustus 2026, saya kembali merenungkan sebuah kalimat sederhana yang ternyata memiliki makna sangat dalam: kaya belum tentu cukup, miskin belum tentu kurang.
Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Dalam kehidupan, sering kali kita mengukur kebahagiaan dari apa yang terlihat. Orang yang memiliki rumah besar dianggap bahagia. Orang yang mempunyai kendaraan bagus dianggap berkecukupan. Mereka yang memiliki banyak uang dianggap hidupnya tenang. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada orang yang hartanya berlimpah, tetapi hatinya selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi wajahnya selalu dihiasi senyum dan hatinya dipenuhi rasa syukur.
Saya belajar bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi tentang kemampuan hati untuk merasa cukup.
Sebagai seorang guru dan blogger, saya merasakan sendiri bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Ada hari ketika pekerjaan terasa lancar, tulisan banyak dibaca, undangan berdatangan, dan berbagai kegiatan berjalan dengan baik. Namun, ada pula saat ketika tulisan yang sudah dibuat dengan sepenuh hati hanya dibaca sedikit orang. Ada rencana yang belum terwujud. Ada harapan yang masih harus menunggu waktu.
Dulu mungkin saya mudah bertanya, “Mengapa belum berhasil?”
Sekarang saya belajar menggantinya dengan pertanyaan, “Apa yang bisa saya syukuri hari ini?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata mampu mengubah cara pandang.
Saya kemudian teringat bahwa bisa jadi apa yang kita miliki hari ini adalah bagian dari doa yang pernah kita panjatkan beberapa tahun lalu. Kita pernah berdoa ingin memiliki pekerjaan. Hari ini kita bekerja. Kita pernah berharap mempunyai keluarga yang menyayangi kita. Hari ini ada orang-orang yang menemani perjalanan hidup kita. Kita pernah memohon diberikan kesempatan untuk berbagi ilmu. Hari ini masih ada orang yang mau mendengarkan dan membaca tulisan kita.
Bukankah semua itu adalah nikmat?
Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki sampai lupa menikmati apa yang sudah ada di depan mata. Kita melihat keberhasilan orang lain, kemudian membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Akibatnya, rasa syukur berubah menjadi keluhan.
Padahal, bahagia tidak selalu membutuhkan lebih banyak. Kadang-kadang bahagia justru datang ketika kita belajar mengurangi keinginan yang tidak perlu.
Sedikit ekspektasi, banyak toleransi.
Sedikit mengeluh, banyak bersyukur.
Sedikit menuntut, banyak memberi.
Kalimat tersebut sangat sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan. Sebab manusia memang memiliki kecenderungan ingin mendapatkan lebih banyak. Setelah mendapatkan satu hal, ingin hal berikutnya. Setelah mencapai satu tujuan, mengejar tujuan lainnya.
Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita. Sebagai guru, saya justru percaya bahwa kita harus terus bermimpi dan berusaha. Namun, jangan sampai cita-cita membuat kita lupa bersyukur atas perjalanan yang sedang dijalani.
Dalam ajaran Islam, kebahagiaan juga tidak sekadar dimaknai sebagai kesenangan duniawi. Ada konsep sa'adah, kebahagiaan yang hakiki dan kekal. Ada pula falah, keberhasilan atau kebahagiaan yang diperoleh setelah mencapai sesuatu yang dicari dengan cara yang benar.
Artinya, kebahagiaan bukan hanya ketika rekening bertambah, rumah semakin besar, atau jabatan semakin tinggi. Kebahagiaan sejati adalah ketika kehidupan kita memiliki makna, hati merasa tenteram, dan apa yang kita miliki membawa manfaat bagi orang lain.
Saya semakin memahami hal itu melalui perjalanan sebagai guru.
Guru mungkin tidak selalu menjadi profesi dengan penghasilan terbesar. Namun, ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang ketika melihat murid berhasil. Ada rasa haru ketika seorang siswa yang dahulu belajar dengan susah payah akhirnya mampu mencapai cita-citanya. Ada kebahagiaan ketika tulisan yang kita buat ternyata menginspirasi seseorang untuk terus belajar.
Itulah kekayaan yang tidak terlihat.
Kita mungkin tidak kaya secara materi, tetapi bisa kaya pengalaman. Kita mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi bisa memiliki banyak sahabat. Kita mungkin tidak terkenal di mana-mana, tetapi tulisan dan kebaikan kecil kita bisa tinggal lama di hati seseorang.
