Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 17 Oktober 2026

Belajar Dari 12 Anak Muda Hebat di ICANN87 Bali yang Menyiapkan Masa Depan Internet Dunia

Kisah Omjay di ICANN87 Bali: Belajar dari 12 Anak Muda yang Menyiapkan Masa Depan Internet Dunia

Dari ruang konferensi di Bali, seorang guru Informatika belajar bahwa masa depan internet bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia, kepercayaan, dan kesempatan untuk berbagi.

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

BALI — Ada perjalanan yang tidak hanya membawa kita berpindah tempat, tetapi juga mengubah cara kita memandang dunia.

Bagi saya, perjalanan ke Bali untuk mengikuti ICANN87 Annual General Meeting pada 17–22 Oktober 2026 merupakan salah satu kesempatan berharga untuk terus belajar. Saya datang bukan hanya sebagai peserta kegiatan internasional, melainkan juga sebagai guru Informatika SMP Labschool Jakarta yang ingin membawa pulang ilmu dan pengalaman baru untuk dibagikan kepada murid-murid, sesama guru, dan masyarakat Indonesia.

Sebelum berangkat, saya membayangkan bahwa pertemuan internasional seperti ini akan dipenuhi istilah teknis, pembahasan jaringan komputer, dan diskusi yang mungkin hanya dipahami oleh para ahli teknologi. Namun, ketika mulai membaca materi dan mengenal berbagai topik yang dibahas, saya menyadari bahwa persoalan internet ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Setiap kali membuka situs web, mengirim email, menggunakan media sosial, atau meminta bantuan kecerdasan buatan, kita sebenarnya sedang menjadi bagian dari ekosistem internet global.

Di balik kemudahan tersebut, ada sistem, aturan, organisasi, dan kerja sama internasional yang perlu terus dijaga.

Itulah salah satu pelajaran yang ingin saya dalami selama berada di Bali.

Dari Jakarta menuju Bali, membawa semangat seorang guru pembelajar

Perjalanan ini terasa istimewa bagi saya. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengajar, saya memahami bahwa dunia pendidikan terus berubah. Apa yang kita ajarkan hari ini mungkin membutuhkan penyesuaian pada masa mendatang.

Teknologi berkembang begitu cepat. Kecerdasan artifisial mulai digunakan dalam berbagai bidang pekerjaan. Keamanan digital menjadi perhatian penting. Sementara itu, internet telah menjadi bagian dari kegiatan belajar, bekerja, berkomunikasi, dan membangun hubungan antarmanusia.

Karena itulah, guru perlu terus belajar.

Saya berangkat dari Jakarta menuju Bali dengan semangat untuk menambah wawasan. Setelah tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, saya melanjutkan perjalanan untuk mengikuti rangkaian kegiatan ICANN87.

Bagi saya, mengikuti forum internasional bukan semata-mata tentang hadir di sebuah acara bergengsi. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.

Saya ingin pengalaman ini menjadi bahan tulisan. Sebab, sebagai blogger sejak 2007, saya percaya bahwa pengalaman yang dituliskan dapat menjangkau lebih banyak orang.

Tidak semua guru mempunyai kesempatan menghadiri forum internasional. Namun, melalui tulisan, pengalaman belajar dapat dibagikan kepada siapa saja, termasuk guru yang sedang mengajar di sekolah-sekolah di berbagai daerah Indonesia.

Memahami IROS dan IANA: Ada sistem besar di balik internet

Salah satu sesi yang menarik perhatian saya dalam agenda ICANN87 adalah How It Works: IROS and IANA, yang dijadwalkan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Sesi semacam ini membantu peserta memahami bagaimana bagian-bagian penting dari ekosistem internet bekerja dan saling mendukung.

Saya semakin menyadari bahwa internet tidak muncul begitu saja. Di balik sebuah nama domain yang kita ketik pada peramban, terdapat sistem yang membantu menghubungkan nama tersebut dengan alamat IP yang dibutuhkan untuk berkomunikasi melalui jaringan.

IANA, atau Internet Assigned Numbers Authority, menjalankan fungsi koordinasi penting dalam pengelolaan sumber daya pengenal unik internet. Tugasnya mencakup koordinasi zona akar DNS, alokasi blok alamat IP kepada registri internet regional, serta pengelolaan sejumlah parameter protokol.

Sementara itu, pembahasan mengenai IROS dalam sesi tersebut menjadi bagian dari kesempatan belajar tentang ekosistem internet.

Bagi saya sebagai guru Informatika, pemahaman ini sangat berharga. Murid-murid tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan internet. Mereka juga perlu mengenal cara kerja jaringan, sistem nama domain, alamat IP, keamanan informasi, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

Internet yang kita gunakan setiap hari ternyata dibangun melalui kerja sama banyak pihak.

Dari sinilah saya belajar bahwa kemajuan teknologi bukan hanya soal perangkat yang semakin canggih. Ada manusia, pengetahuan, aturan, dan tanggung jawab yang harus berjalan bersama.

Mengenal NextGen@ICANN87: Generasi muda dengan gagasan besar

Ketika membaca buku informasi peserta NextGen@ICANN87, perhatian saya tertuju pada profil anak-anak muda dari berbagai negara.

Program NextGen@ICANN memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal tata kelola internet dan menyampaikan gagasan mengenai persoalan yang mereka minati. Dalam informasi yang saya baca, setiap peserta dijadwalkan menyampaikan presentasi selama sepuluh menit.

Saya menemukan 12 profil peserta pada dua halaman buku informasi tersebut.

Mereka berasal dari Lebanon, Vietnam, India, Nepal, Fiji, Tiongkok, Filipina, dan Kuwait. Latar belakang pendidikan serta bidang minat mereka berbeda-beda, tetapi semuanya memperlihatkan betapa luasnya persoalan internet yang perlu dipahami generasi muda.

Ada yang membahas keamanan DNS, penerapan IPv6, akses internet yang inklusif, identitas digital, hingga hubungan antara kecerdasan artifisial dan tata kelola internet.

Saya pun berpikir, alangkah baiknya jika semakin banyak pelajar Indonesia mendapat kesempatan mengenal persoalan-persoalan tersebut sejak dini.

Berikut beberapa gagasan menarik dari 12 peserta yang tercantum dalam buku informasi NextGen@ICANN87.

1. Ismail Ahmed dari Tiongkok: Membangun kepercayaan terhadap internet

Ismail Ahmed berasal dari University of Science and Technology of China dan memiliki minat pada diplomasi siber.

Ia dijadwalkan membawakan presentasi berjudul DNS Trust, Cybersecurity, and Cross-Border Digital Growth: Strengthening the Future of the Global Internet.

Topik tersebut membahas kepercayaan terhadap DNS, keamanan siber, dan pertumbuhan digital lintas negara.

DNS atau Domain Name System merupakan sistem yang membantu menerjemahkan nama domain menjadi informasi alamat IP yang diperlukan agar perangkat dapat berkomunikasi melalui internet.

Keamanan DNS sangat penting karena gangguan atau manipulasi terhadap sistem ini dapat memengaruhi akses pengguna ke layanan digital.

Saya melihat bahwa keamanan internet bukan hanya urusan satu negara. Ancaman siber dapat melintasi batas wilayah sehingga membutuhkan kerja sama internasional.

2. Anuja Gyawali dari Nepal: Membangun DNS yang aman

Anuja Gyawali berasal dari IOE Pulchowk Engineering Campus, Nepal. Ia memiliki minat pada teknik komputer.

Topik presentasinya adalah Building a Secure and Trusted DNS: Addressing DNS Abuse and Advancing DNSSEC.

DNSSEC merupakan teknologi yang menggunakan tanda tangan digital untuk membantu memverifikasi keaslian data DNS.

Pembahasan ini mengingatkan saya bahwa kepercayaan di dunia digital harus dibangun melalui sistem yang dapat diandalkan.

Murid-murid juga perlu memahami bahwa sebuah situs yang terlihat meyakinkan belum tentu aman. Mereka harus belajar memeriksa alamat situs, menjaga informasi pribadi, dan berhati-hati ketika menerima tautan yang mencurigakan.

3. Dean Mark Molde dari Filipina: Masa depan IPv6

Dean Mark Molde berasal dari Southville International School and Colleges, Filipina. Ia memiliki minat pada teknologi informasi.

Ia dijadwalkan membahas IPv6 Adoption in the Philippines: Challenges, Opportunities, and Multistakeholder Collaboration.

IPv6 merupakan versi protokol internet yang menyediakan ruang alamat IP jauh lebih besar dibandingkan IPv4.

Perkembangan perangkat yang terhubung ke internet membuat kebutuhan akan alamat IP terus bertambah. Karena itu, penerapan IPv6 menjadi bagian penting dari perkembangan infrastruktur internet.

Topik ini memberikan pelajaran bahwa perubahan teknologi membutuhkan kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kerja sama berbagai pihak.

4. Walaa Jamaluddin dari Kuwait: Internet yang memahami keberagaman bahasa

Walaa Jamaluddin berasal dari Kuwait University dan mendalami teknik komputer.

Presentasinya berjudul Security Implications of IDNs and EAI, and The Role of ICANN.

IDN atau Internationalized Domain Names memungkinkan nama domain menggunakan karakter dari berbagai sistem tulisan. Sementara itu, EAI atau Email Address Internationalization memungkinkan alamat email menggunakan karakter yang lebih beragam, termasuk karakter non-Latin.

Gagasan ini penting bagi masyarakat dunia yang menggunakan berbagai bahasa.

Indonesia memiliki kekayaan bahasa dan budaya. Internet yang inklusif perlu memberikan kesempatan kepada masyarakat dengan latar belakang berbeda untuk berpartisipasi dalam dunia digital.

5. Siddhant Pant dari Nepal: Menghubungkan pendidikan dengan tata kelola internet

Siddhant Pant berasal dari Tribhuvan University, Nepal. Ia memiliki minat pada teknik komputer.

Ia akan membahas Bridging Higher Education to Global Governance: Bringing ICANN into Academia.

Topik ini sangat dekat dengan dunia pendidikan.

Perguruan tinggi dan sekolah tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknis. Peserta didik juga perlu memahami kebijakan internet, etika digital, keamanan informasi, serta tanggung jawab sosial dalam menggunakan teknologi.

Sebagai guru Informatika, saya berharap pembelajaran di sekolah semakin terhubung dengan persoalan nyata di masyarakat.

6. Amrutha M dari India: Ketika AI menjadi bagian dari ekosistem internet

Amrutha M berasal dari Indian Institute of Information Technology dan memiliki minat pada jejaring komputer serta hubungan internasional.

Ia dijadwalkan membawakan presentasi When AI Becomes an Internet Actor: Rethinking DNS, Trust and Governance in the Agentic Internet.

Topik ini sangat relevan dengan perkembangan kecerdasan artifisial.

AI kini berkembang dari sekadar alat untuk menjawab pertanyaan menjadi sistem yang dapat menjalankan berbagai tugas berdasarkan instruksi dan tujuan tertentu.

Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan tentang keamanan, kepercayaan, dan tanggung jawab.

Bagaimana sistem AI berinteraksi dengan layanan internet? Bagaimana risiko penyalahgunaan dikendalikan? Siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan?

Pertanyaan semacam ini perlu menjadi bahan diskusi para pendidik, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan.

7. Loulwa Ramadan dari Lebanon: Mengenali nama domain yang asli

Loulwa Ramadan berasal dari Lebanese American University, Lebanon. Ia memiliki minat pada teknologi dan bioinformatika.

Topik presentasinya adalah Can You Spot the Real Domain Name in 5 Seconds?

Pertanyaan ini mengajak pengguna internet untuk mengenali nama domain asli di antara alamat-alamat yang terlihat mirip.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima tautan melalui email, media sosial, atau aplikasi percakapan. Sebagian tautan dapat mengarahkan pengguna ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri informasi.

Bagi saya, keterampilan mengenali situs yang mencurigakan perlu diajarkan kepada murid sejak dini.

