Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 02 November 2008

Bermain ke Rumah Pak Aristo Hadi Sutopo


Minggu sore saya berkunjung ke rumah penulis terkenal di bidang disain grafis, khususnya Flash, Bapak Ariesto Hadi Sutopo. Rumahnya kebetulan dekat dengan rumah saya di Jatibening, yaitu di Jatikramat Estate. Wah seru juga ngobrol dengan beliau. Banyak sekali buku yang sudah dibuat oleh beliau. Selain mengajar di berbagai perguruan tinggi terkenal seperti UMN, YAI, dan ITB, beliau juga akan menyeleaikan Doktor (S3-nya) di UNJ jurusan Teknologi Pendidikan.

Ngobrol dengan beliau seperti mendapatkan ilmu pengetahuan langka dan menyulut saya sebagai orang muda untuk senantiasa belajar sepanjang hayat. Saya jadi termotivasi untuk terus memperdalam Flash. Saya pikir, awalnya Flash hanya sekedar untuk media presentasi dan pembuatan animasi saja, tapi ternyata Flash bisa lebih dari itu. '
Kalau kalian mau dapat ilmunya, silahkan mengunjungi http://www.topazart.info di internet. Selamat belajar Flash, dan sukses selalu buat pak Hadi yang lebih dikenal di dunia maya dengan Topaz.

Selamat datang di Blog Omjay

Selamat datang di Blog Omjay.


http://www.youtube.com/watch?v=4Z3hH6GtcZM

Jumat, 31 Oktober 2008

Berkunjung ke SMP-SMA Labschool Kebayoran


Setelah sholat Jumat, saya berkunjung ke Labschool Kebayoran. Sudah banyak perubahan yang saya lihat. Terutama ruang komputer SMP- SMA yang cukup bagus dan terawat rapih.

Di Kebayoran saya bertemu dengan Pak Hasyim, Bu Selma, Pak Budi, dan Pak Victor. Mereka sedang asyik bermain games bola. Ternyata games membuat orang itu sehat. Buktinya mereka asyik banget bermain games bola.

Pak Hasyim dan bu Shelma sedang asyik belajar toefl. Semoga Lulus ya bahasa Inggrisnya. Tak terduga saya juga bertemu dengan Pak Sony dari Indosat yang ternyata orang tua siswa di Labschool Kebayoran.
Wah, enak juga sekolah di Labschool Kebayoran, tempaknya sejuk dan udaranya segar dan suasananya yang asri membuat kita betah berlama-lama di sana. Ada yang sudah pernah ke sana???

Rabu, 29 Oktober 2008

Mengapa Siswa Lebih Senang Bermain Games?

Setiap kali pelajaran TIK akan berlangsung, anak-anak di SMP Labschool Jakarta selalu minta waktu untuk bermain games. Alasannya singkat, rileks sebentar dulu pak!.

Lalu kemudian mereka dengan asyiknya bermain games di komputer. Mulai dari games cara memasak makanan, sampai balap-balapan mobil. Pokoknya mereka enjoy banget dengan beraneka ragam games yang mereka install sendiri. Kayaknya kalau ada gunung meletus, mereka nggak bakal denger tuch!.

Selidik punya selidik, dan saya tanyakan langsung pada anak-anak kenapa mereka senang bermain games?.

Jawabannya beragam, tapi intinya karena games itu menarik mereka untuk berperan aktif di dalamnya. Mereka menjadi pelaku utama dan penentu kemenangan. Tak ada yang sanggup menghalangi mereka karena niat yang begitu kuat untuk mendapat score yang tinggi. Games telah membuat pembelajaran yang mengundang. Mengundang mereka dengan suasana asyik dan menyenangkan. Tak peduli banyaknya tugas sekolah yang datang setelah ini, yang penting mereka enjoy dan rileks dulu.

Nampaknya para pendidik dituntut untuk membuat media pembelajaran seperti games, yang dapat membuat anak, belajar sambil bermain, dan bermain sambil belajar. Bagaimana yach caranya? Ada yang bisa kasih komentar ???

