Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 26 Oktober 2025

Ucapan Terima Kasih dan Permohonan Maaf Dari Sekjen Ikatan Guru Informatika PGRI

OTN Ke-7 Tahun 2025: Terima Kasih, Mohon Maaf, dan Harapan untuk Tahun Depan

Alhamdulillah, kegiatan Olimpiade TIK dan Informatika Nasional (OTN) ke-7 tahun 2025 telah resmi berakhir. Rangkaian kegiatan yang berlangsung di ICE BSD Hall 8, Tangerang, Banten ini meninggalkan banyak kesan bagi para peserta, guru pendamping, dan seluruh panitia penyelenggara. Ada rasa bangga dan bahagia bagi mereka yang berhasil menjadi juara, namun tidak sedikit pula peserta yang pulang dengan rasa sedih dan kecewa karena belum berhasil meraih kemenangan.

Namun demikian, seperti pepatah bijak mengatakan, “Dalam setiap kompetisi, yang terpenting bukan hanya hasilnya, tetapi proses dan pengalaman yang didapatkan.” OTN 2025 bukan sekadar ajang lomba, melainkan wadah pembelajaran, silaturahmi, dan pengembangan kompetensi digital bagi para pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.

Suara dan Harapan Peserta

Setelah kegiatan usai, beberapa peserta menyampaikan saran dan masukan yang sangat konstruktif untuk pelaksanaan OTN berikutnya. Salah satu masukan yang menarik datang dari perwakilan peserta yang berharap agar seluruh peserta mendapatkan e-sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya.

Selain itu, mereka juga mengusulkan agar seluruh finalis tidak hanya memperoleh sertifikat, tetapi juga hadiah atau souvenir dari pihak sponsor sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan mereka hingga tahap akhir.

Saran lainnya yang cukup bijak adalah agar jumlah finalis dibatasi hanya lima besar, dengan pembagian juara 1, 2, 3, serta juara harapan 1 dan 2. Dengan demikian, semua finalis mendapatkan pengakuan, dan tidak ada yang pulang dengan tangan hampa. Banyak peserta datang dari luar daerah dengan biaya yang tidak sedikit, sehingga penghargaan kecil dari panitia atau sponsor akan menjadi bentuk penghormatan atas usaha dan pengorbanan mereka.

Respons Panitia dan Apresiasi Omjay

Menanggapi masukan tersebut, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab disapa Omjay, selaku Sekjen Ikatan Guru TIK dan Informatika (IGTIK) PGRI, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tulus.

“Alhamdulillah, terima kasih atas masukan dan sarannya. Semua peserta biasanya mendapatkan e-sertifikat melalui email masing-masing, dan bisa menghubungi Pak Winarno bila belum menerimanya. Tahun ini sponsor OTN memang sepi, jadi tidak semua peserta bisa mendapatkan hadiah. Semoga tahun depan banyak sponsor yang mau mendukung OTN,” ujar Omjay.

Lebih lanjut, Omjay menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta dan panitia karena tidak dapat terlibat secara aktif dalam penyelenggaraan OTN tahun ini akibat kondisi kesehatan yang menurun. “Omjay juga minta maaf karena sedang sakit, jadi tidak bisa banyak membantu panitia OTN seperti tahun sebelumnya. Selain itu, kami juga kehilangan Ketua Panitia OTN, Pak Bambang, yang meninggal dunia karena serangan jantung. Semoga beliau husnul khotimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” tutur Omjay dengan nada haru.

Doa dan Harapan untuk OTN 2026

Mewakili seluruh panitia, Omjay menyampaikan terima kasih kepada semua peserta, guru pendamping, dan pihak-pihak yang telah mendukung suksesnya OTN 2025. Ia juga berharap agar penyelenggaraan OTN tahun depan lebih meriah, lebih banyak sponsor yang berpartisipasi, dan lebih banyak sekolah yang terlibat.

Semangat untuk terus belajar, berinovasi, dan berkolaborasi di bidang teknologi informasi harus terus dijaga. OTN bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang bagaimana anak-anak Indonesia mampu menunjukkan kreativitas, kerja keras, dan kecintaannya terhadap dunia informatika.

Semoga OTN ke-8 tahun 2026 nanti menjadi ajang yang lebih baik lagi, membawa lebih banyak kebahagiaan, dan menjadi momentum penting dalam mencetak generasi muda yang cakap digital, kreatif, dan berakhlak mulia.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari OTN 2025. Sampai jumpa di OTN berikutnya!

🖋️ Ditulis oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)
Sekjen Ikatan Guru TIK dan Informatika (IGTIK) PGRI
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 25 Oktober 2025

liputan kegiatan otn hari ketiga di ice bsd sepong hall 8

Liputan Hari Ketiga Olimpiade TIK dan Informatika Nasional (OTN) 2025 di ICE BSD, Hall 8
Sabtu, 25 Oktober 2025 – Semangat Kreativitas dan Inovasi di Puncak Acara

Tangerang — Suasana Hall 8 ICE BSD sejak pagi, Sabtu 25 Oktober 2025, kembali dipenuhi semangat luar biasa para finalis Olimpiade TIK dan Informatika Nasional (OTN) 2025. Memasuki hari ketiga, berbagai lomba menarik digelar secara serentak, antara lain lomba gambar digital, robotik, desain web, dan presentasi Canva.

Dari setiap sudut arena, peserta tampak beradu ide dan kreativitas dalam menghasilkan karya terbaiknya. Lomba gambar digital menjadi ajang unjuk kemampuan siswa dalam menggabungkan seni dan teknologi. Tema-tema edukatif, lingkungan, dan inovasi sosial muncul dari setiap kanvas digital yang mereka buat menggunakan perangkat lunak desain pilihan mereka.

Sementara itu, di area robotik, suasana tampak lebih menegangkan namun penuh antusiasme. Para peserta berlomba memprogram robot agar dapat menjalankan tugas yang ditentukan panitia, seperti melewati rintangan dan menyelesaikan misi otomatis. Sorak-sorai penonton dan pembimbing terdengar setiap kali robot berhasil menyelesaikan tantangan dengan sempurna.

Di sisi lain, lomba desain web menjadi arena pembuktian bagi siswa yang menguasai perpaduan antara teknologi digital, logika pemrograman, dan estetika tampilan situs. Peserta ditantang membuat situs edukatif dan informatif yang menarik sekaligus responsif. Kreativitas, struktur navigasi, dan kejelasan informasi menjadi fokus utama penilaian juri.

Adapun lomba presentasi Canva menjadi ajang unjuk kemampuan komunikasi visual peserta. Mereka menampilkan ide-ide segar dengan tampilan slide yang memukau, penuh warna, dan kaya pesan. Kreativitas dalam penyajian serta kepercayaan diri peserta membuat suasana kompetisi terasa inspiratif.

Menjelang sore, acara dilanjutkan dengan penyerahan piala dan penghargaan OTN 2025 untuk para pemenang dari berbagai kategori lomba. Trofi diserahkan langsung oleh Ketua Panitia OTN 2025, Ibu Lilis Juwita, didampingi Wakil Ketua Panitia, Bapak Rohandi, serta para penanggung jawab lomba dari IGTIK PGRI.

Dalam sambutannya, Ibu Lilis Juwita menyampaikan rasa bangga atas semangat dan dedikasi peserta dari seluruh Indonesia.