Literasi digital bukan hanya tentang mampu menggunakan aplikasi, tetapi juga mampu melindungi diri ketika berada di ruang digital.

8. Duy Dang Cong dari Vietnam: Membangun internet yang inklusif

Duy Dang Cong berasal dari Duy Tan University, Vietnam.

Ia dijadwalkan membahas Universal Acceptance (UA) & Email Address Internationalization (EAI): Breaking Digital Barriers & Building an Inclusive Internet for All.

Universal Acceptance berkaitan dengan kemampuan sistem menerima dan memproses nama domain serta alamat email yang sah dengan format dan karakter yang beragam.

Sementara itu, EAI memungkinkan alamat email menggunakan karakter non-Latin.

Pembahasan ini mengingatkan saya bahwa teknologi seharusnya membantu manusia mengatasi hambatan, bukan menciptakan hambatan baru.

Internet perlu semakin ramah bagi masyarakat dari berbagai bahasa dan latar belakang.

9. Jigmet Dolker dari India: Mengatasi kesenjangan digital

Jigmet Dolker berasal dari National Forensic Sciences University, India. Ia memiliki minat pada forensik digital.

Presentasinya berjudul At the Edge of the Internet: Digital Exclusion, IDNs, and Meaningful Access in Himalayan Border Communities.

Topik ini membahas kesenjangan digital dan akses internet yang bermakna bagi masyarakat di wilayah perbatasan Himalaya.

Kita perlu menyadari bahwa keberadaan jaringan internet belum tentu membuat semua masyarakat memperoleh manfaat yang sama.

Ada masyarakat yang memiliki koneksi cepat, perangkat memadai, dan kemampuan digital yang baik. Namun, ada pula masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan jaringan, biaya, perangkat, maupun keterampilan.

Indonesia juga perlu terus memperhatikan pemerataan akses dan pendidikan digital agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati manfaat teknologi.

10. Amrita Adhikari dari Nepal: Mengapa pengalaman menggunakan internet bisa berbeda?

Amrita Adhikari berasal dari Gandaki College of Engineering and Science, Nepal. Ia memiliki minat pada teknik komputer.

Topik presentasinya adalah One Country, Two Internets: How DNS Inequality Shapes Digital Access in Nepal.

Judul ini mengajak kita memikirkan bagaimana ketimpangan dalam ekosistem DNS dapat memengaruhi pengalaman dan akses digital masyarakat.

Bagi sebagian orang, internet membuka peluang belajar, bekerja, dan berusaha. Bagi sebagian lainnya, keterbatasan akses dapat menghambat kesempatan tersebut.

Saya berharap anak-anak Indonesia, di kota maupun di daerah, mendapatkan kesempatan yang semakin merata untuk mempelajari teknologi dan mengembangkan kemampuan digital.

11. Naayaab Bin Sarfraaz dari Fiji: Memperluas partisipasi kawasan Pasifik

Naayaab Bin Sarfraaz berasal dari University of the South Pacific, Fiji. Ia memiliki minat pada teknik elektro dan elektronika.

Ia dijadwalkan membahas Pacific Access to ICANN’s 2026 New gTLD Round.

Topik tersebut berkaitan dengan akses masyarakat kawasan Pasifik terhadap putaran baru program gTLD pada 2026. Program ini memberikan kesempatan untuk mengajukan nama domain tingkat atas baru sesuai persyaratan yang berlaku.

Pembahasan ini memperlihatkan pentingnya memberikan kesempatan kepada berbagai wilayah untuk berpartisipasi dalam perkembangan internet global.

Tata kelola internet membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk negara dan komunitas yang mungkin menghadapi keterbatasan sumber daya.

12. Sanjina Kshetri dari Nepal: Menjaga kepercayaan terhadap nama domain

Sanjina Kshetri berasal dari Tribhuvan University, Nepal. Ia memiliki minat pada hukum siber dan hukum komersial.

Presentasinya berjudul Addressing DNS Abuse and Trademark Misuse: What Can ICANN Do to Strengthen Trust in the Domain Name System?

Topik ini membahas penyalahgunaan DNS dan merek dagang serta upaya memperkuat kepercayaan terhadap sistem nama domain.

Nama domain merupakan bagian penting dari identitas sebuah situs. Penyalahgunaan nama domain dapat membingungkan pengguna dan berpotensi merugikan pemilik merek maupun masyarakat.

Persoalan ini menunjukkan bahwa internet tidak hanya membutuhkan ahli teknologi. Ahli hukum, pendidik, pemerintah, industri, dan masyarakat juga perlu berkolaborasi.

Apa yang saya pelajari dari 12 peserta NextGen@ICANN87?

Setelah membaca profil kedua belas peserta tersebut, saya semakin yakin bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun masa depan internet.

Mereka membawa berbagai gagasan tentang keamanan, akses, infrastruktur, identitas digital, hukum, dan kecerdasan artifisial.

Saya tidak harus memahami seluruh persoalan tersebut sekaligus. Namun, sebagai guru, saya perlu terus membuka diri untuk belajar dan mencari tahu.

Ada satu pelajaran yang terasa sangat penting bagi saya: guru tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah lama mengajar.

Pengalaman puluhan tahun memang berharga, tetapi pengalaman perlu terus diperkaya dengan pengetahuan baru.

Jika dunia berubah, cara kita mengajar juga perlu berkembang. Murid-murid membutuhkan guru yang bukan hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata.

Dari Bali untuk murid-murid SMP Labschool Jakarta

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya ingin membawa pulang semangat belajar yang saya dapatkan dari ICANN87.

Saya ingin murid-murid memahami bahwa Informatika bukan sekadar pelajaran tentang komputer. Informatika juga mengajarkan cara berpikir, memecahkan masalah, mengelola data, memahami jaringan, serta menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab.

Ketika mengajarkan AI, misalnya, saya ingin murid tidak hanya belajar membuat perintah atau menghasilkan karya dengan bantuan kecerdasan artifisial. Mereka juga perlu memahami keterbatasan AI, memeriksa kebenaran informasi, menghargai karya orang lain, dan menjaga privasi.

Ketika mengajarkan internet, saya ingin mereka mengenal jaringan komputer, alamat IP, DNS, keamanan digital, dan etika berkomunikasi.

Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada teori di dalam buku. Murid dapat melihat hubungan antara pelajaran di sekolah dan persoalan yang dibahas dalam forum internasional.

Siapa tahu, suatu hari nanti ada murid Indonesia yang menjadi peserta NextGen@ICANN. Mereka mungkin akan datang dari SMP Labschool Jakarta atau sekolah lain di berbagai daerah Indonesia.

Mereka bisa saja menjadi ahli keamanan siber, peneliti AI, pengembang perangkat lunak, atau pemimpin yang ikut menentukan arah tata kelola internet dunia.

Impian itu layak diperjuangkan melalui pendidikan yang bermutu dan kesempatan belajar yang terbuka bagi semua.

Menulis sebagai cara berbagi pengalaman

Ada satu hal yang selalu saya lakukan setelah mendapatkan pengalaman baru, yaitu menulis.

Sejak membangun blog pada 2007, saya belajar bahwa menulis membantu kita mengingat, memahami, dan membagikan pengalaman kepada orang lain.

Pengalaman mengikuti ICANN87 di Bali pun ingin saya dokumentasikan agar tidak berhenti sebagai kenangan pribadi.

Saya ingin pembaca Indonesia, terutama para guru, memperoleh gambaran tentang pentingnya tata kelola internet dan keterlibatan generasi muda dalam perkembangan teknologi global.

Tidak semua orang harus menjadi ahli jaringan komputer untuk memahami pentingnya internet yang aman dan tepercaya. Tidak semua guru harus menjadi pakar AI untuk mengajarkan penggunaan teknologi secara bijaksana.

Namun, kita semua dapat memulai dengan kemauan untuk belajar, keberanian untuk bertanya, dan kesediaan untuk berbagi.

Bagi saya, itulah makna menjadi guru pembelajar.

Penutup: Belajar dari dunia, berbagi untuk negeri

Pengalaman mengikuti ICANN87 di Bali memberikan kesempatan bagi saya untuk memperluas wawasan tentang ekosistem internet global dan mengenal gagasan generasi muda dari berbagai negara.

Dari pembahasan IROS dan IANA hingga profil 12 peserta NextGen@ICANN87, saya memperoleh banyak bahan untuk direnungkan sebagai guru Informatika dan penulis.

Saya semakin menyadari bahwa masa depan internet tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Masa depan internet juga ditentukan oleh manusia yang mengembangkannya, aturan yang menjaganya, serta nilai-nilai yang menjadi landasan penggunaannya.

Kita perlu mempersiapkan generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi sekaligus memahami tanggung jawab di baliknya.

Mari kita jadikan sekolah sebagai tempat tumbuhnya rasa ingin tahu, kreativitas, dan kepedulian terhadap persoalan dunia.

Mari kita ajarkan kepada anak-anak bahwa menjadi cerdas bukan hanya tentang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga tentang mampu menggunakannya untuk kebaikan.

Dari Bali, saya membawa pulang sebuah pengingat sederhana: belajar tidak mengenal batas negara, berbagi ilmu tidak mengenal jarak, dan menjadi guru berarti bersedia terus bertumbuh.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi saya untuk terus belajar dan berbagi, serta bagi para pendidik Indonesia untuk mempersiapkan generasi yang mampu mengambil bagian dalam masa depan digital dunia.

Belajar dari dunia, berbagi untuk Indonesia, dan mengajar dengan hati.

Salam Blogger Persahabatan.

Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia

Menulislah dengan hati, berbagi ilmu dengan tulus, dan jadilah guru pembelajar sepanjang hayat.


kisah omjay belajar dari generasi muda icann87 bali

Kisah Omjay di Bali: Belajar dari Generasi Muda Dunia di ICANN87

Menyaksikan Semangat Generasi Muda Membangun Masa Depan Internet yang Aman, Terpercaya, dan Inklusif

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Informatika SMP Labschool Jakarta

BALI — Ada pengalaman berharga yang ingin saya ceritakan kepada pembaca. Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta sekaligus blogger yang senang berbagi ilmu, saya berkesempatan mengikuti kegiatan ICANN87 di Bali pada 17–22 Oktober 2026.

Bagi saya, mengikuti kegiatan internasional seperti ini bukan sekadar menghadiri konferensi. Ada kesempatan untuk memperluas wawasan, mengenal perkembangan tata kelola internet dunia, dan belajar bagaimana generasi muda mempersiapkan diri menghadapi perubahan teknologi yang begitu cepat.

Saya datang dengan semangat seorang guru yang ingin terus belajar. Saya percaya bahwa guru yang baik bukan hanya mengajarkan ilmu yang sudah dikuasainya, tetapi juga terus memperbarui pengetahuan agar dapat membagikan hal-hal baru kepada murid-muridnya.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), keamanan siber, dan semakin luasnya penggunaan internet, pemahaman tentang tata kelola internet menjadi semakin penting.

Dari kegiatan ICANN87 di Bali, saya ingin membawa pulang bukan hanya catatan dan pengetahuan baru, tetapi juga inspirasi untuk dunia pendidikan Indonesia.

Belajar memahami cara kerja internet di ICANN87

Salah satu agenda yang menjadi perhatian saya adalah sesi How It Works: IROS and IANA yang dijadwalkan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 10.30–12.00 WITA di Jakarta A (Ballroom 2).

Sesi ini menarik karena mengajak peserta memahami bagian penting dari infrastruktur dan koordinasi internet global.

Selama ini, banyak orang menggunakan internet setiap hari tanpa memikirkan bagaimana sistem di baliknya bekerja. Kita membuka situs web, mengirim surat elektronik, mengikuti pembelajaran daring, dan menggunakan berbagai aplikasi digital. Semuanya terasa mudah karena ada sistem teknis dan koordinasi yang mendukungnya.

Padahal, internet membutuhkan tata kelola dan koordinasi agar tetap berfungsi secara stabil, aman, dan dapat diakses oleh masyarakat di berbagai negara.

