Berikut resume kisah Omjay dari materi Cing Ato/Pak Suharto.
Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com
Malam itu, Selasa, 2 Juni 2026, suasana Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang 34 terasa berbeda. Pertemuan ke-18 menghadirkan materi yang sangat menyentuh hati, yaitu “Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif.” Narasumbernya adalah Pak Suharto, S.Ag., M.Pd., yang akrab disapa Cing Ato.
Omjay merasa sangat bahagia melihat semangat peserta KBMN yang terus menyala. Grup WhatsApp dikunci oleh moderator, Ibu Raliyanti, agar acara berjalan tertib. Peserta diminta menyimak video narasumber terlebih dahulu. Dari awal saja, aura inspirasi sudah terasa kuat.
Ketika Cing Ato mulai menyapa peserta, suasana menjadi hangat. Beliau membuka cerita dengan rendah hati. Katanya, beliau sebenarnya malu menjadi narasumber karena merasa masih banyak kekurangan. Namun justru dari kerendahan hati itulah peserta melihat kebesaran jiwa seorang guru madrasah yang tangguh.
Cing Ato bercerita bahwa beliau adalah alumni KBMN Gelombang 8 bersama Teh Aam dan Pak Mukminin. Uniknya, beliau mengaku tidak lulus. Peserta tentu bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus KBMN kemudian menjadi narasumber?
Jawabannya sungguh mengharukan.
Saat mengikuti KBMN, Cing Ato sedang dalam kondisi sakit berat. Selang masih menempel di leher dan hidungnya. Beliau hanya mampu mengikuti pelatihan sebatas kemampuan. Ketika pusing, beliau berhenti. Esok paginya, beliau membaca kembali materi di grup WhatsApp dan menyalinnya. Namun karena banyak materi berbentuk voice note, beliau kesulitan membuat resume lengkap.
Akhirnya, beliau tidak mengumpulkan resume dan dinyatakan tidak lulus.
Tetapi cerita tidak berhenti di sana.
Materi-materi yang sempat beliau kumpulkan kemudian menjadi bahan tulisan. Dari proses itu lahirlah buku berjudul “Belajar Tak Bertepi.” Setelah terus menulis dan akhirnya menerbitkan buku, beliau dianggap berhasil menuntaskan perjuangan literasinya. Inilah pelajaran penting bagi peserta KBMN. Lulus sejati bukan sekadar mendapat sertifikat, tetapi mampu melahirkan karya nyata.
Cing Ato lalu berkisah tentang awal mula menulis. Ada dua alasan utama yang membuat beliau menulis. Pertama, karena kebutuhan. Ketika diangkat menjadi wakil kepala bidang kurikulum, beliau melihat banyak administrasi guru dibuat asal ada. Dari situlah muncul keinginan menulis buku panduan administrasi pembelajaran. Namun beliau merasa kehabisan kata dan belum paham ilmu perbukuan.
Tahun 2016, beliau mengikuti pelatihan yang diselenggarakan KSGN. Di sanalah beliau bertemu dengan tiga guru besarnya, yaitu Omjay, Om Dedi Dwitama, dan Dr. Namin ibn Kholdun. Dari pelatihan itulah kemampuan menulisnya mulai tumbuh.
Tahun 2017, beliau mengikuti pelatihan Media Guru di Cipanas, Bogor. Dari pelatihan tersebut, lahirlah buku solo perdana. Namun ujian besar datang tidak lama setelah itu. Tubuh beliau tiba-tiba tumbang. Hampir seluruh saraf mati. Tidak ada yang bergerak kecuali leher dan mata. Napas dibantu oksigen. Leher dilubangi. Selama hampir 18 bulan, beliau terbujur kaku di atas pembaringan. Empat bulan lebih beliau dirawat di RSCM.
Namun luar biasanya, Cing Ato tidak larut dalam kesedihan.
Beliau berkata bahwa dirinya ridha terhadap ketetapan Allah. Dalam sakitnya, beliau merenung. Apa yang masih bisa dilakukan agar hidup tetap bermanfaat bagi banyak orang? Dari renungan itulah muncul jawaban: menulis.
