Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 01 Juni 2026

Kesaktian Pancasila itu Nyata

Kesaktian Pancasila Itu Nyata

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay duduk di teras rumahnya di Jatibening, Bekasi. Segelas teh hangat menemani renungan pagi sebelum memulai berbagai aktivitas. Matahari baru saja menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Burung-burung kecil beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya. Suasana pagi yang tenang membuat hati Omjay larut dalam rasa syukur.

Di atas meja kecil di sampingnya terletak sebuah buku sejarah bangsa Indonesia yang sudah beberapa kali dibaca. Halaman-halamannya mulai menguning, tetapi pesan yang tersimpan di dalamnya tetap terasa hidup dan relevan hingga hari ini. Sambil menikmati hangatnya teh, Omjay membuka lembar demi lembar buku tersebut. Pikirannya kemudian melayang jauh ke masa lalu, kepada perjalanan panjang bangsa Indonesia yang penuh perjuangan, pengorbanan, dan ujian berat.

Saat itulah Omjay kembali merenungkan sebuah pertanyaan sederhana.

Mengapa sampai hari ini Indonesia masih berdiri kokoh?

Padahal bangsa ini terdiri atas ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ratusan suku bangsa hidup berdampingan. Beragam bahasa daerah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai agama dan kepercayaan tumbuh dan berkembang di negeri ini. Budaya yang berbeda-beda mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun hingga hari ini Indonesia tetap berdiri sebagai satu bangsa.

Jawaban yang muncul di hati Omjay hanya satu.

Karena Pancasila.

Ya, kesaktian Pancasila itu nyata.

Bukan sekadar slogan yang diucapkan saat upacara.

Bukan hanya tulisan yang terpajang di dinding sekolah.

Bukan pula sekadar hafalan lima sila yang diingat saat pelajaran Pendidikan Pancasila.

Kesaktian Pancasila nyata dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

Ketika Bangsa Ini Hampir Terpecah

Omjay teringat kembali pelajaran sejarah yang dahulu diajarkan kepada murid-muridnya di kelas.

Indonesia pernah menghadapi berbagai ancaman yang dapat memecah belah bangsa.

Pemberontakan terjadi di berbagai daerah.

Konflik ideologi pernah menguji persatuan nasional.

Krisis ekonomi pernah mengguncang kehidupan masyarakat.

Bahkan pernah ada upaya untuk mengganti dasar negara yang telah disepakati para pendiri bangsa.

Namun semua itu berhasil dilalui.

Bangsa Indonesia tetap berdiri.

Merah Putih tetap berkibar.

Mengapa?

Karena bangsa ini memiliki fondasi yang kokoh.

Fondasi itu bernama Pancasila.

Pancasila bukan milik satu golongan.

Bukan milik satu agama.

Bukan milik satu suku.

Pancasila adalah rumah besar yang dibangun untuk seluruh rakyat Indonesia.

Di dalam rumah besar itu semua mendapat tempat yang sama.

Yang berbeda agama dapat hidup berdampingan.

Yang berbeda suku dapat saling menghormati.

Yang berbeda pandangan politik tetap bisa bekerja sama demi kepentingan bangsa.

Inilah kesaktian Pancasila yang sesungguhnya.

Kesaktian yang Tidak Terlihat

Ketika mendengar kata "sakti", sebagian orang membayangkan kekuatan luar biasa yang mampu mengalahkan musuh dengan mudah.

Namun kesaktian Pancasila bukan seperti itu.

Kesaktian Pancasila justru hadir dalam hal-hal sederhana yang sering tidak kita sadari.

Saat tetangga yang berbeda agama saling membantu ketika ada musibah.

Saat warga bergotong royong membersihkan lingkungan.

Saat masyarakat bersama-sama membangun fasilitas umum tanpa memandang latar belakang.

Saat guru mengajar semua murid dengan kasih sayang tanpa membeda-bedakan.

Saat itulah Pancasila sedang bekerja.

Diam-diam.

Tanpa suara.

Namun dampaknya nyata.

Omjay pernah menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat Indonesia menjaga nilai-nilai tersebut.

Ketika ada tetangga yang sakit, warga berdatangan memberikan bantuan.

Ketika ada keluarga yang berduka, semua ikut membantu meskipun berbeda agama dan suku.

Ketika ada kegiatan lingkungan, semua warga hadir dengan semangat kebersamaan.

Tidak ada yang bertanya siapa agamanya.

Tidak ada yang mempersoalkan dari suku mana ia berasal.

Yang ada hanyalah rasa kemanusiaan.

Bukankah itulah makna sila kedua?

