Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 11 November 2025

webinar nasional dan hut kogtik ke10

Info webinar Komunitas Guru TIK dan KKPI 

๐ŸŒ WEBINAR NASIONAL KOGTIK & IGTIK PGRI 2025

Dalam Rangka HUT ke-10 Komunitas Guru TIK dan Informatika Indonesia (KOGTIK)

Bersama Penerbit Andi Yogyakarta

Perjalanan panjang Komunitas Guru TIK dan Informatika Indonesia (KOGTIK) kini telah mencapai usia 10 tahun. Satu dekade penuh dedikasi dan perjuangan para guru TIK dan KKPI yang tetap konsisten mengabdi di tengah perubahan kurikulum dan tantangan zaman.

KOGTIK lahir dari semangat untuk berkolaborasi, berbagi, dan berinovasi. Kini, di usianya yang ke-10, KOGTIK semakin kokoh sebagai garda terdepan dalam mendorong transformasi digital pendidikan Indonesia. Untuk merayakan momen bersejarah ini, KOGTIK bekerja sama dengan IGTIK PGRI dan Penerbit Andi Yogyakarta akan menggelar Webinar Nasional KOGTIK & IGTIK PGRI 2025.

✨ Tema Webinar:

“Peran KOGTIK dan IGTIK PGRI dalam Transformasi Digital dan Pemanfaatan Kecerdasan Buatan untuk Pembelajaran yang Menarik, Inovatif, dan Menyenangkan”

๐Ÿ“… Hari/Tanggal: Kamis, 27 November 2025
๐Ÿ• Waktu: 13.00 – 15.00 WIB
๐ŸŒ Tempat: Zoom Meeting & Live YouTube
๐Ÿค Kolaborasi: KOGTIK × IGTIK PGRI × Penerbit Andi Yogyakarta

๐ŸŽฏ Tujuan Kegiatan:

1. Merayakan 1 dekade KOGTIK sebagai komunitas guru TIK dan Informatika Indonesia.

2. Meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi era transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI).

3. Mendorong guru agar menghadirkan pembelajaran yang menarik, inovatif, dan menyenangkan berbasis teknologi.

4. Membangun sinergi antara KOGTIK, IGTIK PGRI, dan Penerbit Andi Yogyakarta dalam penguatan literasi digital serta publikasi karya guru.

๐ŸŽ™️ Narasumber Webinar:

Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit — Pembina KOGTIK & Pakar Transformasi Digital

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) — Ketua Umum KOGTIK & Guru Blogger Indonesia

Perwakilan Penerbit Andi Yogyakarta — Pakar Literasi Digital dan Penerbitan Edukasi

Moderator: Eko Adi Saputro, M.Kom — Sekretaris Jenderal KOGTIK

๐Ÿ“š Kata Sambutan dari Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit

> “KOGTIK adalah bukti nyata ketangguhan para guru Indonesia dalam menghadapi perubahan zaman. Transformasi digital bukan hanya tentang menguasai teknologi, tetapi juga bagaimana guru menanamkan nilai kemanusiaan di balik kemajuan tersebut. Guru TIK dan Informatika adalah jembatan antara teknologi dan karakter bangsa.”

✍️ Pesan Inspiratif dari Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

> “Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. KOGTIK tumbuh dari semangat gotong royong dan perjuangan para guru TIK dan Informatika di seluruh Indonesia. Kini, kita tidak hanya mengajar tentang teknologi, tetapi juga menginspirasi bagaimana memanfaatkannya untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan. Mari terus belajar, berbagi, dan berinovasi untuk kemajuan pendidikan Indonesia.”

๐Ÿ… Fasilitas Peserta:

✅ E-Sertifikat Nasional (dikirim otomatis ke email masing-masing peserta)
✅ Materi webinar dari narasumber
✅ Doorprize menarik dari KOGTIK dan Penerbit Andi
✅ Peluang kolaborasi menulis buku bersama guru-guru TIK & Informatika seluruh Indonesia

๐Ÿ“Œ Pendaftaran:

Segera daftarkan diri Anda melalui tautan resmi KOGTIK dan IGTIK PGRI:
๐Ÿ”— bit.ly/WebinarKOGTIK2025 (tautan akan diumumkan di kanal resmi)

๐Ÿ’Œ E-Sertifikat dikirim langsung ke email peserta setelah kegiatan berakhir.

๐ŸŒŸ Penutup:

HUT ke-10 KOGTIK menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat kolaborasi dan inovasi di kalangan guru Indonesia.
Melalui transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan, guru TIK dan Informatika diharapkan menjadi penggerak perubahan menuju pembelajaran yang cerdas, kreatif, dan humanis.

Bersama KOGTIK, mari kita wujudkan pendidikan Indonesia yang adaptif, inspiratif, dan berdaya saing global!

๐Ÿ“ฃ #KOGTIK10Tahun
๐Ÿ“ฃ #WebinarNasionalKOGTIK2025
๐Ÿ“ฃ #IGTIKPGRI
๐Ÿ“ฃ #PenerbitAndiYogyakarta
๐Ÿ“ฃ #TransformasiDigitalPendidikan
๐Ÿ“ฃ #GuruTIKBerdaya

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 10 November 2025

Sederet Sayuran yang Bagus Untuk Penderita Diabetes



Sederet Sayuran yang Bisa Tekan Gula Darah Tinggi: Pilihan Bijak bagi Penderita Diabetes

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com


Diabetes bukanlah akhir dari kenikmatan hidup. Banyak orang yang hidup berdampingan dengan penyakit ini, tetap aktif, produktif, bahkan bisa menikmati makanan lezat setiap hari. Kuncinya bukan menghindari makanan, melainkan memilih bahan makanan yang tepat dan mengatur porsinya dengan bijak. Salah satu cara paling efektif dan alami untuk menekan kadar gula darah adalah dengan memperbanyak konsumsi sayuran segar yang kaya serat dan nutrisi.

Sayuran adalah sahabat terbaik bagi penderita diabetes. Dengan kandungan serat tinggi, indeks glikemik rendah, serta vitamin dan mineral yang melimpah, sayuran membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah, menjaga keseimbangan energi, dan mengurangi risiko komplikasi.

Berikut lima jenis sayuran pilihan yang telah terbukti membantu mengendalikan kadar gula darah tinggi, sebagaimana dikutip dari Times of India dan sejumlah jurnal kesehatan dunia:


1. Kembang Kol: Si Putih Kaya Antioksidan

Kembang kol (cauliflower) mengandung vitamin C, folat, dan berbagai senyawa antioksidan yang membantu melawan stres oksidatif dan peradangan — dua hal yang sering memicu naiknya kadar gula darah.
Rasanya yang ringan membuat kembang kol mudah diolah menjadi berbagai menu, mulai dari tumisan, sup, hingga pengganti nasi putih (cauliflower rice) bagi penderita diabetes.

Studi yang dipublikasikan oleh National Institute of Health (NIH) menemukan bahwa ekstrak kembang kol mampu menghasilkan efek anti-diabetes alami, karena mengandung sulforaphane — senyawa yang meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar gula darah.

๐Ÿ’ฌ Komentar Omjay:
“Saya mulai mengganti nasi putih dengan nasi kembang kol beberapa kali seminggu. Awalnya memang terasa aneh, tapi lama-lama badan terasa lebih ringan dan gula darah saya jadi lebih stabil. Kuncinya, jangan bosan mencoba variasi menu sehat.”


2. Buncis: Murah, Mudah, dan Manjur

Buncis adalah sayuran yang sangat mudah ditemukan di pasar tradisional Indonesia. Kandungan karbohidrat dan kalorinya rendah, tapi kaya akan serat, vitamin A, dan zat penting lain yang membantu pencernaan dan metabolisme.
Tidak seperti kacang-kacangan lain, buncis tidak memicu lonjakan gula darah setelah dikonsumsi. Itu sebabnya, sayuran ini ideal bagi penderita diabetes tipe 2.

Penelitian di Research Gate menjelaskan bahwa ekstrak buncis dapat membantu menghambat enzim pencerna karbohidrat, sehingga penyerapan gula menjadi lebih lambat.
Selain itu, buncis juga membantu mengontrol nafsu makan, membuat kita kenyang lebih lama tanpa menambah kadar gula berlebih.


