Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 15 Oktober 2025

Ketika PGRI Dimaki di Medsos

Ketika PGRI Dimaki, Saatnya Menunjukkan Jati Diri

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia, Sekjen IGTIK PGRI

---

Beberapa hari ini, jagat media sosial mendadak ramai. Beragam komentar pedas dan cemoohan ditujukan kepada organisasi guru tertua di negeri ini — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Di kolom komentar Facebook dan grup WhatsApp, saya membaca banyak keluhan yang bernada getir.

> “PGRI cuma bisa mungut iuran!”
“Giliran guru ditangkap polisi, diam seribu bahasa.”
“Ngapain ada PGRI kalau nggak pernah bela guru?”

Kalimat-kalimat itu menusuk hati. Bukan karena semuanya benar, tapi karena di baliknya tersimpan rasa kecewa yang dalam dari para guru sendiri. Mereka mencintai PGRI, tapi juga menuntut kehadiran yang nyata saat rekan-rekannya sedang susah.

Kasus di Lebak yang Mengusik Nurani

Kita tahu, baru-baru ini publik digemparkan oleh kasus di Lebak, Banten. Seorang kepala sekolah menampar siswanya yang kedapatan merokok dan berbohong.
Sang siswa mengaku sakit hati, orang tua marah, dan akhirnya kasus itu berlanjut ke ranah hukum.
Di sisi lain, sang kepala sekolah menangis. Ia merasa tidak berniat melakukan kekerasan, hanya spontan bereaksi karena ingin menegakkan disiplin.

Namun, masyarakat menilai lain. Berita menyebar cepat di media sosial, disertai hujatan yang memojokkan guru.
Sayangnya, nama PGRI pun ikut terseret. “Mana suara PGRI?” begitu suara netizen menggema di kolom komentar.

Omjay: Jangan Diam Saat Guru Diserang

Sebagai bagian dari keluarga besar PGRI, saya ikut prihatin.
Saya memahami betapa sulitnya posisi para pengurus di daerah.
Di satu sisi, mereka harus menenangkan publik dan menghormati proses hukum.
Di sisi lain, mereka dituntut untuk cepat turun tangan membela anggotanya.

> “PGRI tidak boleh diam ketika guru sedang diserang,” kata saya dalam satu diskusi.
“Kalau kita terus diserang di media sosial tanpa klarifikasi, citra organisasi rusak.
Kita harus berani bicara dan menjelaskan duduk perkaranya secara jujur.”

Saya percaya, PGRI bukan organisasi penonton.
Ia lahir dari semangat perjuangan para guru, bukan dari ketakutan akan kehilangan jabatan.
Kalau hari ini kita takut bersuara, maka esok kita akan kehilangan kepercayaan dari anggota sendiri.

Sumardiansyah: Advokasi Itu Tak Selalu di Media

Saya juga sempat berbincang dengan sahabat saya, Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma, Ketua APKS PGRI sekaligus Wakil Sekjen PB PGRI.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang tidak tahu kalau pendampingan hukum terhadap guru sudah dan sedang dilakukan, hanya saja tidak semua bisa dipublikasikan.

> “Proses advokasi tidak selalu bisa diumumkan di media sosial,” ujar Sumardiansyah.
“Ada etika yang harus dijaga, apalagi kalau kasusnya masih dalam tahap penyelidikan. Tapi percayalah, PGRI tidak tinggal diam.”

Saya tahu betul, Sumardiansyah adalah sosok yang selalu berdiri di barisan depan saat guru bermasalah.
Namun, di era digital ini, diam sering disalahartikan sebagai tidak peduli.
Padahal, bisa jadi para pengurus sedang bekerja keras di balik layar, bernegosiasi, menenangkan semua pihak, agar kasus tak berakhir tragis.

Ujian Kepemimpinan di Tengah Badai Kritik

Untuk PGRI Lebak dan PGRI Provinsi Banten, ini adalah ujian kepemimpinan yang sesungguhnya.
Bukan sekadar mengurus rapat, kegiatan, atau seremoni. Tapi bagaimana berdiri tegak saat badai datang.

> “Kalau takut kehilangan jabatan, jangan jadi pengurus PGRI,” begitu pesan saya kepada para sahabat pengurus di daerah.
“Pemimpin sejati justru tumbuh dari keberanian menghadapi kritik, bukan dari kenyamanan di kursi jabatan.”

PGRI adalah rumah besar kita.
Kalau rumah ini retak oleh kesalahpahaman, tugas kita bukan saling menyalahkan, tapi memperbaikinya bersama.

Kritik Itu Vitamin, Bukan Racun

Saya justru bersyukur melihat banyak guru yang berani bersuara lantang di media sosial.
Itu tanda masih ada harapan.
Organisasi yang tidak dikritik adalah organisasi yang sudah tidak dianggap penting.

Maka, mari jadikan kritik sebagai vitamin yang menyehatkan PGRI.
Jangan disikapi dengan marah, tapi dengan introspeksi.
Kalau memang ada kekurangan dalam komunikasi dan keberpihakan, mari kita perbaiki bersama.

Penutup: Saatnya PGRI Bangkit Kembali

Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak hanya melihat PGRI dari kacamata negatif.
Organisasi ini sudah berjuang puluhan tahun mendampingi guru, dari Sabang sampai Merauke.
Namun memang, zaman telah berubah.
Kini, guru menuntut kecepatan, transparansi, dan kehadiran nyata — bukan sekadar janji atau surat resmi.

Karena itu, PGRI harus beradaptasi.
Harus hadir di ruang publik, menjelaskan posisi dengan bahasa yang sederhana dan empatik.
Tunjukkan bahwa PGRI masih punya hati, masih punya nyali, dan masih punya jiwa perjuangan.

Dan bagi para pengurus di Lebak dan Banten, jangan gentar menghadapi badai.
Badai pasti berlalu, tapi keberanian akan dikenang selamanya.

Karena di saat PGRI dimaki, justru di situlah jati diri kita diuji.
Apakah kita akan tenggelam dalam cibiran, atau bangkit dan berkata lantang:
“Kami ada untuk guru Indonesia!”

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 13 Oktober 2025

Ucapan Duka Dari Ketua Umum GNLD Siberkreasi

Siaran Pers Siberkreasi 

Siberkreasi Sampaikan Duka dan Permohonan Maaf atas Wafatnya Bapak Bambang Susetiyanto

Jakarta, 13 Oktober 2025 —
Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Bapak Bambang Susetiyanto, Ketua Komunitas Guru TIK (KOGTIK) sekaligus tokoh penting dalam gerakan literasi digital nasional.