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Pelajaran dari Dunia Pendidikan

Sebagai guru yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, Omjay melihat sendiri bagaimana Pancasila hidup di lingkungan sekolah.

Di SMP Labschool Jakarta, murid-murid datang dari berbagai latar belakang keluarga, budaya, dan daerah.

Ada yang berasal dari Jawa.

Sunda.

Betawi.

Batak.

Minang.

Bugis.

Dan banyak suku lainnya.

Namun ketika mereka belajar bersama, bermain bersama, dan mengerjakan tugas bersama, mereka tidak lagi melihat perbedaan itu sebagai penghalang.

Mereka belajar menghargai satu sama lain.

Mereka belajar bekerja sama.

Mereka belajar menjadi bagian dari Indonesia.

Melihat hal itu, Omjay semakin yakin bahwa kesaktian Pancasila bukan cerita masa lalu.

Kesaktian Pancasila masih hidup hingga hari ini.

Di ruang kelas.

Di lapangan sekolah.

Di lingkungan masyarakat.

Dan di mana pun nilai persatuan dijaga.

Tantangan Zaman Digital

Namun Omjay juga menyadari bahwa zaman terus berubah.

Kini masyarakat hidup di era digital.

Informasi bergerak sangat cepat.

Media sosial dapat menjadi sarana belajar yang luar biasa.

Tetapi media sosial juga dapat menjadi sumber perpecahan jika digunakan tanpa bijak.

Hoaks menyebar dengan mudah.

Fitnah beredar tanpa batas.

Kebencian sering kali lebih cepat viral dibandingkan kebaikan.

Banyak orang mudah terpancing emosi hanya karena membaca sebuah unggahan.

Padahal bangsa ini dibangun bukan oleh kebencian.

Bangsa ini dibangun oleh semangat persatuan.

Karena itu Omjay selalu mengingatkan murid-muridnya untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Jangan mudah percaya informasi yang belum jelas kebenarannya.

Jangan mudah menyebarkan berita yang dapat memecah belah masyarakat.

Jangan menggunakan media sosial untuk menebar kebencian.

Gunakan teknologi untuk memperkuat persaudaraan dan memperluas manfaat.

Karena kesaktian Pancasila akan tetap hidup selama generasi mudanya menjaga nilai-nilai tersebut.

Kesaktian yang Harus Dirawat

Sambil menghabiskan teh hangat yang mulai mendingin, Omjay memandang langit pagi yang semakin terang.

Tiba-tiba sebuah pelajaran sederhana muncul dalam pikirannya.

Tanaman yang subur tidak akan menghasilkan buah jika tidak dirawat.

Begitu pula Pancasila.

Kesaktiannya tidak akan terasa jika hanya dihafalkan.

Kesaktiannya harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Menghormati orang lain.

Bersikap jujur.

Menolong sesama.

Bekerja keras.

Bergotong royong.

Menjaga persatuan.

Mencintai tanah air.

Semua itu adalah cara merawat kesaktian Pancasila.

Jika nilai-nilai tersebut terus hidup dalam hati rakyat Indonesia, maka Pancasila akan tetap menjadi benteng yang menjaga bangsa ini dari berbagai ancaman.

Pesan Omjay

Menjelang siang, segelas teh hangat di meja Omjay telah habis. Namun renungannya tentang Pancasila masih terus mengalir.

Omjay semakin yakin bahwa kesaktian Pancasila bukanlah mitos.

Kesaktian Pancasila adalah kemampuan luar biasa untuk menyatukan jutaan manusia yang berbeda dalam satu bangsa bernama Indonesia.

Kesaktian Pancasila adalah kekuatan yang membuat masyarakat tetap saling menghormati di tengah keberagaman.

Kesaktian Pancasila adalah semangat yang membuat Indonesia tetap tegak berdiri meskipun berkali-kali diterpa badai sejarah.

Karena itu, jangan hanya memperingati Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober.

Hidupkanlah nilai-nilainya setiap hari.

Di rumah.

Di sekolah.

Di tempat kerja.

Di media sosial.

Dan di mana pun kita berada.

Sebab selama nilai-nilai Pancasila hidup di hati rakyat Indonesia, selama itu pula kesaktiannya akan tetap nyata.

Dan Omjay percaya, bangsa yang menjaga Pancasila dengan hati akan selalu menemukan jalan untuk bangkit, bersatu, dan maju menuju masa depan yang lebih baik.

Pancasila bukan sekadar dasar negara. Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia. Selama jiwa itu hidup dalam diri setiap warga negara, Indonesia akan tetap kokoh berdiri menghadapi zaman.

Salam Literasi. Salam Pancasila. Merdeka! 🇮🇩

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.