> “OTN bukan sekadar lomba, tapi wadah bagi siswa untuk berinovasi dan menyalurkan ide kreatifnya. Melalui kegiatan ini, kita menyiapkan generasi digital yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing tinggi,” ujar Ibu Lilis penuh kebanggaan.

Sementara itu, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) yang turut hadir dan memberikan apresiasi, menyampaikan pesan inspiratif bagi peserta.

> “Melihat semangat anak-anak di OTN 2025 membuat saya yakin masa depan Indonesia cerah. Mereka tak hanya pandai menggunakan teknologi, tapi juga mampu menciptakan karya yang bermanfaat. Teruslah belajar dan berkarya dengan hati,” tutur Omjay, sang Guru Blogger Indonesia.

Dr. Dedi Dwitagama, tokoh pendidikan dan motivator nasional, juga memberi komentar positif.

> “OTN adalah contoh nyata pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi. Di sini anak-anak belajar berpikir kritis, bekerja sama, dan berkomunikasi secara efektif. Ini bentuk nyata transformasi pendidikan digital di Indonesia,” ujar Pak Dedi Dwitagama dengan semangat.

Para Penanggung Jawab Lomba juga turut memberikan komentarnya terkait jalannya kompetisi di bidang masing-masing:

Pak Ratno Pujianto, PJ Lomba Robotik, mengatakan:

> “Anak-anak luar biasa! Mereka tak hanya merakit robot, tapi juga memprogramnya dengan logika yang kuat. Banyak ide kreatif yang bahkan melebihi ekspektasi juri. Ini menunjukkan potensi besar di bidang robotika Indonesia.”

Ibu Kania Dewi, PJ Lomba Presentasi Canva, mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan komunikasi peserta.

> “Peserta sangat percaya diri dan mampu menyampaikan ide secara visual dan menarik. Mereka tidak hanya pandai mendesain, tapi juga menyampaikan pesan dengan jelas dan menginspirasi.”

Dr. Simon Simarmata dan Dr. Yunus Rangkuti, selaku PJ Lomba Web Desain, menyampaikan apresiasi terhadap kemampuan teknis dan kreativitas peserta.

> “Kami melihat karya web yang profesional, modern, dan responsif. Beberapa bahkan layak dipublikasikan karena tampilannya sangat matang. Anak-anak ini sudah berpikir seperti desainer dan programmer sejati,” ujar keduanya senada.

Pak Ali Hasyim, PJ Lomba Gambar Digital, turut memberikan tanggapan positif.

> “Karya peserta sangat ekspresif dan menggambarkan karakter mereka. Melalui digital art, mereka mampu menyuarakan pesan sosial dan nilai-nilai pendidikan. Ini bukti bahwa seni dan teknologi bisa berjalan seiring.”

Panitia juga memberikan apresiasi khusus kepada seluruh juri, pembimbing, sponsor, dan mitra yang telah mendukung penuh keberlangsungan acara nasional ini.

OTN 2025 yang mengusung tema “Dengan Teknologi, Kita Terangi Jaringan Inovasi dengan Prestasi” berhasil menjadi wadah pembuktian talenta muda di bidang TIK dan informatika.

Adapun hari keempat, Minggu 26 Oktober 2025, akan menjadi penutup seluruh rangkaian kegiatan dengan lomba eSports serta acara penutupan resmi OTN 2025 yang akan diisi dengan pertunjukan seni, refleksi kegiatan, dan pengumuman juara umum OTN 2025.

OTN 2025 di ICE BSD Hall 8 bukan sekadar lomba, tetapi perayaan kreativitas, inovasi, dan semangat belajar sepanjang hayat.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

kegiatan otn hari kedua di hall 8 ice bsd serpong

Informasi kegiatan lomba otn hari kedua

Hari Kedua OTN 2025 di ICE BSD: Semangat Berkompetisi dan Pelayanan Panitia yang Luar Biasa dipimpin oleh bendahara IGTIK PGRI bapak Tatang Surya Atmaja 

Hari kedua pelaksanaan Olimpiade TIK dan Informatika Nasional (OTN) 2025 di Hall 8 ICE BSD Serpong, Banten berlangsung dengan penuh semangat dan suasana meriah. 

Sejak pagi, para peserta dari berbagai provinsi di Indonesia sudah memenuhi area lomba dengan wajah penuh antusias. Mereka datang membawa semangat juang untuk menjadi yang terbaik dalam ajang bergengsi ini.

Pada hari kedua ini, panitia menyelenggarakan tiga cabang lomba utama, yaitu:
1. Lomba Menulis Blog, 
2. Lomba Cerdas Cermat (LCC) Informatika, dan
3. Lomba Fotografi. 

Ketiganya berlangsung lancar, tertib, dan sarat makna pembelajaran bagi peserta didik yang ingin menyalurkan minat dan bakat di bidang teknologi informasi.

Ketua Panitia OTN 2025, Ibu Lilis Juwita dari Majalengka, mengatakan bahwa semangat peserta tahun ini sangat luar biasa. “Kami bangga melihat antusias para pelajar dari berbagai daerah. Mereka bukan hanya berkompetisi, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai waktu, dan menyalurkan ide-ide kreatif mereka dengan cara yang positif,” ujar Lilis dengan senyum penuh kebanggaan.

Wakil Ketua Panitia, Bapak Rohandi dari Indramayu, menambahkan bahwa OTN tahun ini mengusung semangat kolaborasi digital. “Kita tidak hanya mencari juara, tetapi juga membentuk karakter anak bangsa yang siap menghadapi era digital dengan etika dan kreativitas tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Lomba Menulis Blog, Ibu Endang dari Boyolali, memastikan seluruh peserta mendapatkan kenyamanan dalam menulis dan menyampaikan ide. “Menulis blog itu bukan hanya tentang kata-kata, tapi tentang menyampaikan pesan dengan hati. Kami ingin peserta berani menulis dari pengalaman dan inspirasi yang bermanfaat bagi pembaca,” katanya.

Adapun Lomba Cerdas Cermat Informatika (LCC) yang seharusnya dipimpin oleh Bapak Asep dari Subang, tetap berjalan lancar meski beliau berhalangan hadir dan diganti pak Agung beserta tim dari Jakarta dan pak Winarno dari Lampung.  

Tim teknis yang menggantikan menjalankan lomba dengan baik, sehingga jalannya kompetisi tetap seru dan kompetitif. “Anak-anak luar biasa cepat tanggap dan kritis,” kata salah satu tim teknis dengan kagum.

Untuk Lomba Fotografi, Ibu Siska sebagai penanggung jawab mengarahkan peserta agar mampu menangkap momen terbaik dari kegiatan OTN 2025. “Kami ingin hasil foto bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga bercerita. Ada semangat, ada nilai, dan ada makna di setiap jepretan kamera,” tuturnya.

Di sisi lain, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Guru TIK PGRI (IGTIK PGRI) belum dapat hadir karena masih dirawat di Rumah Sakit Harum Jakarta. Meski demikian, Omjay tetap memantau kegiatan OTN melalui laporan panitia dan siaran langsung di media sosial. “Saya bangga dengan kerja keras semua panitia. Mereka luar biasa melayani peserta dengan sepenuh hati. Meskipun saya belum bisa hadir secara fisik, hati saya tetap di ICE BSD bersama teman-teman semua,” ujar Omjay melalui pesan singkat yang dikirim kepada panitia.