Almarhum dikenal luas sebagai pejuang TIK yang berdedikasi, sosok inspiratif yang selama ini aktif mendampingi komunitas guru di seluruh Indonesia melalui kegiatan Ikatan Guru TIK PGRI (IGTIK) dan berbagai program kolaboratif bersama Siberkreasi.

Ungkapan Duka dan Permohonan Maaf dari Siberkreasi

Atas nama seluruh pengurus dan anggota Siberkreasi, Ketua Umum Siberkreasi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar IGTIK dan KOGTIK apabila terdapat kealpaan dalam menyampaikan atau mengekspresikan rasa kehilangan atas wafatnya almarhum.

> “Kami sangat berduka dan kehilangan sosok panutan seperti Bapak Bambang. Beliau bukan sekadar mitra, tetapi sahabat sejati dalam memperjuangkan literasi digital di kalangan guru dan masyarakat. Kami mohon maaf jika ada kekurangan dalam bentuk ekspresi duka kami. Dedikasi beliau akan selalu kami kenang,”
— Ketua Umum Siberkreasi.

Menjaga Ruang Digital yang Sehat dan Bermakna

Siberkreasi menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjaga ruang diskusi komunitas agar tetap sehat, produktif, dan saling menghargai.
Sejak awal, grup dan forum Siberkreasi diinisiasi sebagai wadah untuk berbagi dan berdiskusi tentang Teknologi Informasi, Komunikasi, dan Literasi Digital.

Dalam perjalanannya, tentu terdapat dinamika, ekspresi perasaan, serta kabar suka dan duka dari berbagai anggota. Karena itu, Siberkreasi mengajak seluruh anggota untuk menjaga etika berdiskusi dan tetap fokus pada bahasan utama, agar ruang bersama ini senantiasa menjadi tempat yang nyaman dan bermakna bagi semua.

> “Kami menghormati setiap bentuk empati dan rasa kehilangan yang muncul, namun kami juga berharap komunikasi yang bersifat personal dapat disampaikan secara langsung agar makna dan kesakralannya tetap terjaga,”
— pernyataan resmi Pengurus Siberkreasi.

Mengenang Warisan Perjuangan Almarhum

Peran dan jasa almarhum Bapak Bambang Susetiyanto bagi ekosistem literasi digital Indonesia sangat besar dan tak ternilai.
Beliau aktif mengedukasi ribuan guru mengenai pentingnya literasi digital, keamanan siber, serta pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna.

Semangat dan dedikasi beliau akan terus hidup dalam setiap langkah kolaborasi antara Siberkreasi, IGTIK, KOGTIK, dan seluruh mitra gerakan literasi digital di tanah air.

Melanjutkan Kolaborasi untuk Indonesia yang Lebih Cerdas Digital

Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi akan terus melanjutkan kerja sama dengan seluruh komunitas dan mitra untuk memperkuat literasi digital di Indonesia, sejalan dengan semangat dan teladan almarhum.

> “Kami percaya, perjuangan beliau akan menjadi obor yang menerangi jalan kita bersama. Mari kita lanjutkan dengan hati yang tulus dan semangat kolaborasi yang kuat,”
— Ketua Umum Siberkreasi.

Atas nama seluruh pengurus dan relawan Siberkreasi, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh komunitas dan rekan sejawat yang turut mendoakan almarhum.
Semoga Allah SWT menerima amal baik beliau dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

---

Kontak Media:
Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi
๐Ÿ“ง info@siberkreasi.id
๐ŸŒ www.siberkreasi.id
๐Ÿ“ฑ IG/Twitter: @siberkreasi

Minggu, 12 Oktober 2025

Kisah Omjay Blusukan Digital

*Om Jay Blusukan Digital*
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Om Jay)
Sekjen IGTIK PGRI, Guru Blogger Indonesia, Pegiat Literasi Digital

“Om Jay, minggu depan bisa isi pelatihan di daerah terpencil ya. Tapi harap maklum, sinyal suka malu-malu... kadang muncul, kadang ngambek.”

Saya pun mengangguk penuh semangat, padahal belum tanya di mana lokasinya. Begitu lihat alamat lengkapnya: “Dusun Cipatok Luhur, RT 03/RW 99, seberang kali, belok kiri ketemu pohon jambu, jalan dikit sampai.”
Saya langsung cari Google Maps — yang malah menjawab: "Maaf, kami juga bingung." ๐Ÿ˜…

Hari Pertama: Nyalain Laptop, Nyari Colokan
Begitu sampai di lokasi, sambutannya luar biasa. Anak-anak melambai, ayam berkotek, dan sapi menyapa dengan pandangan penuh selidik: “Ini orang kok bawa laptop ke kandang?”

Saya buka tas: laptop, proyektor, kabel HDMI, modem, mouse nirkabel, dan... nasi bungkus.
Karena saya tahu, colokan bisa dicari, tapi perut kalau lapar, seminar bisa bubar. ๐Ÿ˜‹

Masalah pertama muncul saat mau colokin proyektor. Ternyata, colokannya satu—dan itu pun sudah dipakai buat kipas angin. Akhirnya, pilihan hidup pun muncul:
Proyektor atau angin?
Karena suhu ruangan sudah mencapai level "sauna tropis", maka saya pilih: angin.

Saya pun mengganti presentasi dengan gaya orkestra. Slide diganti dengan gerakan tangan. Pointer diganti dengan ranting pohon. Hasilnya? Peserta tertawa semua, bukan karena materi saya lucu… tapi karena saya mirip dalang wayang yang lagi kesurupan WiFi! ๐Ÿ˜„

Hari Kedua: Ketika AI Bertemu Ayam
Materi saya hari kedua adalah: “Pengantar Artificial Intelligence.”
Saya buka dengan pertanyaan, “Siapa yang tahu AI itu apa?”
Seorang siswa angkat tangan dengan semangat:
“AI itu... Ayam India, Om!”

Saya pun ngakak. Tapi anak itu tidak salah sepenuhnya. Karena waktu saya googling "AI", yang muncul justru resep masakan Ayam India berempah kari. ๐Ÿคฃ

Akhirnya, saya jelaskan bahwa AI adalah kecerdasan buatan. Tapi mereka lebih tertarik ketika saya tunjukkan robot bisa menggambar ayam. “Wah, canggih ya... Tapi Om Jay, bisa nggak robotnya bantu metik rambutan?”

Saya jawab, “Belum bisa... Tapi kalau dimodifikasi dengan tangan emak-emak, pasti bisa panen sambil ngedumel!” ๐Ÿ˜…

Hari Ketiga: Coding Ala Kampung
Saya ajarkan coding sederhana. Anak-anak buka laptop. Tapi yang muncul bukan Python atau Scratch, melainkan... Free Fire dan Mobile Legends!

