Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 06 November 2008

Ampuhnya Kekuatan Internet


Salah satu kekuatan Barack Obama (47) adalah memanfaatkan internet untuk menjaring pendukung dalam kampanye-kampanyenya dan mengumpulkan dana secara "online". Barack Obama memiliki situs-situs jejaring sosial yang populer tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di banyak negara di dunia, mulai dari Facebook, My Space, Linkedin, You Tube, Friendster, hingga Twitter.



Obama, Senator Illinois ini, mampu mengalahkan Hillary Clinton, Senator New York, saat konvensi Partai Demokrat. Kini dia menang atas John McCain dari Partai Republik dalam pemilihan 4 November. Saat pertarungannya dengan Hillary, Obama mengantongi dana 38 juta dollar AS selama kampanye dan hanya berutang 2 juta dollar AS. Adapun Hillary hanya memperoleh 6 juta dollar AS dan utangnya untuk kampanye membengkak 21 juta dollar AS.


Mengapa? Padahal, Hillary memiliki nama besar dan popularitas. Obama memanfaatkan internet. Obama memperoleh sumbangan dana kampanye lewat online hanya 5 dollar AS per orang, tetapi disumbang oleh jutaan orang.



Hillary masih menggunakan pola lama berkampanye, termasuk mencari dana. Hillary melupakan faktor kunci dalam dunia baru politik di AS, yaitu jejaring sosial. Ibaratnya, Hillary masih menggunakan AOL, Obama sudah memanfaatkan jejaring sosial Facebook. Hillary masih PC, Obama sudah sebuah Mac.



Jejaring sosial



Menguasai komunikasi publik memang salah satu kunci kemenangan. Franklin Delano Roosevelt menggunakan radio dan John F Kennedy memanfaatkan televisi untuk menggapai kemenangan. Kini Barack Obama menggunakan internet sebagai media sosial, menyapa masyarakat akar rumput melalui teknologi komunikasi yang berkembang amat pesat. Cek di Facebook, banyak ditemukan grup pendukung Obama.



Namun, Obama bukan politisi Amerika pertama yang memanfaatkan jejaring sosial untuk menuju kursi kepresidenan. Howard Dean menggunakan Meetup.com saat nominasi Partai Demokrat dalam pemilihan presiden tahun 2004. Dean saat ini berhasil mengumpulkan 27 juta dollar AS melalui online.



Pakar komunikasi Phil Noble, seperti dilansir BBC, menyebutkan, Obama meraih hampir satu miliar dollar AS selama kampanye tahun 2008. Jumlah ini 12 kali lebih banyak dibandingkan dengan perolehan John Kerry, yang juga memperoleh dana kampanye lewat cara yang sama tahun 2004.



Yang pasti, Obama dan tim suksesnya betul-betul memanfaatkan internet sebagai alat menuju kemenangan. Hal ini tidaklah heran karena di AS sebesar 71,9 persen atau 218,3 juta dari 303,8 juta penduduknya menggunakan internet (catatan InternetWorldStats hingga November 2007). Bahkan, internet telah menjadi bagian utama kehidupan politik Amerika.



Sampai akhir Oktober lalu, Obama memiliki lebih dari 1,7 juta sahabat di Facebook, beberapa di antaranya warga negara Indonesia, dan 510.000 teman di MySpace. Sebaliknya, McCain punya 309.000 teman di Facebook dan 88.000 di MySpace. Mengapa jumlah sahabat McCain di jejaring sosial lebih sedikit, ini bisa jadi karena faktor usia. McCain yang berusia 72 tahun kurang diminati penggemar Facebook dan MySpace yang sebagian besar kaum muda.



Di jejaring sosial Twitter, Obama memiliki lebih dari 45.000 pengikut. Semua aktivitasnya diinformasikan melalui jejaring sosial tersebut langsung kepada sahabat-sahabatnya. Jutaan orang di dunia, tidak hanya di Amerika, dapat menyaksikan pidato Obama melalui You Tube. Obama juga memiliki blog pribadi, mengajak pendukungnya berperan serta dalam pengumpulan dana melalui online.