IANA, singkatan dari Internet Assigned Numbers Authority, menjalankan fungsi koordinasi penting terkait sumber daya pengenal unik internet, termasuk pengelolaan zona akar DNS, alokasi blok alamat IP kepada registri internet regional, serta pengelolaan sejumlah parameter protokol.

Sementara itu, pembahasan mengenai IROS dalam sesi tersebut menjadi bagian dari kesempatan untuk memperluas pemahaman tentang cara kerja ekosistem internet.

Bagi saya, materi semacam ini sangat relevan dengan pembelajaran Informatika di sekolah. Murid perlu memahami bahwa internet bukan sekadar aplikasi yang digunakan untuk mengerjakan tugas, bermain gim, atau mencari informasi. Internet merupakan sebuah sistem global yang melibatkan teknologi, manusia, organisasi, kebijakan, dan kerja sama lintas negara.

Inilah pengetahuan yang ingin saya bagikan kembali kepada murid-murid di sekolah.

Menemukan inspirasi dari buku peserta NextGen@ICANN87

Di sela-sela kegiatan ICANN87, perhatian saya tertuju pada buku informasi peserta NextGen@ICANN87. Di dalamnya terdapat profil anak-anak muda dari berbagai negara yang memiliki minat besar terhadap masa depan internet.

Saya tertarik membaca latar belakang pendidikan, bidang minat, dan topik presentasi mereka. Ada peserta yang mendalami keamanan DNS, ada yang membahas penerapan IPv6, ada yang meneliti keamanan nama domain internasional, dan ada pula yang mengangkat hubungan kecerdasan buatan dengan tata kelola internet.

Enam peserta yang tercantum dalam buku tersebut memperlihatkan betapa luasnya persoalan yang harus dipahami oleh generasi muda dalam membangun internet masa depan.

1. Ismail Ahmed: Membangun kepercayaan dan keamanan internet

Ismail Ahmed berasal dari University of Science and Technology of China. Ia memiliki minat pada diplomasi siber dan akan membahas DNS Trust, Cybersecurity, and Cross-Border Digital Growth: Strengthening the Future of the Global Internet.

Topik ini mengingatkan kita bahwa keamanan internet tidak mengenal batas negara. Ancaman digital dapat melintasi wilayah geografis, sehingga diperlukan kerja sama internasional untuk membangun kepercayaan dan melindungi pengguna.

2. Anuja Gyawali: DNS yang aman dan tepercaya

Anuja Gyawali berasal dari IOE Pulchowk Engineering Campus, Nepal. Ia akan membahas Building a Secure and Trusted DNS: Addressing DNS Abuse and Advancing DNSSEC.

DNSSEC merupakan teknologi yang membantu memverifikasi keaslian data DNS melalui mekanisme tanda tangan digital. Teknologi ini berperan dalam mengurangi risiko manipulasi data DNS tertentu.

Dari topik tersebut, kita belajar bahwa internet yang bermanfaat harus didukung oleh sistem keamanan yang terus dikembangkan.

3. Dean Mark Molde: Mendorong penerapan IPv6 di Filipina

Dean Mark Molde berasal dari Southville International School and Colleges, Filipina. Ia akan membahas tantangan, peluang, dan kolaborasi multipihak dalam penerapan IPv6 di negaranya.

IPv6 menyediakan ruang alamat IP yang jauh lebih besar dibandingkan IPv4. Pengembangannya penting untuk mendukung pertumbuhan perangkat dan layanan yang terhubung ke internet.

Topik ini menunjukkan bahwa transformasi digital membutuhkan kesiapan infrastruktur sekaligus kerja sama pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.

4. Walaa Jamaluddin: Keamanan identitas digital dan keberagaman bahasa

Walaa Jamaluddin berasal dari Kuwait University. Presentasinya membahas implikasi keamanan IDN dan EAI serta peran ICANN.

IDN memungkinkan nama domain menggunakan karakter dari berbagai sistem tulisan. Sementara itu, EAI memungkinkan alamat email menggunakan karakter yang lebih beragam, termasuk karakter non-Latin.

Bagi negara seperti Indonesia yang kaya akan bahasa dan budaya, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa internet perlu semakin inklusif. Masyarakat seharusnya dapat memanfaatkan internet dengan lebih mudah tanpa kehilangan identitas bahasa dan budayanya.

5. Siddhant Pant: Membawa tata kelola internet ke dunia pendidikan

Siddhant Pant berasal dari Tribhuvan University, Nepal. Ia akan membahas Bridging Higher Education to Global Governance: Bringing ICANN into Academia.

Topik ini sangat dekat dengan kehidupan saya sebagai guru.

Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan menggunakan teknologi. Peserta didik juga perlu mengenal kebijakan digital, tata kelola internet, keamanan informasi, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Saya berharap semakin banyak sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia yang memperkenalkan wawasan seperti ini kepada generasi muda.

6. Amrutha M: Ketika AI menjadi bagian dari ekosistem internet

Amrutha M berasal dari Indian Institute of Information Technology. Ia akan membahas When AI Becomes an Internet Actor: Rethinking DNS, Trust and Governance in the Agentic Internet.

Topik ini sangat relevan dengan perkembangan AI saat ini.

AI semakin berkembang dari sekadar alat untuk menjawab pertanyaan menjadi sistem yang dapat menjalankan berbagai tugas berdasarkan instruksi dan tujuan tertentu.

Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan penting tentang kepercayaan, keamanan, dan tanggung jawab. Bagaimana sistem AI berinteraksi dengan layanan internet? Bagaimana potensi penyalahgunaannya dikendalikan? Siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan diskusi di sekolah, kampus, industri teknologi, dan forum internasional.

Pengalaman di Bali yang membuka wawasan sebagai guru

Mengikuti ICANN87 di Bali membuat saya semakin menyadari bahwa dunia pendidikan tidak boleh berjalan terpisah dari perkembangan teknologi global.

Sebagai guru Informatika, saya terbiasa mendampingi murid belajar tentang komputer, jaringan, data, pemrograman, dan berbagai keterampilan digital. Namun, pengalaman belajar dalam forum internasional memberikan sudut pandang yang lebih luas: teknologi juga berkaitan dengan kepercayaan, keamanan, kebijakan, dan kepentingan masyarakat.

Saya melihat bahwa persoalan internet tidak dapat diselesaikan hanya dengan menciptakan perangkat lunak atau perangkat keras yang semakin canggih. Diperlukan pula manusia yang memahami dampak teknologi dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Inilah salah satu pelajaran yang ingin saya bawa ke ruang kelas.

Saya ingin murid-murid memahami bahwa menjadi generasi digital bukan sekadar mahir menggunakan gawai. Mereka juga harus mampu berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, melindungi data pribadi, menghormati orang lain di ruang digital, serta memahami cara kerja teknologi yang mereka gunakan.

Pengalaman belajar di forum internasional seperti ICANN87 juga menguatkan keyakinan saya bahwa guru harus terus belajar sepanjang hayat.

Jika ingin murid memiliki wawasan global, gurunya pun perlu membuka diri terhadap pengetahuan baru. Jika ingin murid berani bermimpi besar, gurunya harus menunjukkan bahwa belajar dan mengembangkan diri merupakan perjalanan yang tidak pernah selesai.

Dari Bali untuk pendidikan Indonesia

Ada satu hal yang menarik dari profil para peserta NextGen@ICANN87: mereka datang dari latar belakang pendidikan dan negara yang berbeda, tetapi membawa persoalan yang saling berkaitan.

Keamanan DNS, penerapan IPv6, identitas digital, pendidikan tata kelola internet, dan perkembangan AI merupakan bagian dari tantangan bersama.

Indonesia juga perlu menyiapkan generasi muda yang mampu memahami berbagai persoalan tersebut.

Kita memiliki banyak pelajar yang kreatif, mahasiswa yang cerdas, guru yang berdedikasi, serta komunitas teknologi yang terus berkembang. Potensi itu perlu didukung dengan kesempatan belajar, akses informasi, pembinaan, dan partisipasi dalam forum yang mempertemukan beragam perspektif.

Saya berharap suatu hari nanti semakin banyak anak muda Indonesia yang tampil dalam program NextGen@ICANN dan forum teknologi internasional lainnya.

Mereka tidak harus menunggu menjadi ahli untuk mulai berkontribusi. Mereka dapat memulainya dengan belajar sungguh-sungguh, mengembangkan proyek teknologi, meneliti persoalan di sekitarnya, dan berbagi pengetahuan kepada masyarakat.

Dari ruang kelas, lahir gagasan. Dari gagasan, tumbuh inovasi. Dan dari inovasi yang disertai tanggung jawab, kita dapat membangun masa depan digital yang lebih baik.

Penutup: Guru harus terus belajar

Perjalanan mengikuti ICANN87 di Bali menjadi kesempatan bagi saya untuk memperluas wawasan tentang internet dan melihat pentingnya keterlibatan generasi muda dalam tata kelola digital global.

Saya ingin menjadikan pengalaman ini sebagai bahan refleksi dan berbagi pengetahuan melalui tulisan. Sebagai blogger sejak 2007, saya percaya bahwa pengalaman belajar akan semakin bermanfaat ketika didokumentasikan dan dibagikan kepada orang lain.

Saya juga ingin mengajak para guru untuk tidak berhenti belajar. Dunia berubah, teknologi berkembang, dan kebutuhan peserta didik terus bertambah. Guru perlu hadir bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembelajar yang memberi teladan.

Internet telah menghubungkan manusia dari berbagai penjuru dunia. Kini, tugas kita adalah memastikan bahwa koneksi tersebut membawa manfaat, memperluas kesempatan belajar, dan menciptakan ruang digital yang aman serta tepercaya.

Belajar dari Bali, berbagi untuk negeri, dan menyiapkan generasi muda Indonesia agar mampu mengambil bagian dalam masa depan internet dunia.

Salam Blogger Persahabatan.
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Menulislah dengan hati, berbagi ilmu dengan tulus, dan jadilah guru pembelajar sepanjang hayat.

icann87 di bali saya mengenal generasi muda

Mengenal Generasi Muda Peserta NextGen@ICANN87: Anak Muda yang Menyiapkan Masa Depan Internet Dunia

Kisah Omjay di ICANN87 Bali: Belajar dari Generasi Muda yang Peduli terhadap Masa Depan Internet

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Bali, 17 Oktober 2026 — Ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari ketika menghadiri pertemuan internasional seperti ICANN87 di Bali. Salah satunya adalah kesempatan untuk mengenal generasi muda dari berbagai negara yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan teknologi, keamanan digital, dan masa depan internet dunia.

Saat melihat buku informasi peserta NextGen@ICANN87, Omjay menemukan enam anak muda yang berasal dari Tiongkok, Nepal, Filipina, Kuwait, dan India. Mereka datang dengan latar belakang pendidikan dan minat yang berbeda-beda. Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka, yaitu keinginan untuk memahami bagaimana internet dikelola, diamankan, dan dikembangkan agar semakin bermanfaat bagi masyarakat dunia.

Bagi Omjay, pengalaman ini sangat menarik. Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay melihat bahwa masa depan internet bukan hanya urusan para ahli teknologi, perusahaan besar, atau pemerintah. Generasi muda juga mempunyai peran penting dalam menentukan arah perkembangan teknologi digital.

Generasi muda dengan gagasan besar

Dari informasi yang tercantum dalam buku peserta, terdapat enam peserta NextGen@ICANN87 yang akan menyampaikan presentasi mengenai berbagai persoalan penting dalam dunia internet.

Pertama, Ismail Ahmed dari Tiongkok.

Ismail merupakan mahasiswa University of Science and Technology of China yang memiliki minat pada diplomasi siber. Ia akan mempresentasikan topik DNS Trust, Cybersecurity, and Cross-Border Digital Growth: Strengthening the Future of the Global Internet.