“Om Jay, codingnya pakai skin epic ya?”

Saya hanya bisa senyum: “Nak, mari kita pelajari dulu logika ‘jika-maka’... bukan ‘jika kalah, maka marah’.” ๐Ÿ˜†

Untung ada satu anak yang serius. Dia berhasil membuat program sederhana: kalau tombol diklik, muncullah kalimat, “Selamat datang di Dusun Cipatok Luhur!”
Saya terharu. Ini bukan sekadar coding, tapi cinta kampung halaman yang dituangkan dalam bahasa digital.

Hari Terakhir: Koneksi Hati, Bukan Sekadar WiFi
Meski sinyal suka ngambek dan modem lebih sering buffering daripada bekerja, saya merasa justru inilah esensi blusukan digital: mendekatkan teknologi dengan kearifan lokal.
Bukan memaksa kampung menjadi kota, tapi menjadikan teknologi sebagai jembatan untuk saling belajar.

Saya pun pamit. Anak-anak melambaikan tangan. Seorang nenek berkata, “Om Jay, kapan ke sini lagi? Tapi nanti bawa kipas sendiri ya, biar colokan bisa buat proyektor.”

Saya tertawa sambil menjawab, “Siap, Nek. Lain kali Om Jay bawa panel surya dan colokan cadangan. Sekalian bawa sambal terasi digital!”

Penutup: Tertawa Adalah Bahasa Universal
Blusukan digital bukan tentang hebat-hebatannya alat. Tapi tentang mendekatkan diri ke hati anak-anak bangsa, sambil tertawa bersama.
Di tengah tawa, belajar jadi lebih ringan. Dan dari kelucuan, seringkali lahir kebijaksanaan.

Jadi kalau nanti Om Jay viral karena masuk kampung bawa laptop, modem, dan nasi bungkus, jangan heran ya. Karena di situlah letak perjuangan literasi: bukan hanya menghubungkan sinyal, tapi menyambungkan hati.

Salam hangat dan tawa dari Om Jay, sang Blusukan Digital!

๐Ÿคฃ๐Ÿ’ป๐Ÿ“š๐Ÿ›–๐ŸŒพ

Salam Blogger Persahabatan, Omjay Guru Blogger Indonesia, Blog https://wijayalabs.com

Gaji Guru Kecil Ketika Pensiun Lalu Bahagiakan Guru PNS yang Pensiun?

Bahagiakah Guru PNS yang Pensiun?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia – Sekjen Ikatan Guru Informatika PGRI

“Bahagiakah guru PNS yang pensiun?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana senyum yang biasanya terpancar dari wajah seorang guru saat melepas masa baktinya. Di satu sisi, tentu bahagia — karena setelah puluhan tahun mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa, akhirnya tiba masa untuk beristirahat dengan tenang. Namun di sisi lain, ada juga rasa kehilangan yang perlahan menyelinap, terutama ketika menyadari bahwa pendapatan yang diterima tak lagi sebesar saat masih aktif mengajar.

Seorang sahabat saya, Didi Suprijadi dari PGRI, pernah menulis dengan jujur dan menyentuh:

> “Guru PNS yang pensiun pasti orang paling bahagia, apalagi melihat anak-anak didiknya berkembang menjadi orang yang terhormat. Pekerjaan guru termasuk yang paling mulia, dan jarang tersentuh urusan hukum seperti KPK karena tak banyak bersinggungan dengan keuangan—kecuali kalau merangkap kepala sekolah.”

Kalimat itu menggambarkan betapa luhur dan bersihnya profesi guru. Tidak banyak profesi lain yang bisa tetap berdiri dengan kepala tegak, penuh kehormatan, bahkan setelah pensiun. Namun, kebahagiaan itu tetap dibayangi oleh kenyataan finansial yang berbeda.

Pendapatan yang Jauh Berbeda Setelah Pensiun

Ketika seorang guru PNS masih aktif, pendapatannya bisa berlapis-lapis:

1. Gaji pokok Rp 4 juta

2. Tunjangan Profesi Guru (TPG) Rp 4 juta

3. Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) Rp 10 juta

4. Tunjangan lainnya Rp 2 juta
Total: Rp 20 juta per bulan.

Namun begitu pensiun, semua tunjangan itu menguap — yang tersisa hanyalah 80 persen dari gaji pokok, sekitar Rp 3,2 juta. Jelas, perbedaan yang mencolok antara masa aktif dan masa pensiun ini menimbulkan “kejutan psikologis” bagi banyak guru. Tidak heran bila banyak di antara mereka yang mendadak merasa sepi, bukan karena kehilangan rutinitas mengajar, melainkan karena dompet yang ikut “pensiun”.

Guru yang dulu terbiasa menabung, memberi sumbangan, atau membantu murid dan tetangga, kini harus menyesuaikan diri dengan kehidupan yang lebih sederhana. Tetapi meski penghasilan berkurang drastis, semangat dan nilai kehidupan yang mereka wariskan justru tak ternilai.

Solusi dan Harapan Guru Pensiunan

Didi Suprijadi mengungkapkan harapan besar agar kelak sistem gaji guru diubah menjadi gaji tunggal (single salary system) dengan besaran yang lebih layak, antara Rp 20–25 juta per bulan.
Dengan begitu, ketika pensiun, seorang guru masih bisa menikmati 80 persen dari jumlah itu — sekitar Rp 16 juta. Jumlah yang memungkinkan mereka hidup layak di masa tua tanpa harus bergantung pada anak-anaknya.

Tentu, harapan ini bukan sekadar soal uang. Tapi lebih kepada penghargaan negara terhadap jasa dan pengorbanan seorang guru. Mereka bukan hanya mengajar pelajaran, tapi juga menanamkan nilai kehidupan. Dalam setiap huruf yang ditulis di papan tulis, ada pengabdian yang tak bisa diukur dengan nominal.

Menjadi Bahagia Meski Pendapatan Berkurang

Namun, tidak semua guru pensiunan merasa sedih. Irianto Gunawan, seorang guru senior yang kini telah pensiun, menulis tanggapan yang indah:

> “Itu besaran penghasilan guru di daerah yang surplus. Rata-rata penghasilan guru secara umum sekitar 7–10 juta. Kami pensiun golongan IV/c menerima 5 juta lebih. Tapi lebih bahagia lagi menjadi pensiunan yang masih bisa ikut mengabdi di PGRI, membantu menyelesaikan masalah guru-guru aktif agar mereka bisa tenang menjalankan tugas mulianya.”

