Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 05 November 2025

Makan Bergizi Gratis Harus Lebih Bamyak Buah dan Sayur

Info MBG

Makan Bergizi Gratis: Lebih Banyak Buah dan Sayur, Seperempat Nasi dan Lauk Pauk

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Opini untuk Melintas.id


---

Mengubah Pola Makan, Membangun Generasi Sehat

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini dijalankan pemerintah menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif. Kebijakan ini bukan sekadar memberi makan, tetapi juga membangun kesadaran gizi sejak usia dini di lingkungan sekolah.

Anak-anak di berbagai daerah kini mulai terbiasa dengan porsi makan sehat: lebih banyak buah dan sayur, seperempat nasi, dan lauk pauk bergizi. Pola sederhana ini mengajarkan keseimbangan — bahwa tubuh tidak hanya membutuhkan karbohidrat, tapi juga vitamin, mineral, dan protein untuk tumbuh optimal.

Selama ini, banyak keluarga di Indonesia masih berprinsip “yang penting kenyang”. Nasi menumpuk, sayur hanya sedikit, buah sering kali tidak tersaji. Padahal, menurut para ahli gizi, porsi sehat seharusnya adalah setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat piring nasi, dan seperempat piring lauk berprotein.

Dengan pola seperti ini, anak-anak mendapatkan energi yang cukup tanpa kehilangan kandungan gizi penting untuk tumbuh dan belajar. Anak-anak yang mengonsumsi sayur dan buah secara rutin juga terbukti lebih fokus, jarang sakit, dan memiliki daya tahan tubuh lebih kuat.


---

Peran Guru dan PGRI dalam Mengawal MBG

Sebagai organisasi profesi guru terbesar dan tertua di Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memandang program MBG sebagai bagian integral dari pendidikan nasional. Gizi yang baik adalah fondasi dari pembelajaran yang efektif.

Ketua Umum PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, menyampaikan:

> “Guru adalah garda terdepan dalam memastikan anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara jasmani. Program makan bergizi gratis harus dipahami sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang utuh. PGRI mendukung penuh upaya pemerintah ini dan siap berkolaborasi agar pelaksanaannya benar-benar berdampak di sekolah.”



Guru, lanjut Prof. Unifah, tidak hanya mengajar lewat kata, tetapi juga lewat teladan. Dengan ikut mendampingi anak-anak makan sehat di sekolah, guru menanamkan kebiasaan baik yang akan terbawa hingga mereka dewasa.

Sementara itu, Omjay (Dr. Wijaya Kusumah) menambahkan:

> “Kalau guru ikut makan sehat bersama siswa, anak-anak akan meniru. Pendidikan gizi tidak cukup dari teori, tapi harus lewat praktik langsung di sekolah. PGRI bisa membantu pemerintah memastikan menu yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi.”



PGRI juga mendorong pelatihan dan sosialisasi gizi seimbang untuk para guru. Dengan begitu, setiap sekolah dapat menjadi pusat pembelajaran gizi yang menyenangkan — mulai dari menanam sayur di kebun sekolah hingga membuat menu sehat lokal yang mudah diterapkan.


---

Gotong Royong Mewujudkan Indonesia Sehat

Program Makan Bergizi Gratis tidak akan berhasil tanpa kolaborasi. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan anggaran, guru memberi keteladanan, orang tua melanjutkan kebiasaan baik di rumah, dan masyarakat ikut menyediakan bahan pangan segar dari lingkungan sekitar.

Melalui kolaborasi ini, MBG bukan hanya soal makan gratis, tetapi gerakan nasional yang menyatukan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat.

Koperasi sekolah dan UMKM lokal bisa dilibatkan dalam penyediaan bahan pangan. Hal ini bukan hanya memastikan makanan segar dan bergizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar sekolah.

Omjay menegaskan:

> “PGRI hadir untuk memastikan setiap anak Indonesia, tanpa memandang daerah atau latar belakang ekonomi, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan gizi sehat di sekolah. Ini adalah bentuk nyata keadilan sosial di dunia pendidikan.”




---

Penutup: Dari Piring Sehat Menuju Generasi Emas

Program Makan Bergizi Gratis adalah wujud nyata perhatian negara terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Dari piring sederhana yang berisi lebih banyak buah dan sayur, seperempat nasi, dan lauk pauk bergizi, kita sedang menanam benih masa depan bangsa yang kuat dan berkarakter.

Prof. Unifah Rosyidi menegaskan:

> “Pendidikan yang bermutu harus dimulai dari anak yang sehat. Tidak ada belajar yang efektif dengan perut lapar. MBG adalah bagian dari upaya besar bangsa ini membangun manusia Indonesia yang utuh: sehat, cerdas, dan berakhlak.”



Dari piring kecil di sekolah, kita sedang membangun negeri besar dengan semangat PGRI untuk Indonesia Maju. Guru menjadi teladan, anak-anak belajar bahagia, dan bangsa melangkah pasti menuju generasi emas 2045.


---

Tentang Penulis:
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, akrab disapa Omjay, adalah Guru Blogger Indonesia dan pengurus aktif PGRI. Beliau juga dikenal sebagai pendidik dan penulis produktif yang telah menulis ribuan artikel pendidikan dan motivasi di berbagai media daring.


---

Tag: #PGRI #MakanBergiziGratis #Omjay #UnifahRosyidi #GuruIndonesia #OpiniMelintas

Gagasan Jadi Tulisan Bagaimana Caranya?

Mengubah Gagasan Jadi Tulisan
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Setiap orang sebenarnya memiliki banyak gagasan dalam pikirannya. Gagasan itu bisa muncul dari pengalaman, pengamatan, percakapan, atau bahkan dari perasaan yang paling dalam. Namun sayangnya, tidak semua orang mampu menuangkan gagasan tersebut menjadi sebuah tulisan yang utuh dan bermakna. Padahal, menulis adalah cara paling sederhana namun paling ampuh untuk mengabadikan gagasan agar tidak hilang ditelan waktu.

Menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, tetapi tentang keberanian menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk yang bisa dibaca dan dipahami orang lain. Dalam proses inilah, gagasan yang tadinya hanya berputar-putar di kepala berubah menjadi karya nyata. Banyak orang yang memiliki ide cemerlang, tetapi karena tidak menuliskannya, ide itu menguap begitu saja. Seperti kata pepatah lama, “Ide yang tidak ditulis sama dengan ide yang hilang.”

Sebagai seorang guru sekaligus blogger, saya (Omjay) sering menemui banyak rekan guru dan siswa yang sebenarnya memiliki banyak ide menarik untuk ditulis. Mereka ingin menulis pengalaman mengajar, kisah inspiratif, atau pandangan tentang dunia pendidikan. Namun kendala terbesar mereka bukan pada kekurangan ide, melainkan pada ketakutan untuk memulai. Mereka sering berkata, “Saya tidak tahu harus mulai dari mana,” atau “Takut tulisan saya jelek.” Padahal, sejatinya tulisan yang baik itu lahir dari keberanian untuk menulis dan kesediaan untuk belajar dari proses.

Langkah pertama dalam mengubah gagasan menjadi tulisan adalah menangkap ide itu dengan cepat. Saat gagasan muncul, segeralah catat, baik di buku kecil, ponsel, atau bahkan di secarik kertas. Jangan biarkan ide itu pergi begitu saja. Ide bagaikan kupu-kupu — indah tapi cepat menghilang bila tidak segera ditangkap.