Topik ini membahas kepercayaan terhadap DNS, keamanan siber, dan pertumbuhan digital lintas negara. DNS atau Domain Name System merupakan sistem yang membantu menerjemahkan nama domain, seperti nama situs web, menjadi alamat IP yang digunakan komputer untuk berkomunikasi.

Kepercayaan dan keamanan DNS sangat penting agar pengguna dapat mengakses layanan internet dengan lebih aman dan andal.

Kedua, Anuja Gyawali dari Nepal.

Anuja berasal dari IOE Pulchowk Engineering Campus dan menekuni bidang teknik komputer. Ia akan membawakan presentasi berjudul Building a Secure and Trusted DNS: Addressing DNS Abuse and Advancing DNSSEC.

Presentasi ini membahas penyalahgunaan DNS dan pengembangan DNSSEC. DNSSEC merupakan teknologi keamanan yang membantu memverifikasi keaslian data DNS sehingga pengguna lebih terlindungi dari manipulasi tertentu.

Dari topik ini, kita belajar bahwa keamanan internet harus dibangun melalui teknologi, tata kelola yang baik, dan kerja sama banyak pihak.

Ketiga, Dean Mark Molde dari Filipina.

Dean merupakan peserta dari Southville International School and Colleges dengan minat pada teknologi informasi. Ia akan membahas IPv6 Adoption in the Philippines: Challenges, Opportunities, and Multistakeholder Collaboration.

IPv6 adalah versi protokol internet yang menyediakan ruang alamat IP jauh lebih besar dibandingkan IPv4. Penggunaan IPv6 menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan internet karena jumlah perangkat yang terhubung terus bertambah.

Pengalaman Filipina menjadi bahan pembelajaran mengenai tantangan penerapan teknologi baru, peluang pengembangan infrastruktur digital, dan pentingnya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

Keempat, Walaa Jamaluddin dari Kuwait.

Walaa merupakan peserta dari Kuwait University yang mendalami teknik komputer. Ia akan menyampaikan presentasi mengenai Security Implications of IDNs and EAI, and The Role of ICANN.

IDN atau Internationalized Domain Names memungkinkan nama domain menggunakan karakter dari berbagai bahasa, tidak hanya huruf Latin. Sementara itu, EAI atau Email Address Internationalization memungkinkan penggunaan alamat email dengan karakter yang lebih beragam, termasuk karakter non-Latin.

Teknologi tersebut membuka kesempatan bagi lebih banyak masyarakat untuk menggunakan internet dalam bahasa mereka sendiri. Namun, penerapannya juga membutuhkan perhatian terhadap keamanan, potensi penyalahgunaan, dan kemudahan penggunaan.

Bagi Indonesia yang memiliki beragam bahasa dan budaya, pembahasan ini sangat relevan. Internet seharusnya dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

Kelima, Siddhant Pant dari Nepal.

Siddhant berasal dari Tribhuvan University dan memiliki minat pada teknik komputer. Ia akan membawakan presentasi berjudul Bridging Higher Education to Global Governance: Bringing ICANN into Academia.

Topik ini mengangkat pentingnya menghubungkan dunia pendidikan tinggi dengan tata kelola internet global.

Menurut Omjay, gagasan ini sangat menarik. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan teknis. Mahasiswa juga perlu memahami kebijakan internet, tata kelola digital, keamanan, dan tanggung jawab sosial dalam penggunaan teknologi.

Hal serupa juga penting diterapkan di sekolah. Peserta didik perlu belajar bahwa teknologi bukan sekadar alat untuk menyelesaikan tugas, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang membutuhkan aturan, etika, dan tanggung jawab.

Keenam, Amrutha M dari India.

Amrutha berasal dari Indian Institute of Information Technology dan menekuni bidang jejaring komputer serta hubungan internasional. Ia akan membahas When AI Becomes an Internet Actor: Rethinking DNS, Trust and Governance in the Agentic Internet.

Topik ini sangat relevan dengan perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Saat ini, AI tidak hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan atau membantu menulis. Teknologi AI juga berkembang menuju sistem yang dapat menjalankan serangkaian tugas secara mandiri berdasarkan instruksi dan tujuan tertentu.

Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan penting. Bagaimana kepercayaan dibangun ketika sistem AI berinteraksi dengan layanan internet? Bagaimana keamanan dan tata kelolanya dijaga? Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan atau penyalahgunaan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlu dibahas bersama oleh ahli teknologi, pendidik, pembuat kebijakan, industri, dan masyarakat.

Apa yang bisa dipelajari guru Indonesia dari NextGen@ICANN87?

Membaca profil keenam peserta ini membuat Omjay semakin yakin bahwa pendidikan Informatika harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Guru tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan komputer, membuat presentasi, mengolah data dengan spreadsheet, atau menulis program. Peserta didik juga perlu diperkenalkan pada cara kerja internet, keamanan digital, etika penggunaan AI, serta pentingnya menjaga kepercayaan dalam ruang digital.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay ingin terus mendorong murid-murid agar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka perlu berani bertanya, mencoba hal baru, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan dengan baik.

Siapa tahu, suatu hari nanti ada murid Indonesia yang menjadi peserta NextGen pada pertemuan ICANN berikutnya. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka kelak tampil sebagai peneliti, pengembang teknologi, ahli keamanan siber, atau pembuat kebijakan internet di tingkat internasional.

Untuk mencapai cita-cita tersebut, murid perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan karakter yang kuat.

Mereka juga perlu memahami bahwa kemajuan teknologi harus berjalan bersama nilai kemanusiaan. Kecerdasan saja tidak cukup apabila tidak disertai tanggung jawab.

Internet adalah tanggung jawab bersama

ICANN merupakan organisasi yang berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet, termasuk nama domain dan alamat IP, agar internet dapat berfungsi secara stabil dan aman. Pekerjaan ini membutuhkan kerja sama berbagai pihak dari seluruh dunia.

Melalui kegiatan seperti ICANN87, peserta memiliki kesempatan untuk berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan memahami berbagai sudut pandang mengenai tata kelola internet.

Kehadiran generasi muda dalam kegiatan tersebut memberikan pesan penting bahwa masa depan internet tidak boleh hanya ditentukan oleh generasi yang sudah lebih dahulu berpengalaman. Anak-anak muda perlu diberi kesempatan belajar, menyampaikan gagasan, dan terlibat dalam percakapan global.

Bagi Omjay, inilah salah satu pelajaran berharga dari mengikuti kegiatan internasional di Bali. Kita dapat belajar dari orang-orang yang memiliki pengalaman, pendidikan, dan perspektif berbeda. Perbedaan tersebut bukan penghalang, melainkan kesempatan untuk saling memperkaya pengetahuan.

Indonesia pun memiliki banyak anak muda berbakat. Mereka membutuhkan ruang belajar, akses terhadap teknologi, pendampingan guru, serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam forum yang lebih luas.

Karena itu, mari kita persiapkan generasi muda Indonesia agar tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga mampu memahami, mengembangkan, dan ikut menjaga masa depan internet dunia.

Penutup: Belajar hari ini, memimpin masa depan

Pengalaman mengenal profil peserta NextGen@ICANN87 mengingatkan Omjay bahwa belajar tidak mengenal batas negara, usia, ataupun profesi.

Di Bali, Omjay melihat sebuah kesempatan untuk memperluas wawasan tentang dunia internet dan perkembangan teknologi. Sebagai guru, pengalaman ini menjadi bekal untuk dibagikan kembali kepada murid, sesama pendidik, dan masyarakat melalui tulisan.

Kita tidak harus menjadi ahli teknologi internasional untuk ikut membangun masa depan digital yang lebih baik. Kita dapat memulainya dari ruang kelas, keluarga, komunitas, dan kebiasaan menggunakan internet secara bijaksana.

Mari kita ajarkan kepada anak-anak bahwa internet bukan hanya tempat mencari informasi dan hiburan. Internet juga merupakan ruang untuk berkarya, berbagi ilmu, membangun kerja sama, dan menyelesaikan persoalan bersama.

Sebab, masa depan internet tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin dan kecerdasan buatan. Masa depan internet juga ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.

Salam Blogger Persahabatan.

Menulislah dengan hati, berbagi ilmu dengan tulus, dan jadilah guru yang terus belajar sepanjang hayat.


Informasi Penting Hari Terakhir Lomba Blog Omjay

HARI TERAKHIR LOMBA BLOG OMJAY: SIAPAKAH TIGA BLOGGER BERUNTUNG YANG AKAN DIUNDANG KE JICC SENAYAN?

Kesempatan terakhir untuk para blogger Indonesia. Teruslah menulis, abadikan pengalaman dalam buku, dan bersiaplah menjadi bagian dari perayaan literasi digital di OTN 8!

JAKARTA, 17 Oktober 2026 — Salam blogger persahabatan!

Teman-teman blogger peserta Lomba Blog Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang Omjay hormati dan banggakan, hari ini merupakan hari yang istimewa. Sabtu, 17 Oktober 2026, adalah hari terakhir pelaksanaan lomba blog yang telah berlangsung sejak 17 Agustus 2026.

Selama 60 hari, para blogger dari berbagai daerah di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan gagasan, berbagi pengalaman, menyampaikan inspirasi, dan merayakan kemerdekaan melalui tulisan. Setiap artikel yang diterbitkan menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui upacara dan pengibaran bendera, tetapi juga melalui karya yang memberikan manfaat bagi sesama.

Kini, tibalah saatnya kita menantikan hasil perjuangan tersebut.

Siapakah tiga blogger beruntung dan berprestasi yang akan terpilih menjadi pemenang Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81 tahun 2026?

Pertanyaan itulah yang mungkin sedang memenuhi pikiran teman-teman blogger hari ini.

Tiga blogger terpilih akan diundang ke JICC Senayan

Omjay mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta yang telah mengikuti lomba blog ini. Terima kasih karena teman-teman sudah meluangkan waktu untuk menulis, mengembangkan ide, memperbaiki artikel, dan membagikan pengalaman melalui blog masing-masing.

Dari ratusan blogger yang mengikuti lomba, akan dipilih tiga orang yang beruntung dan berprestasi untuk mendapatkan kesempatan istimewa, yaitu diundang menghadiri acara di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.

Ketiga blogger terpilih tersebut akan diundang pada 29 Oktober 2026, bertepatan dengan pelaksanaan Seminar Nasional OTN 8 dalam rangkaian kegiatan Indocomtech 2026.

Pengumuman pemenang direncanakan berlangsung pada:

  • Hari, tanggal: Kamis, 29 Oktober 2026
  • Tempat: JICC Senayan, Jakarta
  • Acara: Seminar Nasional OTN 8
  • Waktu pengumuman: Pukul 13.00 WIB sampai selesai

Momen ini diharapkan menjadi kesempatan yang membahagiakan bagi para blogger terpilih. Mereka bukan hanya mendapatkan pengakuan atas karya tulisnya, tetapi juga kesempatan untuk bertemu, bersilaturahmi, dan memperluas jaringan dengan sesama pegiat literasi dan teknologi.

Bagi Omjay, lomba blog bukan sekadar kegiatan untuk mencari pemenang. Lomba ini merupakan ikhtiar bersama untuk membangun budaya menulis, memperkuat persahabatan, dan mendorong semakin banyak orang agar berani berbagi gagasan melalui internet.

Pantau email dan WhatsApp Omjay

Teman-teman blogger, jangan sampai melewatkan informasi penting setelah lomba berakhir.

Silakan pantau email dan nomor WhatsApp Omjay yang digunakan untuk komunikasi mengenai lomba. Siapa tahu, nama teman-teman termasuk dalam tiga blogger yang terpilih.

Berikut informasi kontak Omjay:

Email: wijayalabs@gmail.com

WhatsApp: 08159155515

Silakan memastikan pesan yang masuk berkaitan dengan penyelenggaraan Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Jika menerima informasi mengenai undangan, periksa kembali detail kegiatan dan konfirmasikan kehadiran sesuai petunjuk panitia.

Siapa tahu, di antara teman-teman yang sedang membaca artikel ini, ada tiga orang yang akan mendapatkan kesempatan istimewa untuk hadir di JICC Senayan pada 29 Oktober 2026.