Kalimat itu adalah cermin kebahagiaan sejati. Bahagia bukan karena angka di slip gaji, melainkan karena masih bisa memberi manfaat bagi sesama. Banyak guru pensiunan yang kini menjadi pengurus PGRI di daerahnya masing-masing. Mereka berbagi pengalaman, menjadi konsultan pendidikan, atau sekadar teman curhat bagi guru muda yang sedang berjuang menghadapi tantangan zaman digital.

Investasi Tak Ternilai: Jasa dan Kenangan

Saya, Wijaya Kusumah, atau yang biasa disapa Omjay, melihat hal ini dari sisi yang lebih dalam. Guru seperti Didi Suprijadi mungkin tidak lagi menerima TKD belasan juta setiap bulan, tapi ia memiliki investasi yang nilainya jauh lebih besar: investasi kenangan, jasa, dan doa dari murid-muridnya.

Setiap kali seorang murid sukses dan mengingat gurunya, di sanalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Tidak ada bunga deposito atau saham yang bisa menandingi nilai itu. Itulah dividen moral yang hanya dimiliki oleh guru — dan bertahan seumur hidup.

Saya sering katakan kepada teman-teman guru, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun:

> “Gaji pensiunan boleh kecil, tapi jasa seorang guru untuk bangsa sangat besar. Guru profesional dan inspiratif akan selalu hidup di hati muridnya.”

Guru sejati tidak pernah benar-benar “pensiun”. Mereka mungkin tak lagi berdiri di depan kelas, tapi suaranya tetap hidup di kepala murid-muridnya. Kata-kata bijak, nasihat sederhana, bahkan senyuman yang dulu mungkin dianggap biasa, kini menjadi pelita bagi generasi penerus bangsa.

Guru Profesional dan Inspiratif Tak Pernah Pudar

Kebahagiaan sejati guru pensiunan bukan hanya diukur dari uang yang mereka terima tiap bulan, melainkan dari seberapa banyak cinta yang mereka tanam selama mengajar. Guru profesional dan inspiratif tidak akan pernah dilupakan muridnya. Mereka akan dikenang bukan karena jabatan atau gelar, tapi karena ketulusan.

Kita bisa mencontoh banyak guru senior yang setelah pensiun tetap aktif menulis, berbagi ilmu di media sosial, mengikuti kegiatan PGRI, atau bahkan menulis buku inspiratif. Ada pula yang menjadi relawan pendidikan, mengajar anak-anak di pelosok, tanpa pamrih. Di sanalah terlihat bahwa semangat mendidik bukan urusan gaji, tapi urusan hati.

Penutup: Bahagia Karena Pernah Mengabdi

Jadi, apakah guru PNS yang pensiun bahagia?
Jawabannya: ya, bila ia pernah mengabdi dengan hati.

Meski pendapatan menurun drastis, kebahagiaan mereka tetap utuh karena diisi oleh rasa bangga. Mereka telah melahirkan ribuan anak bangsa yang kini menjadi pemimpin, dokter, insinyur, pengusaha, bahkan guru baru yang meneruskan semangatnya.

Selama masih ada murid yang berkata, “Terima kasih, Bu Guru. Terima kasih, Pak Guru,” — maka kebahagiaan seorang pensiunan tak akan pernah habis.
Karena sejatinya, guru tidak pernah benar-benar berhenti mengajar. Mereka hanya berpindah kelas — dari ruang sekolah ke ruang kehidupan.

---

Omjay menutup dengan refleksi:

> “Guru profesional dan inspiratif akan selalu di hati muridnya. Jangan hitung berapa besar gaji yang hilang, tapi hitunglah berapa banyak cinta yang tertinggal.”

๐Ÿ–‹ Ditulis untuk Melintas.id dan Kompasiana, dalam rangka menghargai jasa guru-guru pensiunan yang tetap menginspirasi Indonesia.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 09 Oktober 2025

Alhamduillah Omjay 18 Tahun Menjadi Guru Blogger di Wordpress

https://wijayalabs.wordpress.com/2025/10/09/selamat-menulis-di-blog-selama-18-tahun-bersama-wordpress/

Selamat Merayakan 18 Tahun Bersama WordPress.com: Perjalanan Panjang Seorang Guru Blogger




Hari ini, 9 Oktober 2025, WordPress.com mengirimkan pesan istimewa ke email saya:

> “Selamat Merayakan bersama WordPress.com!
> Anda mendaftar di WordPress.com 18 tahun yang lalu.
> Terima kasih telah menjelajah bersama kami. Pertahankan kesuksesan blogging Anda!”

Saya tersenyum membaca pesan sederhana itu. Tidak terasa sudah **18 tahun saya menulis di WordPress.com**, sebuah rumah maya yang menjadi saksi perjalanan panjang saya sebagai **Guru Blogger Indonesia**. Dari sekadar menulis catatan harian, berbagi pengalaman mengajar, hingga menebarkan semangat menulis di kalangan guru seluruh nusantara — semuanya berawal dari satu langkah kecil: **membuat blog gratis di WordPress.com**.

**Awal Perjalanan Seorang Guru Blogger**

Saya masih ingat betul saat pertama kali membuat blog di tahun 2007. Kala itu saya masih menjadi guru TIK di SMP Labschool Jakarta. Internet belum secepat sekarang, warnet masih jadi tempat favorit banyak orang, dan istilah *blogging* belum sepopuler media sosial seperti sekarang. Namun saya yakin, menulis di blog bisa menjadi sarana berbagi ilmu dan pengalaman kepada sesama guru.

Blog pertama saya di WordPress saya beri nama **Wijayalabs.wordpress.com**. Nama itu saya ambil dari *Wijaya* (nama saya) dan *Labschool* (tempat saya mengabdi). Awalnya saya hanya menulis sebulan sekali, bahkan kadang hanya mengunggah hasil pelatihan atau tulisan pendek untuk siswa. Tapi lama-kelamaan, menulis menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Dari situlah saya mulai dikenal sebagai **Omjay, Guru Blogger Indonesia**. Julukan itu bukan saya yang menciptakan, tetapi lahir dari para pembaca dan rekan-rekan guru di dunia maya yang sering membaca tulisan saya dan memanggil saya dengan sebutan akrab itu.

**WordPress: Rumah Kedua Bagi Para Penulis**

Bagi saya, WordPress bukan sekadar platform menulis. Ia adalah **rumah digital** yang menampung berjuta-juta cerita, gagasan, dan mimpi dari berbagai penjuru dunia.

Di sinilah saya belajar arti konsistensi. Menulis bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi tentang **kemauan untuk terus berbagi**. Kadang tulisan saya sederhana, kadang panjang dan reflektif. Namun setiap kali saya menekan tombol “Publikasikan”, ada rasa lega — seolah saya telah menyelesaikan satu misi kecil dalam hidup: berbagi kebaikan melalui kata-kata.