Langkah kedua adalah mengembangkan gagasan tersebut menjadi kerangka tulisan. Misalnya, bila idemu tentang “guru yang inspiratif”, buatlah poin-poin penting seperti: siapa tokohnya, apa yang membuatnya inspiratif, pengalaman apa yang berkesan, dan nilai apa yang bisa dipetik. Dengan kerangka ini, kita punya panduan arah menulis agar tidak keluar jalur.

Langkah ketiga adalah menulis draf pertama tanpa takut salah. Jangan pikirkan dulu soal ejaan, tanda baca, atau keindahan kalimat. Biarkan ide mengalir apa adanya. Tulisan pertama sering kali belum sempurna, tapi di situlah keindahan proses menulis. Setelah selesai, barulah masuk ke tahap revisi dan penyuntingan, di mana kita memperbaiki tata bahasa, menambah ilustrasi, dan memperkuat pesan utama.

Menurut Omjay, menulis itu ibarat memasak. “Kalau bahan-bahannya sudah ada, tinggal kita olah dengan cara yang benar. Kadang rasanya belum pas, tapi lama-lama kita akan terbiasa menakar bumbu dan tahu mana yang enak dibaca,” ujarnya sambil tersenyum. Artinya, semakin sering kita menulis, semakin tajam kemampuan kita mengubah gagasan menjadi tulisan yang menggugah.

Selain itu, penting juga untuk menemukan gaya menulis sendiri. Jangan terlalu sibuk meniru orang lain. Biarkan tulisanmu mencerminkan kepribadianmu. Seorang penulis sejati menulis dengan hati, bukan dengan ambisi. Tulis apa yang kamu yakini, rasakan, dan alami. Dengan begitu, pembaca akan merasakan kejujuran dan kedalaman pesanmu.

Dalam dunia pendidikan, kemampuan menulis menjadi sangat penting. Guru yang mampu menulis akan lebih mudah menyebarkan gagasannya dan menginspirasi banyak orang. Tulisan guru bisa menjadi refleksi, catatan pembelajaran, bahkan solusi bagi permasalahan di dunia pendidikan. Karena itu, Omjay sering mengingatkan para guru: “Jangan biarkan gagasanmu berhenti di kepala. Tulislah, dan biarkan dunia tahu bahwa guru juga bisa berkarya melalui tulisan.”

Proses menulis memang membutuhkan waktu, ketekunan, dan latihan terus-menerus. Tak ada penulis hebat yang lahir dalam semalam. Semua melalui proses panjang penuh revisi dan pembelajaran. Tapi percayalah, setiap tulisan yang lahir dari kejujuran hati akan menemukan pembacanya.

Akhirnya, mengubah gagasan menjadi tulisan adalah perjalanan menuju kedewasaan berpikir. Saat kita menulis, kita sebenarnya sedang berdialog dengan diri sendiri — menyusun ulang pikiran, menimbang makna, dan menemukan jati diri. Tulisan bukan hanya untuk dibaca orang lain, tapi juga untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Omjay selalu berpesan, “Menulislah setiap hari, walau hanya satu paragraf. Karena dari satu paragraf itulah lahir seribu gagasan baru yang bisa mengubah dunia.” Maka jangan tunggu sempurna untuk mulai menulis. Mulailah sekarang, dari apa yang kamu pikirkan dan rasakan. Sebab, dunia membutuhkan gagasanmu — dan tulisanmu adalah jembatan agar gagasan itu abadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Istriku Adalah Pahlawanku

Kisah omjay:

Istriku Adalah Pahlawanku

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Kita mengenang jasa para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan negeri ini. Namun, bagi saya, pahlawan tidak selalu harus berperang di medan laga. Ada pahlawan-pahlawan kecil di sekitar kita, yang dengan tulus berjuang tanpa pamrih. Salah satunya adalah istriku sendiri.

Bagi saya, istriku adalah pahlawanku. Ia bukan pahlawan yang tampil di televisi atau terpampang di buku sejarah, tetapi setiap hari ia berjuang di medan kehidupan. Ia mengurus rumah, mendidik anak-anak, mendampingi suami yang kadang terlalu sibuk dengan kegiatan mengajar, menulis, dan berorganisasi. Ia melakukannya dengan cinta dan kesabaran tanpa batas.

Saya masih ingat betul masa-masa sulit saat awal menikah. Kami hidup sederhana di rumah kontrakan kecil di Jakarta Timur. Gaji guru waktu itu pas-pasan, tapi istriku tak pernah mengeluh. Ia selalu berkata, “Yang penting halal dan barokah.” Kalimat itu sederhana, tapi selalu menguatkan saya untuk terus berjuang menjadi guru yang jujur dan amanah.

Kini, setelah puluhan tahun bersama, saya semakin yakin bahwa keberhasilan saya hari ini tidak lepas dari peran besar seorang istri. Ketika Ayah diundang mengisi pelatihan guru di luar kota, dialah yang menyiapkan semua keperluan Ayah. Saat Ayah sibuk menulis artikel hingga larut malam, ia yang setia mengingatkan untuk istirahat. “Jangan lupa minum obat, Yah,” katanya lembut. Suara itu menenangkan, membuat Ayah sadar bahwa kesehatan lebih penting dari segala ambisi.

Beberapa tahun lalu, Ayah sempat dirawat di rumah sakit karena diabetes dan hipertensi. Di saat tubuh Ayah lemah, istriku selalu ada di sisi tempat tidur. Ia tak pernah menunjukkan wajah lelah meski begadang setiap malam. Ia suapi Ayah dengan sabar, menenangkan ketika gelisah, dan selalu berdoa agar Ayah segera pulih. Saat itu Ayah sadar, betapa berharganya kehadirannya. Dialah yang membuat Ayah bangkit kembali.

Pahlawan bukan hanya mereka yang menumpahkan darah di medan perang, tetapi juga mereka yang berkorban tanpa pamrih demi orang-orang yang mereka cintai. Istriku mungkin tidak mengenakan seragam atau tanda jasa, tapi pengorbanannya nyata. Ia mendidik anak-anak kami dengan kasih sayang, menanamkan nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kerja keras.

Kini, ketika anak-anak kami sudah tumbuh besar dan mulai mandiri, Ayah melihat senyum di wajahnya. Senyum yang menunjukkan kebahagiaan seorang ibu yang berhasil menunaikan tugasnya. Ia tak pernah meminta penghargaan apa pun. Cukup melihat keluarganya bahagia, itu sudah menjadi kebanggaan baginya.

Dalam setiap tulisan yang Ayah buat di Kompasiana, ada campur tangan istri Ayah. Ia sering memberi masukan sederhana, “Tulis saja dengan hati, jangan terlalu banyak teori.” Dan benar, tulisan yang keluar dari hati akan lebih menyentuh pembaca.

---

💬 Komentar Omjay:

> “Terima kasih, istriku tercinta. Engkau bukan hanya pendamping hidup, tapi juga guru kehidupan yang mengajarkan makna cinta, kesabaran, dan keikhlasan. Semua prestasi dan karya yang Ayah hasilkan adalah buah dari doa dan dukunganmu yang tiada henti.”

💖 Komentar Intan

(Putri pertama kami, sarjana sastra Inggris yang kini sudah berkeluarga)

> “Mama adalah contoh nyata bahwa cinta sejati itu bukan kata-kata, tapi tindakan. Dari Mama, aku belajar arti tanggung jawab dan kesabaran dalam membangun keluarga.”