Tidak seperti pesaingnya, McCain, Obama menulis surat elektronik (e-mail) pribadinya dan menciptakan video-video eksklusif untuk pendukung online-nya.



Yang juga menarik, video musik Yes We Can yang ditayangkan di You Tube, dengan bintang tamu antara lain Jesse Dylan, Will.i.am, Common, Scarlett Johansson, Tatyana Ali, John Legend, Herbie Hancock, Kate Walsh, Kareem Abdul Jabbar, Adam Rodriguez, Kelly Hu, Amber Valetta, Eric Balfour, Aisha Tyler, Nicole Scherzinger, dan Nick Cannon, dalam dua hari setelah dirilis diklik 698.934 kali.



Phil Noble menyebutkan, dua juta pendukung Obama bertindak sebagai sukarelawan selama masa kampanye, itu kunci penting kemenangan bersejarah ini. Profesor Thomas Patterson dari Universitas Harvard, Inggris, memperkirakan, popularitas Obama dalam jejaring sosial menarik para pemilih muda dan kalangan terdidik Amerika.



Obama dan tim suksesnya telah mengubah cara politisi menarik publik Amerika, termasuk mengumpulkan dana kampanye melalui online. Obama telah memindahkan politik kepresidenan masuk ke abad digital.


Sumber: Kompas.Cetak, Kamis, 6 November 2008

Rabu, 05 November 2008

Mengajar Kelas Akselerasi

Terus terang mengajar kelas akselerasi itu enak. Saya biasa menyebutnya kelas aksel. Kelas berkumpulnya anak cerdas dan berbakat. Perlu penanganan yang profesional untuk dapat berinteraksi dengan mereka. Kalau sampai salah penangannya bisa bahaya.

Tipe mereka adalah tipe anak yang haus akan ilmu. Guru harus dapat merangsang mereka belajar secara aktif dan menyenangkan. Bukan itu saja, guru juga harus terus belajar memahami apa yang mereka inginkan. Sebab, bila tidak paham justru guru akan dikritik oleh mereka. Guru harus sering melakukan feedback (umpan balik) dalam pembelajarannya agar tujuan yang direncanakan berjalan dengan baik.

Awalnya saya merasa kesulitan mengajar di kelas aksel. Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya akhirnya dapat juga menemukan strategi yang tepat dalam berinteraksi dengan mereka. Tentu saja itu semua melalui proses yang cukup panjang.

Anak aksel pada dasarnya adalah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa. Guru harus membuat pembelajaran yang mengundang agar kecerdasan mereka menjadi lebih terasah. Kemampuan berpikir tingkat tinggi (metacognition) harus terus diberikan kepada mereka.

Melalui kegiatan Problem Basic Learning (PBL) mereka dilatih untuk memecahkan masalah yang terjadi. Untuk pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), saya biasanya lebih sering menugaskan mereka untuk selalu menulis di blog yang mereka buat. Mereka harus terbiasa menulis agar dapat berbagi dengan yang lain. Dengan banyak menulis akan terlihat kualitas mereka dalam memahami setiap persoalan atau masalah. Selain itu, mereka bisa mengembangkan kreativitasnya dalam menulis.

Semoga saya dapat terus menemukan cara-cara baru dalam mengajar kelas aksel. Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) saya akan terus meneliti di kelas aksel agar kualitas dan mutu lulusan kelas aksel di SMP Labschool Jakarta menjadi semakin baik.

Minggu, 02 November 2008

Bermain ke Rumah Pak Aristo Hadi Sutopo


Minggu sore saya berkunjung ke rumah penulis terkenal di bidang disain grafis, khususnya Flash, Bapak Ariesto Hadi Sutopo. Rumahnya kebetulan dekat dengan rumah saya di Jatibening, yaitu di Jatikramat Estate. Wah seru juga ngobrol dengan beliau. Banyak sekali buku yang sudah dibuat oleh beliau. Selain mengajar di berbagai perguruan tinggi terkenal seperti UMN, YAI, dan ITB, beliau juga akan menyeleaikan Doktor (S3-nya) di UNJ jurusan Teknologi Pendidikan.