Karena itu, saya berusaha memperbanyak syukur dan istighfar.
Syukur mengajarkan saya untuk melihat nikmat yang sudah diberikan Allah. Istighfar mengingatkan saya bahwa sebagai manusia, saya tidak pernah luput dari kesalahan dan kekurangan.
Saya teringat sebuah hadis riwayat Muslim nomor 2999 yang menjelaskan betapa menakjubkannya keadaan seorang mukmin. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur dan itu baik baginya. Ketika mendapatkan kesulitan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.
Betapa indahnya ajaran tersebut.
Ketika senang, jangan lupa bersyukur.
Ketika susah, jangan kehilangan kesabaran.
Ketika mendapatkan keberhasilan, jangan sombong.
Ketika mengalami kegagalan, jangan berputus asa.
Inilah yang terus saya pelajari dalam perjalanan kehidupan.
Menjadi guru mengajarkan saya untuk terus berbagi. Menjadi blogger mengajarkan saya untuk terus menulis. Menjadi manusia mengajarkan saya untuk terus belajar menerima kenyataan dengan hati yang lapang.
Saya percaya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi lebih kaya daripada orang lain. Hidup adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin.
Jika hari ini kita memiliki sedikit, syukurilah.
Jika hari ini kita memiliki banyak, jangan lupa berbagi.
Jika hari ini sedang mendapatkan kemudahan, gunakan untuk membantu orang lain.
Jika hari ini sedang menghadapi kesulitan, bersabarlah dan terus berdoa.
Sebab kaya belum tentu cukup, dan miskin belum tentu kurang. Yang membuat seseorang benar-benar kaya adalah hati yang tahu kapan harus merasa cukup.
Pagi ini saya mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk berhenti sejenak dari segala keluhan. Lihatlah orang-orang yang masih menyayangi kita. Rasakan udara yang masih bisa kita hirup. Syukuri kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan belajar, dan setiap kebaikan kecil yang masih diberikan Allah kepada kita.
Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Jangan menunggu sakit untuk belajar mensyukuri sehat.
Jangan menunggu kesepian untuk menghargai orang-orang yang selama ini menemani.
Dan jangan menunggu kaya untuk belajar berbagi.
Perbanyak syukur. Perbanyak istighfar. Kurangi mengeluh. Perbanyak memberi.
Insya Allah, hati menjadi lebih tenang dan hidup terasa lebih bahagia.
Tetap semangat menjalani hari.
Semoga Jumat pagi ini membawa keberkahan, ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan untuk kita semua.
Barakallah fiikum.
Salam Blogger Persahabatan.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Kamis, 20 Agustus 2026
Rumus Bahagia
Mari Belajar Mengenal Kebenaran
Rabu, 19 Agustus 2026
Sumbangan Buku Karya Omjay untuk Perpustakaan Labschool UNJ
inspirasi Pagi Bersama Omjay
Menang dengan Kebijaksanaan, Bukan dengan Amarah: Kisah Omjay Belajar Menjaga Lisan
Inspirasi Pagi, Rabu, 19 Agustus 2026
Pagi ini Omjay kembali mendapatkan pelajaran kehidupan yang sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Kadang-kadang nasihat terbaik bukanlah sesuatu yang baru kita dengar, melainkan sesuatu yang sudah sering kita dengar tetapi belum sepenuhnya kita jalankan.
Kemenangan diperoleh dengan kebijakan. Kebijakan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar adalah dengan menyimpan baik-baik segala rahasia.
Kalimat itu membuat Omjay berhenti sejenak. Dalam perjalanan kehidupan, ternyata tidak semua hal harus dibicarakan. Tidak semua rahasia harus dibuka. Tidak semua cerita harus disampaikan kepada orang lain. Ada saatnya kita harus belajar diam, bukan karena tidak mampu berbicara, tetapi karena kita memahami bahwa diam adalah bagian dari kebijaksanaan.
Sebagai seorang guru dan blogger, Omjay setiap hari berhadapan dengan banyak orang. Ada siswa, guru, orang tua, sahabat, teman di komunitas, dan banyak orang yang datang membawa cerita. Ada yang bercerita tentang keberhasilan. Ada pula yang datang membawa kesedihan, masalah keluarga, persoalan pekerjaan, bahkan kegelisahan yang tidak sanggup mereka ceritakan kepada banyak orang.