💎 Komentar Berlian

(Putri kedua kami, baru lulus menjadi sarjana hukum)

> “Mama selalu bilang, jadilah orang yang bermanfaat bagi sesama. Itu nasihat sederhana tapi bermakna. Terima kasih, Ma, sudah jadi pahlawan dalam hidup kami.”

---

Bagi Ayah, Hari Pahlawan bukan hanya untuk mengenang para pejuang masa lalu, tapi juga untuk menghargai para pahlawan masa kini — mereka yang berjuang dalam senyap. Dan salah satu pahlawan itu adalah istriku tercinta.

Terima kasih, istriku. Engkau bukan hanya cahaya dalam keluarga, tetapi juga pelita dalam setiap langkah hidup Ayah dan anak-anakmu. Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan surga-Nya untukmu.

Karena bagiku, di dunia ini hanya ada satu pahlawan sejati yang paling berharga —
Istriku, pahlawanku. ❤️

---

✍️ Artikel ini ditulis untuk Lomba Hari Pahlawan KOPAJA71, sebagai bentuk penghargaan kepada pahlawan-pahlawan kehidupan yang hadir dalam rumah tangga sederhana kita.

📚
#HariPahlawan
#KOPAJA71
#PahlawanKeluarga
#Kompasiana
#CintaDanPerjuangan
#OmjayMenulis
#GuruBloggerIndonesia

---

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Selasa, 04 November 2025

jeritan hati supir angkot bekasi

Jeritan Hati Sopir Angkot Bekasi

Di tengah hiruk-pikuk kota Bekasi yang tak pernah sepi, suara mesin angkot masih menjadi latar khas di jalanan. Namun di balik bisingnya klakson dan teriakan kenek yang memanggil penumpang, tersimpan kisah getir para sopir angkot yang perlahan terpinggirkan oleh zaman. Mereka bukan sekadar pengemudi, tapi saksi hidup perubahan kota yang kini kian meninggalkan mereka.

Pagi yang Tak Lagi Ramai

Setiap hari, sejak pukul lima pagi, Pak Darto sudah menyalakan mesin angkot tuanya di garasi sempit pinggiran Rawalumbu. Dengan wajah lelah namun tetap tegar, ia menyiapkan diri menyusuri rute terminal Bekasi hingga Pondok Gede. Dulu, katanya, tak sampai sejam sudah penuh penumpang. Kini? Dua jam berlalu pun bangkunya masih kosong.

“Sekarang semua orang naik ojek online, Nak,” ujarnya lirih sambil menatap kaca spion yang buram. “Dulu saya bisa bawa pulang seratus ribu lebih. Sekarang, lima puluh ribu aja sudah syukur.”

Harga bensin naik, suku cadang mahal, sementara jumlah penumpang turun drastis. Di antara jalanan macet dan panas terik, para sopir angkot berjuang bertahan hidup — bukan hanya melawan waktu, tapi juga melawan ketidakpastian.

Mereka yang Bertahan di Tengah Perubahan

Bekasi yang dulu dikenal dengan deretan angkot warna-warni kini perlahan berubah. Transportasi berbasis aplikasi mengambil alih banyak rute yang dulu dikuasai angkot. Namun, bagi sebagian sopir, angkot bukan sekadar kendaraan, tapi sumber penghidupan yang sudah melekat puluhan tahun.

“Dari muda saya nyopir, sekarang umur sudah lima puluh lebih. Kalau disuruh berhenti, mau kerja apa lagi?” tanya Pak Darto sambil tersenyum pahit.

Ia bukan satu-satunya. Di terminal Kayuringin, puluhan sopir lain duduk menunggu penumpang yang tak kunjung datang. Ada yang iseng merokok, ada yang tidur di dalam mobil, dan ada pula yang hanya memandangi jalan raya — berharap ada satu dua penumpang yang datang.

Di antara mereka, ada cerita kesedihan yang tak pernah terdengar. Anak yang batal kuliah karena uang tak cukup, rumah yang hampir digadaikan, hingga istri yang harus ikut bekerja demi dapur tetap mengepul.

Suara Hati yang Tak Didengar

“Kadang saya iri sama orang-orang yang bisa kerja di tempat adem, gajinya tetap tiap bulan,” ujar Pak Wawan, sopir rute Bekasi Timur–Tambun. “Kami di jalan, panas, hujan, debu, tapi jarang ada yang peduli.”

Jeritan hati para sopir angkot seperti gema yang tak bersahut. Mereka bukan tak ingin berubah, tapi tak semua punya kesempatan untuk beradaptasi. Banyak yang tak paham teknologi, tak punya modal, dan tak punya alternatif pekerjaan lain.

Sebagian sudah mencoba bergabung jadi driver online, tapi tak semua berhasil. Untuk mendaftar saja butuh smartphone dan kendaraan pribadi yang layak. “Angkot saya ini udah tua, siapa mau nerima?” kata Pak Wawan sambil menepuk bodi mobilnya yang berkarat.

Harapan di Tengah Kelesuan

Meski hidup keras, semangat mereka belum padam. Ada kebanggaan tersendiri saat bisa mengantar pelajar ke sekolah, ibu-ibu ke pasar, atau pekerja ke tempat kerja. “Kami ini bagian dari sejarah Bekasi,” ujar seorang sopir dengan nada tegas. “Jangan sampai kami punah begitu saja.”

Beberapa komunitas sopir kini mulai berinisiatif berbenah. Mereka mencoba memperbaiki pelayanan, menjaga kebersihan kendaraan, dan menerapkan sistem setoran yang lebih manusiawi. Ada juga yang bergabung dalam koperasi kecil untuk saling membantu membeli suku cadang dan membayar pajak.

Namun mereka tetap berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. “Kalau bisa, bantu kami peremajaan mobil. Atau buat program pelatihan biar kami bisa kerja lain kalau udah gak kuat nyetir,” ujar Pak Darto menutup percakapan dengan mata berkaca-kaca.

Penutup: Jalan Panjang di Ujung Asa

Di antara deru kendaraan dan aroma asap knalpot, jeritan hati sopir angkot Bekasi terus bergema. Mereka bukan pemalas, bukan pula tak mau berubah — mereka hanya butuh ruang dan kesempatan untuk tetap hidup layak di tengah arus modernisasi.

Setiap kali kita melintas di jalan raya Bekasi dan melihat angkot berhenti menunggu penumpang, cobalah sesekali berhenti dan naik. Bukan hanya untuk sampai tujuan, tapi untuk memahami kehidupan dari balik setir tua yang penuh cerita.

Sebab di sana, ada manusia yang sedang berjuang menjaga marwah kerja keras — di tengah dunia yang kian cepat melupakan.

MBG dan TPG

Kisah Wijaya Kusumah - omjay 

MBG dan TPG: Dua Isu Penting tentang Makan Bergizi Gratis dan Tunjangan Profesi Guru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Bulan November ini menjadi bulan yang istimewa bagi dunia pendidikan Indonesia. Selain karena kita memperingati Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun PGRI ke-80, dua isu besar juga sedang ramai diperbincangkan di kalangan pendidik: program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Tunjangan Profesi Guru (TPG).

Keduanya sama-sama berkaitan dengan kesejahteraan dan kualitas pendidikan, meski dari sisi yang berbeda. MBG menyentuh sisi peserta didik agar tumbuh sehat dan siap belajar, sedangkan TPG menyentuh sisi guru agar dapat bekerja dengan tenang dan profesional. Dua program ini ibarat dua sisi mata uang yang sama-sama penting untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Makan Bergizi Gratis: Harapan Baru Bagi Anak Indonesia

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan pemerintah yang mulai disosialisasikan secara luas pada akhir 2025. Gagasan ini lahir dari kepedulian terhadap kondisi gizi anak-anak Indonesia, terutama di daerah terpencil, tertinggal, dan terluar.