3. Bayam: Sang Hijau Penjaga Gula Darah

Bayam dikenal sebagai “superfood” bagi penderita diabetes. Hanya satu cangkir daun bayam mentah mengandung sekitar 1 gram karbohidrat, namun kaya akan magnesium, kalium, dan serat, tiga nutrisi penting yang menjaga stabilitas kadar glukosa.
Selain itu, bayam juga mengandung asam alfa-lipoat, senyawa yang berperan penting dalam menurunkan stres oksidatif dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Studi yang diterbitkan di Fathom Journal menunjukkan bahwa kandungan nitrat dalam bayam dapat meningkatkan fungsi pembuluh darah dan metabolisme insulin.
Bayam juga sangat serbaguna: bisa dijadikan bahan smoothie, sup, tumis bawang putih, atau salad segar.

๐Ÿ’ฌ Komentar Omjay:
“Setiap pagi saya usahakan makan sayur bayam, baik dalam bentuk bening atau jus hijau. Rasanya segar dan menenangkan. Dokter saya pun bilang, bayam itu obat alami yang luar biasa bagi penderita diabetes seperti saya.”


4. Brokoli: Penuh Sulforaphane Penurun Gula

Brokoli termasuk dalam keluarga cruciferous, sama seperti kembang kol. Sayuran ini terkenal dengan kandungan sulforaphane, zat aktif yang mampu memperbaiki sensitivitas insulin dan menurunkan kadar gula darah.
Dalam satu cangkir brokoli matang terdapat sekitar 5 gram serat, ditambah vitamin C dan vitamin K yang tinggi — dua nutrisi penting untuk menjaga sistem imun dan metabolisme tubuh.

Penelitian dari National Institute of Health menunjukkan bahwa brokoli dan sulforaphane dapat membantu mengurangi hiperglikemia, hiperlipidemia, dan resistensi insulin.
Selain itu, brokoli juga mempercepat pemulihan sel-sel tubuh dari peradangan akibat diabetes.

๐Ÿ’ฌ Komentar Omjay:
“Brokoli jadi sahabat baru di meja makan saya. Saya olah dengan cara direbus sebentar atau ditumis ringan agar gizinya tidak hilang. Hasilnya, badan terasa segar dan tekanan darah juga ikut stabil.”


5. Paprika: Warna Cerah, Manfaat Luar Biasa

Paprika, baik merah, hijau, maupun kuning, adalah sayuran rendah kalori dan tinggi vitamin C. Kandungan antioksidan seperti beta-karoten dan flavonoid di dalamnya membantu mengurangi peradangan dan melindungi sel dari kerusakan akibat kadar gula tinggi.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh NIH menyebutkan bahwa ekstrak etanol paprika merah menunjukkan aktivitas anti-diabetes dan membantu menyeimbangkan kadar glukosa dalam darah.
Paprika juga menambah warna dan cita rasa dalam hidangan, membuat pola makan sehat terasa lebih menyenangkan.


Pesan Penutup: Menjaga Gula, Menjaga Hidup

Bagi penderita diabetes, menjalani pola makan sehat bukan berarti hidup dalam batasan, tapi justru belajar mencintai tubuh dengan cara yang benar. Sayuran seperti kembang kol, buncis, bayam, brokoli, dan paprika bisa menjadi pilihan utama untuk menjaga kadar gula darah tetap terkendali.

๐Ÿ’ฌ Pesan dari Omjay:
“Sebagai penderita diabetes dan seorang guru, saya belajar bahwa kunci utama bukan hanya obat, tapi disiplin dan kebiasaan makan sehat. Sayuran bukan sekadar pelengkap nasi, tapi justru penyelamat tubuh. Jangan tunggu sakit dulu baru peduli. Mulailah dari sekarang, rawat tubuhmu dengan makanan yang menyehatkan.”


Tentang Penulis

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, atau akrab disapa Omjay, dikenal luas sebagai Guru Blogger Indonesia. Ia aktif berbagi inspirasi, pengalaman, dan motivasi di blog pribadinya https://wijayalabs.com.
Melalui tulisannya, Omjay mengajak para guru dan masyarakat untuk menulis dari hati dan menjalani hidup sehat dengan penuh semangat — termasuk perjuangannya pribadi melawan diabetes yang ia jadikan ladang inspirasi bagi banyak orang.




Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Selamat Hari Pahlawan

Selamat Hari Pahlawan: Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Menyalakan Cahaya Peradaban

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pejuang yang rela berkorban demi kemerdekaan dan masa depan bangsa. Mereka berjuang dengan semangat merdeka atau mati, mempertaruhkan nyawa demi merah putih tetap berkibar. Namun kini, di era kemerdekaan, perjuangan belum selesai. Ada pahlawan-pahlawan baru yang berjuang tanpa senjata, tanpa sorotan kamera, tetapi tetap menyalakan obor ilmu pengetahuan di seluruh pelosok negeri. Mereka adalah para guru — pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan insan cendekia.

Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembentuk karakter dan penjaga peradaban. Dari tangan merekalah lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan. Tanpa guru, sehebat apa pun kurikulum dan fasilitas pendidikan tidak akan bermakna. Guru hadir bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan: kejujuran, kerja keras, disiplin, dan cinta tanah air.

Di desa terpencil, di pulau terluar, hingga di kota-kota besar, para guru tetap setia mengabdi. Ada yang menyeberangi sungai dengan rakit sederhana, ada yang berjalan kaki berjam-jam setiap hari, dan ada pula yang mengajar di sekolah tanpa listrik dan jaringan internet. Namun semangat mereka tidak pernah padam. Mereka tetap tersenyum, mengucap salam kepada murid-muridnya, dan memulai hari dengan doa agar anak-anak bangsa kelak menjadi penerus perjuangan para pahlawan.

Sebagaimana para pejuang 10 November 1945 bertempur dengan darah dan air mata, guru juga berjuang dengan kesabaran dan ketulusan. Bedanya, senjata mereka bukan bambu runcing, melainkan pena dan papan tulis. Medan perang mereka bukan di Surabaya, melainkan di ruang kelas dan dunia digital. Mereka melawan kebodohan, keterbelakangan, dan ketimpangan pendidikan. Kemenangan mereka bukan berupa bendera yang dikibarkan, melainkan murid yang tersenyum karena berhasil meraih cita-cita.

Namun, sering kali perjuangan guru tidak diiringi penghargaan yang setimpal. Masih banyak guru honorer yang menerima upah jauh di bawah standar, bahkan ada yang harus mencari pekerjaan sampingan demi bertahan hidup. Padahal, merekalah garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sinilah makna pahlawan tanpa tanda jasa benar-benar terasa. Mereka berjuang bukan untuk kemewahan, tetapi karena panggilan hati dan cinta terhadap ilmu.

✦ Komentar Dr. Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

“Bagi saya, setiap guru adalah pahlawan dalam diam,” ujar Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., atau yang akrab disapa Omjay. “Mereka mungkin tidak tampil di televisi, tidak mendapatkan penghargaan besar, tetapi setiap hari mereka menyalakan api semangat di dada anak-anak bangsa. Guru sejati tidak hanya mengajar, tapi juga menginspirasi. Mereka menulis, berinovasi, dan terus belajar agar tak tertinggal oleh zaman.”

Omjay menambahkan, di era digital seperti sekarang, guru harus menjadi insan cendekia yang adaptif, menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur pendidikan. “Menjadi guru masa kini berarti siap belajar sepanjang hayat. Kita tidak bisa berhenti di zona nyaman. Hari ini guru bukan sekadar penyampai materi, tapi juga pemandu karakter dan moral di tengah banjir informasi. Itulah perjuangan pahlawan pendidikan abad ke-21.”

✦ Pandangan Dr. Sumardiansyah Perdana Kusumah, Tokoh Muda PGRI dan Ketua Umum APKS PGRI

Sementara itu, Dr. Sumardiansyah Perdana Kusumah, Ketua Umum Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) PGRI, menegaskan bahwa Hari Pahlawan harus menjadi momentum untuk merefleksikan perjuangan guru masa kini.

“Guru adalah pahlawan peradaban,” ungkapnya. “Kalau dulu para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan dengan senjata, maka kini guru berjuang menjaga kemerdekaan dengan pendidikan. Tugas guru adalah memastikan bahwa kemerdekaan ini diisi dengan kecerdasan, kemandirian, dan karakter yang kuat.”

