Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Rabu, 05 November 2025
Makan Bergizi Gratis Harus Lebih Bamyak Buah dan Sayur
Gagasan Jadi Tulisan Bagaimana Caranya?
Istriku Adalah Pahlawanku
Selasa, 04 November 2025
jeritan hati supir angkot bekasi
Jeritan Hati Sopir Angkot Bekasi
Di tengah hiruk-pikuk kota Bekasi yang tak pernah sepi, suara mesin angkot masih menjadi latar khas di jalanan. Namun di balik bisingnya klakson dan teriakan kenek yang memanggil penumpang, tersimpan kisah getir para sopir angkot yang perlahan terpinggirkan oleh zaman. Mereka bukan sekadar pengemudi, tapi saksi hidup perubahan kota yang kini kian meninggalkan mereka.
Pagi yang Tak Lagi Ramai
Setiap hari, sejak pukul lima pagi, Pak Darto sudah menyalakan mesin angkot tuanya di garasi sempit pinggiran Rawalumbu. Dengan wajah lelah namun tetap tegar, ia menyiapkan diri menyusuri rute terminal Bekasi hingga Pondok Gede. Dulu, katanya, tak sampai sejam sudah penuh penumpang. Kini? Dua jam berlalu pun bangkunya masih kosong.
“Sekarang semua orang naik ojek online, Nak,” ujarnya lirih sambil menatap kaca spion yang buram. “Dulu saya bisa bawa pulang seratus ribu lebih. Sekarang, lima puluh ribu aja sudah syukur.”
Harga bensin naik, suku cadang mahal, sementara jumlah penumpang turun drastis. Di antara jalanan macet dan panas terik, para sopir angkot berjuang bertahan hidup — bukan hanya melawan waktu, tapi juga melawan ketidakpastian.
Mereka yang Bertahan di Tengah Perubahan
Bekasi yang dulu dikenal dengan deretan angkot warna-warni kini perlahan berubah. Transportasi berbasis aplikasi mengambil alih banyak rute yang dulu dikuasai angkot. Namun, bagi sebagian sopir, angkot bukan sekadar kendaraan, tapi sumber penghidupan yang sudah melekat puluhan tahun.
“Dari muda saya nyopir, sekarang umur sudah lima puluh lebih. Kalau disuruh berhenti, mau kerja apa lagi?” tanya Pak Darto sambil tersenyum pahit.
Ia bukan satu-satunya. Di terminal Kayuringin, puluhan sopir lain duduk menunggu penumpang yang tak kunjung datang. Ada yang iseng merokok, ada yang tidur di dalam mobil, dan ada pula yang hanya memandangi jalan raya — berharap ada satu dua penumpang yang datang.
Di antara mereka, ada cerita kesedihan yang tak pernah terdengar. Anak yang batal kuliah karena uang tak cukup, rumah yang hampir digadaikan, hingga istri yang harus ikut bekerja demi dapur tetap mengepul.
Suara Hati yang Tak Didengar
“Kadang saya iri sama orang-orang yang bisa kerja di tempat adem, gajinya tetap tiap bulan,” ujar Pak Wawan, sopir rute Bekasi Timur–Tambun. “Kami di jalan, panas, hujan, debu, tapi jarang ada yang peduli.”
Jeritan hati para sopir angkot seperti gema yang tak bersahut. Mereka bukan tak ingin berubah, tapi tak semua punya kesempatan untuk beradaptasi. Banyak yang tak paham teknologi, tak punya modal, dan tak punya alternatif pekerjaan lain.
Sebagian sudah mencoba bergabung jadi driver online, tapi tak semua berhasil. Untuk mendaftar saja butuh smartphone dan kendaraan pribadi yang layak. “Angkot saya ini udah tua, siapa mau nerima?” kata Pak Wawan sambil menepuk bodi mobilnya yang berkarat.
Harapan di Tengah Kelesuan
Meski hidup keras, semangat mereka belum padam. Ada kebanggaan tersendiri saat bisa mengantar pelajar ke sekolah, ibu-ibu ke pasar, atau pekerja ke tempat kerja. “Kami ini bagian dari sejarah Bekasi,” ujar seorang sopir dengan nada tegas. “Jangan sampai kami punah begitu saja.”