Kita tahu, tidak sedikit siswa datang ke sekolah dengan perut kosong. Ada yang hanya minum teh manis atau bahkan tidak sarapan sama sekali. Akibatnya, mereka sulit berkonsentrasi di kelas dan mudah lelah. Di sinilah pentingnya MBG. Program ini tidak sekadar memberi makan, tapi memberi energi untuk belajar dan harapan untuk masa depan.

Bayangkan jika setiap anak sekolah dasar dan menengah mendapatkan satu porsi makan bergizi setiap hari sekolah. Bukan hanya meningkatkan angka kehadiran siswa, tetapi juga membantu mengurangi stunting dan memperkuat karakter gotong royong. Sekolah bisa bekerja sama dengan orang tua, koperasi sekolah, hingga UMKM lokal untuk menyediakan bahan pangan segar.

Program ini akan berdampak ekonomi ganda. Petani, nelayan, dan pedagang kecil akan ikut merasakan manfaatnya karena bahan pangan untuk MBG diserap dari hasil bumi lokal. Maka, MBG bukan hanya program pendidikan, tetapi juga gerakan sosial dan ekonomi rakyat.

Tunjangan Profesi Guru (TPG): Bentuk Penghargaan dan Keadilan

Di sisi lain, kabar menggembirakan juga datang untuk para pendidik di seluruh Indonesia. Pada awal November ini, banyak guru melaporkan bahwa dana Tunjangan Profesi Guru (TPG) sudah cair dan masuk ke rekening masing-masing.

Bagi sebagian guru, TPG adalah “napas tambahan” yang sangat dinanti. Namun lebih dari sekadar insentif, TPG merupakan pengakuan terhadap profesionalisme guru. Untuk bisa menerima TPG, seorang guru harus memenuhi berbagai persyaratan administrasi dan kompetensi. Artinya, tunjangan ini bukan hadiah, tetapi hak yang diperoleh karena kerja keras dan dedikasi.

Saya sendiri, Omjay, merasa bersyukur karena TPG bulan ini akhirnya cair setelah melalui proses validasi yang cukup panjang di laman info.gtk.dikdasmen.go.id. Prosesnya memang tidak mudah, tapi dengan kesabaran dan komunikasi yang baik antara guru, operator sekolah, dan dinas pendidikan, akhirnya dana tersebut bisa diterima tepat waktu.

Namun, di balik rasa syukur itu, masih ada banyak guru yang mengeluh karena TPG mereka belum cair. Ada yang terkendala validasi data, ada pula yang masih menunggu SK Dirjen. Inilah tantangan yang harus terus dibenahi oleh pemerintah agar semua guru yang memenuhi syarat mendapatkan haknya tanpa hambatan administratif yang berbelit-belit.

Keduanya Harus Berjalan Beriringan

Jika MBG ditujukan untuk meningkatkan gizi dan semangat belajar siswa, maka TPG ditujukan untuk meningkatkan motivasi dan kinerja guru. Keduanya harus berjalan beriringan. Tidak akan ada pendidikan yang bermutu jika murid lapar, dan tidak akan ada pembelajaran yang bermakna jika guru tidak sejahtera.

Guru dan siswa adalah dua pilar utama pendidikan. Guru mengajar dengan hati, siswa belajar dengan semangat. Pemerintah harus memastikan keduanya mendapat perhatian yang seimbang. MBG menyiapkan masa depan anak-anak Indonesia yang sehat dan cerdas, sementara TPG memastikan guru-guru tetap profesional dan berdedikasi tinggi.

Komentar Omjay: Menyentuh Hati dan Pikiran

Sebagai seorang guru dan penulis yang telah lebih dari 25 tahun berkecimpung di dunia pendidikan, saya (Omjay) melihat bahwa dua program ini tidak boleh hanya menjadi slogan politik atau proyek jangka pendek. Harus ada sistem pengawasan, evaluasi, dan kolaborasi nyata agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

> “Makan Bergizi Gratis bukan sekadar memberi makan, tapi memberi masa depan.
Tunjangan Profesi Guru bukan sekadar uang, tapi bentuk penghormatan terhadap ilmu dan pengabdian.”

Saya berharap ke depan, pelaksanaan MBG dilakukan secara transparan dan melibatkan masyarakat sekolah. Sedangkan untuk TPG, pemerintah perlu mempercepat digitalisasi sistem validasi agar proses pencairan lebih efisien dan adil.

Selain itu, guru juga perlu introspeksi. Sudahkah kita mengajar dengan sungguh-sungguh setelah menerima tunjangan profesi? TPG seharusnya menjadi motivasi untuk lebih berinovasi, bukan sekadar rutinitas administratif. Guru harus menulis, meneliti, dan berbagi praktik baik agar tunjangan itu benar-benar mencerminkan profesionalisme sejati.

Penutup: Pendidikan yang Berkeadilan dan Berkeadaban

MBG dan TPG adalah dua kebijakan yang berpihak kepada kemanusiaan. Satu memberi makan, satu memberi penghargaan. Satu menyentuh perut anak-anak bangsa, satu menyentuh hati para pendidik. Jika dijalankan dengan hati, keduanya akan menjadi pondasi emas menuju Indonesia Emas 2045.

Semoga para siswa tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia.
Semoga para guru terus berkarya, bersemangat, dan sejahtera.
Karena bangsa besar lahir dari anak-anak yang bergizi dan guru-guru yang dihargai.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia | Penulis Kompasiana
Blog https://wijayalabs.com

bulan November bulannya pgri

Bulan Guru, Bulannya PGRI: Dari Sejarah Menuju Pengabdian Tanpa Batas

Setiap bulan November, suasana haru dan bangga terasa di kalangan pendidik di seluruh Indonesia. Bulan ini dikenal sebagai bulan guru, sekaligus bulan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Dua momentum besar itu berpadu dalam satu tanggal bersejarah — 25 November.
Tanggal inilah yang menjadi tonggak lahirnya organisasi guru terbesar di Indonesia, sekaligus diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Kongres Guru Indonesia 1945: Lahirnya PGRI di Surakarta

Tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan, tepatnya 24–25 November 1945, sebanyak 90 organisasi guru yang tersebar di seluruh Indonesia berkumpul di Surakarta, Jawa Tengah.

Mereka datang dengan satu semangat: menyatukan langkah dan hati demi Indonesia merdeka.

Di masa penjajahan Belanda dan Jepang, para guru tergabung dalam berbagai organisasi yang terkotak-kotak oleh latar belakang suku, agama, dan status sekolah. Namun, semangat kemerdekaan membuat mereka sadar bahwa pendidikan tidak boleh lagi terpecah.

Dalam kongres yang diadakan di Gedung Balai Guru Surakarta (sekarang menjadi Gedung PGRI Surakarta) itu, mereka sepakat melebur seluruh organisasi menjadi satu wadah tunggal:
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Tiga tekad lahir dari kongres bersejarah tersebut:

1. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

2. Memajukan pendidikan nasional.

3. Memperjuangkan hak dan martabat guru.

Kongres itulah yang kemudian menjadi dasar ditetapkannya 25 November sebagai Hari Lahir PGRI, dan kemudian oleh pemerintah diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

> “PGRI lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan. Ia bukan sekadar organisasi profesi, tapi gerakan kebangsaan yang mengabdikan diri untuk pendidikan Indonesia,”
— (Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd – Ketua Umum PB PGRI).