Ngobrol dengan beliau seperti mendapatkan ilmu pengetahuan langka dan menyulut saya sebagai orang muda untuk senantiasa belajar sepanjang hayat. Saya jadi termotivasi untuk terus memperdalam Flash. Saya pikir, awalnya Flash hanya sekedar untuk media presentasi dan pembuatan animasi saja, tapi ternyata Flash bisa lebih dari itu. '
Kalau kalian mau dapat ilmunya, silahkan mengunjungi http://www.topazart.info di internet. Selamat belajar Flash, dan sukses selalu buat pak Hadi yang lebih dikenal di dunia maya dengan Topaz.

Selamat datang di Blog Omjay

Selamat datang di Blog Omjay.


http://www.youtube.com/watch?v=4Z3hH6GtcZM

Jumat, 31 Oktober 2008

Berkunjung ke SMP-SMA Labschool Kebayoran


Setelah sholat Jumat, saya berkunjung ke Labschool Kebayoran. Sudah banyak perubahan yang saya lihat. Terutama ruang komputer SMP- SMA yang cukup bagus dan terawat rapih.

Di Kebayoran saya bertemu dengan Pak Hasyim, Bu Selma, Pak Budi, dan Pak Victor. Mereka sedang asyik bermain games bola. Ternyata games membuat orang itu sehat. Buktinya mereka asyik banget bermain games bola.

Pak Hasyim dan bu Shelma sedang asyik belajar toefl. Semoga Lulus ya bahasa Inggrisnya. Tak terduga saya juga bertemu dengan Pak Sony dari Indosat yang ternyata orang tua siswa di Labschool Kebayoran.
Wah, enak juga sekolah di Labschool Kebayoran, tempaknya sejuk dan udaranya segar dan suasananya yang asri membuat kita betah berlama-lama di sana. Ada yang sudah pernah ke sana???

Rabu, 29 Oktober 2008

Mengapa Siswa Lebih Senang Bermain Games?

Setiap kali pelajaran TIK akan berlangsung, anak-anak di SMP Labschool Jakarta selalu minta waktu untuk bermain games. Alasannya singkat, rileks sebentar dulu pak!.

Lalu kemudian mereka dengan asyiknya bermain games di komputer. Mulai dari games cara memasak makanan, sampai balap-balapan mobil. Pokoknya mereka enjoy banget dengan beraneka ragam games yang mereka install sendiri. Kayaknya kalau ada gunung meletus, mereka nggak bakal denger tuch!.

Selidik punya selidik, dan saya tanyakan langsung pada anak-anak kenapa mereka senang bermain games?.

Jawabannya beragam, tapi intinya karena games itu menarik mereka untuk berperan aktif di dalamnya. Mereka menjadi pelaku utama dan penentu kemenangan. Tak ada yang sanggup menghalangi mereka karena niat yang begitu kuat untuk mendapat score yang tinggi. Games telah membuat pembelajaran yang mengundang. Mengundang mereka dengan suasana asyik dan menyenangkan. Tak peduli banyaknya tugas sekolah yang datang setelah ini, yang penting mereka enjoy dan rileks dulu.

Nampaknya para pendidik dituntut untuk membuat media pembelajaran seperti games, yang dapat membuat anak, belajar sambil bermain, dan bermain sambil belajar. Bagaimana yach caranya? Ada yang bisa kasih komentar ???

Jumat, 24 Oktober 2008

Hebatnya Laskar Pelangi

Hari ini saya menonton kembali film Laskar Pelangi untuk yang kelima kalinya. Kali ini saya menonton bersama dengan guru-guru SMP Labschool Jakarta. Wah seru dan sangat menyentuh. Walaupun saya sudah nonton sampai 5 kali, tapi saya merasa selalu mendapatkan hal-hal baru setelah menonton film ini, seperti:

  1. Terbatasnya murid tak membuat guru menjadi resah dan gelisah
  2. Biaya operasional sekolah yang lebih besar dari pada pemasukannya tidak membuat guru lantas pasarah dabn menutup sekolahnya
  3. Sekolah yang memiliki dasar budi pekerti dalam menegakkan akhlaqul karimah
  4. Kecerdasan tidak diukur dari nilai-nilai pelajaran tapi dengan hati.
  5. Dengan fasilitas apa adanya ternyata sekolah miskin juga bisa unggul
  6. Pantang menyerah, dan beranilah bermimpi
  7. Dua piala yang diperoleh dari karnaval dan cerdas cermat adalah simbol bersatunya kegiatan ekstrakurikuler dan intrakurikuler.
  8. Bersyukurlah pada yang Maha Kuasa, karena sekolah kita ternyata jauh lebih baik daripada sekolah SD Muhammadiyah Gantong.