Peserta lomba juga memberikan kesan positif. Alya, siswi SMP dari Bandung yang ikut lomba blog, mengatakan, “Saya senang banget bisa ikut OTN. Panitianya ramah, suasananya seru, dan saya bisa ketemu teman-teman dari berbagai daerah. Ini pengalaman yang nggak akan saya lupakan.”
Sementara Fadli, peserta LCC dari Palembang, menambahkan, “Soalnya menantang tapi seru. Kami belajar kerja sama tim dan berpikir cepat. Panitia juga sigap banget membantu kalau ada kendala.”

Semua panitia OTN 2025 memang patut diacungi jempol. Mereka terlihat bekerja dengan sigap, sabar, dan selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi peserta dan pendamping. Setiap sudut ruangan lomba terasa penuh semangat kebersamaan dan kekeluargaan.

Kemeriahan dan keseruan kegiatan hari kedua ini dapat disaksikan melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok, YouTube, dan tentu saja website resmi OTN di http://www.otn.or.id. Foto-foto dan video yang diunggah menunjukkan bagaimana semangat peserta dan dedikasi panitia berpadu menjadi energi positif yang menginspirasi.

Dengan selesainya hari kedua, OTN 2025 semakin menunjukkan jati dirinya bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga wahana pembentukan karakter unggul bagi generasi digital Indonesia. Melalui semangat kebersamaan, kreativitas, dan pelayanan tulus dari para panitia, OTN terus menyalakan api inovasi dan harapan bagi masa depan pendidikan TIK di tanah air.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 24 Oktober 2025

Diskusi Terpumpun Omjay dan Puskurbuk

Diskusi Terpumpun FGD Omjay dan Puskurbuk: Meningkatkan Pembelajaran Koding di SMP Labschool Jakarta

Jakarta – Di sela masa pemulihan kesehatannya di Rumah Sakit Harum, Jakarta Timur, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau yang akrab disapa Omjay, tetap aktif berkontribusi dalam dunia pendidikan. Pada hari kedua perawatannya, beliau tetap mengikuti Forum Group Discussion (FGD) bersama tim Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbudristek melalui aplikasi Zoom. Diskusi tersebut membahas evaluasi dan penguatan pembelajaran koding (coding) di jenjang Sekolah Menengah Pertama, khususnya di SMP Labschool Jakarta.

Mengupas Esensi Pembelajaran Koding di Sekolah

Dalam FGD tersebut, Omjay menyampaikan pandangannya bahwa pembelajaran koding di sekolah bukan sekadar mengajarkan bahasa pemrograman, tetapi membangun cara berpikir komputasional (computational thinking) pada peserta didik.

> “Koding seharusnya menjadi sarana untuk melatih logika, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Jangan hanya fokus pada hasil programnya, tapi juga proses berpikir di baliknya,” ujar Omjay dalam forum tersebut.

Beliau menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran “belajar melalui proyek” (project-based learning) agar siswa dapat mengaplikasikan konsep informatika dalam kehidupan nyata. Misalnya, membuat aplikasi sederhana untuk membantu kegiatan sekolah, mengelola jadwal belajar, atau bahkan menciptakan permainan edukatif yang relevan dengan pelajaran lain.

Tantangan Implementasi di Lapangan

Dari hasil diskusi, terungkap bahwa meski kurikulum Merdeka telah memberi ruang bagi pembelajaran koding, pelaksanaannya masih menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah keterbatasan kompetensi guru dalam bidang informatika dan teknologi pemrograman.

Omjay menyoroti perlunya pelatihan berkelanjutan bagi guru.

> “Guru harus dibekali pemahaman dasar tentang logika pemrograman dan cara mengajarkannya secara menarik. Puskurbuk bisa berkolaborasi dengan komunitas guru informatika dan lembaga pendidikan seperti Labschool untuk mengadakan workshop atau pendampingan rutin,” jelasnya.

Selain itu, fasilitas dan perangkat di sekolah juga menjadi perhatian. Tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer yang memadai. Oleh karena itu, pembelajaran koding diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah, misalnya melalui koding tanpa komputer (unplugged coding) atau menggunakan perangkat murah berbasis open source.

Peran Labschool Jakarta Sebagai Model

SMP Labschool Jakarta dinilai dapat menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam pembelajaran koding di sekolah. Di bawah bimbingan guru-guru seperti Omjay, siswa Labschool sudah terbiasa mengikuti kegiatan berbasis teknologi seperti Olimpiade TIK dan Informatika Nasional (OTN). Kegiatan ini menumbuhkan minat, semangat, dan kreativitas siswa di bidang informatika.

Dalam kesempatan itu, Puskurbuk juga mengapresiasi inisiatif Labschool yang aktif mengintegrasikan koding dalam berbagai kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

> “Labschool menjadi laboratorium pendidikan yang sangat berharga. Pengalaman dan masukan dari guru seperti Pak Wijaya akan kami jadikan referensi dalam pengembangan buku teks dan panduan pembelajaran informatika di masa depan,” ujar salah satu perwakilan Puskurbuk.

Masukan untuk Kurikulum Informatika

Sebagai penutup, Omjay menyampaikan beberapa rekomendasi bagi Puskurbuk:

1. Menyederhanakan materi koding untuk level SMP, agar lebih fokus pada logika dan algoritma dasar sebelum masuk ke bahasa pemrograman yang kompleks.

2. Mendorong kolaborasi antar sekolah, agar guru-guru informatika dapat saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik.

3. Mengembangkan modul digital interaktif yang mudah diakses siswa dan guru, baik online maupun offline.

4. Mengaitkan koding dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga pembelajaran terasa lebih bermakna dan kontekstual.

Penutup

Diskusi terpumpun antara Omjay dan tim Puskurbuk menjadi momen berharga untuk memperkuat arah pembelajaran koding di Indonesia. Dari ruang perawatan rumah sakit pun, semangat seorang Guru Blogger Indonesia ini tak pernah padam untuk berbagi ilmu dan gagasan demi kemajuan pendidikan nasional.

> “Selama masih bisa berpikir dan menulis, saya akan terus belajar dan berbagi. Karena pendidikan adalah napas kehidupan seorang guru,” tutup Omjay dengan senyum semangat melalui layar Zoom.

Kamis, 23 Oktober 2025

omjay Sakit dan Dilarikan Ke Rumah Sakit Harum Jakarta

Omjay Dilarikan ke RS Harum Jakarta Karena Tekanan Darah Tinggi dan Diabetes

Jakarta — Kabar mengejutkan datang dari sosok inspiratif di dunia pendidikan, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab disapa Omjay. Guru Blogger Indonesia ini harus dilarikan ke Rumah Sakit Harum, Jakarta Timur, pada hari Kamis, 23 Oktober 2025, setelah mengalami gejala serius akibat penyakit darah tinggi dan diabetes yang dideritanya.

Peristiwa itu terjadi ketika Omjay sedang berada di Sekolah Labschool UNJ Rawamangun, tempat beliau mengajar. Menurut rekan-rekan guru, sejak pagi kondisi Omjay terlihat kurang fit. Wajahnya tampak pucat, dan ia sempat mengeluh pusing berat disertai keringat dingin. Karena khawatir terjadi sesuatu yang lebih serius, pihak sekolah segera menghubungi petugas medis dari RS Harum Kalimalang untuk memberikan pertolongan.