Namun, apa pun hasilnya nanti, jangan pernah merasa bahwa usaha menulis selama 60 hari menjadi sia-sia. Setiap tulisan yang dibuat dengan sungguh-sungguh adalah jejak pemikiran yang bisa bermanfaat bagi pembaca, bahkan jauh setelah perlombaan berakhir.

Jangan biarkan tulisan selama 60 hari berhenti di blog

Ada satu pesan penting yang ingin Omjay sampaikan kepada seluruh peserta lomba.

Jangan biarkan tulisan yang sudah teman-teman hasilkan selama 60 hari hanya tersimpan di blog. Susunlah tulisan tersebut menjadi sebuah buku yang bermutu.

Bayangkan jika selama mengikuti lomba teman-teman telah menulis puluhan artikel tentang kemerdekaan, pendidikan, keluarga, perjuangan hidup, pengalaman mengajar, teknologi, budaya, atau berbagai kisah inspiratif lainnya.

Semua tulisan itu bisa dikumpulkan, disunting, dikelompokkan berdasarkan tema, lalu disusun menjadi sebuah buku.

Buku tersebut dapat menjadi dokumentasi perjalanan menulis sekaligus warisan pemikiran untuk keluarga, sahabat, peserta didik, dan masyarakat.

Tidak perlu menunggu menjadi penulis terkenal untuk menerbitkan buku. Mulailah dari karya yang sudah dimiliki. Perbaiki judul, rapikan bahasa, lengkapi sumber jika diperlukan, susun daftar isi, dan buatlah pengantar yang menjelaskan alasan buku itu ditulis.

Jika teman-teman serius ingin menyusun buku, Omjay siap membantu memberikan kata pengantar sesuai dengan naskah dan isi buku yang dikirimkan. Tentu saja, naskah perlu dibaca terlebih dahulu agar kata pengantar yang dibuat sesuai dengan isi dan pesan buku.

Inilah salah satu cara agar semangat lomba tidak berhenti pada pengumuman pemenang. Perlombaan boleh selesai, tetapi perjalanan menjadi penulis yang produktif masih bisa terus berlanjut.

Ada kesempatan mendapatkan sertifikat lomba dan informasi voucher umrah

Selain kesempatan menjadi pemenang, teman-teman yang membutuhkan sertifikat lomba blog dapat menghubungi Omjay selaku founder Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81 tahun 2026.

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui informasi mengenai voucher umrah dari Fresnell Travel Haji dan Umrah, silakan menghubungi Omjay secara langsung untuk memperoleh penjelasan mengenai ketersediaan, persyaratan, dan ketentuan yang berlaku.

Pastikan semua informasi mengenai sertifikat maupun voucher dikonfirmasikan terlebih dahulu. Dengan begitu, teman-teman mendapatkan penjelasan yang jelas dan sesuai dengan ketentuan penyelenggara.

Omjay berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman positif bagi para blogger, baik dalam meningkatkan keterampilan menulis maupun dalam membangun jejaring persahabatan.

Merdeka menulis, merdeka menginspirasi!

Teman-teman blogger yang Omjay cintai, setiap orang memiliki cerita. Ada yang menulis tentang perjuangan meraih cita-cita, pengalaman mendidik anak, perjalanan menjadi guru, perjuangan membangun keluarga, hingga kisah sederhana yang ternyata memberikan pelajaran berharga bagi orang lain.

Cerita-cerita itulah yang membuat dunia kepenulisan menjadi kaya dan bermakna.

Melalui lomba blog ini, kita belajar bahwa menulis bukan hanya tentang mengejar hadiah atau mendapatkan pengakuan. Menulis juga tentang keberanian menyampaikan gagasan, kesediaan belajar dari pengalaman, dan kemauan berbagi inspirasi.

Bagi teman-teman yang belum terpilih menjadi pemenang, jangan berkecil hati. Teruslah menulis dan mengembangkan blog. Jadikan pengalaman mengikuti lomba sebagai bekal untuk mengikuti kegiatan berikutnya.

Bagi teman-teman yang nantinya terpilih, semoga kesempatan tersebut menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan menginspirasi lebih banyak orang.

Dan bagi kita semua, mari jadikan blog sebagai rumah bagi gagasan, tempat menyimpan kenangan, serta ruang berbagi ilmu yang dapat diakses oleh siapa saja.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay percaya bahwa teknologi akan semakin bermakna ketika digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan membangun karakter. Internet bukan hanya tempat mencari informasi, tetapi juga ruang untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.

Karena itu, teruslah menulis dengan hati. Jangan takut memulai, jangan malu memperbaiki tulisan, dan jangan mudah menyerah ketika pembaca belum sebanyak yang diharapkan.

Bisa jadi, tulisan sederhana yang kita terbitkan hari ini menjadi sumber inspirasi bagi seseorang di masa depan.

Selamat kepada seluruh peserta Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81 tahun 2026. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan literasi digital ini.

Mari kita nantikan pengumuman tiga blogger terpilih pada Seminar Nasional OTN 8 di JICC Senayan, Jakarta, tanggal 29 Oktober 2026, mulai pukul 13.00 WIB sampai selesai.

Siapakah mereka? Pantau email dan WhatsApp Omjay, dan teruslah berkarya!

Salam blogger persahabatan.

Omjay, Guru Blogger Indonesia

Blog: https://wijayalabs.com

Email: wijayalabs@gmail.com

WhatsApp: 08159155515


Dari Ruang Kelas SMP Labschool Jakarta ke Forum Internet Dunia

Dari Ruang Kelas SMP Labschool Jakarta ke Forum Internet Dunia

Bagi Omjay, mengikuti ICANN87 di Bali bukan sekadar menghadiri acara internasional. Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru Informatika mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung tentang perkembangan dan tata kelola internet yang digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Selama bertahun-tahun mengajar Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay selalu berusaha menanamkan kepada murid-murid bahwa teknologi bukan hanya tentang menggunakan komputer, bermain gim, atau membuka media sosial. Teknologi juga tentang memahami cara kerja sistem, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menggunakan internet secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Di dalam kelas, Omjay sering mengajak murid-murid mengenal jaringan komputer, internet, algoritma, pemrograman, dan perkembangan teknologi digital. Kini, melalui kegiatan ICANN87 di Bali, Omjay memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan tentang salah satu fondasi penting dunia digital, yaitu tata kelola internet.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Omjay mengikuti sesi How It Works: IROS and IANA yang berlangsung pukul 10.30–12.00 WITA di Jakarta A (Ballroom 2). Sesi ini menjadi kesempatan untuk memahami lebih jauh bagaimana fungsi penelitian, operasional, dan keamanan internet berkaitan dengan peran IANA dalam mengoordinasikan pengenal unik internet.

Sebagai guru Informatika, Omjay melihat hubungan yang sangat erat antara materi tersebut dan pembelajaran di sekolah.

Ketika murid mengetik alamat situs web di peramban, mereka mungkin menganggap prosesnya sederhana. Padahal, di baliknya terdapat sistem DNS yang membantu menerjemahkan nama domain menjadi informasi yang diperlukan untuk menemukan layanan internet. Ada pula alamat IP dan berbagai parameter protokol yang mendukung komunikasi antarsistem.

Pengetahuan seperti ini dapat membuat pembelajaran Informatika menjadi lebih bermakna. Murid tidak hanya menghafal istilah, tetapi juga memahami alasan suatu sistem dibangun dan bagaimana berbagai komponen bekerja bersama.

Omjay ingin membawa semangat belajar dari ICANN87 ke SMP Labschool Jakarta. Pengalaman ini dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual, misalnya melalui simulasi cara kerja DNS, pengenalan alamat IP, diskusi tentang keamanan internet, serta proyek sederhana untuk memetakan perjalanan sebuah permintaan ketika seseorang membuka situs web.

Lebih jauh lagi, Omjay ingin murid-murid menyadari bahwa internet merupakan hasil kerja sama banyak pihak. Tidak ada satu orang atau satu lembaga yang mengerjakan seluruh aspek internet sendirian. Berbagai organisasi, komunitas teknis, pengembang, penyedia layanan, dan pengguna memiliki peran masing-masing dalam ekosistem digital.

Pelajaran ini penting bagi generasi muda Indonesia. Mereka bukan hanya calon pengguna teknologi, melainkan juga calon pembuat inovasi, peneliti, pengembang perangkat lunak, dan pemimpin masa depan yang akan ikut menentukan arah perkembangan dunia digital.

Sebagai guru, Omjay menyadari bahwa belajar tidak boleh berhenti setelah memperoleh ijazah atau mencapai jenjang pendidikan tertentu. Dunia teknologi terus berubah. Apa yang kita ajarkan hari ini perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Itulah sebabnya Omjay berusaha terus belajar, membaca, menulis, berdiskusi, dan mengikuti kegiatan yang dapat memperkaya pengetahuan. Ilmu yang diperoleh tidak ingin disimpan sendiri. Omjay ingin membagikannya kepada sesama guru, komunitas pendidikan, dan murid-murid di sekolah.

Bagi Omjay, perjalanan dari ruang kelas SMP Labschool Jakarta menuju forum internasional ICANN87 di Bali merupakan pengingat bahwa seorang guru harus terus menjadi pembelajar. Guru yang mau belajar akan memiliki lebih banyak cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk dibagikan kepada murid-muridnya.

Dari Bali, Omjay ingin membawa pulang bukan hanya catatan tentang IROS dan IANA, tetapi juga semangat untuk mengembangkan pembelajaran Informatika yang lebih menarik, relevan, dan membuka wawasan global.

Sebab, mendidik generasi digital bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi. Tugas kita juga membantu mereka memahami teknologi, berpikir kritis, menjaga keamanan diri di ruang digital, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Inilah salah satu makna perjalanan Omjay di ICANN87 Bali: belajar untuk diri sendiri, berbagi untuk sesama, dan mendidik untuk masa depan Indonesia.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

kisah Omjay mengenal IROS dan IANA

Belajar Tata Kelola Internet di ICANN87 Bali: Kisah Omjay Mengenal IROS dan IANA

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Sabtu, 17 Oktober 2026, menjadi hari yang istimewa bagi Omjay. Pagi ini, Omjay mengikuti rangkaian kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali, Indonesia. Sebagai seorang guru Informatika di SMP Labschool Jakarta sekaligus pegiat literasi digital, kesempatan ini menjadi pengalaman berharga untuk belajar lebih dalam tentang tata kelola internet dunia.

Ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari dalam kegiatan ICANN87. Salah satunya adalah sesi bertajuk How It Works: IROS and IANA. Sesi ini dijadwalkan berlangsung pada pukul 10.30 hingga 12.00 WITA di Jakarta A (Ballroom 2).

Bagi sebagian orang, istilah IROS dan IANA mungkin terdengar asing. Namun, bagi mereka yang sehari-hari menggunakan internet, memahami cara kerja lembaga dan sistem di balik jaringan global ini merupakan pengetahuan yang sangat penting.

Dari Bali, Omjay Belajar tentang Internet

Omjay selalu percaya bahwa seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Meskipun sudah puluhan tahun mengajar, perkembangan teknologi membuat seorang pendidik harus terus membuka diri terhadap ilmu baru.

Internet yang kita gunakan setiap hari ternyata tidak berjalan begitu saja. Ketika kita membuka sebuah situs web, mengirim surat elektronik, atau mengakses layanan digital, ada sistem teknis yang bekerja di belakang layar agar semuanya dapat terhubung.

Melalui kegiatan ICANN87, Omjay berkesempatan mengenal lebih dekat bagaimana ekosistem internet dikelola dan dikembangkan. Pengetahuan seperti ini sangat relevan bagi guru Informatika, terutama ketika menjelaskan kepada peserta didik tentang jaringan komputer, nama domain, alamat IP, dan infrastruktur internet.

