Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 05 Juni 2026

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Judul Buku: Labschool Rumah Keduaku
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Penerbit: Labschool UNJ
Tebal: 190 halaman
Genre: Pendidikan, Inspirasi, Memoar Pendidikan

Ketika Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar

Ada banyak buku tentang pendidikan yang berbicara mengenai kurikulum, metode pembelajaran, atau teori pendidikan. Namun, buku Labschool Rumah Keduaku karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab disapa Omjay menghadirkan sesuatu yang berbeda. Buku ini tidak hanya membahas pendidikan sebagai sebuah sistem, tetapi menghadirkan pendidikan sebagai pengalaman hidup yang penuh makna.

Sejak membaca halaman-halaman awal buku ini, pembaca akan langsung merasakan kedekatan emosional penulis dengan Labschool. Bagi Omjay, Labschool bukan sekadar tempat bekerja selama puluhan tahun, melainkan rumah kedua yang telah membentuk dirinya sebagai pendidik, penulis, sekaligus manusia yang terus belajar sepanjang hayat.

Kalimat yang menjadi ruh buku ini sangat kuat:

"Di Labschool, kita tidak hanya belajar untuk hidup, tetapi belajar bagaimana menjalani hidup dengan penuh makna."

Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar terasa dalam setiap bab buku.

Mengangkat Wajah Humanis Pendidikan

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilannya menggambarkan sekolah sebagai rumah kedua. Di tengah dunia pendidikan yang sering kali terjebak pada angka, ranking, dan capaian akademik, Omjay mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah tentang memanusiakan manusia.

Melalui pengalaman pribadinya selama lebih dari tiga dekade mengabdi di SMP Labschool Jakarta, penulis menunjukkan bahwa hubungan guru dan siswa tidak boleh berhenti pada aktivitas mengajar dan belajar saja. Guru adalah pembimbing, sahabat, bahkan orang tua kedua bagi peserta didik.

Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari tumbuhnya karakter, empati, kejujuran, tanggung jawab, dan semangat belajar dalam diri siswa. Pesan ini terasa sangat relevan di era digital ketika banyak orang lebih fokus pada hasil daripada proses.

Kaya Kisah dan Pengalaman Nyata

Tidak seperti buku pendidikan yang cenderung teoritis, Labschool Rumah Keduaku dipenuhi kisah nyata yang hangat dan membumi.

Penulis menghadirkan berbagai pengalaman tentang:

  • Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)
  • Perkemahan Jumat Sabtu (Perjusa)
  • Studi Apresiasi Kepemimpinan Siswa (SAKSI)
  • SALAM (Studi Amaliah Islam)
  • Pentas Seni
  • Kegiatan ekstrakurikuler
  • Hubungan guru, siswa, dan alumni

Yang menarik, Omjay tidak hanya menuliskan pandangannya sebagai guru. Ia juga menyisipkan tulisan para siswa Labschool yang menceritakan pengalaman mereka tentang sekolah sebagai rumah kedua.

Pendekatan ini membuat buku terasa hidup karena pembaca dapat melihat Labschool dari berbagai sudut pandang.

Kisah-kisah sederhana yang ditampilkan justru menjadi kekuatan terbesar buku ini. Pembaca diajak mengenang masa sekolahnya sendiri, mengingat guru-guru yang pernah membimbingnya, serta menyadari bahwa kenangan sekolah sering kali menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidup seseorang.

Menampilkan Filosofi Pendidikan Labschool

Buku ini juga memberikan gambaran mendalam mengenai sejarah dan filosofi Labschool sebagai sekolah laboratorium yang lahir dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Salah satu bagian yang sangat menarik adalah pembahasan mengenai motto Labschool:

Iman – Ilmu – Amal.

Menurut penulis, ketiga pilar tersebut menjadi fondasi utama pendidikan Labschool:

  • Iman membangun karakter dan moral.
  • Ilmu membentuk kecerdasan dan kemampuan berpikir.
  • Amal mengajarkan pentingnya memberi manfaat bagi sesama.

Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan yang ideal harus mampu menyeimbangkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial.

Di tengah maraknya pendidikan yang hanya mengejar prestasi akademik, filosofi ini terasa sangat relevan dan dibutuhkan.

Relevan dengan Tantangan Zaman

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan mengenai Labschool di era digital. Penulis menjelaskan bagaimana sekolah harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Omjay menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Sentuhan manusia tetap menjadi inti pendidikan.

Pandangan ini sangat penting di era kecerdasan buatan (AI), ketika banyak proses pembelajaran mulai didukung teknologi. Buku ini mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, pendidikan tetap membutuhkan hati, keteladanan, dan hubungan antarmanusia.

Kelebihan Buku

Beberapa kelebihan buku ini antara lain:

1. Bahasa sederhana dan komunikatif

Penulis menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh guru, siswa, orang tua, maupun masyarakat umum.

2. Penuh inspirasi

Setiap bab menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bahan refleksi.

3. Kaya pengalaman nyata

Isi buku berasal dari pengalaman langsung penulis selama puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan.

4. Dokumentasi sejarah yang berharga

Buku ini menjadi catatan penting perjalanan Labschool dan budaya pendidikan yang dibangun di dalamnya.

5. Menghidupkan kembali makna sekolah

Pembaca diajak melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai tempat bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Kekurangan Buku

Sebagai karya yang sangat personal, beberapa bagian buku terasa lebih bersifat dokumentasi pengalaman dibandingkan analisis mendalam. Namun justru di situlah letak keunikannya. Buku ini memang ditulis dari hati seorang guru yang ingin berbagi pengalaman, bukan sebagai kajian akademik yang kaku.

Kesimpulan

Labschool Rumah Keduaku bukan sekadar buku tentang sebuah sekolah. Buku ini adalah surat cinta seorang guru kepada dunia pendidikan.

Melalui tulisan yang hangat dan penuh ketulusan, Omjay berhasil menunjukkan bahwa sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter, berempati, dan siap menghadapi kehidupan.

Buku ini sangat layak dibaca oleh:

  • Guru dan tenaga pendidik
  • Kepala sekolah
  • Mahasiswa pendidikan
  • Orang tua
  • Alumni Labschool
  • Siapa saja yang mencintai dunia pendidikan

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa kenangan terbaik tentang sekolah bukanlah nilai ujian yang tinggi, melainkan guru yang menginspirasi, sahabat yang menemani, dan lingkungan yang membuat kita merasa pulang.

Nilai Resensi: 9/10

"Labschool Rumah Keduaku adalah bukti bahwa sekolah yang hebat bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghangatkan hati."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.