Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 03 Juni 2026

Blog Adalah Tempat Ajaib Mengumpulkan Karya

Menulis sebagai Jalan Karya, Manfaat, dan Jejak Guru Tangguh

Kisah Omjay Membaca Resume Peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18 di LRT Jabodebek

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay berangkat menuju SMP Labschool Jakarta seperti biasa. Dari rumahnya di Jatibening Indah, Bekasi, Omjay berjalan menuju Stasiun Cikunir. Udara pagi terasa sejuk. Matahari baru saja menyembulkan sinarnya dari ufuk timur. Para pekerja, mahasiswa, dan pelajar mulai memadati stasiun untuk memulai aktivitas hari itu.

Tak lama kemudian, LRT Jabodebek yang ditunggu datang. Omjay naik kereta dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas. Seperti biasa, perjalanan pagi dimanfaatkan untuk membaca, belajar, dan menulis. Duduk di dalam kereta yang melaju tenang di atas rel layang, Omjay membuka ponsel dan melihat daftar pengumpulan resume peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18.

Satu per satu tautan blog peserta dibuka.

Ada tulisan dari Hayatunnufus, Imas Masitoh, Anis Solihah, Neng Galih, Atu Maesaroh, Tini Suhartini, Tuti Umyati, dan Annisa. Delapan guru hebat itu telah menuangkan hasil belajar mereka ke dalam blog pribadi masing-masing.

Saat membaca tulisan mereka, hati Omjay terasa hangat.

Di tengah kesibukan mengajar, mengurus keluarga, dan menyelesaikan berbagai tugas sekolah, mereka masih menyempatkan diri menulis. Mereka tidak hanya mengikuti pelatihan. Mereka benar-benar mempraktikkan apa yang dipelajari.

Kereta terus melaju membelah hiruk-pikuk Jakarta. Dari balik jendela tampak gedung-gedung tinggi berdiri megah. Namun perhatian Omjay tertuju pada tulisan para peserta.

Setiap resume dibaca dengan penuh perhatian.

Setiap paragraf menunjukkan semangat belajar yang luar biasa.

Dan dari situlah Omjay menemukan satu benang merah yang sama.

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah jalan berkarya, jalan berbagi manfaat, dan jalan meninggalkan jejak kebaikan.

Menulis Adalah Perjalanan Panjang

Dalam berbagai resume peserta, tergambar jelas bahwa perjalanan seorang penulis tidak selalu mudah.

Ada rasa malas.

Ada rasa takut.

Ada rasa tidak percaya diri.

Ada kekhawatiran bahwa tulisan yang dibuat tidak akan dibaca orang lain.

Omjay pernah merasakan semua itu.

Ketika pertama kali membuat blog pada tahun 2008, Omjay juga sering bertanya dalam hati.

"Apakah tulisan saya cukup bagus?"

"Apakah ada yang akan membacanya?"

"Apakah saya mampu menulis setiap hari?"

Namun seiring waktu Omjay memahami bahwa penulis besar bukanlah orang yang langsung hebat sejak awal.

Penulis besar adalah orang yang terus menulis meskipun tulisannya masih sederhana.

Mereka tidak berhenti karena takut salah.

Mereka tidak menyerah karena belum sempurna.

Mereka terus belajar dari setiap tulisan yang dibuat.

Karena itulah Omjay selalu mengajak peserta KBMN untuk terus menulis.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Jangan menunggu terkenal.

Mulailah dari sekarang.

Guru Tangguh Tidak Pernah Berhenti Belajar

Tema besar yang muncul dari resume peserta adalah tentang ketangguhan seorang guru.

Omjay sangat setuju.

Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa sudah tahu segalanya.

Guru yang hebat adalah guru yang terus belajar.

Setiap malam peserta KBMN meluangkan waktu mengikuti pelatihan menulis.

Mereka sudah lelah mengajar.

Mereka sudah sibuk mengurus keluarga.

Namun mereka tetap hadir untuk belajar.

Inilah ketangguhan yang sesungguhnya.

Omjay teringat ketika menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Negeri Jakarta.

Perjalanan itu tidak mudah.

Delapan tahun penuh perjuangan.

Berbagai tantangan datang silih berganti.

Namun Omjay terus berjalan karena yakin bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat.

Semangat yang sama kini Omjay lihat pada para peserta KBMN Gelombang 34.

Mereka sedang membangun masa depan melalui tulisan.

Blog Adalah Rumah Karya

Salah satu hal yang membuat Omjay bangga adalah semakin banyak peserta yang aktif mengelola blog pribadi mereka.

Tulisan Hayatunnufus, Imas Masitoh, Anis Solihah, Neng Galih, Atu Maesaroh, Tini Suhartini, Tuti Umyati, dan Annisa menunjukkan bahwa budaya literasi mulai tumbuh dengan baik.