Jumat, 24 Oktober 2008

Hebatnya Laskar Pelangi

Hari ini saya menonton kembali film Laskar Pelangi untuk yang kelima kalinya. Kali ini saya menonton bersama dengan guru-guru SMP Labschool Jakarta. Wah seru dan sangat menyentuh. Walaupun saya sudah nonton sampai 5 kali, tapi saya merasa selalu mendapatkan hal-hal baru setelah menonton film ini, seperti:

  1. Terbatasnya murid tak membuat guru menjadi resah dan gelisah
  2. Biaya operasional sekolah yang lebih besar dari pada pemasukannya tidak membuat guru lantas pasarah dabn menutup sekolahnya
  3. Sekolah yang memiliki dasar budi pekerti dalam menegakkan akhlaqul karimah
  4. Kecerdasan tidak diukur dari nilai-nilai pelajaran tapi dengan hati.
  5. Dengan fasilitas apa adanya ternyata sekolah miskin juga bisa unggul
  6. Pantang menyerah, dan beranilah bermimpi
  7. Dua piala yang diperoleh dari karnaval dan cerdas cermat adalah simbol bersatunya kegiatan ekstrakurikuler dan intrakurikuler.
  8. Bersyukurlah pada yang Maha Kuasa, karena sekolah kita ternyata jauh lebih baik daripada sekolah SD Muhammadiyah Gantong.

Itulah beberapa hikmah yang saya dapatkan kembali dari film Laskar pelangi. Ada yang mau memberikan tambahan komentar???

Mempersenjatai anak dengan Doa

Dalam salah satu hadits disebutkan, “Doa adalah senjatanya orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” Betapa doa sangat penting bagi seorang mukmin. Doa bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi yang menggunakannya. Sebagaimana kegunaan senjata di dalam peperangan.

Doa merupakan rahmat dan anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Dengan doa inilah kita bisa meminta, mengadu, dan menghantarkan orang beriman menuju ampunan dan surga-Nya di akhirat kelak.

Melalui doa, seorang mukmin bisa terhindar dari segala bahaya, mendapat keberkahan, kemudahan, kesuksesan, dan kebaikan-kebaikan lain sesuai dengan permohonannya kepada Allah.

Dalam salah satu hadits dikisahkan bahwa di akhirat kelak akan ada seorang yang mendapatkan derajat yang tinggi di surga, sehingga ia sendiri tidak mempercayainya. Lalu ia bertanya, “Apa penyebabnya sehingga saya mendapatkan kemuliaan seperti ini?” Lalu diberitahukan kepadanya, bahwa ia mendapatkan kemuliaan tersebut disebabkan oleh anaknya yang selalu memintakan ampunan (istigfar) untuknya.

Subhanallah, sangat beruntung apabila kita memiliki anak yang selalu berdoa untuk dirinya, orangtua, saudara, dan kaum muslimin. Sebab, doa menjadi salah satu sebab yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Selengkapnya:
http://qultummedia.com/Mempersenjatai-Anak-dengan-Doa.html

Kamis, 16 Oktober 2008

Hiduplah dengan Memberi Sebanyak-banyaknya

Malam ini saya menonton film Laskar Pelangi untuk yang keempat kalinya. Kali ini saya ditemani oleh Pak Pintar, Guru Fisika SMA Labschool Jakarta, dan Pak Andri Petugas Foto Copy Labschool Jakarta.

Walaupun sudah yang keempat kalinya menonton film ini, saya merasakan sebuah semangat yang tak pernah habis dari para guru, khususnya Pak Harfan dan Ibu Muslimah yang baik itu.

Satu-satunya pesan pak Harfan yang selalu saya ingat adalah Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Pesan ini sama artinya dengan tangan di atas lebih mulia daripada tangan dibawah.

Terima kasih pak Harfan. Bapak telah memberikan pesan singkat yang mendalam dalam film ini. Pesan bapak mengingatkan saya ketika berfoto bersama dengan ibu Walikota Jakarta Pusat (Ibu Sylviana Murni) dan Bapak Tahir dari Toshiba (PT. Aneka Infokom) yang juga pernah memberikan pesan yang sama pada waktu seminar Nasional ICT di UNJ.
Semoga film ini memberikan semangat agar pendidikan kita menjadi lebih maju lagi, terutama di desa-desa terpencil. Jangan menyerah dan putus asa, walaupun fasilitas apa adanya.