Di situlah Omjay belajar bahwa kepercayaan adalah amanah.
Ketika seseorang bercerita kepada kita, jangan buru-buru menjadikannya bahan pembicaraan. Jangan menjadikan kelemahan orang lain sebagai hiburan. Sebab, bisa jadi suatu hari nanti kita berada dalam posisi yang sama dan berharap ada seseorang yang mampu menjaga cerita kita dengan baik.
Omjay juga teringat sebuah nasihat yang sangat menyentuh hati:
Yang paling patut mengampuni ialah orang yang paling memiliki kemampuan untuk menghukum.
Betapa indahnya kalimat tersebut.
Orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang selalu membalas kesalahan orang lain. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika mempunyai kesempatan untuk membalas.
Dalam kehidupan, kita mungkin pernah disakiti. Pernah diremehkan. Pernah dituduh. Pernah disalahpahami. Bahkan mungkin pernah diperlakukan tidak adil oleh orang yang kita percaya.
Rasanya ingin membalas.
Namun, ketika hati mulai tenang, kita sadar bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang luka. Sebaliknya, memaafkan bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan adalah cara kita membebaskan hati dari beban kebencian.
Omjay belajar bahwa hidup ini terlalu singkat untuk terus menyimpan dendam.
Ada satu lagi nasihat yang membuat Omjay semakin berhati-hati dalam berbicara:
Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.
Sederhana sekali, tetapi sulit dilakukan.
Sebelum berbicara, sebenarnya kita hanya perlu bertanya kepada diri sendiri, “Kalau kalimat ini ditujukan kepada saya, apakah saya akan merasa senang?”
Jika jawabannya tidak, mungkin sebaiknya kita menahan diri.
Lidah memang tidak bertulang. Ia bisa bergerak ke mana saja. Namun, satu kalimat yang keluar dari mulut terkadang tidak bisa ditarik kembali. Luka karena perkataan bisa lebih dalam daripada luka karena benda tajam.
Omjay sering mengingatkan diri sendiri bahwa menulis juga harus demikian. Jangan hanya mengejar tulisan yang ramai dibaca. Jangan mengejar viral dengan mengorbankan perasaan orang lain. Menulislah dengan hati.
Sebab, tulisan memiliki umur yang panjang.
Perkataan mungkin hanya terdengar beberapa detik, tetapi tulisan bisa dibaca bertahun-tahun kemudian. Karena itu, seorang penulis harus belajar bertanggung jawab terhadap setiap kata yang dituliskannya.
Kemudian ada nasihat yang sangat dalam:
Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.
Omjay memaknainya sebagai ajakan untuk berpikir sebelum berbicara.
Orang bijak tidak membiarkan lidahnya berlari lebih cepat daripada pikirannya. Ia mempertimbangkan apakah perkataannya benar, apakah bermanfaat, dan apakah waktunya tepat.
Sebaliknya, orang yang tidak berpikir sering kali berbicara terlebih dahulu, kemudian menyesal setelahnya.
Itulah sebabnya Omjay ingin terus belajar menjadi manusia yang lebih baik. Tidak mudah memang. Usia bertambah, pengalaman bertambah, tetapi ternyata belajar mengendalikan diri tetap menjadi pekerjaan seumur hidup.
Kadang kita merasa sudah banyak pengalaman. Namun, satu kejadian kecil bisa mengajarkan sesuatu yang belum pernah kita pahami sebelumnya.
Pagi ini Omjay kembali belajar bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain.
Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil mengalahkan ego dalam diri sendiri.
Kita menang ketika mampu memilih diam daripada menyakiti. Kita menang ketika mampu memaafkan meskipun punya kesempatan membalas. Kita menang ketika mampu menjaga rahasia meskipun orang lain mungkin ingin mengetahuinya. Kita menang ketika mampu berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.
Dan yang paling penting, kita menang ketika hati tetap baik meskipun dunia tidak selalu memperlakukan kita dengan baik.
Semoga pagi ini kita semua diberi kemampuan untuk menjaga lisan, menjaga hati, menjaga rahasia, dan menjaga kepercayaan.
Jangan terburu-buru membalas. Jangan mudah menyebarkan cerita. Jangan mengatakan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin mendengarnya.
Mari belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana.
Karena pada akhirnya, bukan berapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan yang akan dikenang, tetapi berapa banyak hati yang berhasil kita jaga agar tidak terluka.
Tetap semangat menjalani hari.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Barakallah fiikum.