Beliau juga mengingatkan pentingnya memperjuangkan kesejahteraan guru agar mereka dapat mengajar dengan tenang dan profesional. “Kita tidak boleh membiarkan guru berjuang sendirian. Negara harus hadir memastikan mereka mendapatkan hak yang layak. Menghargai guru sama artinya menghargai masa depan bangsa.”

✦ Pahlawan Insan Cendekia, Penjaga Masa Depan

Guru masa kini menghadapi medan juang yang baru — dari ruang kelas nyata hingga ruang digital, dari papan tulis hitam hingga layar laptop. Namun semangat mereka tetap sama: membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berpengetahuan, dan berkepribadian luhur.

Setiap langkah guru adalah bentuk pengabdian. Setiap peluh yang menetes saat mengajar adalah tanda perjuangan. Setiap murid yang berhasil adalah kemenangan seorang guru. Maka pantaslah jika kita menyebut mereka sebagai pahlawan masa kini. Mereka tidak menuntut penghargaan, tetapi berhak mendapatkan penghormatan. Karena tanpa guru, tidak akan ada generasi penerus bangsa yang siap memimpin Indonesia menuju masa depan yang gemilang.

Di momen Hari Pahlawan 10 November ini, marilah kita mengingat jasa para pejuang kemerdekaan sekaligus menghormati para guru di seluruh penjuru tanah air. Mereka adalah dua generasi pahlawan yang berbeda zaman, namun memiliki semangat yang sama — berjuang demi kemajuan dan kejayaan Indonesia.

Kepada seluruh guru Indonesia, kami ucapkan dengan penuh rasa hormat dan bangga:
Selamat Hari Pahlawan!
Teruslah menyalakan api semangat di hati peserta didik. Jadilah pelita yang tak padam meski diterpa gelombang zaman. Karena di tanganmu, masa depan bangsa ini digenggam dan dibentuk.

Kau bukan sekadar pengajar, tapi pembangun jiwa bangsa.
Kau bukan sekadar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi pahlawan yang menyalakan cahaya —
Cahaya ilmu, cahaya harapan, dan cahaya peradaban. 

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 09 November 2025

KoGTIK Gelar Rapat Koordinasi Pengurus

Info rapat pengurus KOGTIK:

๐Ÿ–ฅ️ KOGTIK Gelar Rapat Pengurus: Mantapkan Program Kerja, Siapkan Kelas Online, dan Rayakan 10 Tahun KOGTIK

Jakarta, 8 November 2025 — Komunitas Guru TIK dan KKPI (KOGTIK) yang sekarang menjadi informatika kembali menunjukkan semangat kolaborasi dan inovasi yang tinggi. Melalui rapat daring yang digelar Sabtu malam minggu pukul 19.30 WIB via Google Meet, para pengurus KOGTIK dari seluruh Indonesia berkumpul untuk membahas program kerja satu tahun ke depan serta persiapan Olimpiade TIK Nasional (OTN) 2026.

Rapat dibuka dengan penuh semangat oleh Sekjen KOGTIK yang baru, bapak Eko Adi Saputro, yang mengingatkan pentingnya ketepatan waktu dan sinergi antarpengurus.

> “Ayo segera kita mulai, agar tidak kemalaman... sat set bat bet, hehehe,” tulisnya di grup pengurus disertai link rapat.
Tak lama kemudian ia menambahkan, “Bismillah, semoga rapat malam ini membawa keberkahan dan keputusan terbaik bagi KOGTIK.”

Agenda Rapat: Panitia OTN 2026 dan Program Kerja Pengurus KOGTIK

Rapat malam itu dipimpin langsung oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, atau Omjay, selaku Ketua KOGTIK yang BARU. Beberapa keputusan penting berhasil diambil, di antaranya:

Pertama Penetapan Ibu Maria Sumakul sebagai Ketua Panitia OTN 2026,

Kedua Penetapan Bapak Yunus Rangkuti sebagai Wakil Ketua Panitia,

Ketiga Penyusunan program kerja satu tahun ke depan oleh setiap bidang pengurus. Serta update website organisasi KOGTIK.

> “Terima kasih bapak ibu yang sudah hadir secara online. Besok malam kita rapat lagi untuk pemantapan program kerja satu tahun ke depan,” ujar Omjay usai rapat berakhir pukul 22.15 WIB.
“Saya bangga melihat semangat teman-teman guru TIK di seluruh Indonesia. Meski jarak memisahkan, teknologi menyatukan langkah kita.”

Komentar Pembina dan Sekjen KOGTIK

Bapqk Tri Budi Hardjo, selaku Pembina KOGTIK, memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat regenerasi dan profesionalisme pengurus.

> “KOGTIK lahir dari semangat guru-guru TIK dan Informatika yang ingin maju bersama. Kini di usia hampir satu dekade, semangat itu harus terus dijaga. Regenerasi kepengurusan dan inovasi program akan membuat KOGTIK tetap relevan dan hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Sekjen KOGTIK, Eko Adi Saputro, menekankan pentingnya program kerja yang terukur dan kolaboratif.

> “Kita ingin setiap pengurus membuat program kerja satu tahun ke depan. Semua kegiatan harus terencana, berdampak, dan bisa dilaporkan dengan jelas. KOGTIK harus jadi organisasi yang profesional dan inspiratif,” tegasnya.

Laporan Administrasi, Keuangan, dan Data OTN 2025

Dalam sesi laporan organisasi, Bu Betti, selaku Bendahara KOGTIK, memaparkan laporan keuangan dan perkembangan administrasi organisasi. Alhamdulillah sudah terkumpul donasi untuk penguatan akta notaris KOGTIK.

> “Alhamdulillah, laporan keuangan KOGTIK berjalan dengan tertib dan transparan. Semua kegiatan akan kita sinkronkan dengan rencana kerja tahun depan agar pendanaan dan pelaporan lebih terarah,” jelasnya.

Sementara itu, Pak Rohandi, Admin KOGTIK di Puspresnas (Pusat Prestasi Nasional), melaporkan bahwa seluruh data peserta dan hasil kegiatan OTN 2025 telah berhasil dimasukkan ke dalam sistem nasional. Kita perlu update data terbaru agar proses kurasi puspresnas berjalan lancar.

> “Seluruh data OTN 2025 sudah terverifikasi di sistem Puspresnas. Ini memastikan bahwa kegiatan KOGTIK tercatat resmi dan mendapat pengakuan dari lembaga nasional,” ungkapnya.

Kelas Online KOGTIK Dibuka bulan Desember 2025

Salah satu keputusan penting dalam rapat ini adalah rencana pembukaan Kelas Online Nasional KOGTIK yang akan dimulai pada bulan Desember 2025. Kegiatan ini bersertifikat 32 jam dan dapat digunakan untuk kenaikan pangkat ASN atau guru tetap yayasan dan guru honorer di sekolah negeri.

Kelas online ini mencakup tiga bidang utama:

1. Kelas Informatika — memperkuat literasi digital dan konsep dasar komputasi.

2. Kelas Koding — membekali guru dan siswa dengan logika pemrograman.

3. Kelas Kecerdasan Artifisial (AI) — mengenalkan pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan.

> “Kelas online ini akan menjadi bentuk nyata kontribusi KOGTIK bagi guru dan siswa di Indonesia. Semua bisa belajar bersama, tanpa batas wilayah, dengan semangat berbagi ilmu dan teknologi,” ujar Omjay penuh optimisme.

Program ini akan dijalankan secara daring dan dipandu oleh para mentor KOGTIK dari berbagai provinsi. Serta bekerjasama dengan penerbit Andi Yogyakarta untuk sertifikat dan link zoom serta live youtubenya.

Seragam Baru untuk Pengurus KOGTIK

Selain itu, KOGTIK juga bersepakat untuk membuat seragam baru bagi pengurus yang belum memilikinya.

> “Seragam bukan hanya lambang kebanggaan, tapi juga simbol profesionalisme dan solidaritas. Kita ingin semua pengurus tampil kompak dan percaya diri saat mewakili KOGTIK di berbagai kegiatan,” ujar Eko Adi Saputro. KOGTIK selalu diundang kemdikdasmen dalam peringatan hari guru nasional dan hari ulang tahun PGRI yang ke-80 di Jakarta. 