Film Sang Murabbi


Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah, karena pada hari ini saya mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa. Hadiah itu bukan berupa uang atau bingkisan parsel lebaran tetapi sebuah DVD film Sang Murabbi yang diberikan oleh murid saya bernama Adrio Faresi.

Ternyata Adrio adalah anak dari Ibu Astri Ivo, seorang artis terkenal yang dalam film ini menjadi pemeran istri Ust. Rahmat Abdullah.


Terima kasih atas pemberian DVD-nya. Film ini begitu memberi saya semangat untuk terus menjadi guru. Guru yang ideal, yang selalu didambakan oleh para murid-muridnya.

Senin, 13 Oktober 2008

Studi Banding ke Pustekkom dan Seamolec

Harui ini saya dan teman-teman Pascasarjana UNJ pergi berkun jung ke Seamolec dan Pustekkom, mau lihat hasil kunjungannya?

Sabtu, 11 Oktober 2008

Warisan Ramadhan

Warisan Ramadhan

By Subagio S. Waluyo
Senin, 29 September 2008 pukul 07:41:00

Ramadhan telah berlalu. Hari-hari indah yang penuh rahmat, berkah, dan maghfirah itu telah lewat pula. Namun, apakah kita harus mengakhiri pula tujuan ibadah itu, yakni untuk mencapai derajat muttaqien (orang-orang yang takwa)? Apakah untuk mencapai muttaqien hanya diperoleh lewat Ramadhan? Dan apakah kita sudah cukup merasa puas kalau kita memasuki Idul Fitri sebagai pemenang dan terlahir kembali sebagai bayi yang baru lahir? Untuk mencapai derajat muttaqien seperti yang diwajibkan Allah lewat puasa (Q. S. 2:183) bukan semata-mata hanya diperoleh di bulan Ramadhan. Bunyi ayat tersebut (Q. S. 2: 183) memang mewajibkan kita berpuasa (Ramadhan) untuk mencapai takwa. Namun, perlu diingat bahwa ada puasa-puasa maupun ibadah-ibadah lain yang juga dapat mengantarkan kita menjadi muttaqien. Bukankah untuk mencapai ketakwaan (di bulan Ramadhan) itu kita peroleh karena kita melakukan berbagai amalan, di antaranya qiyamul lail, zikir, doa, tilawah Quran, infak, i'tikaf, istighfar, dan amalan saleh lainnya? Jadi untuk mencapai derajat muttaqien tidak cukup hanya dilakukan lewat puasa Ramadhan sebulan penuh sementara amalan-amalan lain terbengkalai.

Karena itu setelah kita berhasil menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, sudah seharusnya meneruskan amalan-amalan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu pada bulan-bulan lainnya. Sebagai misal, setelah berpuasa wajib, kita masih bisa menjalani puasa sunat, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Syawwal, puasa pertengahan bulan di bulan-bulan hijriah, dan sebagainya. Kita boleh pilih puasa mana yang ingin kita jalani. Selain itu, kita juga bisa bersedekah memberi makan orang lain, misalnya kepada fukara dan masakin, atau menjamu orang yang berpuasa sunat di masjid-masjid, musalla-musalla, atau di rumah kita? Bukankah orang yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, pahalanya sama dengan yang berpuasa?

Di samping itu, kita juga bisa mengkhatamkan Alquran sebulan sekali kalau kita mau melakukannya. Kita bisa memperbanyak doa, zikir, istighfar, dan bersabar di tengah-tengah kesibukan kita. Bahkan, kita bisa menyisihkan waktu malam kita untuk sekadar salat qiyamul lail. Singkatnya, kita bisa melakukan semua amalan yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lain. Ramadhan biarlah berlalu. Namun janganlah kita lewatkan pula hari-hari pada bulan lain dengan tidak mewarisi amalan-amalan Ramadhan. Kita harus mengupayakan hari-hari sepanjang tahun adalah seolah-olah Ramadhan. Alangkah indahnya hidup ini manakala banyak di antara kita yang menghidupkan Ramadhan sepanjang tahun. Bukankah kita semua ingin mencapai derajat takwa selama hayat masih di kandung badan? (ah)