WordPress juga mengajarkan saya tentang **arsitektur digital**. Dari template gratis hingga domain berbayar, dari statistik pengunjung hingga komentar pembaca, semuanya menjadi bagian dari proses belajar tanpa henti. Saya belajar membuat tampilan menarik, menautkan foto kegiatan, hingga memahami pentingnya SEO agar tulisan mudah ditemukan pembaca.

Kini, setelah 18 tahun, blog saya sudah berisi ribuan tulisan. Sebagian menjadi artikel populer di Kompasiana, sebagian dimuat ulang di berbagai portal berita dan majalah pendidikan. Namun akar perjalanan saya tetap di sini — di **WordPress.com**.

**Menulis Itu Ibadah, Blogging Itu Sedekah Ilmu**

Sering saya sampaikan dalam pelatihan menulis untuk guru di seluruh Indonesia: *“Menulislah dengan hati, bukan dengan ChatGPT.”*
Kalimat itu saya ulang bukan karena saya anti teknologi, tetapi karena saya ingin para guru sadar bahwa **tulisan yang menyentuh hati lahir dari pengalaman nyata dan keikhlasan berbagi.**

Menulis di blog bukan sekadar aktivitas digital, melainkan bentuk *ibadah ilmu*. Setiap kata yang kita tulis, setiap pengalaman yang kita bagikan, bisa menjadi amal jariyah jika bermanfaat bagi orang lain. Karena itu saya selalu katakan: jangan takut menulis. Jangan tunggu sempurna. Tulislah apa adanya, karena keaslian adalah kekuatan utama seorang blogger.

**Dari WordPress ke Dunia Nyata**

Berkat blog di WordPress, saya mendapat banyak kesempatan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya diundang menjadi pembicara di berbagai seminar pendidikan, menulis buku, bahkan berkesempatan **berangkat umroh** tahun 2017 berkat tulisan yang memenangkan lomba. Saya juga mendirikan **Komunitas Guru TIK dan KKPI Indonesia (KOGTIK)** serta **Ikatan Guru Informatika PGRI (IGI PGRI)** yang kini menaungi ribuan guru di seluruh nusantara.

Semua itu bermula dari satu kebiasaan sederhana: menulis di blog.

Blog WordPress menjadi portofolio digital saya. Banyak pihak mengenal saya bukan dari jabatan atau gelar, tapi dari tulisan yang mereka baca di **wijayalabs.wordpress.com**. Itulah kekuatan blog — ia membangun kepercayaan, menyebarkan inspirasi, dan menumbuhkan jejaring positif.

**Tantangan Baru di Era Media Sosial**

Kini, tantangan bagi para blogger semakin berat. Dunia maya didominasi oleh konten singkat di TikTok, Instagram, dan YouTube. Budaya membaca semakin menurun, sementara algoritma media sosial sering mengutamakan hiburan dibandingkan edukasi.

Namun saya percaya, **blog tetap relevan**.
Blog adalah tempat di mana kita bisa menulis panjang, reflektif, dan mendalam — hal yang tidak bisa dilakukan di media sosial yang serba cepat. Tulisan di blog bersifat abadi. Ketika status media sosial hilang ditelan waktu, tulisan di blog tetap bisa ditemukan lewat mesin pencari, bahkan bertahun-tahun kemudian.

Karena itu saya mengajak para guru, siswa, dan siapa pun yang ingin berbagi ilmu: **mulailah menulis di blog.** Gunakan WordPress atau platform lain, yang penting konsisten menulis. Jangan takut tidak dibaca, karena setiap tulisan punya takdir pembacanya sendiri.

**Komentar Omjay untuk Blogger di Seluruh Nusantara dan Dunia**

Sebagai seorang blogger yang telah menulis selama 18 tahun, izinkan saya menyampaikan pesan untuk seluruh blogger di Indonesia dan dunia:

> **“Menulislah bukan karena ingin terkenal, tapi karena ingin bermanfaat.”**
> Jangan kejar viral, tapi kejar keberkahan.
> Jangan takut dikritik, karena kritik adalah vitamin bagi penulis.
> Jangan berhenti belajar, karena dunia digital terus berubah.
>
> Teruslah menulis dengan hati, dan biarkan tulisanmu menjadi lentera bagi pembaca yang membutuhkan cahaya pengetahuan.

Bagi rekan-rekan guru yang masih ragu memulai blog, percayalah: **blogging adalah sarana belajar tanpa batas.**
Melalui blog, kita bisa menulis refleksi pembelajaran, membagikan praktik baik di kelas, bahkan memotivasi siswa untuk ikut menulis.

Ingatlah, guru sejati bukan hanya mengajar, tetapi juga **menginspirasi lewat tulisan**.

Penutup: 18 Tahun dan Terus Menulis**

Delapan belas tahun bersama WordPress bukan waktu yang singkat. Selama itu, saya belajar bahwa menulis bukan sekadar mencatat, tetapi juga membangun sejarah. Setiap postingan adalah jejak pemikiran, catatan kehidupan, dan bukti cinta saya pada dunia pendidikan.

Saya bersyukur masih diberi kesehatan dan semangat untuk terus menulis. Semoga blog ini tetap menjadi sumber inspirasi bagi para pembaca, dan menjadi pengingat bahwa **kekuatan kata-kata bisa mengubah dunia.**

Terima kasih, WordPress.com, telah menemani saya selama 18 tahun.
Terima kasih kepada para pembaca yang setia.
Dan terima kasih kepada semua blogger di seluruh penjuru dunia yang terus menulis meski zaman berubah.

Mari terus berkarya,
karena **menulis adalah cara kita hidup dua kali — di dunia nyata dan di dunia maya.**

Salam Blogger Indonesia,
**Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)**
Guru Blogger Indonesia
[https://wijayalabs.wordpress.com](https://wijayalabs.wordpress.com)

Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi


Selasa, 07 Oktober 2025

lomba gtk kemdikdasmen

Bapak/Ibu GTK DKI di DKI Jakarta, ayo ikuti ajang penghargaan GTK Tahun 2025.
Pendaftaran untuk GTK di DKI Jakarta dengan mengakses tautan:

https://s.id/FORMULIR_PESERTA_PENGHARGAAN_GTK_2025_DKIJAKARTA
 
Pendaftaran diperpanjang sampai tanggal 9 Oktober 2025.
Pelajari persyaratannya dan siapkan naskah serta video praktik baiknya. Selamat berkarya!