Selama ini, murid-murid mungkin terbiasa mengetik alamat situs di peramban tanpa memikirkan proses yang terjadi di baliknya. Padahal, ada berbagai mekanisme teknis yang memungkinkan perangkat dan layanan internet saling menemukan dan berkomunikasi.

Di sinilah pentingnya belajar tata kelola internet. Kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja.

Mengenal IANA dan IROS

IANA merupakan singkatan dari Internet Assigned Numbers Authority. Secara umum, IANA menjalankan fungsi koordinasi penting dalam pengelolaan pengenal unik internet, seperti ruang alamat IP, parameter protokol, dan zona akar DNS (Domain Name System).

Pengelolaan tersebut membantu menjaga konsistensi sistem pengenal yang digunakan agar internet dapat beroperasi secara global.

Bayangkan jika setiap negara atau jaringan menggunakan aturan penomoran dan pengenal yang tidak terkoordinasi. Komunikasi antarsistem tentu akan menjadi jauh lebih rumit. Karena itu, koordinasi teknis menjadi bagian penting dalam menjaga internet tetap dapat digunakan bersama.

Sementara itu, IROS dalam judul sesi ini merupakan istilah yang perlu dipahami berdasarkan penjelasan resmi penyelenggara dan narasumber. Omjay ingin mengikuti pembahasan tersebut dengan saksama agar dapat memahami hubungan IROS dengan IANA secara tepat, tanpa terburu-buru menyimpulkan hanya dari singkatannya.

Bagi Omjay, inilah menariknya mengikuti forum internasional. Kita datang bukan karena sudah mengetahui semuanya, melainkan karena ingin belajar, bertanya, berdiskusi, dan membawa pulang pengetahuan baru.

Menghubungkan Pengalaman ICANN87 dengan Dunia Pendidikan

Sebagai guru Informatika, Omjay melihat banyak peluang untuk membawa pembelajaran dari ICANN87 ke ruang kelas.

Materi tentang tata kelola internet dapat dikaitkan dengan pembelajaran jaringan komputer dan internet. Murid-murid bisa diajak memahami bagaimana nama domain bekerja, mengapa alamat IP diperlukan, dan bagaimana berbagai pihak berkontribusi dalam menjaga interoperabilitas internet.

Pembelajaran juga dapat dikembangkan menjadi diskusi tentang tanggung jawab digital. Internet bukan hanya tempat mencari informasi, bermain gim, atau berkomunikasi melalui media sosial. Internet merupakan infrastruktur global yang membutuhkan koordinasi, standar teknis, keamanan, serta partisipasi berbagai pemangku kepentingan.

Murid-murid perlu memahami bahwa di balik kemudahan yang mereka nikmati, ada kerja sama banyak pihak yang memungkinkan teknologi ini berfungsi.

Omjay berharap pengalaman mengikuti ICANN87 bisa menjadi bahan untuk memperkaya pembelajaran Informatika, Koding, dan Kecerdasan Artifisial di sekolah.

Guru tidak harus mengetahui semua hal sejak awal. Guru perlu memiliki kemauan untuk terus belajar, lalu membagikan pengetahuan yang diperoleh dengan bahasa yang mudah dipahami oleh murid-muridnya.

Belajar, Berbagi, dan Menginspirasi

Mengikuti kegiatan internasional seperti ICANN87 di Bali memberikan pelajaran penting bagi Omjay. Dunia pendidikan dan perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan. Guru perlu memahami perubahan zaman agar dapat membimbing generasi muda menghadapi masa depan.

Namun, belajar tidak cukup hanya dengan hadir di sebuah acara. Ilmu yang diperoleh harus diolah, direnungkan, dan dibagikan kepada orang lain.

Itulah salah satu alasan Omjay terus menulis di blog dan berbagai platform literasi digital. Menulis membantu kita merekam pengalaman, menyusun pemahaman, serta membagikan pengetahuan kepada pembaca yang tidak berkesempatan hadir secara langsung.

Dari Bali, Omjay ingin menyampaikan pesan sederhana kepada rekan-rekan guru di seluruh Indonesia: jangan pernah berhenti belajar. Manfaatkan setiap kesempatan untuk menambah wawasan, bertemu orang-orang baru, dan memahami perkembangan teknologi.

Kita mungkin tidak selalu menjadi orang yang paling pintar di dalam sebuah forum. Akan tetapi, kita selalu bisa menjadi pembelajar yang tekun dan pendidik yang mau berbagi.

Internet menghubungkan dunia, sedangkan pendidikan membantu manusia memahami dunia yang terhubung itu.

Semoga pengalaman Omjay mengikuti sesi How It Works: IROS and IANA di ICANN87 Bali menjadi langkah kecil untuk memperluas wawasan tentang internet sekaligus menginspirasi guru-guru Indonesia agar terus belajar dan berkarya.

Salam Blogger Persahabatan.

Omjay

Guru Blogger Indonesia

Menulislah dengan hati, berbagi ilmu dengan tulus, dan teruslah belajar sepanjang hayat.


kisah omjay hari pertama di acara icann87 annual general meeting Bali

Hari Pertama Omjay Mengikuti ICANN87 di Bali: Bertemu Sahabat, Belajar Tata Kelola Internet, dan Menebar Persahabatan

Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia di ICANN87 Annual General Meeting, Bali, 17 Oktober 2026

Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, menjadi hari yang istimewa bagi Omjay, panggilan akrab Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., Guru Blogger Indonesia. Hari ini Omjay memulai pengalaman baru dengan mengikuti kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali, Indonesia. Sebuah kesempatan berharga untuk belajar lebih jauh tentang tata kelola internet dunia, bertemu dengan sahabat-sahabat baru, dan memperluas wawasan di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Alhamdulillah, Omjay sudah berada di Bali sejak Jumat, 16 Oktober 2026. Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta, Omjay tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Ada rasa syukur dan bahagia karena akhirnya bisa mengikuti kegiatan internasional yang mempertemukan banyak orang dari berbagai negara dan latar belakang.

Malam sebelumnya, Omjay bermalam di Hotel Tijili Kuta, Bali. Dalam perjalanan kali ini, Omjay juga berkesempatan sekamar dengan Mr. Bams dari Bandung. Pertemuan dan kebersamaan seperti ini menjadi bagian menyenangkan dari sebuah perjalanan. Bukan hanya soal tempat menginap, melainkan juga kesempatan untuk berbagi cerita, pengalaman, dan semangat belajar.

Pagi Hari, Bersiap Menuju Lokasi Acara

Pagi itu, suasana grup WhatsApp mulai ramai. Beberapa peserta saling berkomunikasi untuk memastikan lokasi dan waktu keberangkatan menuju tempat kegiatan.

Omjay pun mengirimkan pesan sederhana kepada teman-teman.

“Ada yang mau bareng Omjay enggak ke lokasi acara?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa, tetapi bagi Omjay, kebersamaan selalu memiliki arti tersendiri. Perjalanan menuju sebuah acara akan terasa lebih menyenangkan jika dilakukan bersama teman. Ada kesempatan untuk mengobrol, bertukar informasi, dan saling membantu apabila ada kesulitan.

Salah seorang teman, Ellen Kusuma dari Bali PANDI, kemudian bertanya, “Jalan jam berapa, Omjay?”

Omjay langsung menjawab dengan singkat, “Sekarang yuk. Omjay tunggu di lobi.”

Tak lama kemudian, Ellen membalas bahwa dirinya segera meluncur.

Begitulah suasana pagi yang penuh keakraban. Tidak perlu banyak kata untuk menunjukkan semangat kebersamaan. Cukup saling mengabari, menentukan waktu, lalu berangkat bersama menuju tempat kegiatan.

Omjay percaya bahwa dalam setiap perjalanan, teman yang baik merupakan salah satu anugerah yang patut disyukuri.

Grup WhatsApp Menjadi Jembatan Informasi

Di tengah kesibukan peserta mempersiapkan diri, informasi penting juga dibagikan melalui grup WhatsApp.

Mbak Ulfa dari PANDI mengingatkan bahwa peserta yang mengalami kendala di lokasi dapat meminta bantuan kepada tim PANDI yang berada di booth. Pesan tersebut tentu sangat membantu, terutama bagi peserta yang baru pertama kali mengikuti kegiatan sebesar ICANN Annual General Meeting.

Informasi lain juga dibagikan, yaitu tautan jadwal resmi kegiatan ICANN87:

https://icann87.sched.com

Melalui situs tersebut, peserta dapat melihat agenda dan menyesuaikan kegiatan yang ingin diikuti.

Bagi Omjay, informasi digital seperti ini menunjukkan betapa pentingnya internet dalam mendukung komunikasi dan koordinasi. Sebelum berangkat ke lokasi saja, internet sudah membantu peserta memperoleh informasi, mengetahui agenda, dan saling berkomunikasi.

Inilah salah satu hal menarik yang ingin Omjay pelajari lebih dalam selama mengikuti ICANN87. Internet bukan sekadar sarana untuk mencari informasi atau mengirim pesan. Di balik layar, ada sistem, kebijakan, organisasi, dan kerja sama banyak pihak yang membuat internet dapat digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Bertemu Teman-Teman di Lokasi Acara

Sekitar pukul 09.14 WITA, suasana grup kembali ramai. Ronaldi Tumanggor mengabarkan bahwa dirinya dan beberapa teman sudah berada di lokasi. Ia menyapa Kiel Tampubolon dari PANDI, Bambang atau Mr. Bams, serta rekan-rekan lainnya.

Pesan itu menjadi tanda bahwa peserta mulai berkumpul dan mempersiapkan diri mengikuti agenda hari pertama.

Namun, seperti halnya pertemuan besar yang melibatkan banyak orang, ada juga peserta yang masih mencari lokasi ruang kegiatan.

Rizaldo dari PANDI bertanya, “Permisi, ini di mana, ya? Lantai berapa?”

Wisnu kemudian menjawab singkat, “Lantai 2.”

Informasi sederhana itu sangat membantu. Dalam sebuah gedung yang memiliki banyak ruangan dan agenda berbeda, mengetahui lantai dan lokasi yang tepat merupakan hal penting agar peserta tidak terlambat mengikuti kegiatan.

Tidak lama kemudian, Rizaldo kembali mengirimkan pesan dalam bahasa Inggris. Ia bertanya apakah kegiatan tersebut berlangsung di ruang Jakarta. Beberapa menit kemudian, ia menyadari bahwa dirinya mungkin sudah memasuki ruangan yang salah.

“Omg, I think I’ve entered the wrong room…”

Omjay membaca percakapan itu dengan senyum. Ternyata, dalam sebuah kegiatan internasional, kebingungan mencari ruangan bukan hanya dialami oleh satu orang. Siapa pun bisa mengalaminya, apalagi ketika banyak agenda berlangsung di tempat yang sama.

Pengalaman kecil tersebut mengingatkan Omjay bahwa mengikuti kegiatan internasional juga membutuhkan ketelitian, keberanian bertanya, dan kemampuan berkomunikasi.

Tidak perlu malu ketika salah masuk ruangan. Yang penting, segera mencari informasi, memastikan agenda yang benar, dan melanjutkan kegiatan dengan semangat.

“I Love You” dari Omjay

Di tengah percakapan grup yang ramai, Omjay mengirimkan tiga kata sederhana dalam bahasa Inggris:

“I love you.”

Mungkin bagi sebagian orang, pesan itu terlihat singkat dan spontan. Namun, Omjay ingin memandangnya sebagai ungkapan keakraban dan persahabatan. Dalam sebuah pertemuan, suasana hangat sangat penting agar setiap orang merasa diterima.

Omjay percaya bahwa bahasa persahabatan tidak selalu membutuhkan kalimat panjang. Senyuman, sapaan, bantuan kecil, dan perhatian kepada sesama dapat membuat suasana menjadi lebih menyenangkan.

Kita boleh datang dari kota yang berbeda, bekerja di bidang yang tidak sama, dan memiliki latar belakang yang beragam. Akan tetapi, ketika bertemu untuk belajar dan berbagi pengetahuan, kita mempunyai tujuan yang sama: memperluas wawasan dan membangun hubungan yang baik.