HUT ke-10 KOGTIK: Meriah dan Penuh Makna

Rapat ini juga menjadi momentum awal persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 KOGTIK, yang akan digelar pada 27 November 2025.
Acara tersebut akan dirancang lebih meriah dan inklusif, dengan melibatkan seluruh pengurus, anggota, dan alumni KOGTIK dari berbagai daerah di Indonesia. Rencana akan bekerjasama dengan sponsor yang ditunjuk oleh pengurus KOGTIK.

> “Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dari komunitas kecil kini KOGTIK tumbuh menjadi organisasi besar yang solid dan produktif. Mari kita rayakan dengan syukur dan semangat kebersamaan,” kata Tri Budi Hardjo, Pembina KOGTIK.

Penutup: Kolaborasi untuk Indonesia Cerdas Digital

Rapat daring yang berlangsung hampir tiga jam ini menegaskan semangat gotong royong dan dedikasi para guru TIK di seluruh Indonesia.

> “Guru TIK dan informatika adalah penggerak perubahan. Melalui KOGTIK, kita jadikan teknologi bukan hanya alat belajar, tetapi juga jembatan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutup Omjay, Ketua Umum KOGTIK.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 08 November 2025

Bolehkah Komite Sekolah Dijabat Oleh Orangtua yang Anaknya Sudah Tidak Sekolah Di sekolah tersebut?

Info buat komite sekolah dan guru di sekolah 

Bolehkah Ketua Komite Sekolah Bukan Lagi Orang Tua Siswa? Ini Penjelasan Lengkapnya

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

---

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Beberapa waktu lalu saya menerima pesan dari seorang sahabat guru. Ia bercerita bahwa di sekolahnya, ketua komite dijabat oleh orang tua siswa yang anaknya sudah lulus. Namun selama menjabat, ketua komite itu dikenal aktif mendukung berbagai kegiatan sekolah, mulai dari pembangunan fasilitas hingga program sosial. Banyak orang tua siswa yang masih menginginkan beliau tetap menjabat karena dianggap amanah dan berdedikasi.

Pertanyaannya kemudian muncul:
Apakah boleh seorang ketua komite tetap menjabat meski anaknya sudah tidak lagi bersekolah di sekolah tersebut?

Mari kita bahas bersama berdasarkan aturan yang berlaku dan nilai-nilai kebersamaan dalam dunia pendidikan.

---

1. Apa Itu Komite Sekolah dan Apa Fungsinya?

Komite Sekolah merupakan wadah partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan. Hal ini diatur secara resmi dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah.

Dalam Pasal 1 ayat (1) disebutkan:

> “Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.”

Selanjutnya, Pasal 3 ayat (1) menyebutkan bahwa Komite Sekolah berfungsi sebagai:

1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di sekolah;

2. Pendukung (supporting agency) dalam bentuk tenaga, sarana, dan dana;

3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas sekolah;

4. Mediator (mediating agency) antara sekolah dan masyarakat.

Dengan demikian, keberadaan komite sekolah bukan hanya formalitas, tetapi menjadi mitra strategis kepala sekolah dalam menjalankan pendidikan yang transparan, partisipatif, dan bermartabat.

---

2. Syarat dan Komposisi Anggota Komite Sekolah

Masih berdasarkan Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 Pasal 7 ayat (1):

> “Anggota Komite Sekolah terdiri atas:
a. Orang tua/wali peserta didik dari sekolah yang bersangkutan;
b. Tokoh masyarakat;
c. Tokoh pendidikan; dan/atau
d. Tokoh dunia usaha dan dunia industri yang peduli terhadap pendidikan.”

Kemudian dalam Pasal 7 ayat (2) dijelaskan bahwa:

> “Sekurang-kurangnya 50% (lima puluh persen) dari jumlah anggota Komite Sekolah berasal dari orang tua/wali peserta didik.”

Artinya, tidak semua anggota komite wajib berasal dari orang tua siswa aktif. Masih ada ruang bagi tokoh masyarakat atau alumni untuk terlibat — selama komposisi keseluruhan tetap memenuhi ketentuan 50% orang tua aktif.

---

3. Bagaimana Jika Ketua Komite Sudah Tidak Punya Anak di Sekolah?

Dalam kasus yang diceritakan guru tadi, ketua komite memang sudah tidak memiliki anak yang bersekolah di sana, tetapi ia masih dipercaya oleh masyarakat sekolah dan dikenal sebagai tokoh yang peduli.

Jika kita membaca Permendikbud secara hati-hati, tidak ada pasal yang secara eksplisit melarang alumni orang tua menjadi ketua komite, asalkan:

Proses pemilihannya dilakukan secara musyawarah,

Komposisi keanggotaan tetap memenuhi 50% orang tua aktif,

Dan keberadaan tokoh tersebut dianggap memberi manfaat nyata bagi sekolah.

Dengan demikian, dari sisi hukum hal itu masih diperbolehkan secara terbatas, selama memenuhi prinsip partisipatif dan transparansi sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang menyebutkan:

> “Komite Sekolah dibentuk secara demokratis, transparan, dan akuntabel oleh para pemangku kepentingan pendidikan di sekolah.”

Jadi, kalau tokoh tersebut tetap dipilih secara demokratis oleh para orang tua siswa dan dinilai membawa manfaat besar, maka tidak ada larangan formil baginya untuk tetap menjadi ketua — asalkan mekanismenya sah dan didokumentasikan dengan baik.

---

4. Etika Kepemimpinan dan Nilai Kebersamaan

Sebagai guru dan pemerhati pendidikan, saya melihat bahwa persoalan kepengurusan komite bukan hanya soal legalitas, tetapi juga etika kebersamaan.
Sekolah yang sehat adalah sekolah yang menjunjung tinggi musyawarah, bukan sekadar mengikuti teks peraturan.

Jika ketua komite lama itu tetap dipercaya, aktif membantu sekolah, dan tidak memiliki kepentingan pribadi, maka kehadirannya tetap bernilai positif.
Namun demikian, penting juga bagi sekolah untuk menyiapkan regenerasi kepemimpinan, agar roda organisasi berjalan sehat dan terbuka.

---

5. Saran Omjay untuk Sekolah dan Komite

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan oleh sekolah:

1. Adakan rapat pleno komite sekolah dengan mengundang perwakilan orang tua, kepala sekolah, dan guru.

2. Bahas secara terbuka status kepengurusan komite dan dukungan masyarakat terhadap ketua lama.

3. Buat berita acara rapat dan dokumentasikan hasilnya secara resmi.

4. Perbarui Surat Keputusan (SK) komite sekolah berdasarkan hasil musyawarah tersebut.

5. Pastikan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kegiatan dan pengelolaan dana komite.

6. Siapkan kaderisasi agar ke depan posisi ketua bisa diisi oleh orang tua aktif yang sudah memahami mekanisme kerja komite.

---

6. Kesimpulan

Secara aturan hukum, tidak ada larangan eksplisit bagi orang tua alumni atau tokoh masyarakat untuk menjadi ketua komite sekolah.
Namun, secara praktik ideal, jabatan itu sebaiknya dipegang oleh orang tua siswa yang masih aktif, agar hubungan dengan sekolah lebih kontekstual dan komunikasi dengan para orang tua lebih efektif.

Jika ketua lama tetap dipercaya dan terbukti membawa kebaikan bagi sekolah, maka keberlanjutannya bisa dibenarkan sementara waktu, dengan catatan melalui musyawarah, dokumentasi resmi, dan tetap sesuai dengan semangat Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar urusan administrasi, tapi tentang hati, niat baik, dan kepedulian kita bersama terhadap masa depan anak-anak bangsa.

---

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bekasi, 8 November 2025
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia, Pemerhati Pendidikan  
Blog https://wijayalabs.com

inspirasi pagi pak umedi

Kisah Omjay tentang inspirasi pagi dari pak Umedi

๐ŸŒ… Belajar dari “Inspirasi Pagi”: Menemukan Cahaya di Setiap Hari

Di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan, kadang kita lupa bahwa setiap pagi selalu membawa pesan.
Bukan sekadar pergantian waktu, tapi juga peringatan lembut dari Allah bahwa masih ada kesempatan untuk berbuat baik, memaafkan, dan memperbaiki diri.