Minggu, 05 Oktober 2025

PGRI Tetap Solid Di bawah Kepemimpinan Unifah Rosyidi dan Sekjen Dudung Abdul Qodir

Info pb pgri 

Waspada Berita Hoaks Tentang PGRI: Tetap Solid di Bawah Kepemimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd

Di era digital seperti sekarang, arus informasi mengalir begitu deras. Siapa pun bisa membuat berita, membagikannya, bahkan memelintirnya sesuai kepentingan. 

Karena itu, guru Indonesia perlu waspada terhadap berita hoaks, terutama yang menyangkut organisasi besar seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Belakangan ini muncul kabar tak benar tentang kepemimpinan Pengurus Besar (PB) PGRI. Ada pihak-pihak yang mengaku sebagai ketua umum PB PGRI versi lain, padahal hal itu tidak sah dan menyesatkan. 

Faktanya, hingga saat ini PGRI secara resmi masih dipimpin oleh Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd sebagai Ketua Umum dan Dr. Dudung Abdul Qodir sebagai Sekretaris Jenderal PB PGRI.

Kepemimpinan ini sah berdasarkan hasil kongres dan pengakuan dari seluruh PGRI provinsi di Indonesia. Karena itu, jika ada yang mengaku-ngaku sebagai PB PGRI lain, jangan langsung percaya. Kita harus bijak dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

PGRI, Rumah Besar Bagi Guru Indonesia

PGRI bukan organisasi kecil yang baru lahir kemarin. Sejak berdiri pada 25 November 1945, PGRI telah menjadi rumah besar bagi para pendidik di seluruh pelosok negeri. 

Di dalamnya, para guru memperjuangkan martabat profesi, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat karakter kebangsaan. Solidaritas angota PGRI sangat kuat hingga hari ini.

Selama puluhan tahun, PGRI hadir di setiap perjuangan dunia pendidikan Indonesia. Tak hanya di ruang rapat, tetapi juga di ruang kelas, di lapangan sekolah, bahkan di pelosok desa tempat para guru mengabdi.

Karena itu, ketika muncul pihak yang mencoba memecah belah organisasi sebesar ini, sudah sepatutnya kita bersikap tegas. Jangan biarkan mereka yang gagal berbuat nyata di dunia pendidikan malah mencoba berkuasa di dunia maya dengan menyebarkan berita palsu dan provokasi.

Cirinya mereka membuat berita dari media abal abal dan bukan media arus utama seperti kompas yang beritanya patut dipercaya.

Bijak di Dunia Maya, Jangan Terjebak Provokasi

Media sosial kini menjadi medan baru bagi perang opini. Sayangnya, banyak kabar palsu (hoaks) sengaja dibuat untuk menciptakan kebingungan. 

Berita palsu bisa datang dalam bentuk unggahan Facebook, pesan WhatsApp, atau bahkan video pendek yang memutarbalikkan fakta.

Ketika kita mendengar kabar tentang “PB PGRI versi lain”, tak perlu menanggapinya dengan emosi. Tetaplah tenang dan fokus pada kegiatan positif. Hoaks tidak bisa dikalahkan dengan kemarahan, tapi dengan fakta dan ketenangan.

Ingatlah, keabsahan organisasi ditentukan oleh hasil kongres dan keputusan hukum yang sah, bukan oleh unggahan media sosial atau klaim sepihak.

Komentar Omjay: PGRI Harus Kuat di Dunia Nyata dan Dunia Maya

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — yang akrab disapa Omjay, Sekretaris Jenderal Ikatan Guru Informatika PGRI — memberikan tanggapan tegas namun menyejukkan terkait maraknya berita palsu ini.

“Sebagai guru, kita harus cerdas dan bijak menyikapi informasi. Jangan mudah percaya pada berita yang belum jelas sumbernya. Verifikasi dulu, baru berbagi. Kita ini pendidik, bukan penyebar kebingungan,” ujar Omjay.

Lebih lanjut, Omjay menegaskan bahwa PGRI tetap solid di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd dan Dr. Dudung Abdul Qodir. 

Keduanya hingga kini  telah terbukti membawa organisasi guru ini tetap berwibawa, profesional, dan dekat dengan para anggotanya.

“Kalau ada yang mencoba memecah belah, itu tandanya PGRI masih diperhitungkan. Jangan dilawan dengan emosi, tapi dengan karya dan dedikasi. Biar mereka berisik di dunia maya, sementara kita tetap bekerja nyata di dunia pendidikan,” tambah Omjay dengan nada optimis.

Solidaritas Guru Adalah Kekuatan PGRI

Kekuatan PGRI bukan terletak pada nama besar semata, tetapi pada solidaritas para gurunya. Ketika satu guru diserang hoaks, guru lainnya ikut membela dengan fakta. 

Ketika organisasi profesi guru diserang isu palsu, anggota PGRI di seluruh Indonesia bersatu menjaga kehormatan rumah besarnya.

Mari kita terus dukung kepemimpinan resmi PB PGRI di bawah Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd dan Dr. Dudung Abdul Qodir. Jangan biarkan hoaks memecah belah persaudaraan guru Indonesia.

Karena sejatinya, guru sejati tidak menyebar hoaks  tapi menyebar ilmu, kebaikan, dan inspirasi. Mari kita persiapkan acara hut pgri yang meriah di kota Bandung Jawa Barat pada bulan November nanti. Kita tunjukkan bahwa PGRI semakin solid dibawah kepemimpinan ibunda Unifah Rosyidi. 

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Selamat HUT Guru Sedunia dan HUT TNI 5 Oktober 2025

Selamat hut guru sedunia dan hut tni.

Selamat Hari Guru Sedunia dan HUT TNI: Dua Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan Tanpa Takut Bahaya

Tanggal 5 Oktober menjadi hari istimewa bagi bangsa Indonesia dan dunia. Pada tanggal inilah dua momentum besar dirayakan secara bersamaan — Hari Guru Sedunia dan Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Keduanya sama-sama memiliki makna mendalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Guru dan prajurit TNI adalah dua profesi yang menjadi pilar penting dalam membangun peradaban dan menjaga kedaulatan negeri ini.

Guru: Lentera Peradaban di Tengah Gelapnya Ketidaktahuan

Guru adalah pelita di tengah kegelapan. Dari tangan para gurulah lahir generasi penerus bangsa — dokter, insinyur, pemimpin, bahkan para prajurit TNI yang gagah berani. Tanpa guru, tidak akan ada kecerdasan yang tumbuh dalam diri anak bangsa. Mereka bukan hanya pengajar ilmu pengetahuan, tetapi juga penanam nilai-nilai luhur, karakter, dan akhlak mulia.

Seperti yang dikatakan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, Ketua Umum PB PGRI,

> “Guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. Ia hadir untuk menuntun, bukan hanya mengajar. Di tangan guru yang berintegritas dan berkomitmen, masa depan bangsa ini dipertaruhkan.”