Itulah nilai yang ingin Omjay bawa selama berada di Bali.

Mengapa Guru Perlu Belajar tentang Tata Kelola Internet?

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta dan Sekretaris Jenderal Ikatan Guru Informatika PGRI, Omjay memandang kegiatan ICANN87 sebagai kesempatan berharga untuk memperluas pengetahuan tentang dunia digital.

Selama ini, guru dan siswa menggunakan internet untuk belajar, mencari referensi, berkomunikasi, membuat karya, dan mengembangkan berbagai keterampilan. Namun, tidak semua pengguna memahami bagaimana sistem penamaan domain, alamat internet, dan berbagai unsur teknis lainnya dikelola agar internet dapat bekerja secara global.

ICANN, singkatan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers, berperan dalam mengoordinasikan sejumlah pengenal unik internet, termasuk sistem nama domain. Peran tersebut membantu menjaga agar internet tetap dapat beroperasi secara stabil dan saling terhubung.

Tentu saja, tata kelola internet melibatkan banyak pihak. Pemerintah, komunitas teknis, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, serta pengguna internet memiliki kepentingan dan perspektif masing-masing.

Karena itu, belajar tentang tata kelola internet menjadi penting bagi guru. Kita tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi. Kita juga perlu membantu siswa memahami bagaimana internet bekerja, bagaimana menjaga keamanan digital, menghargai privasi, dan berpartisipasi secara bertanggung jawab di ruang digital.

Omjay berharap pengalaman selama mengikuti ICANN87 dapat menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat bagi rekan-rekan guru dan para peserta didik di Indonesia.

Belajar, Berbagi, dan Menuliskan Pengalaman

Salah satu kebiasaan yang selalu Omjay jaga adalah menulis pengalaman sehari-hari. Bagi Omjay, perjalanan akan terasa lebih bermakna ketika pengalaman yang diperoleh tidak berhenti sebagai kenangan pribadi, tetapi juga dibagikan kepada orang lain.

Itulah sebabnya, ketika mengikuti kegiatan di Bali, Omjay tetap berusaha mengabadikan cerita melalui tulisan.

Mulai dari perjalanan ke bandara, tiba di Bali, bermalam di Hotel Tijili Kuta bersama Mr. Bams dari Bandung, hingga berangkat menuju lokasi kegiatan dan bertemu dengan teman-teman, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang layak diceritakan.

Tulisan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, suatu hari nanti, catatan tersebut dapat menjadi dokumentasi perjalanan, bahan refleksi, sekaligus sumber inspirasi bagi pembaca.

Omjay ingin menunjukkan bahwa menulis tidak harus menunggu peristiwa besar. Percakapan di grup WhatsApp, pengalaman mencari ruang kegiatan, atau sapaan kepada seorang teman pun dapat menjadi bahan tulisan yang menarik apabila kita mampu mengambil hikmah darinya.

Menulislah dengan hati. Ceritakan apa yang dialami, bagikan apa yang dipelajari, dan sampaikan manfaatnya kepada pembaca.

Penutup: Hari Pertama yang Penuh Harapan

Hari pertama Omjay mengikuti ICANN87 Annual General Meeting di Bali menjadi awal dari pengalaman belajar yang berharga. Pagi itu, Omjay merasakan kembali bahwa sebuah kegiatan tidak hanya tentang agenda resmi, presentasi, dan diskusi. Ada pula persahabatan, komunikasi, kerja sama, dan pengalaman kecil yang membuat perjalanan terasa hidup.

Dari percakapan sederhana di grup WhatsApp, Omjay belajar bahwa koordinasi sangat penting. Dari peserta yang mencari ruangan, Omjay belajar bahwa tidak ada salahnya bertanya ketika belum mengetahui sesuatu. Dari kesempatan bertemu teman-teman, Omjay kembali menyadari bahwa hubungan antarmanusia merupakan bagian penting dari setiap kegiatan.

Alhamdulillah, Omjay diberi kesempatan untuk berada di Bali dan mengikuti kegiatan internasional ini. Semoga ilmu yang diperoleh dapat dibagikan kembali kepada para guru, siswa, komunitas pendidikan, dan masyarakat Indonesia.

Sebab, bagi Omjay, belajar tidak mengenal batas usia dan tempat. Di sekolah kita belajar bersama murid. Di komunitas kita belajar bersama rekan-rekan. Di forum internasional kita belajar memahami dunia yang lebih luas.

Hari pertama di ICANN87 bukan sekadar perjalanan ke Bali. Ini adalah perjalanan untuk membuka wawasan, memperluas persahabatan, dan meneguhkan semangat belajar sepanjang hayat.

Salam blogger persahabatan.

Omjay Guru Blogger Indonesia

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.


Bermalam di Hotel Tijili Bali

Bermalam di Hotel Tijil Kuta Bali, Sekamar dengan Mr. Bams dari Bandung

Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia: Persahabatan, Perjalanan, dan Semangat Belajar di Pulau Dewata

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Swt. Omjay akhirnya bisa menginjakkan kaki di Pulau Dewata, Bali. Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta, melewati kesibukan Bandara Soekarno-Hatta hingga tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, kini Omjay berkesempatan beristirahat di Hotel Tijil, kawasan Kuta, Bali.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita melakukan perjalanan jauh, bukan hanya karena bisa mengunjungi tempat baru, tetapi juga karena bertemu dengan sahabat-sahabat yang memiliki semangat dan tujuan yang sama.

Malam ini, Omjay mendapatkan pengalaman yang menarik. Omjay sekamar dengan Mr. Bams, seorang sahabat dari Bandung. Pertemuan dan kebersamaan seperti ini menjadi bagian indah dari perjalanan yang sedang Omjay jalani di Bali.

Perjalanan yang Mempertemukan Sahabat

Bagi Omjay, perjalanan bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan adalah kesempatan untuk belajar, memperluas pergaulan, dan mengumpulkan pengalaman yang kelak bisa dituliskan menjadi sebuah kisah inspiratif.

Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta, tubuh tentu membutuhkan istirahat. Bermalam di Hotel Tijil, Kuta, Bali, menjadi kesempatan untuk melepas lelah sekaligus mempersiapkan diri mengikuti kegiatan berikutnya.

Kebetulan, Omjay berbagi kamar dengan Mr. Bams dari Bandung. Kebersamaan dengan sahabat seperjalanan tentu menghadirkan suasana tersendiri. Ada kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, bertukar cerita, dan berbagi pengalaman.

Omjay selalu percaya bahwa setiap pertemuan memiliki makna. Kita tidak pernah tahu pelajaran apa yang akan kita dapatkan dari seseorang yang baru kita temui atau sahabat yang sudah lama kita kenal.

Dari Jakarta ke Bali, Membawa Semangat Belajar

Perjalanan kali ini terasa istimewa karena Omjay datang ke Bali untuk mengikuti kegiatan ICANN87 Annual General Meeting yang berlangsung pada 17–22 Oktober 2026 di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali.

Kegiatan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperluas wawasan tentang tata kelola internet, perkembangan dunia digital, dan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam membangun masa depan internet.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta dan pegiat literasi digital, Omjay merasa bahwa belajar tidak boleh berhenti hanya karena kita sudah lama menjadi guru. Dunia teknologi terus berubah. Guru pun harus terus membuka diri, belajar dari pengalaman, dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Karena itulah, perjalanan ke Bali bukan hanya perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan untuk menambah ilmu dan pengalaman.

Omjay ingin membawa pulang bukan sekadar kenangan indah, tetapi juga pengetahuan baru yang bisa dibagikan kepada sesama guru, peserta didik, dan masyarakat luas.

Persahabatan yang Menghangatkan Perjalanan

Ada satu hal yang selalu Omjay syukuri dalam setiap perjalanan, yaitu kesempatan bertemu dengan orang-orang baik.

Bermalam sekamar dengan Mr. Bams dari Bandung mengingatkan Omjay bahwa persahabatan tidak dibatasi oleh jarak. Ada sahabat yang datang dari Jakarta, Bandung, dan berbagai daerah lainnya. Kami mungkin memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, tetapi semangat untuk belajar dan berbagi dapat menyatukan kami.

Bagi seorang penulis, peristiwa sederhana seperti ini pun bisa menjadi bahan tulisan. Kita tidak harus menunggu peristiwa besar untuk mulai menulis. Pengalaman bermalam di hotel, bertemu sahabat, menikmati perjalanan, atau sekadar berbincang sebelum tidur bisa menjadi cerita yang bermakna.

Bukankah kehidupan kita sesungguhnya dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa kecil yang sering kali luput dari perhatian?

Jika kita mau berhenti sejenak dan merenungkannya, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik.

Menulis dari Pengalaman Nyata

Omjay sering mengajak peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI untuk membiasakan diri menulis setiap hari. Salah satu cara termudah untuk memulainya adalah dengan menceritakan pengalaman sendiri.

Tidak perlu menggunakan kata-kata yang rumit. Tidak perlu pula menunggu sampai menjadi penulis terkenal. Cukup ceritakan apa yang kita alami, apa yang kita rasakan, siapa yang kita temui, dan pelajaran apa yang kita dapatkan.

Pengalaman bermalam di Hotel Tijil, Kuta, Bali, bersama Mr. Bams dari Bandung menjadi salah satu contoh bahwa inspirasi menulis bisa ditemukan di mana saja.

Yang terpenting bukan seberapa hebat peristiwa yang kita alami, melainkan seberapa tulus kita menceritakannya dan seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan pembaca.

Omjay ingin terus menjalani kebiasaan menulis dengan hati. Sebab, tulisan yang lahir dari pengalaman nyata akan terasa lebih dekat dengan kehidupan pembacanya.

Bersyukur atas Setiap Perjalanan

Malam semakin larut. Setelah perjalanan dari Jakarta, kini saatnya beristirahat di Hotel Tijil, Kuta, Bali. Omjay bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bepergian, bertemu sahabat, belajar hal baru, dan membagikan pengalaman melalui tulisan.

Semoga kegiatan di Bali berjalan lancar. Semoga Omjay dan Mr. Bams selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan aktivitas masing-masing.

Ada banyak hal yang ingin Omjay pelajari selama berada di Bali. Ada pula banyak cerita yang ingin Omjay tuliskan untuk pembaca setia blog dan Kompasiana.

Sebab, bagi Omjay, hidup adalah perjalanan panjang yang penuh pelajaran. Setiap langkah menghadirkan pengalaman, setiap pertemuan membuka kesempatan, dan setiap pengalaman layak diabadikan dalam tulisan.

Salam Blogger Persahabatan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Omjay, Guru Blogger Indonesia
Wijaya Kusumah


Jumat, 16 Oktober 2026

Sekolah Impian Saya Seperti Labschool UNJ

Sekolah Impian Saya: Seperti Labschool UNJ, Tempat Tumbuhnya Generasi Cerdas, Berkarakter, dan Bahagia

Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia

Malam ini, Jumat, 16 Oktober 2026, ada sebuah tema menarik dalam kegiatan belajar menulis KBMN PGRI Gelombang 35, yaitu Sekolah Impian Saya. Tema ini mengajak kita untuk membayangkan sekolah yang bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua bagi murid dan guru. Sekolah yang membuat setiap orang merasa nyaman, bahagia, dihargai, dan bersemangat untuk mengembangkan potensi dirinya.

Dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Omjay mencoba merenungkan kembali makna sekolah impian. Di tengah perjalanan dan kesibukan mengikuti kegiatan, pikiran Omjay kembali tertuju pada dunia pendidikan, tempat Omjay mengabdikan diri sejak tahun 1994. Bagi Omjay, sekolah impian bukanlah sekadar gedung yang megah, ruang kelas yang berpendingin udara, atau fasilitas teknologi yang serba canggih. Sekolah impian adalah tempat yang mampu memanusiakan manusia.

Labschool UNJ, Inspirasi Sekolah Impian

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay merasakan bahwa sekolah memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda. Lingkungan sekolah yang baik dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, kemandirian, kedisiplinan, serta semangat untuk terus belajar.