Beberapa hari terakhir, saya membaca rangkaian “Inspirasi Pagi” yang dikirimkan sahabat saya, Umedi.
Pesannya sederhana, tapi maknanya dalam—menyentuh hati yang mungkin mulai lelah.
Setiap kalimatnya seperti tetes embun yang menyejukkan jiwa.

---

๐ŸŒค️ Tentang Persaudaraan

Kadang saudara yang mentraktir kita bukan karena mereka berlebih harta,
tapi karena mereka meletakkan persaudaraan melebihi uang.
Mereka yang meminta maaf lebih dulu bukan berarti salah,
tapi karena lebih menghargai kebersamaan.

Betapa indahnya jika setiap orang menanamkan nilai itu dalam hati.
Bahwa cinta dan silaturahmi lebih berharga dari gengsi.
Bahwa yang membuat hidup hangat bukan isi dompet, melainkan ketulusan niat.

---

๐ŸŒฆ️ Tentang Ujian dan Hikmah

Tak ada kesulitan yang turun tanpa maksud.
Setiap rasa sesak, setiap air mata, adalah cara Allah memeluk kita dalam ujian.

Rasulullah ๏ทบ bersabda,

> “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah timpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Musibah bukan hukuman, melainkan tanda cinta.
Ia menghapus dosa, melembutkan hati, dan mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati adalah tunduk kepada takdir-Nya.

---

๐ŸŒง️ Tentang Mengadu dan Mengeluh

Kadang kita tergoda untuk mengeluhkan hidup kepada manusia,
padahal manusia tak selalu mampu memahami.

Namun, ketika keluh itu disampaikan kepada Allah,
yang datang bukan simpati semu, tapi ampunan dan ketenangan sejati.

> “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…” (QS. Yusuf: 86)

---

๐ŸŒˆ Tentang Kebaikan yang Tak Harus dengan Harta

Jika tangan belum mampu memberi harta,
maka berikanlah teladan kebaikan.
Karena amal terbaik tak selalu soal banyaknya uang,
tapi tentang seberapa tulus niatnya.

Bumi kelak akan menjadi saksi atas setiap langkah kecil menuju kebaikan.
(Berdasarkan HR. Tirmidzi)

---

๐ŸŒป Tentang Kebenaran dan Kejujuran

Di hari Jumat yang penuh berkah, kita diingatkan:
Jangan mencintai kebatilan walau tampak indah,
dan jangan membenci kebenaran walau terasa pahit.

Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil,
meski kadang itu berseberangan dengan keinginan hati.
Sebab keadilan adalah jalan menuju taqwa.
(QS. Al-Maidah: 8)

---

๐ŸŒบ Tentang Kekurangan dan Keikhlasan

Dan hari ini, kita diingatkan lagi dengan kata-kata sederhana tapi indah:

> “Jika ada yang membicarakan kekuranganmu, bersyukurlah dan tersenyumlah.
Kekuranganmu saja bisa membuat mereka perhatian, apalagi kelebihanmu.”

Betapa bijaknya pesan itu.
Terkadang, yang kita anggap hina justru menjadi cara Allah meninggikan derajat kita.
Kekurangan bukan aib—ia adalah ruang untuk belajar, untuk tumbuh, dan untuk tetap rendah hati.

---

๐ŸŒž Sahabatku, Hidup ini singkat. Jangan biarkan hati menjadi keras oleh dunia.
Mari saling mengingatkan, bukan untuk menggurui,
tetapi untuk saling menuntun agar tidak tersesat di jalan yang fana.

Bagikan kebaikan, sekecil apa pun itu.
Karena bisa jadi, satu pesan sederhana yang kau kirim hari ini,
menjadi cahaya bagi hati yang sedang gelap di luar sana.

Tetap Semangat.
Barakallah fiikum.

✍️ Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay dan Perjalanan Hidupnya Menuju Sehat

Kisah omjay

Perjalanan Panjang Menuju Sehat: Kisah Omjay dari Tiga Rumah Sakit hingga Mas Mitra Bekasi

Setiap orang punya perjalanan hidup yang tak selalu mulus. Ada masa kuat, ada masa rapuh, dan ada masa ketika tubuh memberi sinyal bahwa ia perlu diperhatikan. Begitu pula yang dialami Omjay—Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd—seorang guru, penulis, sekaligus sahabat bagi banyak pendidik Indonesia. Di balik senyumnya yang selalu ramah dan semangatnya yang tak pernah padam, ada perjalanan kesehatan yang panjang dan penuh perjuangan.

Hari ini, Sabtu 8 November 2025, Omjay datang ke Rumah Sakit MAS Mitra Bekasi untuk kontrol kesehatan dengan dr. Runi. Ini bukan kunjungan pertama Omjay ke rumah sakit dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, ia sudah melewati tiga rumah sakit berbeda, satu demi satu, dalam upaya memulihkan diri dari penyakit darah tinggi dan diabetes yang ia derita.

Berawal dari Bandung: Hari Raya Idul Fitri yang Tak Terduga

Perjalanan ini dimulai saat Hari Raya Idul Fitri. Seharusnya Idul Fitri menjadi momen berkumpul, bersilaturahmi, dan berbagi kebahagiaan. Namun bagi Omjay, hari suci itu berubah menjadi awal dari perjuangan panjang. Di Bandung, ia harus dirawat di Rumah Sakit Immanuel karena kondisi tubuhnya menurun drastis. Tekanan darah naik, gula darah sulit dikendalikan, dan tubuhnya meminta istirahat lebih.

Bagi sosok seperti Omjay yang terbiasa aktif—mengisi pelatihan, menulis artikel, mengajar, berbagi ilmu di grup-grup guru—terbaring di rumah sakit tentu bukan hal mudah. Tetapi ia tetap menerima ujian itu dengan bijak. “Tubuh ini bukan mesin,” begitu kira-kira pesan yang ia sampaikan pada rekan-rekannya.

Pindah Jakarta: Antam Medika Menjadi Persinggahan Kedua

Setelah kondisi membaik dan kembali ke Jakarta, masalah kesehatan itu datang lagi. Omjay harus dilarikan ke Rumah Sakit Antam Medika Pulo Gadung, Jakarta Timur. Lagi-lagi ia harus menjalani perawatan intensif.

Di sinilah banyak sahabat, murid, dan kolega yang mendengar kabar sakitnya mulai mengirimkan doa dan dukungan. Ada yang datang menjenguk, ada yang hanya bisa menitipkan pesan lewat telepon. Dan seperti biasa, Omjay tetap berusaha tampak tegar. Ia bahkan sempat bercanda dengan perawat meski tubuhnya lemah. “Nulis itu obat saya,” tuturnya dalam salah satu statusnya waktu itu.

Harum Sisma Medika: Rumah Sakit Ketiga dalam Putaran Ujian

Tak lama setelah pulang dan merasa mulai pulih, kondisi itu kembali kambuh. Kali ini Omjay harus dirawat di Rumah Sakit Harum Sisma Medika, Kalimalang, Jakarta Timur. Tiga rumah sakit dalam waktu yang tidak terlalu jauh—sebuah tanda jelas bahwa tubuh meminta perhatian lebih serius.

Bagi banyak orang, mungkin situasi ini bisa membuat patah semangat. Tapi Omjay justru memetik hikmah dari setiap rawat inapnya. Ia sering berkata bahwa sakit adalah cara Tuhan mengingatkan hamba-Nya untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja dan berkarya, tapi juga tentang menjaga tubuh yang menjadi titipan.

Kini di Mas Mitra Bekasi: Melanjutkan Ikhtiar untuk Sehat

Hari ini, Omjay melanjutkan kontrol kesehatannya di Rumah Sakit MAS Mitra Bekasi bersama dr. Runi. Meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya, wajahnya jauh lebih cerah. Ada harapan yang ia bawa hari ini—harapan untuk sembuh, harapan untuk kembali aktif berbagi ilmu, dan harapan untuk hidup lebih sehat.

Banyak orang mungkin melihat Omjay sebagai figur publik di dunia pendidikan, guru blogger yang tak kenal lelah menggerakkan guru-guru Indonesia. Namun di balik itu semua, ia juga manusia yang bisa lelah, bisa sakit, dan butuh jeda. Perjalanan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain adalah bukti bahwa kesehatan adalah anugerah yang mudah hilang jika kita lalai menjaganya.

