One Country, Two Internets: Kisah Omjay Belajar tentang Masa Depan Internet di ICANN87 Bali
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)
Ada banyak hal menarik yang saya pelajari selama mengikuti kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali. Sebagai seorang guru Informatika, blogger, dan pegiat literasi digital, saya merasa beruntung bisa menyaksikan langsung diskusi internasional tentang masa depan internet. Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah sebuah presentasi dengan judul **“One Country, Two Internets”** atau *Satu Negara, Dua Internet*.
Judul itu membuat saya berpikir. Apakah mungkin dalam satu negara terdapat dua pengalaman internet yang berbeda? Bukankah internet seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan manusia tanpa mengenal batas geografis, bahasa, dan budaya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak saya ketika memperhatikan layar presentasi di ruang pertemuan ICANN87.
Internet yang Sama, Pengalaman yang Berbeda
Dalam presentasi tersebut, terlihat sebuah ilustrasi yang membandingkan dua pengalaman pengguna internet. Pengalaman A ditandai dengan kata *works*, yang berarti berfungsi atau dapat diakses. Sementara itu, pengalaman B ditandai dengan kata *blocked*, yang berarti diblokir.
Ilustrasi tersebut menggambarkan persoalan penting dalam dunia internet: dua orang yang berada di negara yang sama belum tentu mendapatkan pengalaman mengakses internet yang sama.
Seseorang mungkin dapat membuka sebuah situs web dengan mudah, sementara orang lain menghadapi pemblokiran atau kesulitan mengakses layanan yang sama. Perbedaan ini bisa terjadi karena kebijakan jaringan, pengaturan akses, pemblokiran konten, penyedia layanan internet, maupun faktor teknis lainnya.
Tentu saja, kita perlu memahami konteks lengkap presentasi sebelum menyimpulkan penyebab khusus dari contoh yang ditampilkan. Namun, ilustrasi itu cukup untuk mengingatkan saya bahwa internet bukan hanya soal tersambung atau tidak tersambung. Ada persoalan akses, kebijakan, teknologi, dan pengalaman pengguna yang perlu diperhatikan bersama.
Nama Domain dan Peran ICANN
Sebagai peserta ICANN87, saya semakin memahami bahwa pengelolaan internet dunia melibatkan banyak pihak. Salah satu bagian pentingnya adalah sistem nama domain, yaitu sistem yang membantu manusia mengakses situs web melalui nama yang mudah diingat.
Bayangkan jika kita harus menghafalkan deretan angka alamat IP setiap kali ingin membuka sebuah situs. Tentu akan merepotkan. Nama domain memudahkan kita mengingat alamat situs, seperti halnya kita mengingat nama seseorang daripada menghafalkan nomor identitasnya.
ICANN atau *Internet Corporation for Assigned Names and Numbers* berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet, termasuk nama domain dan parameter teknis tertentu. Namun, ICANN bukan lembaga yang mengendalikan seluruh isi internet atau menentukan sendiri semua situs mana yang boleh diakses di setiap negara.
Karena itu, ketika membicarakan fenomena *One Country, Two Internets*, kita perlu membedakan antara sistem nama domain, infrastruktur jaringan, kebijakan pemerintah, dan mekanisme pemblokiran akses. Semuanya dapat memengaruhi pengalaman pengguna, tetapi memiliki fungsi dan kewenangan yang berbeda.
Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak mencampuradukkan persoalan teknis dengan persoalan kebijakan.
Sebagai Guru Informatika, Saya Melihat Pelajaran Berharga
Saya, Omjay, yang sehari-hari mengajar Informatika di SMP Labschool Jakarta, melihat tema ini sebagai bahan pembelajaran yang sangat menarik bagi murid-murid.
Selama ini, ketika belajar internet, siswa sering berfokus pada cara menghubungkan komputer ke jaringan, mencari informasi melalui mesin pencari, mengirim surat elektronik, atau menggunakan aplikasi digital. Semua itu memang penting.
Namun, ada pertanyaan yang lebih mendalam untuk kita diskusikan.