Tak lama berselang, ambulans dari RS Harum tiba di lokasi dan langsung menjemput Omjay. Dengan sigap, tim medis memberikan penanganan awal di sekolah sebelum membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Di ruang gawat darurat, dokter memastikan bahwa tekanan darah Omjay meningkat drastis dan kadar gulanya juga tinggi. Kombinasi dua penyakit itu membuat kondisinya harus diawasi dengan ketat.

Kabar sakitnya Omjay langsung menyebar cepat melalui grup-grup WhatsApp guru dan komunitas pendidikan. Banyak rekan sejawat, murid, dan sahabatnya yang merasa sedih dan mendoakan kesembuhan beliau. Tak sedikit yang menuliskan pesan dukungan di media sosial dengan tagar #LekasSembuhOmjay sebagai bentuk kepedulian terhadap guru yang dikenal selalu ceria dan aktif berbagi ilmu itu.

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., juga menyampaikan doa untuk kesembuhan Omjay. Dalam pesannya, beliau menulis, “Masya Allah, Omjay istirahat dulu ya. Jangan dulu penuh aktivitas dan terus tampil di media sosial. Lekas sembuh, Om.” Pesan itu menggambarkan betapa besarnya perhatian dari kalangan pendidik terhadap sosok Omjay yang selama ini menjadi inspirasi bagi ribuan guru di seluruh Indonesia.

Selain aktif mengajar, Omjay dikenal sebagai penulis produktif dan penggerak komunitas guru blogger. Ia selalu mendorong para guru agar mau menulis dan berbagi pengalaman di dunia maya. Melalui blognya, ia sering menuliskan kisah-kisah inspiratif seputar dunia pendidikan, perjuangan guru, dan pentingnya literasi digital di era modern.

Namun, di balik semangatnya yang luar biasa, ternyata Omjay jarang benar-benar beristirahat. Jadwal kegiatan yang padat, mulai dari mengajar, menghadiri seminar, menulis artikel, hingga membimbing lomba Olimpiade TIK Nasional (OTN), membuat tubuhnya kelelahan. Ditambah lagi, tekanan darah tinggi dan diabetes yang sudah lama dideritanya semakin memperburuk kondisi fisiknya.

Kini Omjay sedang menjalani perawatan intensif di RS Harum Jakarta. Dokter menyarankan agar beliau beristirahat total dan mengurangi aktivitas, terutama di media sosial. Meskipun begitu, semangatnya untuk sembuh tidak surut. Dalam pesan singkat yang disampaikan kepada beberapa sahabat dekatnya, Omjay menulis dengan nada optimis, “Doakan Omjay ya, supaya cepat sehat dan bisa mengajar lagi. Guru harus tetap semangat, meski sedang sakit.”

Kisah Omjay ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama para guru dan pegiat pendidikan, bahwa menjaga kesehatan sama pentingnya dengan mengabdi untuk ilmu. Aktivitas yang padat sering kali membuat kita lupa akan kebutuhan tubuh sendiri. Sehebat apa pun semangat yang kita punya, tubuh tetap memiliki batas.

Mari bersama-sama mendoakan agar Omjay lekas pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Sosok beliau sangat dibutuhkan untuk terus menginspirasi para pendidik di Indonesia.

Sebagaimana yang sering ia tulis dalam blognya, “Guru adalah pelita dalam gelapnya zaman. Tapi pelita juga perlu dijaga apinya agar tak padam.” Kini, saatnya kita menjaga pelita itu dengan doa dan kepedulian.

Lekas sembuh, Omjay. Indonesia menunggumu kembali menebar ilmu dan inspirasi.

Rabu, 22 Oktober 2025

Semangat Juang di otn 2025

Semangat Juang di Olimpiade TIK dan Informatika Nasional 2025

Suara musik yang penuh semangat mengalun dari layar gawai. Lagu yang diputar Omjay seharian itu bukan sekadar hiburan, tapi pembakar semangat untuk menyambut perhelatan besar: Olimpiade TIK dan Informatika Nasional (OTN) 2025 yang digelar di ICE BSD Hall 8, Serpong, Tangerang, pada 23–26 Oktober 2025.

Ajang tahunan ini menjadi wadah kompetisi bergengsi bagi para pelajar dari berbagai penjuru Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Informatika. Tahun ini merupakan gelaran OTN ke-7, dan semangat para peserta terasa semakin membara.

Tantangan Zaman Digital

Kita hidup di era ketika teknologi berkembang begitu cepat. Dunia digital tidak lagi sekadar pelengkap kehidupan, tetapi sudah menjadi bagian dari keseharian siswa di sekolah. Di sinilah pentingnya kegiatan seperti OTN 2025, yang tidak hanya menguji kemampuan teknis anak-anak muda Indonesia, tetapi juga melatih mereka berpikir logis, kreatif, dan kolaboratif.

“Anak-anak sekarang harus tidak hanya bisa menggunakan teknologi, tapi juga harus bisa menciptakan sesuatu dari teknologi itu,” ujar Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd), Guru Blogger Indonesia yang hadir memberikan motivasi bagi para peserta.

Kisah Inspiratif dari SDIT Al Fathonah

Salah satu cerita menarik datang dari SDIT Al Fathonah Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang mengirim dua tim terbaiknya untuk mengikuti babak final OTN 2025. Di bawah bimbingan Pak Ahmad Haryadi, guru Informatika yang penuh dedikasi, mereka telah dua tahun berturut-turut menorehkan prestasi gemilang.

“Alhamdulillah, anak-anak sudah sering menjadi juara. Tapi kami ajarkan bahwa kemenangan bukan tujuan utama. Yang terpenting adalah proses belajar dan kerja sama dalam tim,” kata Pak Ahmad penuh semangat.

Bagi para siswa SDIT Al Fathonah, mengikuti OTN bukan sekadar lomba, melainkan petualangan belajar yang menantang dan menyenangkan. Mereka belajar membuat program sederhana, memahami logika algoritma, hingga mempresentasikan ide kreatif berbasis teknologi.

Suasana Penuh Semangat dan Kebersamaan

Begitu memasuki arena ICE BSD Hall 8, suasana langsung terasa berbeda. Ribuan pelajar dari SD, SMP, SMA, hingga SMK hadir mengenakan seragam sekolah dengan wajah penuh semangat. Spanduk bertuliskan “Menjadi Generasi Digital Kreatif dan Berakhlak Mulia” terpasang megah di panggung utama.

Musik latar yang menggema — seperti lagu semangat yang Omjay dengarkan di YouTube — menjadi simbol energi positif seluruh peserta. Setiap langkah, setiap senyum, dan setiap sorakan dukungan mencerminkan semangat juang tanpa menyerah.

“OTN bukan hanya lomba, tapi juga ajang silaturahmi antar sekolah. Anak-anak jadi saling mengenal dan belajar menghargai kemampuan teman-temannya dari daerah lain,” kata Omjay, yang sejak lama dikenal aktif mendukung pendidikan berbasis teknologi.

Membangun Generasi Digital Indonesia

Melalui kegiatan seperti OTN 2025, diharapkan lahir generasi muda yang melek digital, kreatif, dan beretika. Di tengah arus teknologi yang kadang menenggelamkan nilai-nilai kemanusiaan, ajang ini menjadi pengingat bahwa teknologi harus digunakan untuk kebaikan dan kemajuan bangsa.