Itulah beberapa hikmah yang saya dapatkan kembali dari film Laskar pelangi. Ada yang mau memberikan tambahan komentar???

Mempersenjatai anak dengan Doa

Dalam salah satu hadits disebutkan, “Doa adalah senjatanya orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” Betapa doa sangat penting bagi seorang mukmin. Doa bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi yang menggunakannya. Sebagaimana kegunaan senjata di dalam peperangan.

Doa merupakan rahmat dan anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Dengan doa inilah kita bisa meminta, mengadu, dan menghantarkan orang beriman menuju ampunan dan surga-Nya di akhirat kelak.

Melalui doa, seorang mukmin bisa terhindar dari segala bahaya, mendapat keberkahan, kemudahan, kesuksesan, dan kebaikan-kebaikan lain sesuai dengan permohonannya kepada Allah.

Dalam salah satu hadits dikisahkan bahwa di akhirat kelak akan ada seorang yang mendapatkan derajat yang tinggi di surga, sehingga ia sendiri tidak mempercayainya. Lalu ia bertanya, “Apa penyebabnya sehingga saya mendapatkan kemuliaan seperti ini?” Lalu diberitahukan kepadanya, bahwa ia mendapatkan kemuliaan tersebut disebabkan oleh anaknya yang selalu memintakan ampunan (istigfar) untuknya.

Subhanallah, sangat beruntung apabila kita memiliki anak yang selalu berdoa untuk dirinya, orangtua, saudara, dan kaum muslimin. Sebab, doa menjadi salah satu sebab yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Selengkapnya:
http://qultummedia.com/Mempersenjatai-Anak-dengan-Doa.html

Kamis, 16 Oktober 2008

Hiduplah dengan Memberi Sebanyak-banyaknya

Malam ini saya menonton film Laskar Pelangi untuk yang keempat kalinya. Kali ini saya ditemani oleh Pak Pintar, Guru Fisika SMA Labschool Jakarta, dan Pak Andri Petugas Foto Copy Labschool Jakarta.

Walaupun sudah yang keempat kalinya menonton film ini, saya merasakan sebuah semangat yang tak pernah habis dari para guru, khususnya Pak Harfan dan Ibu Muslimah yang baik itu.

Satu-satunya pesan pak Harfan yang selalu saya ingat adalah Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Pesan ini sama artinya dengan tangan di atas lebih mulia daripada tangan dibawah.

Terima kasih pak Harfan. Bapak telah memberikan pesan singkat yang mendalam dalam film ini. Pesan bapak mengingatkan saya ketika berfoto bersama dengan ibu Walikota Jakarta Pusat (Ibu Sylviana Murni) dan Bapak Tahir dari Toshiba (PT. Aneka Infokom) yang juga pernah memberikan pesan yang sama pada waktu seminar Nasional ICT di UNJ.
Semoga film ini memberikan semangat agar pendidikan kita menjadi lebih maju lagi, terutama di desa-desa terpencil. Jangan menyerah dan putus asa, walaupun fasilitas apa adanya.

Film Sang Murabbi


Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah, karena pada hari ini saya mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa. Hadiah itu bukan berupa uang atau bingkisan parsel lebaran tetapi sebuah DVD film Sang Murabbi yang diberikan oleh murid saya bernama Adrio Faresi.

Ternyata Adrio adalah anak dari Ibu Astri Ivo, seorang artis terkenal yang dalam film ini menjadi pemeran istri Ust. Rahmat Abdullah.


Terima kasih atas pemberian DVD-nya. Film ini begitu memberi saya semangat untuk terus menjadi guru. Guru yang ideal, yang selalu didambakan oleh para murid-muridnya.