Guru setiap hari berjuang di ruang kelas, menghadapi beragam karakter siswa, dan mengubah keterbatasan menjadi peluang. Mereka adalah sosok yang sabar, tekun, dan penuh kasih, meski sering kali penghargaan terhadap mereka belum sepadan dengan jasa yang diberikan. Namun semangat mereka tak pernah padam karena panggilan nurani yang tulus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

TNI: Benteng Pertahanan dan Penjaga Kedaulatan

Sementara itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah simbol keberanian, kedisiplinan, dan pengorbanan. Sejak awal berdirinya, TNI menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di masa damai, mereka tetap setia menjaga keamanan, membantu rakyat yang tertimpa bencana, dan berperan aktif dalam misi kemanusiaan.

TNI bukan hanya tentara berseragam yang memegang senjata, tetapi juga bagian dari rakyat yang siap mengulurkan tangan. Dalam berbagai bencana alam, TNI selalu hadir lebih dulu — mengevakuasi korban, menyalurkan bantuan, dan membangun kembali infrastruktur yang rusak. Mereka adalah manifestasi nyata dari semboyan luhur “Bersatu, Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Sinergi Guru dan TNI: Membangun dan Menjaga Bangsa

Guru dan TNI sejatinya memiliki peran yang saling melengkapi. Guru membangun mental dan intelektual bangsa, sementara TNI menjaga fisik dan kedaulatan negara. Tanpa guru, bangsa ini akan kehilangan arah pemikiran. Tanpa TNI, bangsa ini kehilangan pelindung dari ancaman luar dan dalam negeri.

Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay), Sekjen Ikatan Guru TIK dan Informatika PGRI yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia:

> “Guru dan TNI sama-sama berjuang untuk negeri ini. Bedanya, guru berperang melawan kebodohan, sementara TNI berperang melawan ancaman yang mengganggu kedaulatan bangsa. Keduanya sama-sama pahlawan yang sering terlupakan, padahal merekalah pondasi kuat berdirinya Indonesia.”

Omjay juga menambahkan bahwa dunia pendidikan dan pertahanan seharusnya berjalan beriringan. Pendidikan yang kuat melahirkan generasi yang tangguh, sedangkan pertahanan yang kuat menjamin keberlangsungan pendidikan itu sendiri.

Refleksi di Hari Istimewa Ini

Hari Guru Sedunia dan HUT TNI adalah momentum untuk menghormati dua profesi besar yang mengabdikan diri tanpa pamrih. Kita patut memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para guru yang sabar membimbing anak bangsa di tengah perubahan zaman, dan kepada para prajurit TNI yang gagah berani menjaga kedaulatan negara di darat, laut, dan udara.

Kita semua bisa meneladani semangat mereka — disiplin, tangguh, berintegritas, dan setia pada tugas. Di tangan guru yang berdedikasi dan di dada prajurit yang berani, Indonesia akan terus berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.

Penutup

Mari kita ucapkan dengan penuh rasa hormat:
Selamat Hari Guru Sedunia dan Selamat Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia!
Semoga guru-guru kita terus menjadi lentera ilmu dan TNI kita terus menjadi perisai bangsa. Karena berkat mereka, Indonesia tetap kuat — di medan ilmu maupun medan juang.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 04 Oktober 2025

5 Jenis Makanan yang Menurunkan Kekebalan Tubuh Manusia

5 Jenis Makanan yang Menurunkan Kekebalan Tubuh
#KontenKesehatan

Menjaga kekebalan tubuh sangat penting, terutama di tengah perubahan cuaca dan pola hidup yang sering kali tidak seimbang. Sistem imun adalah benteng pertahanan alami tubuh terhadap berbagai virus, bakteri, dan infeksi. Namun, tanpa disadari, kebiasaan makan yang salah justru dapat melemahkan sistem imun dan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.

Berikut ini lima jenis makanan yang terbukti dapat menurunkan kekebalan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan:

1. Gula Tambahan

Makanan dan minuman dengan kadar gula tinggi seperti minuman bersoda, kue, permen, dan es krim dapat menurunkan daya tahan tubuh. Gula berlebih meningkatkan produksi protein inflamasi yang mengganggu fungsi sel kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah yang tinggi dapat menghambat kemampuan sel darah putih dalam melawan infeksi. Selain itu, konsumsi gula berlebihan juga bisa menyebabkan obesitas dan diabetes tipe 2, yang keduanya berkaitan dengan penurunan sistem imun.

2. Makanan Asin

Keripik, makanan cepat saji, dan makanan kaleng sering kali mengandung kadar garam (natrium) yang tinggi. Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan tubuh menahan cairan berlebih. Akibatnya, keseimbangan elektrolit terganggu, dan ginjal yang berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh harus bekerja lebih keras. Ketika fungsi ginjal terganggu, racun bisa menumpuk di tubuh dan membuat daya tahan menurun.

3. Makanan yang Digoreng

Makanan yang digoreng dalam minyak banyak, seperti ayam goreng, kentang goreng, dan donat, mengandung lemak trans yang sangat berbahaya. Lemak ini dapat memicu peradangan dan meningkatkan stres oksidatif dalam tubuh. Kedua kondisi ini menyebabkan penurunan kemampuan tubuh dalam melawan penyakit. Selain itu, senyawa berbahaya yang terbentuk saat proses penggorengan juga dapat merusak sel dan jaringan tubuh, membuat sistem imun semakin lemah.

4. Daging Olahan

Daging olahan seperti sosis, bacon, nugget, dan daging asap sering kali mengandung bahan pengawet seperti nitrit dan nitrat. Zat-zat ini dapat menyebabkan peradangan kronis dan bahkan merusak sel-sel sehat. Konsumsi daging olahan secara rutin juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar. Ketika tubuh terus menerus menghadapi stres oksidatif akibat zat kimia ini, sistem kekebalan menjadi terganggu dan rentan terhadap infeksi.

5. Karbohidrat Olahan

Roti putih, pasta, dan kue-kue manis termasuk makanan dengan karbohidrat olahan yang cepat meningkatkan kadar gula darah. Peningkatan ini membuat tubuh memproduksi insulin berlebih, yang dalam jangka panjang bisa menurunkan respons imun. Lebih buruk lagi, karbohidrat olahan dapat mengurangi jumlah bakteri baik di usus. Padahal, usus adalah tempat 70% sistem kekebalan tubuh bekerja. Jika keseimbangan mikrobiota usus terganggu, maka daya tahan tubuh pun ikut menurun.

Pesan dari Omjay

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, atau yang akrab disapa Omjay, seorang Guru Blogger Indonesia sekaligus penyintas diabetes, berbagi pengalaman berharganya.