Beberapa komunitas sopir kini mulai berinisiatif berbenah. Mereka mencoba memperbaiki pelayanan, menjaga kebersihan kendaraan, dan menerapkan sistem setoran yang lebih manusiawi. Ada juga yang bergabung dalam koperasi kecil untuk saling membantu membeli suku cadang dan membayar pajak.
Namun mereka tetap berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. “Kalau bisa, bantu kami peremajaan mobil. Atau buat program pelatihan biar kami bisa kerja lain kalau udah gak kuat nyetir,” ujar Pak Darto menutup percakapan dengan mata berkaca-kaca.
Penutup: Jalan Panjang di Ujung Asa
Di antara deru kendaraan dan aroma asap knalpot, jeritan hati sopir angkot Bekasi terus bergema. Mereka bukan pemalas, bukan pula tak mau berubah — mereka hanya butuh ruang dan kesempatan untuk tetap hidup layak di tengah arus modernisasi.
Setiap kali kita melintas di jalan raya Bekasi dan melihat angkot berhenti menunggu penumpang, cobalah sesekali berhenti dan naik. Bukan hanya untuk sampai tujuan, tapi untuk memahami kehidupan dari balik setir tua yang penuh cerita.
Sebab di sana, ada manusia yang sedang berjuang menjaga marwah kerja keras — di tengah dunia yang kian cepat melupakan.
MBG dan TPG
bulan November bulannya pgri
Mengapa Matpel KKA Belum Masuk Dapodik?
Minggu, 02 November 2025
Kisah Omjay Melakukan Remisi Diabetes
Sabtu, 01 November 2025
Siapa Yang Bertanggung Jawab Dalam Pelatihan Guru?
Menulislah Dengan Hati Bukan Dengan Teknologi
Berikut artikel versi panjang dan menyentuh hati berdasarkan tulisan Omjay berjudul “Menulislah dengan Hati, Bukan dengan Teknologi”, lengkap dengan komentar dari para sahabat guru dan pembaca setia Omjay.
Menulislah dengan Hati, Bukan dengan Teknologi
Oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Di era digital seperti sekarang, ketika kecerdasan buatan dan teknologi semakin canggih, menulis menjadi semakin mudah dilakukan oleh siapa saja. Cukup ketik satu kalimat perintah, maka muncul rangkaian kata yang indah dan rapi. Namun, di tengah kemudahan itu, saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah tulisan yang lahir dari mesin mampu menandingi keikhlasan hati manusia?
Sebagai seorang guru dan penulis yang telah menulis ribuan artikel di blog dan berbagai media, saya menemukan satu kebenaran sederhana: tulisan yang paling berharga bukanlah yang paling sempurna, tetapi yang paling jujur.
Saya menulis bukan karena ingin terkenal atau dipuji, tetapi karena ingin berbagi. Bagi saya, menulis adalah ibadah. Ia menjadi cara saya untuk berterima kasih kepada ilmu, kepada guru-guru saya, dan kepada setiap murid yang telah mengajarkan makna kesabaran.
Setiap kali saya menulis di blog pribadi atau di Kompasiana, saya merasa seperti sedang berbicara dengan hati sendiri. Tidak ada jarak, tidak ada topeng. Yang ada hanyalah keinginan tulus untuk berbagi pengalaman agar orang lain bisa belajar tanpa harus jatuh di lubang yang sama.
“Teknologi boleh membantu, tapi hati harus tetap memimpin.”
Itu prinsip saya.
ChatGPT, AI, dan berbagai alat bantu memang bisa membantu mempercepat proses menulis. Tapi yang tidak bisa digantikan adalah sentuhan rasa. Tulisan yang menyentuh lahir dari pengalaman hidup, dari air mata dan tawa, dari perjuangan seorang guru di ruang kelas yang kadang penuh tantangan namun juga penuh cinta.
Menulis Itu Melatih Keikhlasan
Banyak guru yang berkata kepada saya, “Omjay, saya ingin menulis tapi takut salah.”
Saya selalu menjawab dengan senyum, “Tulislah dulu. Jangan takut salah. Dari kesalahan, kita belajar untuk menjadi lebih baik.”