Akhirnya, beliau menulis tentang apa yang dialami, dirasakan, dan dipelajari. Malam hari sebelum tidur, beliau mencari ide. Setelah Subuh, beliau menulis satu artikel sederhana. Tulisan itu kemudian dibagikan di Facebook. Ternyata respons pembaca luar biasa. Sejak saat itu, menulis menjadi terapi jiwa dan raga.
Ketika sudah bisa duduk dan menekan keyboard laptop, tulisan-tulisan yang berserakan di media sosial dikumpulkan. Tulisan itu diikat menjadi buku. Dari sakit, lahir karya. Dari keterbatasan, muncul kebermanfaatan.
Cing Ato juga menjadikan buku sebagai sedekah dan wakaf. Banyak buku beliau bagikan kepada lembaga pendidikan, kelompok literasi, dan masyarakat. Baginya, menulis bukan hanya tentang uang. Menulis adalah jalan berbagi, jalan silaturahmi, dan jalan amal jariah.
Hasil dari ketekunan menulis sangat luar biasa. Beliau mendapatkan banyak teman literasi, penghasilan, kesempatan berbagi, serta berbagai penghargaan. Di antaranya penganugerahan sebagai pahlawan pendidikan, penghargaan IKALUIN Award 2024 kategori pendidikan dan pengembangan umat, GTK Berprestasi Nasional kategori Guru Madrasah Inspiratif 2024, apresiasi sebagai Guru Tangguh dari Darul Qur’an Ciledug, tampil di TVONE pada Hari Pendidikan Nasional 2024, tampil di DAAI TV sebagai narasumber inspiratif 2025, dikunjungi para YouTuber, mahasiswa, dan kembali menjadi narasumber KBMN.
Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana: menulis setiap hari.
Cing Ato juga mendirikan kelas belajar menulis di madrasah tempatnya mengajar. Dari sana telah lahir empat buku antologi. Walaupun peserta awalnya tidak banyak, beliau tetap berjalan. Muridnya ada 700 orang, tetapi yang ikut literasi hanya 13 siswa. Namun beliau tidak kecewa. Baginya, dari satu orang bisa tumbuh seribu kebaikan.
Dalam sesi tanya jawab, banyak pelajaran penting disampaikan. Untuk mewujudkan tulisan menjadi buku, Cing Ato menyarankan agar guru menulis setiap hari dari apa yang bisa, dirasakan, dan dialami. Guru juga harus membangun jejaring dengan komunitas penulis dan penerbit.
Tentang semangat menulis, beliau berpesan agar jangan menunggu mood. Menulislah walau hanya satu kalimat. Konsistenlah. Perbanyak membaca tulisan teman, membaca buku penulis hebat, mengikuti pelatihan, dan bersahabat dengan komunitas literasi.
Ketika ditanya tentang hal paling berat dalam menulis di tengah keterbatasan, Cing Ato menjawab dengan sangat kuat. Baginya, tidak ada yang berat jika kita terus mencoba. Setiap rintangan harus dilompati. Bekal membaca buku motivasi, mendengar video motivasi, dan memperdalam agama membuat beliau tegar seperti batu karang di tengah lautan.
Di akhir materi, Cing Ato memberikan pesan penutup yang sangat menggetarkan hati.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau kita yakin, percaya, mau belajar, bersungguh-sungguh, dan konsisten. Kesuksesan akan membersamai orang-orang yang tidak mudah menyerah.
Omjay terharu mendengar kisah murid literasinya itu. Dulu Cing Ato mengikuti KBMN dalam keadaan sakit. Kini beliau hadir sebagai narasumber yang memberi cahaya kepada banyak guru. Inilah bukti bahwa menulis dapat mengubah hidup seseorang.
Cing Ato menutup dengan kalimat yang terinspirasi dari ajian pamungkas Omjay:
“Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi.”
Kalimat itu menjadi pesan kuat bagi seluruh peserta KBMN Gelombang 34. Guru yang menulis tidak hanya meninggalkan kata-kata, tetapi juga meninggalkan jejak perjuangan. Guru tangguh bukan guru yang tidak pernah jatuh. Guru tangguh adalah guru yang tetap bangkit, tetap berkarya, dan tetap memberi manfaat meskipun tubuh sedang diuji.
Salam literasi.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.