Labschool UNJ menjadi salah satu inspirasi Omjay ketika membayangkan sekolah impian. Sekolah yang ideal harus mampu memadukan keunggulan akademik dengan pendidikan karakter, kreativitas, keterampilan hidup, dan kepedulian sosial. Murid tidak cukup hanya pandai menjawab soal ujian. Mereka juga perlu belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, berani menyampaikan pendapat, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Omjay membayangkan sebuah sekolah tempat murid datang pada pagi hari dengan senyum bahagia. Mereka menyapa guru dengan santun, bertemu teman dengan penuh persahabatan, lalu mengikuti pembelajaran yang menarik dan bermakna. Tidak ada murid yang takut bertanya. Tidak ada murid yang merasa dirinya bodoh hanya karena belum memahami pelajaran. Semua murid mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

Di sekolah impian itu, guru tidak hanya berdiri di depan kelas untuk menjelaskan materi. Guru menjadi pendamping, sahabat belajar, sekaligus teladan bagi murid-muridnya. Guru memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan. Ada yang unggul dalam matematika, ada yang berbakat dalam seni, ada yang menyukai olahraga, ada yang senang menulis, dan ada pula yang tertarik pada dunia teknologi.

Tugas sekolah adalah membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya.

Sekolah yang Membuat Murid Bahagia

Bagi Omjay, sekolah impian adalah sekolah yang membahagiakan. Bahagia bukan berarti murid bebas dari tugas atau tidak perlu belajar dengan sungguh-sungguh. Bahagia berarti mereka merasa aman, diterima, dan memiliki kesempatan untuk mencoba tanpa dihantui ketakutan akan kesalahan.

Di sekolah seperti ini, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan menjadi bagian dari proses belajar. Ketika seorang murid memperoleh nilai yang belum memuaskan, guru tidak buru-buru memberikan label negatif. Sebaliknya, guru mengajak murid mencari tahu kesulitannya dan menyusun langkah untuk memperbaikinya.

Bayangkan seorang murid yang awalnya tidak percaya diri ketika diminta menulis. Ia merasa tidak mampu menyusun kalimat yang baik. Namun, gurunya memberikan dorongan agar ia mulai menulis pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Hari pertama ia hanya mampu menulis satu paragraf. Hari berikutnya ia menulis dua paragraf. Beberapa minggu kemudian, tulisannya semakin berkembang. Ia mulai berani mengunggah karya di blog pribadi dan membagikannya kepada teman-temannya.

Bukankah itu sebuah kebahagiaan?

Perubahan kecil seperti itulah yang membuat pekerjaan guru menjadi sangat bermakna. Guru mungkin tidak selalu melihat hasil pendidikan hari ini, tetapi benih kebaikan yang ditanamkan dapat tumbuh bertahun-tahun kemudian.

Omjay percaya bahwa sekolah yang baik tidak hanya melahirkan murid berprestasi, tetapi juga manusia yang memiliki empati, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Teknologi Canggih, tetapi Hati Tetap Menjadi Panglima

Sebagai guru Informatika, Omjay tentu menginginkan sekolah impian yang akrab dengan perkembangan teknologi. Ruang belajar dilengkapi akses internet yang memadai, laboratorium komputer yang nyaman, perangkat pembelajaran digital, serta kesempatan bagi murid untuk belajar coding dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Murid dapat belajar membuat aplikasi sederhana, merancang permainan digital, mengolah data, membuat film pendek, dan mengembangkan proyek robotik. Mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Namun, Omjay selalu mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Kecerdasan artifisial dapat membantu manusia mencari informasi, mengembangkan ide, dan menyelesaikan persoalan. Akan tetapi, teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kepekaan hati, kejujuran, dan tanggung jawab.

Di sekolah impian, murid diajarkan menggunakan AI secara bijaksana. Mereka tidak sekadar menyalin jawaban dari mesin, tetapi memeriksa kebenaran informasi, membandingkan sumber, mengembangkan pemikiran kritis, dan menghasilkan karya yang mencerminkan pemahamannya sendiri.

Guru pun perlu terus belajar. Dunia berubah dengan cepat, sehingga guru harus bersedia memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Guru yang berhenti belajar akan kesulitan mendampingi murid yang hidup di tengah perkembangan teknologi.

Bagi Omjay, sekolah impian adalah tempat guru dan murid belajar bersama. Tidak ada yang merasa paling pintar. Semua memiliki kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, bereksperimen, dan menemukan hal baru.

Guru yang Sejahtera dan Dihargai

Ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan ketika membicarakan sekolah impian, yaitu kesejahteraan guru.

Sekolah yang hebat membutuhkan guru yang mendapatkan penghargaan layak, dukungan profesional, dan lingkungan kerja yang sehat. Guru perlu memiliki waktu untuk mempersiapkan pembelajaran, membaca buku, mengikuti pelatihan, menulis, melakukan penelitian, serta berbagi praktik baik dengan rekan sejawat.

Guru bukanlah mesin yang hanya bertugas menyelesaikan administrasi. Guru adalah manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan hidup, cita-cita, dan keterbatasan.

Omjay membayangkan sekolah yang memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi. Ketika seorang guru mencoba metode pembelajaran baru, sekolah mendukungnya. Ketika guru mengalami kesulitan, rekan sejawat hadir untuk membantu. Ketika guru menghasilkan karya yang bermanfaat, sekolah memberikan apresiasi.

Budaya kolaborasi seperti ini akan membuat guru lebih bersemangat. Mereka tidak merasa berjalan sendirian, tetapi menjadi bagian dari komunitas pembelajar yang saling menguatkan.

Sekolah impian bukan hanya tempat murid bertumbuh. Guru pun harus terus berkembang di dalamnya.

Perpustakaan yang Hidup dan Budaya Menulis yang Kuat

Ada satu sudut sekolah impian yang sangat Omjay sukai, yaitu perpustakaan yang hidup.

Perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi rak dan buku yang tertata rapi. Perpustakaan menjadi tempat murid menemukan gagasan, membaca kisah inspiratif, berdiskusi, menulis cerita, dan membangun imajinasi.

Murid boleh membaca buku cerita, biografi tokoh, buku sains, teknologi, sejarah, maupun karya sastra. Setelah membaca, mereka diajak menuliskan hal yang paling berkesan dan membagikan pemikirannya kepada orang lain.

Omjay ingin setiap murid memiliki kesempatan untuk menerbitkan karya. Ada yang menulis puisi, cerpen, artikel ilmiah populer, laporan proyek, atau kisah pengalaman pribadi. Karya-karya itu dapat dikumpulkan dalam majalah sekolah, buku antologi, atau blog pendidikan.

Kegiatan seperti ini mengajarkan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengar. Mereka tidak harus menunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai berkarya.

Sebagai guru blogger Indonesia, Omjay telah merasakan sendiri bahwa menulis dapat menjadi jalan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan menginspirasi orang lain. Karena itu, Omjay ingin budaya menulis tumbuh kuat di sekolah impian.

Murid belajar menulis dengan jujur, membaca dengan tekun, dan menerima masukan dengan lapang dada. Guru pun memberikan contoh melalui tulisan dan karya nyata.

Sekolah yang memiliki budaya membaca dan menulis akan membantu murid mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Sekolah yang Dekat dengan Orang Tua dan Masyarakat

Sekolah impian tidak dapat berdiri sendiri. Pendidikan membutuhkan kerja sama antara guru, orang tua, masyarakat, dan berbagai pihak yang peduli terhadap masa depan anak.

Omjay membayangkan orang tua yang tidak hanya datang ke sekolah ketika ada masalah. Mereka juga terlibat dalam kegiatan positif, berbagi pengalaman profesi, mendampingi proyek murid, dan mendukung kebiasaan belajar di rumah.

Masyarakat pun dapat menjadi sumber pembelajaran. Murid belajar mengenal lingkungan, mengunjungi tempat bersejarah, memahami persoalan sosial, dan membuat proyek yang membantu menyelesaikan masalah di sekitarnya.

Misalnya, murid membuat kampanye pengurangan sampah plastik, merancang aplikasi sederhana untuk membantu masyarakat, atau membuat konten edukasi tentang keamanan digital.

Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti di dalam kelas. Murid memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki manfaat nyata bagi kehidupan.

Sekolah impian adalah sekolah yang membuka jendela seluas-luasnya bagi murid untuk mengenal dunia, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan terdekatnya.

Membangun Sekolah Impian Dimulai dari Hal Sederhana

Apakah sekolah impian harus dibangun dengan anggaran yang sangat besar? Menurut Omjay, tidak selalu demikian.

Fasilitas yang memadai memang penting, tetapi budaya sekolah jauh lebih menentukan pengalaman belajar sehari-hari. Sekolah dapat mulai berubah melalui tindakan sederhana: guru menyapa murid dengan ramah, murid belajar menghargai teman, kepala sekolah mendengarkan aspirasi guru, dan semua warga sekolah menjaga kebersihan bersama.

Perubahan juga dapat dimulai dengan memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih proyek sesuai minatnya, menyediakan waktu membaca, mengadakan kegiatan menulis, serta membangun kebiasaan refleksi setelah pembelajaran.

Hal-hal kecil tersebut, jika dilakukan secara konsisten, dapat membentuk lingkungan belajar yang positif.

Omjay menyadari bahwa membangun sekolah impian membutuhkan proses panjang. Tidak semua gagasan dapat diwujudkan sekaligus. Ada keterbatasan anggaran, perbedaan pandangan, tantangan kurikulum, dan berbagai persoalan yang harus diselesaikan bersama.

Namun, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah kreativitas dan semangat gotong royong dapat tumbuh.

Kita tidak perlu menunggu sekolah menjadi sempurna untuk mulai melakukan perubahan. Kita bisa memulainya hari ini, dari kelas yang kita ajar, dari cara kita berbicara kepada murid, dan dari keputusan kecil yang berpihak pada kepentingan mereka.

Penutup: Sekolah Impian Ada dalam Tindakan Kita

Malam ini, ketika Omjay berada di Bali dan menyampaikan materi untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35, Omjay kembali diingatkan bahwa pendidikan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketulusan.

Sekolah impian seperti Labschool UNJ bukan sekadar gambaran tentang bangunan dan fasilitas yang baik. Sekolah impian adalah lingkungan yang memadukan ilmu pengetahuan, karakter, kreativitas, teknologi, kebahagiaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Di sana, murid tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi ujian, tetapi juga untuk menjalani kehidupan. Guru tidak hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi membantu anak-anak menemukan jati diri dan masa depannya.

Omjay ingin sekolah menjadi tempat yang selalu dirindukan murid. Tempat mereka berani bermimpi, tidak takut melakukan kesalahan, dan yakin bahwa setiap usaha untuk menjadi lebih baik memiliki arti.

Bukankah setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu? Bukankah setiap guru layak mendapatkan kesempatan untuk berkembang? Dan bukankah kita semua memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan sekolah yang lebih baik?

Mari kita mulai dari diri sendiri. Menjadi guru yang terus belajar, menjadi orang tua yang mendukung anak, dan menjadi bagian dari masyarakat yang peduli terhadap pendidikan.

Sebab, sekolah impian tidak hanya dibangun dengan batu bata, meja, kursi, dan teknologi canggih. Sekolah impian dibangun dengan keteladanan, kepercayaan, kerja sama, dan cinta kepada anak-anak bangsa.

Sekolah impian saya adalah sekolah yang membuat murid bahagia, guru bangga, orang tua percaya, dan masyarakat ikut merasa memiliki.

Semoga suatu hari nanti, semakin banyak sekolah di Indonesia yang mampu mewujudkan cita-cita tersebut.

Salam blogger persahabatan.

Omjay, Guru Blogger Indonesia

Menulislah dengan hati, berbagi inspirasi setiap hari, dan jangan pernah berhenti bermimpi.

Jakarta–Bali, 16 Oktober 2026