> “Saya dulu suka makanan manis dan gorengan. Akibatnya, gula darah naik dan tubuh cepat lelah. Setelah belajar dan menjalani pola makan sehat, saya baru sadar betapa pentingnya menjaga imun melalui makanan. Sekarang saya lebih banyak konsumsi sayur, buah, dan makanan alami. Tubuh terasa lebih segar dan kuat menghadapi aktivitas sehari-hari,” ujar Omjay.

Omjay juga menambahkan bahwa menjaga pola makan bukan berarti tidak bisa menikmati hidup. Justru dengan memilih makanan yang sehat, seseorang dapat menikmati hidup lebih lama dan berkualitas. Ia mengajak para pembaca, terutama penderita diabetes, untuk mulai memperhatikan apa yang mereka makan setiap hari.

> “Bagi sahabat-sahabat yang ingin tahu bagaimana saya bisa mencapai remisi diabetes dalam 90 hari, silakan hubungi saya melalui email wijayalabs@gmail.com dengan subjek ‘Minta Buku Remisi 90 Hari Diabetes’. Buku ini saya bagikan gratis sebagai bentuk kepedulian saya terhadap kesehatan teman-teman sesama pejuang diabetes,” pesan Omjay dengan semangat.

Penutup

Kesehatan tubuh berawal dari apa yang kita konsumsi. Mengurangi makanan tinggi gula, garam, lemak trans, dan bahan olahan adalah langkah bijak untuk menjaga sistem imun tetap kuat. Sebaliknya, pilihlah makanan alami seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, serta daging tanpa lemak.

Dengan kesadaran dan disiplin, tubuh kita akan lebih kuat melawan penyakit dan mampu beraktivitas dengan energi positif setiap hari. Seperti pesan Omjay, “Menjaga kesehatan adalah bentuk rasa syukur tertinggi kepada Tuhan.”

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Pro Kontra MBG Mana yang Harus didahuhukan?

๐Ÿฅ— MBG: Anak Kenyang, Tapi Belum Tentu Bisa Sekolah!

Omjay: “Sebaiknya Pendidikan Gratis Dulu, Baru Makan Bergizi Gratis”

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) — Guru Blogger Indonesia

Pemerintah sedang gencar mensosialisasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah di seluruh Indonesia. Tujuannya mulia — memastikan tidak ada anak yang belajar dalam keadaan lapar. Namun di balik niat baik itu, muncul pertanyaan besar: apakah makan bergizi gratis lebih penting daripada pendidikan gratis dan berkualitas?

Sebagai guru dan pemerhati pendidikan, saya (Omjay) merasa perlu mengingatkan agar prioritas kebijakan publik tidak terbalik.

“Makan bergizi itu penting, tapi pendidikan gratis yang bermutu jauh lebih mendesak. Jangan sampai anak kenyang tapi tidak bisa melanjutkan sekolah karena biaya,” begitu refleksi saya dalam berbagai diskusi guru.

๐ŸŽ“ Pendidikan Adalah Fondasi, Gizi Adalah Penguat

Program MBG memang mendapat banyak dukungan dari kalangan kesehatan dan masyarakat. Dr. Siti Nur Aisyah, M.Gizi, pakar gizi dari Universitas Indonesia, menilai:

 “Anak yang kekurangan gizi cenderung memiliki kemampuan belajar rendah dan cepat lelah. MBG bisa jadi solusi strategis jika dijalankan dengan standar gizi dan kebersihan yang ketat.”

Selain manfaat kesehatan, program MBG juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal. Sekolah bisa bekerja sama dengan petani, peternak, dan nelayan sekitar untuk menyuplai bahan pangan.
Namun di sisi lain, pertanyaan soal anggaran dan efektivitas pelaksanaan menjadi sorotan utama.

๐Ÿ’ฐ Kontra: Risiko Teknis dan Prioritas Anggaran

Program besar seperti MBG tentu menelan dana triliunan rupiah. Di tengah keterbatasan APBN, banyak kalangan khawatir program ini justru menggeser pos penting lain — terutama untuk perbaikan mutu pendidikan.

Dr. Arif Rachman, M.Ec.Dev, ekonom pendidikan dari Universitas Gadjah Mada, mengingatkan:

“MBG bisa jadi beban fiskal besar bila tidak diimbangi reformasi pendidikan. Guru honorer masih belum sejahtera, sekolah di pelosok masih rusak, dan akses pendidikan menengah belum merata.”

Beberapa kasus keracunan makanan di sekolah pun menjadi alarm bahwa pelaksanaan MBG memerlukan standar pengawasan ketat. Jangan sampai niat baik berubah jadi petaka.

๐Ÿง  Omjay: Dana Pendidikan Harus Tepat Sasaran

Sebagai Sekjen Ikatan Guru TIK dan Informatika PGRI, saya menilai bahwa dana pendidikan harus benar-benar tepat sasaran.

Guru adalah kunci pendidikan yang bermutu, maka kesejahteraan dan pelatihan mereka perlu jadi prioritas utama.

“Kalau anak sudah bisa sekolah dengan tenang, baru kita pikirkan bagaimana memastikan mereka makan bergizi setiap hari. Pendidikan adalah fondasi, gizi adalah penguatnya. Jangan terbalik,” ujar saya dalam forum diskusi guru TIK baru-baru ini.

๐Ÿ”„ Jalan Tengah: Sinergi Pendidikan dan Gizi

Sebenarnya, pendidikan dan gizi tidak harus dipertentangkan. Pemerintah bisa menjalankan keduanya secara bertahap dan sinergis.
Prioritaskan dulu pendidikan gratis hingga SMA dan akses merata di seluruh Indonesia, baru kemudian perkuat dengan program makan bergizi berbasis komunitas sekolah.

Keterlibatan masyarakat, koperasi sekolah, hingga UMKM lokal akan membuat MBG tidak sekadar proyek pemerintah, melainkan gerakan sosial yang menyehatkan dan mendidik.

❤️ Penutup: 

Anak Kenyang Belum Tentu Cerdas, Tapi Anak Cerdas Pasti Tahu Pentingnya Gizi

Program MBG adalah bentuk kasih sayang negara kepada anak-anaknya. Namun seperti kata pepatah, kasih sayang yang bijak harus tahu mana yang lebih dulu dibenahi.

Pendidikan gratis yang berkualitas adalah kunci kemajuan bangsa. Setelah fondasi itu kuat, barulah kita pastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan bergizi.

“Anak yang berpendidikan akan tahu pentingnya gizi, tapi anak yang hanya diberi gizi tanpa pendidikan belum tentu tahu arah hidupnya.”
— Omjay, Guru Blogger Indonesia

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com