Menulis bukan tentang benar atau salah. Menulis adalah tentang melatih keikhlasan.
Ketika kita menulis dengan hati, tulisan itu akan menemukan pembacanya sendiri.
Tidak perlu promosi besar-besaran, karena kejujuran selalu punya cara untuk sampai ke hati orang lain.
Saya menulis setiap hari, tidak peduli sibuk atau lelah. Kadang tulisan itu sederhana saja — catatan tentang kegiatan guru, refleksi harian, atau kisah kecil di sekolah. Tapi dari hal-hal kecil itulah saya menemukan kebahagiaan yang besar.
Tulisan adalah cermin jiwa.
Jika hati kita tulus, maka tulisan pun akan tulus.
Dan ketika seseorang membaca tulisan kita dengan hati yang terbuka, di situlah terjadi pertemuan batin antara penulis dan pembaca.
Komentar Para Sahabat Omjay
💬 Susan Solihah, Pengawas Sekolah:
“Omjay mengingatkan kami bahwa menulis bukan soal kemampuan, tapi kemauan. Saya dulu ragu menulis karena takut dikritik. Tapi setelah membaca tulisan beliau, saya mulai berani. Ternyata menulis dengan hati itu menyembuhkan.”
💬 Dr. Umedi, Kepala Sekolah:
“Teknologi hanyalah kendaraan, tapi penulis yang baik adalah pengemudinya. Omjay mengajarkan bagaimana menulis dengan rasa syukur, bukan dengan ambisi. Itu pelajaran yang langka di zaman serba instan ini.”
💬 Dewi, Guru Muda dari NTT:
“Saya membaca tulisan Omjay setiap pagi sebelum mengajar. Rasanya seperti mendapatkan semangat baru. Kata-kata beliau sederhana, tapi mengandung kekuatan besar — mengingatkan saya bahwa mengajar dan menulis sama-sama pekerjaan hati.”
💬 M. Yusuf, Siswa SMA yang gemar menulis:
“Dari Omjay saya belajar bahwa menulis itu bukan untuk orang lain dulu, tapi untuk diri sendiri. Ketika tulisan datang dari hati, orang lain pasti akan merasakannya.”
Hati Lebih Kuat dari Teknologi
Saya tidak menolak kemajuan teknologi. Justru saya menggunakannya sebagai alat bantu agar lebih produktif. Tapi saya selalu percaya, mesin tidak punya hati.
AI tidak bisa merasakan bagaimana getirnya perjuangan guru di pelosok yang tetap mengajar dengan semangat meski fasilitas terbatas. AI tidak tahu rasanya melihat murid yang dulu sering tidur di kelas, kini sukses berterima kasih karena pernah diberi motivasi.
Hanya hati manusia yang mampu menulis kisah seperti itu.
Dan hanya tulisan dari hati yang mampu menembus hati.
Menulis dengan Hati, Bukan dengan ChatGPT
Saya pernah menulis kalimat sederhana:
“Menulislah dengan hati, bukan dengan ChatGPT.”
Kalimat ini bukan untuk menolak teknologi, tapi untuk mengingatkan kita agar tidak kehilangan ruh kemanusiaan dalam setiap tulisan.
Gunakan teknologi sebagai pena, tapi biarkan hati menjadi tintanya.
Saya percaya, selama penulis masih menulis dengan cinta, dunia akan tetap memiliki harapan.
Penutup: Buktikan Apa yang Terjadi
Bagi Anda yang membaca tulisan ini, saya punya satu pesan:
Tulislah setiap hari. Jangan berhenti.
Tulisan Anda mungkin tidak langsung dibaca banyak orang, tapi percayalah — setiap kata yang ditulis dengan keikhlasan akan menemukan takdirnya sendiri.
Sebagaimana yang selalu saya katakan,
“Menulislah terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi.”
📖 Klik di sini untuk membaca lebih banyak tulisan Omjay:
👉 https://kompasiana.com/wijayalabs
Apakah Anda ingin saya bantu buatkan versi siap unggah ke Kompasiana (dengan format paragraf rapi, meta deskripsi, dan tag relevan seperti #GuruMenulis #Omjay #MotivasiMenulis)?