Guru: Pelita Bangsa yang Tak Pernah Padam

Sejak masa perjuangan hingga kini, guru selalu menjadi pelita yang menerangi jalan bangsa. Di kelas-kelas sederhana, di sekolah pelosok hingga perkotaan, mereka mendidik dengan hati — menanamkan nilai, pengetahuan, dan semangat kebangsaan.

Namun, perjuangan guru tak selalu mudah. Banyak di antara mereka masih bergulat dengan keterbatasan fasilitas, kesejahteraan yang belum merata, dan beban administrasi yang berat.

PGRI hadir sebagai rumah perjuangan, tempat guru bersuara, berorganisasi, dan memperjuangkan nasibnya dengan bermartabat.

Sebagai organisasi profesi tertua di Indonesia, PGRI telah menjadi saksi sejarah perjalanan pendidikan nasional — dari masa kolonial, masa orde baru, hingga kini di era digital dan kecerdasan buatan.

Refleksi Omjay: Guru Harus Menulis dan Terus Belajar

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay), salah satu tokoh literasi guru Indonesia, sering mengatakan bahwa menjadi guru adalah panggilan hati.

> “Guru sejati bukan hanya mengajar, tetapi juga belajar tanpa henti. Ia menulis bukan untuk terkenal, tapi agar pengalaman dan ilmunya tak hilang dimakan waktu.”

Omjay telah berkeliling ke berbagai daerah, menginspirasi ribuan guru untuk menulis, berbagi, dan berkembang bersama. Ia percaya bahwa menulis adalah bentuk pengabdian abadi — karena dari tulisan, guru meninggalkan jejak pemikiran yang tak lekang oleh zaman.

---

Bulan November: Momentum Bersyukur dan Berbenah

Bulan November mengingatkan kita untuk bersyukur atas profesi guru yang mulia. Namun juga menjadi momentum untuk berbenah.

Dunia pendidikan tengah berubah cepat. Teknologi, kecerdasan buatan, dan digitalisasi membawa tantangan baru bagi dunia sekolah. Namun satu hal yang tak boleh berubah adalah sentuhan kemanusiaan seorang guru.

Teknologi bisa menggantikan papan tulis, tetapi tak akan pernah menggantikan hati guru dalam menumbuhkan karakter muridnya.

PGRI menyadari hal itu. Karena itulah, organisasi ini terus mendorong transformasi kompetensi guru agar siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai luhur pendidikan.

PGRI di Usia 80 Tahun: Terus Berkarya, Tak Pernah Lelah

Kini, PGRI telah berusia 80 tahun (1945–2025).
Usia yang panjang bagi sebuah organisasi, tapi semangatnya tetap muda.

PGRI terus berinovasi — dari advokasi kesejahteraan hingga peningkatan profesionalisme. Di era modern ini, PGRI aktif menggelar pelatihan digital, seminar pendidikan, hingga program literasi nasional.

PGRI juga menjadi jembatan antargenerasi guru — dari yang senior hingga guru milenial — agar saling berbagi pengalaman dan memperkuat solidaritas profesi.

---

Penutup: Jayalah Guru Indonesia, Jayalah PGRI

Bulan November bukan hanya sekadar peringatan. Ia adalah bulan refleksi dan apresiasi bagi para pahlawan tanpa tanda jasa.

Mari kita kenang para guru yang telah berjuang tanpa pamrih, dan terus dukung guru-guru yang kini berjuang di garis depan pendidikan.

Guru adalah jantung bangsa, dan PGRI adalah nadinya.
Tanpa guru, ilmu tak akan mengalir. Tanpa PGRI, suara guru tak akan lantang.

Selamat Hari Guru Nasional dan HUT ke-80 PGRI.
Jayalah selalu guru Indonesia, jayalah PGRI — pengabdi tanpa pamrih, pelita sepanjang masa, dan penjaga moral bangsa.

Dokumentasi Kongres Guru Indonesia, Surakarta, 24–25 November 1945. Terlihat para tokoh guru dari berbagai daerah berkumpul untuk mendirikan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Gedung tempat kongres berlangsung kini dikenal sebagai Gedung PGRI Surakarta.

Mengapa Matpel KKA Belum Masuk Dapodik?

Info KKA:

Koding dan Kecerdasan Artifisial: Sudah Masuk Naskah Akademik, Tapi Belum Dikenal Dapodik

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Sampai hari ini, masih banyak guru di berbagai daerah bertanya-tanya: mengapa mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) belum diakui oleh sistem Dapodik, padahal sudah masuk dalam naskah akademik dan rancangan kurikulum nasional? Pertanyaan ini sangat relevan, terutama ketika para guru menunggu validasi Sertifikat Pendidik (Serdik) dan Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang mensyaratkan kesesuaian antara bidang studi sertifikasi dengan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Masalah ini bukan sekadar teknis, tapi sudah menyentuh ranah kebijakan pendidikan nasional. Dapodik (Data Pokok Pendidikan) menjadi basis utama dalam semua proses administrasi pendidikan di Indonesia. Dari data siswa, rombongan belajar, hingga validasi guru penerima TPG, semuanya mengacu pada sistem Dapodik. Ketika sebuah mata pelajaran belum tercantum di dalamnya, otomatis sistem tidak dapat membaca dan mengaitkan guru dengan bidang sertifikasinya.

Sudah Ada dalam Naskah Akademik

Sebetulnya, secara konsep, mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) sudah masuk dalam Naskah Akademik Kurikulum Merdeka. Pemerintah, melalui berbagai pernyataan pejabat Kemendikbudristek, juga telah menegaskan pentingnya literasi digital dan kecerdasan buatan bagi siswa Indonesia. Bahkan, di beberapa sekolah penggerak, sudah mulai diterapkan pembelajaran Koding dan AI sebagai bagian dari projek Profil Pelajar Pancasila.

Namun, sayangnya, implementasi di sistem administrasi belum selaras dengan arah kebijakan akademik tersebut. Guru yang mengajar Koding dan AI masih harus “meminjam” kode mapel Informatika atau TIK agar bisa masuk ke sistem Dapodik. Akibatnya, banyak guru yang mengalami kendala ketika datanya diverifikasi untuk TPG dan Serdik.

Masalah Validasi Serdik dan TPG

Validasi Serdik (Sertifikat Pendidik) menjadi kunci untuk pencairan Tunjangan Profesi Guru. Jika mata pelajaran yang diajarkan tidak sesuai dengan kode bidang studi dalam sistem, maka akan muncul status “tidak valid”. Padahal, secara kompetensi dan substansi, guru yang mengajar Koding atau KA sudah memenuhi syarat sesuai dengan perkembangan kurikulum terbaru.

Beberapa guru bahkan mengeluhkan bahwa mereka sudah mengikuti berbagai pelatihan resmi seperti Pelatihan Coding dan AI untuk Guru, tetapi belum dapat menginput hasilnya ke dalam sistem karena belum ada kode mapel yang sesuai. Situasi ini tentu menimbulkan rasa ketidakadilan bagi guru-guru yang sudah berjuang menguasai teknologi terkini agar siswanya siap menghadapi dunia masa depan.