Omjay menambahkan, “Kita ingin anak-anak tidak hanya pandai bermain gadget, tapi juga bisa menciptakan karya. Musik semangat yang saya dengarkan hari ini seolah menggambarkan perjuangan mereka — penuh irama, penuh kerja keras, tapi tetap indah dinikmati.”

Penutup: Irama Semangat yang Tak Pernah Padam

Ketika lagu semangat itu kembali terdengar di sore hari, Omjay tersenyum. Ia tahu bahwa semangat juang para peserta OTN 2025 adalah nyanyian nyata dari anak-anak Indonesia yang tak pernah lelah belajar dan berinovasi.

Olimpiade TIK dan Informatika Nasional bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang bagaimana kita semua berproses menjadi bangsa yang lebih maju di bidang teknologi.

Seperti nada-nada penuh energi dalam lagu yang menemani hari, semangat OTN 2025 akan terus bergema — menandai langkah-langkah kecil menuju masa depan digital yang lebih cemerlang.

Mari Satukan Langkah Menuju OTN 2025!

Mari bersama satukan langkah untuk OTN 2025.
Kami siap berprestasi! 💪
Hadapi masalah dengan solusi. Kita lakukan inovasi. Kita siap berprestasi. OTN hadir ubtuk sang juara di semua generasi
OTN ada untuk semua siswa di Indonesia.
Kita tunjukkan kebersamaan dan kekuatan semangat.
Dengan teknologi, kita terangi jaringan inovasi dengan prestasi.
Kembangkan ide, wujudkan cita.
Karena OTN membuat kita bisa! 🚀

🎵 Tonton juga musik semangat yang menginspirasi Omjay hari ini:


👉

Kasih like ya video buatan kang eman panitia otn 2024


https://youtu.be/U6fSrJwTcJY?si=kNuxU3_OrTUjmJBN

Senin, 20 Oktober 2025

Pengalaman Mengecewakan Mengurus Tunjangan Profesi Guru yang Belum Valid

Pengalaman Mengecewakan Mengurus Sertifikasi Guru di Gedung D Kemdikbud

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Sekjen IGTIK PGRI & Guru Blogger Indonesia

Hari itu, saya datang dengan semangat dan harapan besar ke kompleks Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Sekarang namanya kemdikdasmen.

Tujuan saya sederhana: menanyakan status sertifikasi guru atau Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang hingga kini belum valid. Sebagai guru yang sudah lama mengabdi dan aktif membimbing rekan sejawat di berbagai daerah, tentu saya ingin memahami secara langsung di mana letak kendalanya.

Langkah pertama saya mulai dari Gedung C, tepatnya di bagian Inisiasi Pelayanan Terpadu Kemdikdasmen. Petugas di sana cukup ramah dan informatif. Setelah memeriksa data, mereka mengatakan bahwa urusan sertifikasi guru dan validasi TPG sekarang sudah dialihkan ke Gedung D lantai 16, tepatnya di bagian yang membidangi guru dan tenaga kependidikan. Dengan penuh semangat, saya pun berjalan menuju gedung tersebut.

Namun, semangat itu mulai menurun ketika saya sampai di sana.

Sesampainya di Gedung D lantai 16, suasananya tampak sepi. Tidak ada petugas di meja pelayanan. Yang menyambut saya justru Pak Wahyu, seorang satpam yang kebetulan berjaga di depan lift. Dengan ramah, ia bertanya apa keperluan saya. Saya pun menjelaskan maksud kedatangan: ingin bertemu dengan Pak Roni atau Bu Warti, dua nama yang disebut oleh petugas di Gedung C sebagai pejabat yang menangani urusan TPG.

Sayangnya, Pak Wahyu menyampaikan bahwa baik Pak Roni maupun Bu Warti tidak ada di tempat. Ia mencoba membantu dengan menelepon beberapa kali, namun tidak diangkat. Satpam itu bahkan dengan sabar menemani saya berkeliling ke beberapa ruangan, berharap ada petugas lain yang bisa memberikan penjelasan. Tapi hasilnya tetap nihil. Semua ruangan tampak kosong.

Di titik itu, saya hanya bisa menarik napas panjang.

Bayangkan, seorang guru yang datang jauh-jauh ke Jakarta untuk menanyakan haknya, justru harus pulang tanpa kejelasan. Tidak ada sistem antrean digital, tidak ada petugas pengganti, bahkan tidak ada informasi kontak resmi yang bisa dihubungi selain nomor-nomor pribadi yang tidak aktif.

Saya tentu bisa memaklumi bila para pegawai sedang ada rapat atau kegiatan di luar kantor. Namun, pelayanan publik seharusnya tidak berhenti hanya karena pejabatnya tidak ada di tempat. Minimal ada petugas piket atau staf penerima tamu yang bisa mencatat aduan dan menjanjikan tindak lanjut.

Ironisnya, di zaman digital seperti sekarang, banyak urusan bisa dilakukan secara daring, tapi justru pelayanan dasar seperti validasi data guru masih mengharuskan kedatangan langsung ke gedung kementerian. Padahal, guru-guru di seluruh Indonesia membutuhkan kepastian data TPG yang valid agar tidak kehilangan haknya.

Saya bukan sedang mengeluh karena belum cairnya tunjangan profesi. Saya hanya berharap mekanisme pelayanan publik di lingkungan Kemendikbudristek bisa lebih manusiawi dan terstruktur. Guru datang bukan untuk menuntut, melainkan untuk mencari kejelasan atas haknya.

Saya juga mengapresiasi sikap Pak Wahyu sang satpam. Di tengah keterbatasannya, beliau tetap berusaha membantu dengan ramah. Justru beliau yang mewakili wajah pelayanan publik hari itu. Ironis, tapi nyata: yang melayani bukan petugas kementerian, melainkan satpam yang peduli.

Sebelum meninggalkan gedung, saya sempat duduk sejenak di lobi lantai dasar. Dalam hati saya berpikir, semoga pengalaman ini menjadi pengingat bahwa reformasi birokrasi bukan sekadar slogan. Guru-guru di Indonesia layak mendapatkan pelayanan yang lebih baik, transparan, dan mudah diakses.

Kekecewaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Tapi saya merasa perlu menuliskannya, agar ada perbaikan. Semoga ke depan, tak ada lagi guru yang datang jauh-jauh hanya untuk menemukan meja kosong dan petugas yang tak kunjung kembali.

Pelayanan publik yang baik bukan diukur dari megahnya gedung, melainkan dari hadirnya empati bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Dan hari itu, di Gedung D lantai 16, saya belajar bahwa empati seorang satpam kadang lebih berharga daripada jabatan tinggi yang sulit ditemui.

Salam blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

3 Pesan Penting Dari Pak Umedi

Inspirasi Pagi dari Pak Umedi yang Baik Hati: Ilmu, Ikhtiar, dan Memaafkan sebagai Jalan Hidup yang Menentramkan
(Ditulis oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd – Guru Blogger Indonesia)

Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menyinari bumi, ada satu pesan bijak yang selalu hadir di layar ponsel banyak guru, sahabat, dan jamaah majelis ilmu. Pesan itu datang dari seorang guru yang dikenal baik hati, sederhana, dan penuh hikmah—beliau adalah Pak Umedi. Lewat rangkaian pesan singkat berjudul “Inspirasi Pagi”, ia mengingatkan kita tentang nilai-nilai kehidupan yang kadang terlupa di tengah kesibukan dunia modern.

