Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 06 Juni 2026

Belajar Pantun di KBMN PGRI

Belajar Pantun Bersama KBMN 34: Ketika Omjay Kembali Jatuh Cinta pada Pantun

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Malam itu, seperti biasa, Omjay membuka grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34. Satu per satu peserta mulai mengumpulkan resume hasil belajar mereka dari pertemuan ke-20. Tema yang dibahas kali ini terasa berbeda dibandingkan tema-tema sebelumnya. Jika biasanya peserta belajar menulis artikel, buku, blog, atau memanfaatkan AI untuk menulis, kali ini mereka diajak kembali mengenal salah satu warisan budaya bangsa yang sangat kaya makna, yaitu pantun.

Ketika membaca daftar resume yang masuk, hati Omjay terasa hangat. Ada tulisan dari Hayatunnufus dengan judul Saatnya Jatuh Cinta pada Pantun, Sa’diyah dengan tulisan Kaidah Pantun, Hanifah dengan Pantun Oh Pantun, dan Anis Solihah yang menulis Membuka Mata Melalui Pantun.

Keempat tulisan itu memiliki gaya yang berbeda, tetapi menyampaikan pesan yang sama: pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, melainkan warisan budaya yang sarat nilai, nasihat, kreativitas, dan pendidikan karakter.

Saat membaca resume-resume tersebut dalam perjalanan menuju sekolah menggunakan kereta LRT dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas, Omjay tersenyum sendiri. Ingatan masa kecil kembali hadir. Dulu, ketika Omjay masih duduk di bangku sekolah dasar, pantun sering menjadi bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia. Guru meminta murid membuat pantun nasihat, pantun jenaka, atau pantun persahabatan.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman, pantun mulai jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak lebih akrab dengan media sosial, video pendek, dan berbagai bentuk komunikasi instan. Padahal, pantun memiliki kekuatan luar biasa untuk melatih kreativitas berbahasa.

Tulisan Hayatunnufus mengajak pembacanya untuk kembali jatuh cinta pada pantun. Menurutnya, pantun bukan hanya milik masa lalu. Pantun tetap relevan digunakan saat ini karena mampu menyampaikan pesan dengan cara yang santun, indah, dan menyenangkan. Omjay sangat setuju dengan pendapat tersebut.

Di tengah maraknya komentar kasar di media sosial, pantun justru mengajarkan cara berkomunikasi dengan penuh etika. Kritik bisa disampaikan melalui pantun. Nasihat bisa diberikan melalui pantun. Bahkan ungkapan kasih sayang pun dapat dibungkus dengan pantun yang menarik.

Sementara itu, Sa’diyah mengingatkan pentingnya memahami kaidah pantun. Pantun memiliki aturan yang khas, yaitu terdiri atas empat baris, bersajak a-b-a-b, memiliki sampiran dan isi, serta jumlah suku kata yang relatif seimbang.

Melalui tulisannya, Omjay kembali menyadari bahwa menulis pantun sebenarnya melatih kemampuan berpikir sistematis. Kita tidak hanya menyusun kata-kata yang indah, tetapi juga harus memperhatikan struktur, irama, dan makna.

Dalam dunia pendidikan modern yang menekankan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, pantun ternyata memiliki peran yang sangat penting.

Tulisan Hanifah yang berjudul Pantun Oh Pantun membawa Omjay pada kesadaran lain. Pantun memiliki daya tarik karena sifatnya yang ringan dan menyenangkan. Banyak orang merasa takut menulis artikel panjang, tetapi mereka lebih percaya diri ketika diminta membuat pantun.

Dari sebuah pantun sederhana, seseorang dapat mulai belajar menulis. Ia belajar memilih kata yang tepat. Ia belajar menyusun kalimat yang efektif. Ia belajar menyampaikan pesan secara ringkas namun bermakna.

Omjay teringat perjalanan panjangnya sebagai penulis. Semua penulis besar memulai langkah dari tulisan-tulisan sederhana. Tidak ada yang langsung mampu menulis buku tebal dalam semalam. Semuanya berawal dari keberanian merangkai kata demi kata.

Karena itu, pantun dapat menjadi pintu masuk yang menyenangkan bagi siapa saja yang ingin belajar menulis.

Tulisan Anis Solihah yang berjudul Membuka Mata Melalui Pantun memberikan perspektif yang menarik. Pantun tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan refleksi kehidupan.

Sejak zaman dahulu, masyarakat Indonesia menggunakan pantun untuk menyampaikan pesan moral. Melalui pantun, orang tua mengajarkan sopan santun kepada anak-anak. Melalui pantun, para tokoh masyarakat menyampaikan petuah kepada generasi muda.

Pantun menjadi media pendidikan karakter yang sangat efektif karena pesannya disampaikan secara halus dan mudah diingat.

Semakin lama membaca resume para peserta KBMN, semakin Omjay yakin bahwa pantun masih memiliki tempat penting di era digital.

Bahkan di tengah hadirnya kecerdasan buatan (AI), pantun tetap membutuhkan sentuhan rasa manusia. AI mungkin mampu membuat pantun dengan cepat, tetapi hanya manusia yang mampu memberikan pengalaman hidup, emosi, dan makna mendalam di balik setiap bait pantun.

Karena itulah Omjay selalu mengatakan bahwa teknologi boleh berkembang, tetapi budaya jangan sampai hilang.

Pantun adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia. Jika generasi muda berhenti mengenalnya, maka kita kehilangan salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga.

Melalui KBMN PGRI Gelombang 34, para peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga ikut melestarikan budaya literasi bangsa.

Malam itu Omjay menutup layar ponselnya dengan hati yang bahagia. Resume-resume yang dikirim peserta bukan sekadar tugas. Di dalamnya tersimpan semangat belajar, kecintaan terhadap budaya, dan tekad untuk terus berkembang menjadi penulis yang lebih baik.

Omjay percaya, siapa pun yang terus belajar menulis akan menemukan jalan menuju kesuksesan. Dan siapa pun yang mencintai pantun berarti ikut menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup di tengah derasnya arus zaman.

Sebelum turun dari kereta, Omjay pun tersenyum sambil membuat sebuah pantun sederhana:

Pergi ke pasar membeli ketan,
Pulangnya singgah membeli durian.
Belajar pantun menambah wawasan,
Melestarikan budaya untuk masa depan.

Selamat kepada seluruh peserta KBMN 34 yang telah menulis resume pertemuan ke-20. Teruslah menulis, teruslah belajar, dan teruslah berkarya. Sebab, seperti yang selalu Omjay yakini, tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya menuju hati pembaca.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

2 komentar:

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.