Diperlukan Sinkronisasi dan Keberanian Kebijakan

Kondisi ini sebenarnya dapat diselesaikan jika ada sinkronisasi antara Ditjen GTK, Pusdatin, dan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). Naskah akademik yang sudah menetapkan Koding dan AI sebagai bagian dari pembelajaran Informatika perlu segera ditindaklanjuti dengan penambahan kode mapel resmi di Dapodik. Tanpa langkah ini, guru akan terus berada di posisi sulit — diakui di tataran konsep, tapi diabaikan di tataran sistem.

Pemerintah juga perlu memiliki keberanian untuk menyesuaikan sistem pendidikan dengan realitas abad ke-21. Dunia industri dan masyarakat sudah menuntut keterampilan baru seperti pemrograman, analisis data, dan kecerdasan buatan. Tidak masuk akal jika sekolah justru tertinggal hanya karena masalah administratif.

Suara Guru dari Lapangan

Sebagai pendidik dan penggerak di Komunitas Guru TIK dan Informatika (KOGTIK), saya sering menerima keluhan yang sama. Banyak guru Informatika yang kini sudah mengajar Koding dan AI secara mandiri di kelas. Mereka kreatif dan berdedikasi, namun merasa kecewa karena tidak mendapatkan pengakuan yang layak di sistem.

“Kami ingin data kami diakui agar validasi TPG lancar,” ujar salah satu guru dari Jawa Tengah. “Kami sudah ikut pelatihan AI nasional, tapi mapelnya belum muncul di Dapodik.”

Penutup: Saatnya Pemerintah Bertindak Cepat

Koding dan AI bukan lagi masa depan — tapi masa kini. Anak-anak kita sudah tumbuh di dunia yang dikelilingi oleh teknologi dan kecerdasan buatan. Guru yang mengajarkan dua hal ini seharusnya mendapat dukungan penuh, bukan justru terhambat oleh sistem yang ketinggalan zaman.

Sudah saatnya Kemendikbudristek mempercepat pengakuan formal terhadap mapel Koding dan Kecerdasan Artifisial di sistem Dapodik. Dengan begitu, validasi Serdik dan TPG bisa berjalan lancar, dan guru-guru Indonesia tidak hanya diakui karena mengajar, tetapi juga karena menjadi pionir dalam membentuk generasi digital masa depan.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 02 November 2025

Kisah Omjay Melakukan Remisi Diabetes

[2/11, 09.24] Wijaya Kusumah: Info kesehatan:

Menuju Remisi Diabetes: Perjalanan Omjay Mencari Kesembuhan

Ditulis oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Jakarta, 2 November 2025

Pagi ini, saat membuka aplikasi TikTok, saya menemukan sebuah video pendek yang begitu menggugah hati. Video itu membahas tentang remisi diabetes — sebuah kondisi di mana penderita diabetes tipe 2 bisa menurunkan kadar gula darahnya hingga ke tingkat normal, tanpa lagi bergantung pada obat-obatan.

Video itu menampilkan kisah nyata seseorang yang berhasil membalikkan kondisi kesehatannya dengan pola makan, olahraga, dan disiplin hidup sehat. Saya terpaku. Dalam hati saya berucap pelan, “Saya ingin seperti itu.”

Sebagai penderita diabetes tipe 2, saya sudah merasakan betapa beratnya perjuangan melawan penyakit ini. Gula darah yang naik-turun seperti roller coaster membuat tubuh lemas, kepala pusing, dan pikiran kacau. Tidak jarang rasa khawatir menghantui setiap kali hendak memeriksa kadar gula darah. Namun saya selalu berusaha optimis — karena saya percaya, setiap penyakit pasti ada jalan menuju kesembuhan, atau setidaknya perbaikan yang signifikan jika kita mau berjuang.

Tiga Kali Masuk Rumah Sakit

Saya masih ingat betul, pertama kali dirawat karena diabetes dan hipertensi adalah di Rumah Sakit Immanuel, Bandung, saat Hari Raya Idul Fitri. Momen yang seharusnya penuh kebahagiaan bersama keluarga berubah menjadi masa-masa sulit di ruang rawat. Dokter memutuskan saya harus dirawat karena tekanan darah tinggi dan kadar gula yang melonjak drastis. Saat itu saya sadar, tubuh ini sedang memberi sinyal keras agar saya berhenti abai terhadap pola hidup.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali harus dirawat — kali ini di Rumah Sakit Antam Medika, Pulogadung, Jakarta Timur. Kondisi saya memburuk karena aktivitas padat, kurang istirahat, dan pola makan yang masih belum terkendali. Saya masih suka ngemil di malam hari, masih sering minum kopi manis, dan sulit menolak undangan makan bersama teman-teman. Akibatnya, kadar gula darah kembali naik dan tekanan darah ikut meningkat.

Yang ketiga, saya dirawat di Rumah Sakit Harum Sisma Medika, Kalimalang, Jakarta Timur. Di sinilah saya benar-benar tersadar: jika saya tidak mengubah gaya hidup sekarang juga, penyakit ini bisa menjadi lebih parah. Dokter menasihati saya agar mulai fokus pada self-management — mengatur pola makan, berolahraga rutin, dan menjaga pikiran agar tidak stres.

Tiga kali dirawat di rumah sakit bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Tapi dari setiap peristiwa itu, saya belajar bahwa penyakit ini bukan hukuman, melainkan peringatan. Tubuh kita hanya menuntut perhatian dan kasih sayang yang selama ini mungkin kita abaikan.

Mengenal Remisi Diabetes

Istilah remisi diabetes mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Namun konsep ini kini mulai dikenal luas, terutama di kalangan medis modern dan komunitas kesehatan.

Remisi diabetes bukan berarti sembuh total, melainkan kondisi di mana kadar gula darah penderita kembali normal tanpa obat dalam jangka waktu tertentu. Artinya, tubuh kembali mampu mengatur gula darah secara alami.

Video TikTok yang saya tonton pagi ini membahas hal itu dengan sangat jelas. Sang narasumber menjelaskan bahwa remisi bisa dicapai melalui tiga hal utama:

1. Menurunkan berat badan hingga ke angka ideal.
Lemak berlebih, terutama di sekitar hati dan pankreas, dapat mengganggu produksi insulin. Dengan menurunkan berat badan, sensitivitas insulin meningkat, dan kadar gula bisa kembali stabil.

2. Mengatur pola makan rendah karbohidrat dan gula.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat (low carb) atau bahkan intermittent fasting dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan memperbaiki metabolisme tubuh.

3. Rutin berolahraga dan menjaga kebugaran.
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi, sehingga kadar gula dalam darah berkurang secara alami.

Ketiga hal ini terdengar sederhana, tetapi dibutuhkan komitmen dan disiplin tinggi untuk menjalaninya. Bagi saya, video itu bukan hanya informasi, tapi juga motivasi. Saya ingin mencobanya. Saya ingin sembuh, atau setidaknya mencapai remisi.

Langkah Kecil Menuju Perubahan

Sejak menonton video tersebut, saya mulai menata kembali rutinitas harian saya. Saya berusaha lebih disiplin dalam mengatur waktu makan, memperbanyak sayur dan buah, serta mengurangi nasi putih dan makanan manis.

Setiap pagi, saya berusaha untuk berjalan kaki ringan sekitar 30 menit sambil menikmati udara segar. Saya juga mulai rutin memeriksa kadar gula darah sendiri di rumah agar tahu perkembangan kondisi tubuh.

Perubahan kecil ini memberi dampak besar. Tubuh terasa lebih ringan, tidur lebih nyenyak, dan pikiran pun lebih tenang. Saya tahu jalan menuju remisi masih panjang, tapi setidaknya saya sudah memulainya.