Tiga hari terakhir, mulai Sabtu, 18 Oktober 2025, Ahad, 19 Oktober 2025, dan Senin, 20 Oktober 2025, beliau membagikan tiga renungan yang saling berkaitan: tentang ilmu yang tidak diamalkan, ikhtiar yang salah tempat bersandar, dan pentingnya menjaga hati dengan memaafkan. Tiga pesan sederhana, namun jika direnungkan mendalam, mampu menjadi panduan spiritual dan moral bagi siapa pun yang ingin hidup dengan hati tenang dan bermakna.

🌿 1. Ilmu yang Tidak Diamalkan, Hanya Jadi Beban

“Banyak orang mengejar ilmu, ikut kelas, seminar, bahkan membeli buku. Tapi sayangnya, setelah itu hanya berhenti di catatan, tidak pernah dipraktikkan,” tulis Pak Umedi pada Sabtu pagi.

Kalimat itu menohok siapa pun yang membaca. Sebab di era sekarang, mencari ilmu begitu mudah—cukup dengan membuka YouTube, membaca artikel daring, atau mengikuti pelatihan daring. Namun, yang sulit justru adalah mengamalkannya.

Ilmu, kata beliau, ibarat pedang. Jika hanya disimpan, ia akan berkarat. Tapi jika digunakan, ia menjadi senjata yang melindungi. Ini bukan hanya perumpamaan indah, tetapi sebuah ajakan untuk menghidupkan ilmu dalam perbuatan.

Seorang guru sejati tidak diukur dari seberapa banyak gelar akademiknya, tapi dari sejauh mana ia menebarkan manfaat dari ilmu yang dimiliki. Rasulullah SAW bersabda,
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."
(HR. Ahmad)

Maka benar adanya, bahwa ilmu tanpa amal hanyalah beban. Ia menumpuk di kepala tapi tak menyentuh hati. Banyak orang pandai berbicara, tapi sedikit yang benar-benar menjalankan apa yang dikatakan. Ilmu seharusnya melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Ia menuntun kita menjadi pribadi rendah hati, bukan merasa lebih tinggi dari yang lain.

🌸 2. Jangan Salah Bersandar: Ikhtiar dan Tawakal

Keesokan harinya, Ahad, 19 Oktober 2025, Pak Umedi menulis pesan bertema “Jangan Salah Bersandar”. Pesan ini terasa menenangkan bagi siapa pun yang sedang berjuang namun belum melihat hasil.

“Kita sering lupa bahwa ikhtiar hanyalah jalan, bukan penentu hasil,” tulisnya.

Betapa sering kita kecewa karena merasa sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa siang malam, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Padahal, kata beliau, hasil adalah hak Allah. Tugas manusia hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan kemudian bertawakal sepenuhnya kepada-Nya.

Beliau mengutip ayat mulia dalam QS. Ali ‘Imran ayat 159:

> “Apabila kamu telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan pasrah. Kita boleh merencanakan, berstrategi, bahkan berjuang mati-matian. Namun, setelah semua dilakukan, kita harus sadar bahwa keputusan akhir bukan di tangan kita. Allah punya rencana yang lebih sempurna dari sekadar keinginan manusia.

Bagi para pendidik seperti Pak Umedi, pesan ini terasa sangat relevan. Guru seringkali sudah berusaha maksimal dalam mendidik, namun tidak semua murid berhasil sesuai harapan. Di situlah pentingnya tawakal. Karena yang menanam adalah manusia, tapi yang menumbuhkan adalah Allah.

Beliau menutup pesannya dengan kalimat lembut namun kuat:

> “Allah menunda hasil bukan karena Dia lupa, tapi karena Dia ingin menjaga hati kita tetap bergantung pada-Nya.”

🌼 3. Memaafkan: Obat bagi Hati yang Gelisah

Lalu di Senin, 20 Oktober 2025, Pak Umedi kembali hadir dengan tema yang tak kalah penting: memaafkan.

“Bila hari ini belum dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi orang lain, usahakan hari ini tidak melakukan kemarahan dan kebencian pada sesama,” tulisnya di awal pesan.

Di zaman ketika emosi mudah tersulut—baik di dunia nyata maupun dunia maya—nasihat ini terasa seperti air yang menyejukkan. Banyak orang mudah marah karena perbedaan pendapat, status media sosial, atau bahkan hal-hal sepele. Padahal, kemarahan hanya memperburuk keadaan dan merusak ketenangan hati.

Pak Umedi mengutip pesan sufi:

> “Kebencian akan membuat hatimu gelisah dan obatnya adalah memaafkan.”

Dan memperkuatnya dengan sabda Rasulullah SAW:

> “Orang yang paling baik adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang paling memaafkan.” (HR. Tirmidzi)

Memaafkan bukan berarti lemah. Justru di situlah letak kekuatan sejati. Orang yang bisa memaafkan berarti mampu mengendalikan egonya. Ia tidak membiarkan dendam menguasai hidupnya. Dalam konteks pendidikan, guru yang memaafkan muridnya bukan berarti kalah, tetapi sedang mendidik dengan kasih sayang.

🌅 4. Tiga Pesan, Satu Makna: Menjadi Manusia yang Tenang

Jika dicermati, tiga pesan dari Pak Umedi ini memiliki satu benang merah: ketenangan hati.

Ilmu yang diamalkan melahirkan ketenangan karena membawa manfaat.

Tawakal setelah ikhtiar melahirkan ketenangan karena kita bersandar pada Allah.

Memaafkan melahirkan ketenangan karena kita membebaskan diri dari beban kebencian.

Ketiganya adalah pilar utama dalam menjalani kehidupan yang damai dan bermakna. Pak Umedi tidak hanya menulis kata-kata indah, tetapi juga memberikan arah hidup yang praktis dan penuh hikmah. Inilah ciri khas beliau—menyampaikan nilai-nilai agama dan moral dengan bahasa yang lembut, sederhana, namun menghunjam ke hati.

---

🌻 5. Menebar Cahaya Setiap Pagi

Bagi banyak guru dan sahabat yang menerima pesan Inspirasi Pagi dari Pak Umedi, setiap kalimatnya menjadi penyemangat memulai hari. Dalam suasana kerja yang melelahkan, dalam tantangan hidup yang makin kompleks, kata-kata beliau menjadi oase penyejuk jiwa.

Bisa jadi, inilah bentuk ilmu yang diamalkan. Beliau tidak hanya tahu, tapi juga berbagi. Ia tidak sekadar mengingatkan, tapi menggerakkan. Setiap pesan adalah bentuk nyata dari amal jariyah—ilmu yang terus mengalir manfaatnya.

Dan seperti biasanya, setiap pesan beliau selalu ditutup dengan dua kalimat penuh doa dan semangat:

> “Tetap Semangat”
“Barakallah fiikum”

Dua kalimat yang sederhana namun luar biasa maknanya—seolah mengajak kita untuk tetap tegar, tetap positif, dan tetap berbuat baik di tengah segala situasi.

🌞 Penutup

Dalam dunia yang serba cepat ini, di mana notifikasi tak pernah berhenti dan kabar buruk mudah viral, kehadiran sosok seperti Pak Umedi menjadi anugerah. Ia mengingatkan kita untuk kembali kepada esensi: menjalani hidup dengan ilmu, ikhtiar, dan hati yang bersih.