Mengapa sebuah situs dapat dibuka oleh seseorang, tetapi tidak dapat diakses oleh orang lain? Mengapa suatu informasi tersedia di satu jaringan, tetapi dibatasi di jaringan yang berbeda? Bagaimana kita mengetahui apakah sebuah situs tidak dapat diakses karena gangguan teknis atau karena kebijakan tertentu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat melatih siswa berpikir kritis. Mereka belajar bahwa teknologi tidak berdiri sendiri. Ada manusia, aturan, kepentingan, dan tanggung jawab di balik setiap sistem digital.
Saya ingin murid-murid tidak sekadar menjadi pengguna internet. Mereka juga harus menjadi warga digital yang cerdas, kritis, santun, dan bertanggung jawab.
Internet Harus Membuka Peluang, Bukan Memperlebar Kesenjangan
Internet memberikan kesempatan besar bagi dunia pendidikan. Guru dapat berbagi materi pembelajaran, siswa dapat mencari referensi, dan komunitas belajar dapat berkolaborasi tanpa harus bertemu secara langsung.
Sebagai blogger yang telah menulis sejak 2007, saya merasakan sendiri manfaat internet. Melalui blog, saya dapat membagikan pengalaman mengajar, menyampaikan gagasan, dan menginspirasi guru-guru di berbagai daerah di Indonesia.
Akan tetapi, manfaat tersebut akan berkurang apabila akses internet tidak merata atau informasi penting sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat.
Kita perlu terus memperjuangkan akses internet yang terjangkau, aman, andal, dan inklusif. Pada saat yang sama, perlindungan terhadap keamanan pengguna, privasi, serta kepatuhan pada hukum juga perlu menjadi bagian dari pembicaraan.
Internet yang baik bukan semata-mata internet yang cepat. Internet yang baik adalah internet yang membantu manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengembangkan potensi dirinya.
Belajar dari Forum Internasional di Bali
Mengikuti ICANN87 memberikan pengalaman berharga bagi saya. Saya dapat melihat bagaimana berbagai pemangku kepentingan membicarakan persoalan internet dari sudut pandang yang berbeda.
Ada aspek teknis yang harus dipahami oleh para ahli jaringan. Ada kebijakan yang menjadi perhatian pemerintah. Ada pula kepentingan masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan pengguna internet sehari-hari.
Perbedaan pandangan seperti ini perlu dipertemukan melalui dialog. Internet merupakan sumber daya global yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat di berbagai negara. Karena itu, tata kelolanya membutuhkan komunikasi, kerja sama, dan pemahaman lintas sektor.
Saya semakin menyadari bahwa menjadi guru Informatika pada zaman sekarang berarti harus terus belajar. Perkembangan teknologi berjalan cepat. Materi yang kita ajarkan hari ini perlu terus diperbarui agar relevan dengan kenyataan yang dihadapi generasi muda.
Guru harus mau membuka diri terhadap pengetahuan baru, termasuk dengan mengikuti forum internasional, membaca referensi, berdiskusi, dan berbagi pengalaman dengan sesama pendidik.
Penutup: Satu Negara, Banyak Pengalaman Digital
Judul *One Country, Two Internets* mengajak kita melihat internet dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam satu negara, pengalaman digital masyarakat dapat berbeda karena kondisi jaringan, kebijakan akses, pengaturan teknis, dan berbagai faktor lainnya.
Bagi saya, pelajaran terpenting dari diskusi ini adalah perlunya memahami internet secara utuh. Kita tidak cukup hanya bisa menggunakan teknologi. Kita juga perlu memahami bagaimana teknologi bekerja, siapa saja yang terlibat dalam pengelolaannya, serta bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Saya ingin membawa pengetahuan yang saya peroleh dari ICANN87 Bali ke ruang kelas dan komunitas guru di Indonesia. Semoga semakin banyak pendidik yang memahami pentingnya literasi digital dan mengajak siswa menggunakan internet secara cerdas.
Sebab, masa depan internet bukan hanya urusan para ahli teknologi. Masa depan internet juga berkaitan dengan masa depan pendidikan, masa depan generasi muda, dan masa depan masyarakat kita.
Salam blogger persahabatan.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Mantap ,semoga internet di daerah saya tidak ngadangadat
BalasHapus