Buku Digital 90 Hari Menuju Remisi Diabetes

Alhamdulillah, dari video tersebut saya juga mendapatkan rekomendasi sebuah buku digital berjudul 90 Hari Remisi Diabetes. Buku ini sangat membantu memahami bagaimana cara mengatur pola makan, aktivitas, dan pikiran agar tubuh bisa kembali sehat.

Buku ini saya bagikan secara gratis untuk siapa pun yang ingin belajar bersama saya. Cukup kirim email ke wijayalabs@gmail.com, dan saya akan kirimkan buku digitalnya sebagai bentuk kepedulian saya terhadap sesama penderita diabetes.

Saya percaya, berbagi ilmu dan pengalaman adalah bentuk ikhtiar kolektif untuk saling menguatkan. Banyak orang yang diam-diam berjuang melawan penyakit ini sendirian, padahal dukungan dari sesama sangat berarti.

Pesan dari Dokter dan Harapan untuk Sesama

Seorang dokter penyakit dalam yang saya temui pernah berkata,

> “Diabetes memang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tapi bisa dikendalikan. Dan jika Anda disiplin, tubuh punya kemampuan luar biasa untuk pulih. Jangan lawan tubuh Anda, tapi ajak dia bekerja sama.”
Kalimat itu terus saya ingat sampai sekarang.

Saya menulis artikel ini bukan untuk mengeluh, tapi untuk berbagi semangat. Diabetes bukan akhir dari segalanya. Kita masih bisa berjuang, memperbaiki diri, dan mengembalikan kualitas hidup yang lebih baik.

Saya percaya, jika kita menjalani hidup dengan disiplin, sabar, dan ikhlas, maka Allah akan menunjukkan jalan kesembuhan.

Setiap hari adalah kesempatan baru untuk berubah. Pagi ini, video di TikTok telah membuka mata saya bahwa remisi bukan hal mustahil. Dan saya ingin membuktikannya, dengan tekad, doa, dan usaha yang sungguh-sungguh.

Semoga kisah ini menginspirasi para pejuang diabetes lainnya. Mari kita jalani perjalanan ini bersama, dengan harapan dan keyakinan:
bahwa kesembuhan bukan sekadar mimpi, tapi bisa menjadi kenyataan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

https://vt.tiktok.com/ZSyrxVCBQ/
[2/11, 09.24] Wijaya Kusumah: https://vt.tiktok.com/ZSyrxVCBQ/

Sabtu, 01 November 2025

Siapa Yang Bertanggung Jawab Dalam Pelatihan Guru?

Kisah omjay

Bertanggung Jawab atas Mutu Guru: Siapa yang Harus Peduli?

Oleh: Wijaya Kusumah

Mutu guru adalah cermin mutu pendidikan. Tidak ada pendidikan yang maju tanpa guru yang bermutu. Namun, pertanyaan mendasarnya: siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas peningkatan mutu guru di Indonesia?

Kita sering menyalahkan guru yang dianggap kurang kompeten, gagap teknologi, atau lambat beradaptasi dengan perubahan zaman. Tapi jarang kita mengurai akar persoalan yang lebih dalam — bahwa tanggung jawab peningkatan mutu guru bukan hanya di pundak guru semata. Ada ekosistem besar yang seharusnya bergerak bersama: organisasi profesi, LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), pemerintah, yayasan penyelenggara pendidikan, dan tentu saja guru itu sendiri.

---

1. Organisasi Profesi: Wadah Penggerak dan Pelindung

Undang-Undang Guru dan Dosen telah menegaskan bahwa guru wajib menjadi anggota organisasi profesi guru. Organisasi profesi bukan sekadar tempat berkumpul dan berfoto bersama, tetapi wadah untuk melindungi, memperjuangkan, dan mengembangkan profesionalisme guru.

Organisasi profesi harus aktif memberikan pelatihan, advokasi, serta pendampingan kepada anggotanya. Ketika ada kebijakan yang merugikan guru, mereka harus berdiri paling depan untuk membela. Ketika ada peluang peningkatan kompetensi, organisasi profesi wajib memfasilitasi.

Namun, dalam praktiknya, masih banyak organisasi profesi guru yang belum sepenuhnya menjalankan peran itu dengan maksimal. Beberapa bahkan lebih sibuk mengurusi urusan internal dan jabatan ketimbang mendampingi anggotanya di lapangan. Sudah saatnya organisasi profesi kembali kepada ruh-nya: menjadi penjaga mutu dan martabat guru.

---

2. LPTK: Pabrik Guru yang Harus Menjamin “Layanan Purna Jual”

Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ibarat pabrik mobil yang menghasilkan kendaraan (guru) untuk masyarakat. Pabrik mobil yang baik tak hanya menjual produknya, tetapi juga menyediakan layanan purna jual — servis, suku cadang, dan pembaruan teknologi. Begitu pula LPTK.

LPTK tidak boleh berhenti ketika mahasiswanya diwisuda. Mereka harus senantiasa mengevaluasi kurikulum, menjalin kerja sama dengan sekolah, dinas pendidikan, dan lembaga penjamin mutu, agar lulusan yang dihasilkan siap menjawab tantangan pendidikan masa depan.

Kurikulum pendidikan guru harus dinamis, menyesuaikan dengan kebutuhan zaman — terutama di era digital, kecerdasan buatan, dan pembelajaran berbasis kompetensi. Bila LPTK gagal beradaptasi, maka guru-guru muda akan lahir dengan bekal yang usang, jauh tertinggal dari kebutuhan dunia nyata pendidikan.

---

3. Pemerintah: Penentu Arah dan Penyedia Sumber Daya

Tanggung jawab besar juga terletak di tangan pemerintah — baik pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. Negara wajib menganggarkan dana dan menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru.

Namun, banyak pelatihan yang digelar hanya sekadar formalitas — lebih sibuk dengan laporan administrasi ketimbang hasil nyata di kelas. Pelatihan guru seharusnya berorientasi pada praktik, refleksi, dan dampak terhadap pembelajaran siswa, bukan hanya pada seremonial dan sertifikat.

Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan tunjangan profesi guru (TPG) tidak hanya berhenti pada aspek kesejahteraan, tetapi benar-benar berdampak pada peningkatan mutu dan motivasi guru untuk terus belajar. TPG semestinya menjadi bahan bakar bagi guru agar semakin profesional, bukan sekadar tambahan pendapatan.

---

4. Yayasan dan Penyelenggara Pendidikan: Mitra Strategis

Di sekolah swasta, yayasan atau penyelenggara lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya. Mereka tidak boleh hanya menuntut hasil tinggi tanpa investasi pada kualitas guru.

Yayasan harus menyediakan dukungan untuk pelatihan, sertifikasi, dan peningkatan kompetensi guru. Kerja sama dengan pemerintah dan dunia usaha bisa menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Yayasan yang bijak akan sadar bahwa guru yang berkualitas adalah aset utama lembaga. Tanpa guru hebat, sekolah tak akan punya daya saing.

---

5. Guru: Aktor Utama Peningkatan Mutu

Akhirnya, tanggung jawab terbesar tetap berada di tangan guru itu sendiri. Guru adalah pembelajar sejati. Dunia terus berubah, dan guru harus mau berubah bersama waktu.

Guru wajib meningkatkan kompetensinya — pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Salah satu tujuan adanya TPG adalah agar guru memiliki sumber daya finansial untuk mengembangkan diri, misalnya membeli buku, mengikuti seminar, atau mengambil sertifikasi tambahan.