Semoga kita semua bisa meneladani semangat beliau: terus belajar, terus berbuat baik, dan terus menebar kebaikan setiap pagi. Karena sebagaimana kata beliau,

> “Ilmu tanpa amal hanyalah beban, tapi ilmu yang diamalkan akan jadi cahaya.”

Maka, marilah kita jadikan setiap pagi sebagai kesempatan baru untuk menyalakan cahaya itu—bagi diri sendiri, keluarga, dan sesama manusia.

Tetap Semangat!
Barakallah fiikum. ✨

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 18 Oktober 2025

Mudahnya Jadi Blogger di Era Kecerdasan Buatan

Mudahnya Menjadi Blogger di Era Kecerdasan Buatan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pada era digital yang semakin canggih ini, menjadi blogger bukan lagi hal yang sulit. Dulu, menulis di internet memerlukan keahlian teknis dan waktu yang tidak sedikit. Namun kini, berkat perkembangan kecerdasan buatan (AI), siapa pun bisa menjadi penulis digital hanya dengan bermodalkan niat dan semangat berbagi pengetahuan. Inilah yang saya sampaikan kepada para siswa SMKN 6 Jakarta dalam kegiatan literasi digital bertema “Mudahnya Menjadi Blogger di Era Kecerdasan Buatan”.

Saya selalu mengatakan kepada para guru dan siswa: “Menulislah dengan hati, bukan hanya dengan teknologi.” AI memang memudahkan kita menulis, tetapi nilai sebuah tulisan tetap terletak pada ketulusan dan kejujuran hati penulisnya. Blog bukan sekadar tempat curhat atau mencatat kegiatan, melainkan media belajar, berbagi, dan menginspirasi banyak orang.

1. Era Baru Blogger: Kolaborasi Manusia dan AI

Di era sekarang, menulis di blog bisa dilakukan dengan bantuan berbagai alat berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Grammarly, atau Copilot. Alat-alat ini bukan untuk menggantikan manusia, melainkan membantu agar tulisan lebih cepat, rapi, dan enak dibaca. Misalnya, saat kita kesulitan mencari ide atau merangkai kata, AI bisa memberikan saran topik dan struktur tulisan yang menarik.

Namun, saya selalu mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti penulis. Blogger sejati tetap harus menulis berdasarkan pengalaman pribadi, observasi, dan pemikiran kritis. Dengan begitu, tulisan menjadi lebih hidup dan memiliki nilai otentik.

2. Langkah Mudah Menjadi Blogger

Banyak siswa dan guru di SMKN 6 Jakarta yang awalnya ragu menulis karena merasa tidak punya bakat. Padahal, menulis di blog itu sangat mudah bila tahu langkah-langkahnya. Berikut cara sederhananya:

1. Pilih Platform Blog
Gunakan platform gratis seperti Blogger.com, WordPress.com, atau Kompasiana.com. Tidak perlu pusing soal domain dan hosting di awal, karena semua bisa dimulai dari versi gratis.

2. Tentukan Tema Tulisan
Pilih tema yang disukai, seperti hobi, teknologi, kuliner, pendidikan, atau pengalaman sehari-hari di sekolah. Tulisan yang berasal dari minat pribadi akan terasa lebih natural.

3. Mulai Menulis Secara Konsisten
Jangan menunggu sempurna untuk mulai. Tulislah apa yang ada di pikiran. Seiring waktu, kemampuan menulis akan meningkat dengan sendirinya.

4. Gunakan Bantuan AI Secukupnya
AI bisa membantu menyusun paragraf, memeriksa tata bahasa, atau membuat ringkasan. Tapi jangan sampai semua diserahkan pada AI, karena tulisan akan kehilangan karakter penulisnya.

5. Bagikan dan Bangun Pembaca
Setelah tulisan dipublikasikan, sebarkan lewat media sosial. Respon dari pembaca akan menjadi motivasi untuk terus menulis.

3. Blogger sebagai Pelajar Kreatif dan Produktif

Saya selalu bangga bila melihat siswa menjadi blogger aktif. Di SMKN 6 Jakarta, beberapa siswa sudah mulai membuat blog pribadi berisi karya tulis, proyek sekolah, bahkan dokumentasi kegiatan praktik kerja industri. Mereka belajar bagaimana memanfaatkan blog sebagai portofolio digital, yang nantinya berguna ketika melamar kerja atau kuliah.

Menulis blog juga melatih literasi digital dan etika berinternet. Siswa belajar bagaimana menyaring informasi, menulis dengan sumber yang valid, serta menghargai hak cipta. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta konten positif di dunia maya.

4. Menulis Itu Melatih Kedisiplinan

Sebagai guru blogger, saya selalu menekankan bahwa menulis itu sama seperti berolahraga. Kalau tidak dilatih, kemampuan menulis akan tumpul. Mulailah dengan target sederhana: satu tulisan per minggu. Tak perlu panjang, yang penting konsisten. Dari kebiasaan kecil itu, lama-lama akan terbentuk disiplin dan karakter tangguh.

5. Penutup: Menulis Itu Mudah, Asal Mau Memulai

Menjadi blogger di era kecerdasan buatan sangat mudah. Tak perlu jadi ahli IT atau penulis profesional. Cukup dengan niat berbagi, sedikit keberanian, dan semangat belajar teknologi baru, siapa pun bisa menjadi blogger sukses.

Saya mengajak para siswa SMKN 6 Jakarta untuk tidak takut menulis. Jadikan blog sebagai tempat menuangkan ide, menebar inspirasi, dan meninggalkan jejak kebaikan di dunia digital. Ingat pesan Omjay:

> “Menulislah setiap hari, dan rasakan keajaibannya. Karena tulisan yang lahir dari hati, akan mengetuk banyak hati.”

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

olimpiade tik dan informatika nasional 2025

Info olimpiade tik dan informatika nasional 

Kekuatan Kebersamaan dan Semangat: Landasan Utama OTN Ketujuh

Pada tanggal 23 hingga 26 Oktober 2025, Hall 8 ICE BSD, Serpong, akan menjadi saksi dari kebersamaan, semangat, kreativitas, dan kompetisi para pelajar terbaik Indonesia dalam perhelatan OTN ke-7 (Olimpiade TIK dan Informatika Nasional).  Acara ini bukan sekadar arena kompetisi, melainkan panggung nasional yang menyatukan ribuan siswa dari berbagai penjuru negeri, guru-guru, pembina, dan komunitas teknologi dalam satu suasana penuh energi.

Bagi banyak peserta, berkompetisi di OTN bukan soal siapa yang paling unggul secara teknis saja. Lebih dari itu, ini adalah momentum di mana persahabatan terjalin, ide bersinggungan, dan semangat kolektif membentuk atmosfer positif. Di tengah gemuruh tantangan—lomba robotik, desain web, pembuatan game edukatif, video kreatif—terdapat nadi kebersamaan yang menggerakkan setiap individu untuk terus maju.

---

Jejak Sejarah dan Tema OTN 2025

Sejak diselenggarakan pertama kali pada 2016, OTN terus berkembang menjadi ajang yang dinanti-nantikan oleh pelajar dan pendidik.  Tahun 2025 menandai gelaran ketujuh, kembali di ICE BSD Serpong, setelah edisi sebelumnya juga dilaksanakan di tempat yang sama.  Panitia tahun ini mengusung tema “Technology For New Era”, sebagai semangat inovasi dan kolaborasi di era digital yang terus berubah cepat. 