Pesan Menyentuh dari Omjay untuk Kita Semua

Dalam masa istirahat dan perawatannya, Omjay menitipkan pesan sederhana namun dalam:

> “Jangan tunggu sakit baru sadar pentingnya kesehatan. Jaga pola makan, kendalikan stres, periksa kesehatan secara rutin, dan sayangi tubuhmu. Kita sering memaksakan diri demi pekerjaan dan orang lain, tapi lupa bahwa tubuh hanya punya satu. Jika ia rusak, semua kegiatan berhenti.”

Omjay juga berpesan bagi para guru, tenaga pendidik, dan siapa pun yang hidup dalam kesibukan:

> “Guru itu sering mengutamakan siswa, sekolah, dan keluarga. Tapi jangan lupa mengutamakan diri sendiri juga. Kesehatan adalah modal utama untuk terus mengabdi.”

Harapan Kita Semua

Kisah perjalanan Omjay melalui empat rumah sakit—Immanuel Bandung, Antam Medika Pulo Gadung, Harum Sisma Medika Kalimalang, dan kini MAS Mitra Bekasi—adalah kisah tentang keteguhan, kesabaran, dan harapan. Kita semua berdoa agar Omjay segera sembuh, pulih kembali, dan bisa berkarya seperti biasa.

Sebab Omjay bukan hanya seorang guru. Ia inspirasi. Ia sahabat bagi banyak pendidik Indonesia. Ia bukti bahwa semangat tidak pernah padam, meski tubuh kadang menyerah.

Semoga Tuhan memberikan kekuatan, memulihkan kesehatannya, dan mengizinkan Omjay terus menjadi lilin kecil yang menerangi dunia pendidikan Indonesia.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

kisah humor omjay guru tanpa tanda kehidupan

Kisah humor omjay

Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Kehidupan (Bukan Lagi Tanpa Tanda Jasa)

Setiap kali datang Hari Guru, linimasa media sosial penuh dengan kalimat manis:

> “Terima kasih, guruku, engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”

Kalimat itu memang klasik. Tapi, di zaman sekarang, para guru malah tertawa getir mendengarnya.
Bukan karena tidak bangga disebut pahlawan, tapi karena “tanpa tanda jasa” sudah berubah jadi “tanpa tanda kehidupan.”

Bagaimana tidak? Guru zaman sekarang bukan hanya sibuk mengajar, tapi juga mengisi, melapor, mengedit, mengupload, dan menginput. Hidupnya lebih sering berhadapan dengan layar laptop daripada wajah murid.
Kalau dulu guru dikenal karena kapur dan papan tulis, sekarang dikenal karena Wi-Fi dan sinyal lemot.

---

๐Ÿ“š Guru: Makhluk Multitasking Paling Sabar di Dunia

Guru itu profesi paling serba bisa di jagat raya.
Selain jadi pengajar, mereka juga bisa menjelma jadi:

Psikolog, saat murid curhat ditinggal pacar tapi tetap disuruh fokus ujian.

Satpam, saat mendapati siswa nongkrong di kantin padahal bel sudah bunyi.

Event organizer, karena tiap minggu ada lomba, upacara, atau peringatan hari besar yang harus diurus.

Content creator dadakan, karena disuruh bikin video pembelajaran padahal edit videonya pakai HP 1GB RAM.

Belum cukup? Kadang guru juga jadi komedian, karena kalau tidak bisa bikin murid tertawa, kelas akan sepi seperti kuburan ide.
Dan semua itu dilakukan dengan senyum tulus, meski di dalam hati berkata:

> “Astaga, RPP belum selesai, tapi udah ditagih supervisi.”

---

๐Ÿ’ธ Gaji Tipis, Tanggung Jawab Tebal

Kisah paling menyentuh — sekaligus kocak — datang dari seorang guru honorer di pelosok Jawa Barat.
Namanya Pak Darto (bukan nama sebenarnya).
Setiap hari beliau naik motor butut sejauh 20 km ke sekolah. Gajinya? Rp400 ribu per bulan.
Itu pun kadang telat cair karena dana BOS belum turun.

Pernah suatu kali, motornya mogok di tengah jalan. Ia menuntun motor itu ke sekolah sambil membawa tumpukan buku tugas siswa. Begitu sampai, murid-murid bersorak, “Pak, Bapak hebat banget!”
Sambil tersenyum lelah, Pak Darto menjawab,

> “Hebat sih hebat, tapi bensinnya tetap habis, Nak.”

Ironisnya, banyak guru honorer seperti Pak Darto yang bertahan bukan karena gaji, tapi karena cinta.
Mereka tahu, kalau semua guru berhenti mengajar, siapa yang akan mencetak masa depan bangsa?

Kata Omjay,

> “Guru itu seperti lilin. Bedanya, sekarang bukan cuma terbakar demi orang lain, tapi juga kena potongan pajak.” ๐Ÿ˜„

---

๐Ÿง  Administrasi Lebih Panjang dari Novel Indonesia

Dulu, tugas guru sederhana: mengajar dan mendidik.
Sekarang? Mengajar cuma setengah perjuangan.
Separuh lainnya dihabiskan untuk mengisi laporan: e-Rapor, e-Kinerja, e-Absensi, e-Learning — semua serba e, padahal gurunya sudah “e-mosi.”

Bayangkan, satu guru bisa menghabiskan malam minggu bukan dengan keluarga, tapi dengan laptop dan setumpuk file Excel.
Anak muda healing ke pantai, guru healing ke ruang TU mencari tanda tangan kepala sekolah.

Kadang, setelah mengisi ratusan data, sistemnya malah error: “Silakan login ulang.”
Seketika, semangat juang guru menurun 30 persen, tapi tetap lanjut karena besok harus dikumpulkan.

Kalau ada lomba “Siapa yang paling sabar menghadapi sistem pendidikan digital?”, guru pasti menang telak.

---

๐Ÿซ Guru dan Murid di Era TikTok

Guru zaman dulu menegur murid karena rambut gondrong.
Guru zaman sekarang menegur murid karena bikin konten TikTok di kelas.
Bedanya? Kalau dulu murid malu, sekarang malah bangga — soalnya viral.

Guru sering berkata,

> “Nak, jangan main HP terus. Fokus belajar!”
Murid menjawab santai,
“Tenang, Pak, saya belajar cara jadi influencer.”

Susah memang, mengajar generasi yang lebih cepat jempolnya daripada otaknya berpikir.
Tapi hebatnya guru Indonesia, mereka tetap mencari cara agar pembelajaran tetap menyenangkan.

Ada guru yang bikin lagu matematika, ada yang bikin drama sejarah, bahkan ada yang pakai meme buat ngajarin IPA.
Luar biasa bukan? Walau dana minim, ide mereka tak pernah kering.

---

๐Ÿฅ‡ Pahlawan yang Tak Dikenal di Jalanan

Lucunya, banyak guru yang disebut “pahlawan bangsa”, tapi di dunia nyata tidak dianggap penting.
Coba saja, guru antre beli sembako — bisa disalip karena dikira “bukan siapa-siapa.”
Padahal, tanpa guru, tidak akan ada pejabat yang bisa tanda tangan, tidak akan ada dokter yang bisa membaca resep, dan tidak akan ada insinyur yang bisa menghitung jembatan.

Guru itu seperti sistem operasi di komputer.
Tidak terlihat, tapi tanpa mereka, semua program tak bisa jalan.

Omjay pernah menulis di blognya,

> “Banyak orang mengira guru hanya bekerja di sekolah. Padahal pikiran guru bekerja 24 jam — bahkan saat tidur, masih mikirin siswa yang belum paham materi.”

---

❤️ Guru Tetap Hidup dengan Hati, Meski ‘Tanpa Tanda Kehidupan’

Julukan “pahlawan tanpa tanda kehidupan” memang terdengar lucu, tapi di baliknya ada pesan serius:
Guru masih hidup, tapi kadang keberadaannya seperti tak dianggap.

Namun mereka tetap menyalakan cahaya di tengah gelapnya birokrasi, keterbatasan, dan tuntutan zaman.
Mereka tetap tersenyum saat muridnya berhasil, walau dirinya sendiri sering gagal mendapat haknya.