Guru yang bermutu bukan yang paling pintar, tapi yang paling mau belajar. Di era digital, akses belajar terbuka lebar — dari webinar, komunitas daring, hingga platform pembelajaran mandiri. Tak ada alasan untuk berhenti belajar.

---

Penutup: Gotong Royong untuk Mutu Guru Indonesia

Peningkatan mutu guru tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia memerlukan gotong royong lintas lembaga: organisasi profesi yang aktif, LPTK yang adaptif, pemerintah yang berpihak, yayasan yang peduli, dan guru yang terus belajar.

Jika semua pihak menjalankan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh, kita akan melihat perubahan nyata: guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat — sekaligus murid yang tumbuh dalam suasana belajar yang inspiratif.

Karena sejatinya, mutu guru adalah investasi terbesar bagi masa depan bangsa.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Menulislah Dengan Hati Bukan Dengan Teknologi

Berikut artikel versi panjang dan menyentuh hati berdasarkan tulisan Omjay berjudul “Menulislah dengan Hati, Bukan dengan Teknologi”, lengkap dengan komentar dari para sahabat guru dan pembaca setia Omjay.


Menulislah dengan Hati, Bukan dengan Teknologi

Oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

Di era digital seperti sekarang, ketika kecerdasan buatan dan teknologi semakin canggih, menulis menjadi semakin mudah dilakukan oleh siapa saja. Cukup ketik satu kalimat perintah, maka muncul rangkaian kata yang indah dan rapi. Namun, di tengah kemudahan itu, saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah tulisan yang lahir dari mesin mampu menandingi keikhlasan hati manusia?

Sebagai seorang guru dan penulis yang telah menulis ribuan artikel di blog dan berbagai media, saya menemukan satu kebenaran sederhana: tulisan yang paling berharga bukanlah yang paling sempurna, tetapi yang paling jujur.

Saya menulis bukan karena ingin terkenal atau dipuji, tetapi karena ingin berbagi. Bagi saya, menulis adalah ibadah. Ia menjadi cara saya untuk berterima kasih kepada ilmu, kepada guru-guru saya, dan kepada setiap murid yang telah mengajarkan makna kesabaran.

Setiap kali saya menulis di blog pribadi atau di Kompasiana, saya merasa seperti sedang berbicara dengan hati sendiri. Tidak ada jarak, tidak ada topeng. Yang ada hanyalah keinginan tulus untuk berbagi pengalaman agar orang lain bisa belajar tanpa harus jatuh di lubang yang sama.

“Teknologi boleh membantu, tapi hati harus tetap memimpin.”
Itu prinsip saya.

ChatGPT, AI, dan berbagai alat bantu memang bisa membantu mempercepat proses menulis. Tapi yang tidak bisa digantikan adalah sentuhan rasa. Tulisan yang menyentuh lahir dari pengalaman hidup, dari air mata dan tawa, dari perjuangan seorang guru di ruang kelas yang kadang penuh tantangan namun juga penuh cinta.


Menulis Itu Melatih Keikhlasan

Banyak guru yang berkata kepada saya, “Omjay, saya ingin menulis tapi takut salah.”
Saya selalu menjawab dengan senyum, “Tulislah dulu. Jangan takut salah. Dari kesalahan, kita belajar untuk menjadi lebih baik.”

Menulis bukan tentang benar atau salah. Menulis adalah tentang melatih keikhlasan.
Ketika kita menulis dengan hati, tulisan itu akan menemukan pembacanya sendiri.
Tidak perlu promosi besar-besaran, karena kejujuran selalu punya cara untuk sampai ke hati orang lain.

Saya menulis setiap hari, tidak peduli sibuk atau lelah. Kadang tulisan itu sederhana saja — catatan tentang kegiatan guru, refleksi harian, atau kisah kecil di sekolah. Tapi dari hal-hal kecil itulah saya menemukan kebahagiaan yang besar.

Tulisan adalah cermin jiwa.
Jika hati kita tulus, maka tulisan pun akan tulus.
Dan ketika seseorang membaca tulisan kita dengan hati yang terbuka, di situlah terjadi pertemuan batin antara penulis dan pembaca.


Komentar Para Sahabat Omjay

💬 Susan Solihah, Pengawas Sekolah:
“Omjay mengingatkan kami bahwa menulis bukan soal kemampuan, tapi kemauan. Saya dulu ragu menulis karena takut dikritik. Tapi setelah membaca tulisan beliau, saya mulai berani. Ternyata menulis dengan hati itu menyembuhkan.”

💬 Dr. Umedi, Kepala Sekolah:
“Teknologi hanyalah kendaraan, tapi penulis yang baik adalah pengemudinya. Omjay mengajarkan bagaimana menulis dengan rasa syukur, bukan dengan ambisi. Itu pelajaran yang langka di zaman serba instan ini.”

💬 Dewi, Guru Muda dari NTT:
“Saya membaca tulisan Omjay setiap pagi sebelum mengajar. Rasanya seperti mendapatkan semangat baru. Kata-kata beliau sederhana, tapi mengandung kekuatan besar — mengingatkan saya bahwa mengajar dan menulis sama-sama pekerjaan hati.”

💬 M. Yusuf, Siswa SMA yang gemar menulis:
“Dari Omjay saya belajar bahwa menulis itu bukan untuk orang lain dulu, tapi untuk diri sendiri. Ketika tulisan datang dari hati, orang lain pasti akan merasakannya.”


Hati Lebih Kuat dari Teknologi

Saya tidak menolak kemajuan teknologi. Justru saya menggunakannya sebagai alat bantu agar lebih produktif. Tapi saya selalu percaya, mesin tidak punya hati.

AI tidak bisa merasakan bagaimana getirnya perjuangan guru di pelosok yang tetap mengajar dengan semangat meski fasilitas terbatas. AI tidak tahu rasanya melihat murid yang dulu sering tidur di kelas, kini sukses berterima kasih karena pernah diberi motivasi.

Hanya hati manusia yang mampu menulis kisah seperti itu.
Dan hanya tulisan dari hati yang mampu menembus hati.


Menulis dengan Hati, Bukan dengan ChatGPT

Saya pernah menulis kalimat sederhana:

“Menulislah dengan hati, bukan dengan ChatGPT.”

Kalimat ini bukan untuk menolak teknologi, tapi untuk mengingatkan kita agar tidak kehilangan ruh kemanusiaan dalam setiap tulisan.
Gunakan teknologi sebagai pena, tapi biarkan hati menjadi tintanya.

Saya percaya, selama penulis masih menulis dengan cinta, dunia akan tetap memiliki harapan.


Penutup: Buktikan Apa yang Terjadi

Bagi Anda yang membaca tulisan ini, saya punya satu pesan:
Tulislah setiap hari. Jangan berhenti.
Tulisan Anda mungkin tidak langsung dibaca banyak orang, tapi percayalah — setiap kata yang ditulis dengan keikhlasan akan menemukan takdirnya sendiri.

Sebagaimana yang selalu saya katakan,

“Menulislah terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi.”


📖 Klik di sini untuk membaca lebih banyak tulisan Omjay:
👉 https://kompasiana.com/wijayalabs


Apakah Anda ingin saya bantu buatkan versi siap unggah ke Kompasiana (dengan format paragraf rapi, meta deskripsi, dan tag relevan seperti #GuruMenulis #Omjay #MotivasiMenulis)?