Tema ini juga mengundang peserta untuk melihat teknologi bukan hanya sebagai alat, melainkan medium ekspresi, kreativitas, dan perubahan sosial. Melalui lomba-lomba yang dihadirkan, setiap tim dipaksa berpikir dari sisi bagaimana teknologi dapat membawa dampak positif bagi lingkungan, pendidikan, dan masyarakat luas.

---

Sportivitas dalam Kompetisi, Kebersamaan dalam Interaksi

Dalam kerangka sebuah kompetisi, sering kali yang paling terlihat adalah siapa yang juara, siapa yang kalah. Namun di OTN, kemenangan sejati tak melulu soal prestasi individu — melainkan tentang bagaimana peserta saling memberi semangat, berbagi ilmu, dan tumbuh bersama.

1. Dukungan Teman Se-Tim dan Lintas Sekolah

Ketika tim menghadapi problem teknis atau kesulitan langkah, suara temannya, tawa ringan, bahkan candaan sederhana bisa menjadi pemantik ide segar atau semangat kembali berdiri. Kebersamaan tim membantu memecah beban ketegangan dan menjaga fokus di tengah tekanan waktu.

2. Bertemu Teman Se-Provinsi dan Lintas Daerah

Di tengah arena ICE BSD, para peserta dari Aceh hingga Papua berkumpul. Meski dari sekolah, budaya, dan latar belakang berbeda, mereka menemukan titik temu dalam hasrat akan teknologi dan kompetisi. Interaksi di sela lomba — saat istirahat, di sudut hall, atau antrean snack — membangun solidaritas baru yang bersifat lintas wilayah.

3. Guru dan Pembina sebagai Penopang Semangat

Tak hanya siswa, peran guru dan pembina sangat vital. Mereka menyokong secara mental, memberikan insight teknis, dan kadang menjadi penghibur ketika semangat meredup. Kebersamaan antara guru dan peserta menjadi salah satu unsur penting agar proses kompetisi tetap manusiawi dan penuh kehangatan.

---

Semangat Kolektif sebagai Sumber Energi

Suatu kompetisi berskala nasional seperti OTN tentu memerlukan energi besar — dari peserta, panitia, hingga pendukung. Semangat kolektif bisa menjadi sumber daya yang tidak terlihat, namun terasa dalam setiap detik perlombaan.

Motivasi Bersama

Ketika satu tim berhasil melewati soal sulit, teriakan “Allahu akbar!”, tepuk tangan, sorakan spontan bisa terjadi. Momen seperti itu menyuntikkan semangat ke seluruh pengunjung arena. Mereka yang belum yakin akan kemampuan, melihat sisi manusiawi dari kompetisi dan merasa tak sendirian.

Mengatasi Kelelahan dan Tekanan

Dalam lomba maraton seperti kompetisi robotik atau coding intensif, kelelahan dan stres bisa menghampiri siapa pun. Namun, kebersamaan di tim atau dukungan dari tim lain menjadi obat. “Ayo lanjut, tinggal dua soal lagi”, “Coba ulang fungsi itu”, “Kalian bisa!” — kata-kata sederhana tapi bermakna besar dalam menjaga energi tetap menyala.

Belajar dari Kekalahan dan Bangkit Bersama

Tak semua tim akan mendapatkan medali atau gelar juara. Tetapi di situlah semangat kebersamaan diuji: ketika satu tim gagal di babak final, tim lain ikut memberi tepuk tangan apresiasi, memberikan dorongan agar tetap semangat di lain kesempatan. Kekalahan berubah menjadi pengalaman berharga ketika diam-diam diiringi empati dan dukungan.

---

Menyatukan Cita-cita Digital dan Persahabatan

OTN 2025 mempertemukan berbagai cabang lomba — robotik, desain web, game edukatif, video kreatif, e-sport edukatif, dan lain-lain — yang menggambarkan spektrum teknologi masa kini.  Dengan keberagaman ini, peserta tidak hanya diuji kompetensinya, melainkan seringkali dituntut untuk kolaborasi antar lintas bidang: misalnya tim coding harus bekerja sama dengan tim desain atau video kreatif agar proyek teknis mereka menarik secara konten.

Dalam suasana seperti ini, kebersamaan melebur antar segmen kompetisi. Seorang peserta desain bisa membantu tim robotik dalam merancang UI, tim video kreatif bisa berbagi insight audiovisual kepada peserta pembuatan game, dan seterusnya. Sinergi seperti ini memperkaya proses belajar dan memperkuat jaringan antar peserta.

---

ICE BSD sebagai Ruang Kolaborasi dan Inspirasi

Lokasi Hall 8 ICE BSD bukan sekadar panggung besar, tetapi ruang yang mendukung interaksi, show, pameran, dan networking. ICE BSD merupakan gedung konvensi dan pameran terbesar di Indonesia dengan luas total yang besar dan fasilitas premium.  Keluwesan ruang Hall 8 memungkinkan berbagai kegiatan yang melibatkan panggung utama, sudut pameran, booth inovasi, area istirahat, dan zona networking.

Dalam setiap sudut hall, peserta dapat berinteraksi secara tidak formal — berdiskusi soal solusi teknis, bertukar kontak, memamerkan proyek, atau sekadar menikmati suasana sesama pencinta teknologi. Kebersamaan tumbuh dari momen-momen “di luar kompetisi” itu.

---

Harapan dan Warisan Kekuatan Kebersamaan

Ketika tirai OTN ke-7 ditutup pada 26 Oktober 2025, bukan hanya pemenang yang akan dikenang — melainkan semangat kolektif, kebersamaan yang muncul di antara para peserta, dan jalinan relasi baru. Beberapa harapan dan warisan yang bisa muncul:

1. Kader Teknologi Masa Depan
Peserta yang pernah bersama di OTN bisa terus berkolaborasi hingga era kampus atau karier mereka, membangun startup, komunitas teknologi, atau riset digital.

2. Jejaring Lintas Wilayah
Siswa dari provinsi yang berbeda dapat menjadi sahabat teknologi, saling menguatkan bahkan setelah kompetisi usai.

3. Budaya Kolaborasi dalam Pendidikan
Guru dan sekolah yang menyaksikan keberhasilan OTN bisa mendorong budaya kerja tim, kolaborasi lintas kelas, dan penggunaan TIK sebagai media kolaboratif.

4. Inspirasi untuk Generasi Muda
Kisah kebersamaan, kegigihan, dan semangat yang muncul di OTN dapat menjadi cerita inspiratif bagi adik-adik sekolah, agar percaya bahwa teknologi dan inovasi bukan domain eksklusif, tapi bisa dijangkau bersama-sama.

---

Penutup

OTN ke-7 di Hall 8 ICE BSD, Serpong, bukan sekadar arena lomba. Ia adalah panggung yang merayakan kekuatan kebersamaan dan semangat generasi muda Indonesia dalam merajut masa depan digital mereka. Di balik setiap baris kode, robot yang bergerak, video kreatif, dan gagasan inovatif — tetap ada elemen utama: manusia yang saling menyemangati, bertukar pikiran, dan membangun jalinan pertemanan di tengah kompetisi.

Semoga OTN 2025 tidak hanya menghasilkan para juara, tetapi juga meninggalkan kenangan mendalam tentang bagaimana kebersamaan dan semangat bisa menggerakkan perubahan.

Klik https://www.otn.or.id
⁰