Guru sejati bukan yang banyak dipuji, tapi yang tetap menginspirasi meski tak pernah viral.

---

✍️ Penutup: Saatnya Beri Tanda Kehidupan untuk Para Pahlawan Ini

Maka, di Hari Guru nanti, jangan cuma kirim ucapan manis.
Beri mereka tanda kehidupan — perhatian, penghargaan, dan kebijakan yang manusiawi.
Karena kalau guru terus hidup dalam ketidakpastian, masa depan bangsa bisa ikut redup.

Kata Omjay, menutup dengan gaya khasnya:

> “Kalau mau menghargai guru, jangan cuma dengan kata ‘terima kasih’. Tapi juga dengan perbaikan kebijakan, agar guru tidak cuma hidup dari idealisme, tapi juga bisa menafkahi keluarganya dengan tenang.”

Guru bukan malaikat, tapi mereka punya sayap: sayap kesabaran dan dedikasi.
Mereka mungkin tak punya tanda jasa besar, tapi pantas diberi tanda kehidupan — agar tetap bisa mengajar dengan bahagia.

---

#GuruIndonesia #HumorPendidikan #Omjay #PahlawanTanpaTandaKehidupan #HariGuruNasional #MelintasID

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Mengapa Ada OTN Padahal Sudah Ada OSN?

Info OTN

Mengapa Ada OTN Padahal Sudah Ada OSN?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Pertanyaan itu masih teringat jelas dalam benak saya.
“Mengapa ada OTN, padahal sudah ada OSN?”

Kalimat itu saya sampaikan kepada sahabat saya, Bambang Susetyanto, S.Kom, seorang guru TIK asal Indramayu, Jawa Barat, ketika pertama kali kami mengadakan Olimpiade TIK Nasional (OTN) di Aula Gedung A Kemdikbud, Senayan, Jakarta Pusat.

Kala itu, saya berpikir, bukankah sudah ada Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk bidang-bidang seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi?
Namun, Bambang menjawab dengan yakin,

> “Kalau anak-anak bisa berkompetisi di bidang sains, mengapa anak-anak yang unggul di bidang teknologi tidak punya wadah yang sama?”

Jawaban itulah yang menjadi awal perjalanan panjang Olimpiade TIK Nasional, atau yang kini akrab disebut OTN — ajang kebanggaan guru dan siswa TIK se-Indonesia.

---

Lahir dari Kegelisahan Guru TIK

Cikal bakal OTN berawal dari kegelisahan para guru TIK dan KKPI di seluruh Indonesia setelah diberlakukannya Kurikulum 2013, di mana mata pelajaran TIK sempat dihapus dari struktur kurikulum.

Banyak guru kehilangan jam mengajar, sebagian dipindahkan menjadi petugas laboratorium, dan tak sedikit yang merasa profesinya terpinggirkan. Namun, dari situ justru muncul semangat perjuangan baru.

Para guru TIK bersatu dalam wadah Ikatan Guru TIK dan KKPI (IGTIK-KKPI) PGRI, bertekad untuk menjaga api TIK tetap menyala. Dari forum diskusi, pelatihan, dan pertemuan daring, lahirlah gagasan besar: mengadakan Olimpiade TIK Nasional (OTN) sebagai ruang kompetisi dan inovasi teknologi.

---

OTN I: Awal dari Perjuangan

Olimpiade TIK Nasional pertama kali diadakan pada tahun 2017 di Aula Gedung A Kemdikbud, Senayan, Jakarta Pusat.
Acara ini diikuti oleh guru dan siswa dari berbagai provinsi. Meski dengan fasilitas sederhana dan dana swadaya, semangatnya luar biasa.

Saya, Omjay, menjadi saksi langsung bagaimana para guru membawa laptop pribadi, menata ruang lomba, bahkan membuat spanduk sendiri. Semua dilakukan dengan satu niat: menghidupkan kembali semangat TIK di dunia pendidikan.

Dari sinilah sejarah OTN dimulai.

---

Perjalanan Sejarah OTN dari Tahun ke Tahun

Berikut perjalanan lengkap Olimpiade TIK Nasional (OTN) dari tahun pertama hingga ketujuh:

1. ๐Ÿ OTN I (2017) – Aula Gedung A, Kemdikbud, Senayan, Jakarta
Tema: “TIK untuk Inovasi Pendidikan”
Tonggak pertama gerakan guru TIK nasional di bawah naungan IGTIK-KKPI PGRI.

2. ๐ŸŒด OTN II (2018) – Hotel Mahajaya, Denpasar, Bali
Tema: “Literasi Digital untuk Semua”
OTN pertama di luar Jakarta, menjadi simbol bahwa semangat TIK telah menembus daerah.

3. ๐ŸŸ️ OTN III (2019) – Jakarta Hall Convention Center (JHCC), Senayan, Jakarta
Tema: “TIK Menyatukan Nusantara”
Dihadiri ribuan peserta guru dan siswa dari seluruh provinsi.
Mulai ada lomba desain grafis, coding, dan aplikasi mobile education.

4. ๐Ÿ’ป OTN IV (2020) – Hybrid Event Nasional (masa pandemi COVID-19)
Tema: “Digitalisasi Pendidikan di Era Industri 4.0”
Walau pandemi melanda, panitia berhasil menyelenggarakan OTN secara daring dengan partisipasi luar biasa.

5. ๐ŸŽ“ OTN V (2021) – Universitas Islam 45 (UNISMA), Bekasi, Jawa Barat
Tema: “Membangun Sekolah Digital di Masa Adaptasi Baru”
Bekerja sama dengan kampus UNISMA, OTN menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan teknologi.

6. ๐Ÿš€ OTN VI (2022) – ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan
Tema: “Informatika untuk Semua”
Diselenggarakan dengan megah dan profesional.
Menjadi tonggak sinergi antara guru, siswa, pemerintah, dan industri digital.

7. ๐Ÿ† OTN VII (2024) – ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan
Tema: “Technology for New Era”
Di bawah kepemimpinan Lilis Juwita dari Majalengka, Jawa Barat,
OTN tampil semakin besar dan berkelas, menjadi ajang nasional yang menginspirasi ribuan peserta.

---

Sosok Inspiratif: Lilis Juwita dari Majalengka

Salah satu kunci keberhasilan OTN hingga bisa bertahan tujuh kali adalah sosok Lilis Juwita, seorang guru Informatika dari Madrasah Aliyah di Majalengka, Jawa Barat.

Beliau dikenal rendah hati namun tegas, mampu memimpin panitia nasional dengan semangat kolaboratif.

> “OTN bukan sekadar lomba, tapi wadah berbagi ilmu dan semangat,”
kata Lilis suatu kali.

Di bawah kepemimpinannya, OTN menjadi lebih inklusif — menjangkau madrasah, pesantren, dan sekolah-sekolah di pelosok yang baru mengenal dunia digital.

---

OTN: Lebih dari Sekadar Lomba

Kini, OTN bukan hanya ajang mencari juara, tetapi gerakan literasi digital nasional.
Dalam setiap penyelenggaraan, OTN menampilkan berbagai kegiatan inspiratif, antara lain:

Workshop Nasional Guru TIK dan Informatika

Lomba Coding, Desain Grafis, dan Video Edukasi Digital

Pameran Teknologi dan Media Pembelajaran Inovatif

Pelatihan Kecerdasan Buatan (AI) dan Inovasi Aplikasi Pendidikan

Melalui OTN, ribuan guru dan siswa Indonesia terinspirasi untuk terus berinovasi di bidang teknologi informasi.

---

Refleksi Omjay: Dari Pertanyaan Menjadi Kebanggaan

Kini saya paham, pertanyaan saya dulu ternyata memiliki jawaban yang sangat bermakna.
“Mengapa ada OTN padahal sudah ada OSN?”

Jawabannya:
Karena OTN mengisi ruang yang belum tersentuh OSN — ruang teknologi, ruang informatika, ruang masa depan.

OSN menumbuhkan kecerdasan logika dan sains klasik,
sementara OTN menumbuhkan kreativitas digital dan inovasi abad ke-21.

