Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 03 Juni 2026

Kenangan Seminar Guru TIK

Ketika Guru TIK Menyambut Lahirnya Mata Pelajaran Informatika

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali mengingatkan saya pada sebuah peristiwa penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Sebuah momen yang mungkin tidak banyak diketahui orang, tetapi memiliki arti sangat besar bagi para guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di seluruh Indonesia.

Di dalam foto tersebut tampak para guru TIK berdiri bersama penuh semangat dalam sebuah kegiatan bertajuk “Seminar Nasional Guru Informatika: Penguatan Guru TIK dalam Menyambut Mata Pelajaran Informatika.”

Di belakang para peserta terpampang spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang kepada peserta seminar nasional. Wajah-wajah yang hadir saat itu memancarkan harapan. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama: memperjuangkan agar kompetensi guru TIK tetap dibutuhkan dan menjadi bagian penting dalam masa depan pendidikan Indonesia.

Saat itu, dunia pendidikan sedang berada pada persimpangan jalan. Mata pelajaran TIK yang pernah diajarkan di sekolah mengalami berbagai dinamika kebijakan. Banyak guru TIK merasa cemas. Mereka bertanya-tanya tentang masa depan profesinya.

Namun di tengah kegelisahan tersebut, secercah harapan muncul.

Pemerintah mulai menggagas lahirnya mata pelajaran Informatika, sebuah bidang ilmu yang lebih luas daripada sekadar penggunaan komputer. Informatika mengajarkan cara berpikir komputasional, pemrograman, analisis data, kecerdasan buatan, hingga literasi digital yang kini menjadi kebutuhan abad ke-21.

Sebagai guru yang sejak lama mengajar bidang teknologi, saya merasakan betul bagaimana suasana hati para guru ketika itu.

Ada rasa khawatir.

Ada rasa tidak pasti.

Tetapi juga ada semangat untuk belajar kembali.

Karena seorang guru sejati tidak pernah berhenti belajar.

Seminar nasional yang terekam dalam foto tersebut menjadi salah satu momentum bersejarah. Kegiatan itu dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., yang sejak lama dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa guru harus menjadi aktor utama perubahan pendidikan dan harus siap menghadapi transformasi digital.

Kehadiran Prof. Unifah memberikan energi baru bagi para guru TIK.

Beliau memahami bahwa perubahan kurikulum tidak boleh membuat guru kehilangan harapan. Sebaliknya, perubahan harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas wawasan.

Di seminar tersebut para guru diajak melihat masa depan pendidikan dengan lebih optimis.

Bahwa teknologi bukan ancaman.

Bahwa digitalisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Bahwa guru tetap menjadi faktor utama keberhasilan pendidikan.

Selain dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, kegiatan tersebut juga mendapat kehormatan dengan hadirnya Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia saat itu, Rudiantara. Kehadiran beliau menjadi simbol kuat bahwa penguatan literasi digital harus dimulai dari sekolah dan guru memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi Indonesia menghadapi era digital. Seminar tersebut juga mendorong guru Informatika untuk membekali peserta didik dengan kemampuan literasi digital yang baik.

Saya masih ingat suasana ruangan saat itu.

Para peserta mendengarkan dengan penuh perhatian.

Mereka sadar bahwa dunia sedang berubah dengan sangat cepat.

Internet berkembang pesat.

Media sosial mulai mendominasi kehidupan masyarakat.

Big data, cloud computing, dan kecerdasan buatan mulai diperbincangkan.

Anak-anak yang duduk di bangku sekolah saat itu kelak akan hidup di dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Karena itulah guru harus berubah.

Guru harus belajar lagi.

Guru harus meningkatkan kompetensinya.

Di sinilah peran seminar nasional tersebut menjadi sangat penting.

Bukan sekadar acara seremonial.

Bukan hanya kumpul-kumpul guru.

Tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk mempersiapkan masa depan.

Saya melihat banyak guru yang awalnya khawatir justru pulang dengan penuh semangat.

Mereka mulai mengikuti pelatihan coding.

Belajar pemrograman.

Memahami computational thinking.

Belajar kecerdasan buatan.

Belajar keamanan siber.

Belajar literasi digital.

Bahkan banyak yang kemudian menjadi pelopor pembelajaran Informatika di sekolah masing-masing.

Hari ini, ketika mata pelajaran Informatika telah menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Indonesia, saya sering mengenang kembali momen yang ada dalam foto tersebut.

Foto itu bukan sekadar gambar.

Foto itu adalah saksi sejarah.

Saksi perjuangan para guru yang tidak menyerah pada perubahan.

Saksi bahwa guru Indonesia memiliki daya juang luar biasa.

Saksi bahwa ketika diberi kesempatan belajar, guru Indonesia mampu berkembang dengan sangat cepat.

Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasa bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.

Perjalanan yang mengajarkan bahwa perubahan tidak bisa dihindari.

Tetapi perubahan bisa dihadapi.

Bahkan perubahan bisa menjadi peluang besar jika kita mau belajar.

Kini kita memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Tantangan baru kembali muncul. Banyak guru bertanya apakah AI akan menggantikan guru.

Jawabannya tidak.

AI tidak akan menggantikan guru.

Tetapi guru yang mampu memanfaatkan AI akan menggantikan guru yang tidak mau belajar.

Pesan itulah yang sesungguhnya telah diajarkan sejak seminar nasional dalam foto tersebut.

Bahwa kompetensi harus terus diperbarui.

Bahwa belajar tidak mengenal usia.

Bahwa guru harus selalu berada di garis depan perubahan.

Ketika saya memandang foto lama itu, hati saya terasa hangat.

Saya melihat bukan hanya wajah-wajah guru.

Saya melihat pejuang pendidikan.

Saya melihat orang-orang yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempersiapkan masa depan anak bangsa.

Dan saya percaya, selama masih ada guru yang mau belajar, Indonesia akan selalu memiliki harapan.

Karena di balik setiap kemajuan teknologi, tetap ada seorang guru yang mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak.

Di balik setiap kecerdasan buatan, tetap ada guru yang menanamkan nilai kemanusiaan.

Dan di balik setiap generasi hebat, selalu ada guru yang tidak pernah berhenti belajar.

Terima kasih para guru TIK.

Terima kasih para guru Informatika.

**Kalian bukan sekadar mengajarkan teknologi. Kalian sedang membangun masa depan Indonesia.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.