Tulisan Ibu Tuti Umyati di blog umiya110572.blogspot.com menjadi salah satu contoh bagaimana guru mampu mengabadikan proses belajar melalui tulisan. Ketika tulisan dipublikasikan di blog, ilmu yang diperoleh tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga dapat dibaca dan menginspirasi orang lain.

Bagi Omjay, blog adalah rumah karya.

Rumah tempat menyimpan gagasan.

Rumah tempat berbagi pengalaman.

Rumah tempat mendokumentasikan perjalanan hidup.

Rumah tempat meninggalkan jejak kebaikan.

Omjay sendiri telah merasakan manfaat luar biasa dari blog.

Dari blog, Omjay mendapatkan banyak sahabat.

Dari blog, Omjay mendapatkan kesempatan menjadi narasumber di berbagai daerah.

Dari blog, Omjay mendapatkan kesempatan mengunjungi berbagai negara.

Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Menulis setiap hari.

Menulis Membuat Guru Abadi

Ketika membaca resume para peserta, Omjay kembali teringat pesan yang selalu disampaikannya.

Guru boleh pensiun dari sekolah, tetapi guru tidak akan pernah pensiun dari menulis.

Tulisan membuat seorang guru tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Ilmu yang disampaikan secara lisan mungkin akan terlupakan.

Namun ilmu yang ditulis akan terus hidup.

Tulisan dapat dibaca kapan saja.

Tulisan dapat ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian.

Tulisan dapat menginspirasi generasi berikutnya.

Karena itu Omjay selalu mengatakan:

"Guru yang menulis akan abadi."

Bukan karena namanya terkenal.

Melainkan karena ilmunya terus bermanfaat.

Menulis dengan Hati

Ada satu pelajaran penting yang Omjay dapatkan setelah membaca resume peserta.

Tulisan yang baik bukanlah tulisan yang penuh kata-kata rumit.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang lahir dari hati.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan merasakan kejujurannya.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan menemukan makna yang mendalam.

Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisan itu akan lebih mudah menyentuh hati orang lain.

Karena itulah Omjay selalu mengingatkan peserta KBMN.

"Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi."

Teknologi boleh membantu.

AI boleh membantu.

Aplikasi boleh membantu.

Namun hati seorang penulis tidak akan pernah bisa digantikan.

Kejujuran.

Pengalaman.

Perjuangan.

Harapan.

Doa.

Semua itu lahir dari hati.

Dan itulah yang membuat tulisan menjadi hidup.

Resume Hari Ini, Buku Besar Esok Hari

Ketika kereta mulai mendekati Dukuh Atas, Omjay menutup ponselnya sejenak.

Pikirannya melayang pada masa depan para peserta KBMN.

Mungkin hari ini mereka hanya menulis resume.

Mungkin hari ini mereka masih belajar menyusun paragraf.

Mungkin hari ini mereka masih merasa tulisannya biasa saja.

Namun siapa yang tahu?

Beberapa tahun ke depan mereka mungkin telah menerbitkan buku.

Menjadi blogger terkenal.

Menjadi narasumber nasional.

Atau menjadi inspirasi bagi ribuan guru lainnya.

Karena setiap penulis besar selalu memulai dari langkah kecil.

Dan langkah kecil itu adalah keberanian untuk mulai menulis.

Terus Menulis dan Buktikan Apa yang Terjadi

Sesampainya di Dukuh Atas, Omjay melanjutkan perjalanan menuju SMP Labschool Jakarta.

Namun pesan dari resume-resume yang dibacanya masih terngiang di dalam hati.

Setiap resume bukan sekadar tugas pelatihan.

Resume-resume itu adalah jejak perjuangan para guru yang sedang belajar meninggalkan karya melalui tulisan.

Mereka sedang menanam benih-benih kebaikan.

Mereka sedang membangun warisan ilmu.

Mereka sedang menyiapkan jejak yang akan dikenang oleh banyak orang.

Karena sesungguhnya menulis bukan hanya tentang menghasilkan tulisan.

Menulis adalah tentang berbagi manfaat.

Menulis adalah tentang mengabadikan pengalaman.

Menulis adalah tentang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun usia terus bertambah.

Maka kepada seluruh peserta KBMN Gelombang 34, Omjay ingin berpesan:

Jangan berhenti menulis.

Jangan berhenti belajar.

Jangan berhenti berkarya.

Sebab tulisan yang Anda buat hari ini mungkin akan menjadi cahaya bagi seseorang di masa depan.

Teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah berkarya.

Karena siapa yang menanam kebaikan melalui tulisan, akan menuai manfaat yang tak pernah putus meskipun dirinya telah tiada.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.