OTN adalah bukti nyata bahwa guru TIK Indonesia mampu mencetak generasi unggul yang cakap teknologi, berakhlak mulia, dan siap menghadapi masa depan digital bangsa.

---

Penutup: OTN, Api yang Tak Pernah Padam

Sebagai saksi sejarah sejak awal, saya bangga melihat bagaimana OTN tumbuh dari aula sederhana di Kemdikbud hingga menjadi perhelatan megah di ICE BSD.

Di tangan guru hebat seperti Bambang Susetyanto dari Indramayu dan Lilis Juwita dari Majalengka,
Olimpiade TIK Nasional (OTN) akan terus menjadi lentera digital bagi pendidikan Indonesia.

Dan semoga suatu hari nanti, OTN dan OSN dapat berjalan berdampingan — membentuk generasi muda Indonesia yang cerdas, kreatif, dan berkarakter digital.

> “OTN bukan sekadar lomba, tapi gerakan perubahan menuju era baru teknologi pendidikan.”

Salam blogger persahabatan 
Omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 06 November 2025

gegara uang 20 ribu

Info pgri 

Gegara Uang 20 Ribu, Dua Guru di PTDH: Sebuah Luka Batin di Dunia Pendidikan

Kisah ini bukan fiksi. Ia nyata, terjadi di tanah Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Hanya karena uang Rp20.000 per orang tua siswa, dua guru yang puluhan tahun mengabdi di sekolah negeri kini harus menanggung pil pahit: diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH).
Nama mereka adalah Drs. Rasnal, M.Pd dan Drs. Abd. Muis — dua pendidik senior di SMAN 1 Luwu Utara, yang dulu disegani murid dan dicintai rekan sejawat.

Semua bermula lima tahun lalu.
Ketika itu, sepuluh guru honorer datang mengadu kepada kepala sekolah. Mereka belum menerima gaji honor selama sepuluh bulan karena nama mereka belum terdaftar di Dapodik (Data Pokok Pendidikan).
Aturan memang jelas: yang tidak terdaftar, tidak bisa menerima dana BOS. Tapi apakah nurani manusia bisa diam melihat rekan seprofesi hidup tanpa penghasilan sepuluh bulan lamanya?

Atas dasar keprihatinan bersama, kepala sekolah menggelar rapat dengan Komite Sekolah. Dari rapat itu disepakati solusi sederhana namun bermakna: setiap orang tua siswa yang mampu akan berurunan Rp20.000, bagi yang punya dua anak cukup bayar satu, dan bagi yang tak mampu—tak perlu ikut.
Semua dilakukan terbuka, tanpa paksaan. Niatnya hanya satu: menolong sesama guru.

Namun niat baik itu berubah menjadi bencana.
Sebuah LSM melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib. Polisi memeriksa empat guru dan menetapkan dua orang sebagai tersangka. Kejaksaan sempat mengembalikan berkas karena tidak ditemukan unsur pidana. Tapi proses hukum berjalan kembali, dengan keterlibatan inspektorat daerah yang menyimpulkan adanya “kerugian negara”.
Perkara itu pun berujung ke meja Pengadilan Tipikor Makassar, di mana kedua guru akhirnya dinyatakan bebas — tidak terbukti melakukan korupsi. Mereka lega, masyarakat lega, dan nama baik mereka dipulihkan.

Namun ternyata, jaksa melakukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).
Putusan MA pun keluar: kedua guru dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 1 tahun penjara.
Setelah menjalani hukuman dan kembali ke masyarakat dengan kepala tegak, datanglah surat keputusan dari gubernur atas usulan berjenjang dari Dinas Pendidikan dan BKD:
Kedua guru itu diberhentikan tidak dengan hormat.

---

Tangisan di Tengah Teriakan Keadilan

Kemarin, ratusan guru di Luwu Utara turun ke jalan.
Mereka melakukan aksi damai di depan Kantor DPRD dan Kantor Bupati, menolak keputusan PTDH terhadap dua guru yang dianggap menjadi korban dari sistem yang kaku dan tanpa hati.

Seorang guru senior berteriak dalam orasinya:

> “Mereka bukan koruptor! Mereka hanya menolong sesama guru yang tidak digaji. Kalau itu salah, maka yang paling salah adalah sistem yang membiarkan guru hidup tanpa gaji selama berbulan-bulan!”

Teriakan itu menggema. Menembus hati siapa pun yang masih punya nurani.
Apakah adil memenjarakan dan memecat dua guru karena uang Rp20.000, sementara kasus korupsi miliaran rupiah sering berujung ringan bahkan tanpa sanksi berat?
Apakah hukum sudah kehilangan rasa kemanusiaannya?
Apakah birokrasi sudah lupa bahwa di balik setiap nomor Dapodik, ada manusia yang punya keluarga, perut yang lapar, dan hati yang ingin mengabdi?

---

Komentar Omjay: Hukum yang Kering dari Nurani

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay), Guru Blogger Indonesia dan pejuang literasi guru nasional, mengaku terenyuh membaca kasus ini.

> “Sebagai guru, saya menangis dalam hati. Dua rekan kita dihukum bukan karena mereka korup, tapi karena mereka punya hati. Hukum di negeri ini sering kali kering dari nurani. Saya berharap pemerintah dan aparat hukum lebih bijak melihat konteks moral dan kemanusiaan di balik setiap kebijakan sekolah.”

Omjay menegaskan, kasus ini seharusnya menjadi pelajaran bahwa sistem pendidikan dan birokrasi keuangan perlu disederhanakan dan dimanusiakan.

> “Guru yang berbuat baik jangan dihukum. Yang korup dan menyalahgunakan jabatanlah yang seharusnya dipenjarakan. Mari kita perjuangkan keadilan bagi Pak Rasnal dan Pak Abd. Muis,” tegasnya.

---

Suara Ketua Umum PB PGRI: Keadilan Harus Ditegakkan dengan Nurani

Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, Ketua Umum PB PGRI, menilai kasus ini sangat memprihatinkan dan mencederai rasa keadilan bagi profesi guru.

> “PGRI selalu menegaskan: kami menghormati hukum, tetapi hukum harus ditegakkan dengan hati nurani. Bila seorang guru dihukum karena tindakan kemanusiaan, itu artinya kita telah gagal memahami makna pendidikan yang sesungguhnya.”

Beliau menambahkan, PGRI akan terus mengawal dan memperjuangkan agar putusan PTDH ini dikaji ulang.

> “Negara harus hadir, bukan untuk menghukum guru, tapi melindungi mereka dari ketidakadilan,” ujar Prof. Unifah dengan nada prihatin.

---

Dr. Sumardiansyah: Ini Luka Kolektif Dunia Pendidikan

Dr. Sumardiansyah Perdana Kusumah, M.Pd, Ketua APKS PGRI (Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis), menyebut kasus ini sebagai “luka kolektif dunia pendidikan.”

> “Ketika guru yang menolong sesama justru dihukum, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan arah moral dalam menegakkan aturan. Apakah nilai-nilai kemanusiaan sudah kalah oleh birokrasi?”

Beliau menegaskan, APKS PGRI akan mendorong advokasi lanjutan dan meminta Gubernur Sulawesi Selatan meninjau ulang keputusan PTDH tersebut.

> “Negara harus hadir untuk guru, bukan malah menelantarkannya.”

---

Guru Juga Manusia

Guru bukan malaikat. Mereka manusia. Mereka butuh hidup, makan, dan dihormati.
Mereka bukan mesin pengajar, tapi penjaga masa depan bangsa.

Bila hukum tak lagi bisa membedakan mana kejahatan dan mana kemanusiaan, maka bangsa ini sedang kehilangan arah moralnya.
Bila birokrasi menindas ketulusan, maka pendidikan tak lagi menjadi jalan pembebasan, tapi penjara bagi hati nurani.

Mari kita serukan bersama:
Save Pak Guru Drs. Rasnal, M.Pd dan Drs. Abd. Muis.
Pulihkan martabat mereka.
Karena menghukum orang yang berbuat baik adalah tanda bahwa hati bangsa ini mulai mati.

---

๐Ÿ–‹️ Ditulis oleh: Tim Kampung Berkah Luwu Utara
Dengan komentar dari:

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd – Ketua Umum PB PGRI

Dr. Sumardiansyah Perdana Kusumah, M.Pd – Ketua APKS PGRI

---

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com